Drama Jamal Khashoggi, Jurnalis Asal Saudi yang Hilang di Turki (Bagian II)

Drama Jamal Khashoggi, Jurnalis Asal Saudi yang Hilang di Turki (Bagian II)
Foto: Ozan Kose/AFP-Getty Images
Foto: Ozan Kose/AFP-Getty Images
Istanbul, NU Online

Mengenal Jamal Khashoggi

Jamal adalah salah satu dari jurnalis dan komentator politik Arab Saudi yang paling terkemuka. Jamal pernah dekat dengan Kerajaan Arab Saudi. Ia merupakan mantan penasihat pemerintah Saudi. 

Kemudian Jamal mengasingkan diri ke Amerika Serikat untuk menghindari penangkapan dari pihak Kerajaan Saudi atas segala komentarnya. Dia dikenal sebagai orang yang sangat kritis. Dia mengkritisi sejumlah kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Putera Mahkota Muhammad bin Salman. Salah satunya soal intervensi Saudi pada konflik yang terjadi di Yaman.  

Jamal pernah kuliah jurnalisme di Universitas Indiana. Ia memulai karir dalam bidang jurnalisme di sebuah surat kabar berbahasa Inggris Saudi Gazette sebagai seorang koresponden.

Baca juga: Drama Jamal Khashoggi, Jurnalis Asal Saudi yang Hilang di Istanbul (Bagian I)

Kemudian dia bekerja di surat kabar Asharq Al-Awsat yang berbasis di London dan Saudi. Di samping itu, selama delapan tahun ia juga menulis di koran Pan-Arab Al-Hayat. Pada 1999, Jamal menjadi Wakil Editor Arab News. Dia juga pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi di koran Al-Wathan, namun diberhentikan tanpa penjelasan pada 2003.

Karir Jamal semakin meroket. Dikutip Aljazeera, Senin (8/10),Ia kemudian menjadi penasihat media untuk Pangeran Turki bin Faisal, yang merupakan mantan kepala Direktorat Intelijen Umum Arab Saudi dan menjabat sebagai duta besar Saudi untuk AS.

Pada 2007, posisi Jamal di Al-Wathan sebagai editor dipulihkan kembali. Akan tetapi, pada 2010 dia dipecat lagi karena ‘mendorong batas-batas perdebatan pada masyarakat Saudi.’ Pada tahun yang sama, Jamal ditunjuk sebagai manajer umum saluran berita Al-Arab, yang dimiliki oleh Pangeran Alwaleed bin Talal dan dioperasikan dari Manama, Bahrain. Pada 2015, saluran ini ditutup.

Jamal terus menulis dan menyuarakan kritiknya atas segala persoalan yang dianggap tidak tepat. Kebijakan-kebijakan Putera Mahkota Muhammad bin Salman juga tidak luput dari kritikannya. Jamal mengkritik Muhammad bin Salman yang melakukan penangkapan-penangkapan terhadap para aktivis dan ulama Saudi, padahal di sisi lain sang putera mahkota menyerukan reformasi Kerajaan. 

Jamal juga mengkritik kebijakan Saudi yang menyebut Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris pada September 2017. 

Karena sikapnya yang begitu kritis, keberadaan Jamal di Saudi semakin genting dari hari ke hari. Akhirnya ia pindah ke Washington DC setelah ‘diperintahkan untuk tutup mulut.’ Di AS, Jamal tidak berhenti mengkritik langkah-langkah Saudi yang dianggap represif dan tidak pro kebebasan. Ia menulis banyak artikel di The Washington Post. Topiknya seputar hak asasi manusia, kebebasan, dan kebijakan luar negeri Saudi. (Muchlishon)
BNI Mobile