IMG-LOGO
Internasional

PPI Yaman Minta Pemerintah Tinjau Ulang Kinerja KBRI Yaman

Selasa 9 Oktober 2018 16:30 WIB
Bagikan:
PPI Yaman Minta Pemerintah Tinjau Ulang Kinerja KBRI Yaman
Pelajar Indonesia yang kuliah di Yaman
Cirebon, NU Online
Para pelajar Indonesia yang kembali dari liburan tidak diperbolehkan kembali memasuki Yaman melalui perbatasan Oman meskipun memiliki visa. Setidaknya, 160 pelajar tertahan di Muskat, Oman.

Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman Izzuddin Mufian Munawwar meminta agar pemerintah memperhatikan mereka yang kesulitan mendapatkan akses untuk dapat kembali belajar. Ia juga berharap agar pemerintah meninjau kembali kinerja Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yaman.

"Melihat fakta dan realita yang ada di lapangan, kami Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman mengimbau kepada pemerintah dan pihak-pihak terkait agar meninjau kembali kinerja Kedutaan Besar Republik Indoneisa yang berada di Salalah Oman, dan memperhatikan pelayanan WNI di Yaman khususnya para pelajar yang saat ini sedang kesulitan di perbatasan," tegasnya melalui pesan siaran pada Senin (8/10).

KBRI Yaman, kata Izzuddin, sebagai pihak yang ditugaskan untuk melayani WNI di Yaman nyatanya lebih memilih untuk duduk manis di meja. Mereka menganggap terlantarnya ratusan pelajar yang masuk dalam tanggung jawab mereka sebagai sesuatu yang bisa diabaikan.

"Mengherankan sekali melihat sekelompok orang yang diutus dan difasilitasi oleh negara dengan uang rakyat berpangku tangan mengabaikan nasib rakyat Indonesia dan tidak mampu membela harga diri WNI di luar negeri,"  katanya.

Izzuddin menjelaskan bahwa KBRI Yaman selama bertahun-tahun tidak pernah berkunjung dan melihat sendiri kondisi daerah tempat ribuan WNI menuntut ilmu. Mereka hanya mencukupkan diri dengan melihat berita dari layar kaca dari sebuah apartemen pinggiran Pantai Dahariz-Salalah.

Hadramaut, sebagai tempat 95 persen pelajar Indonesia belajar, menurutnya, tempat yang aman dan kondusif. "Hal ini terbukti dengan banyaknya peziarah dan pelajar yang datang dari berbagai negara, serta menjadi titik evakuasi WNI dari daerah lain ketika meletusnya konflik Yaman," jelasnya. (Syakir NF/Muiz)
Tags:
Bagikan:
Selasa 9 Oktober 2018 23:30 WIB
Drama Jamal Khashoggi, Jurnalis Asal Saudi yang Hilang di Turki (Bagian III)
Drama Jamal Khashoggi, Jurnalis Asal Saudi yang Hilang di Turki (Bagian III)
Foto: Ozan Kose/AFP-Getty Images
Istanbul, NU Online
Otoritas Turki meminta pihak Arab Saudi untuk bekerjasama dalam mengungkap hilangnya Jamal Khashoggi (59) di Konsulat Saudi di Istanbul Turki pada 2 Oktober lalu. Tidak hanya itu, Turki juga akan menggeledah gedung Konsulat Saudi untuk melakukan investigasi.

"Gedung Konsulat (Saudi) akan digeledah dalam kerangka investigasi," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki Hami Aksoy dalam sebuah pernyataan dikutip Reuters, Selasa (9/10).

Aksoy menyebutkan, proses investigasi terkait hilangnya Jamal Khashoggi akan berlangsung secara intensif. Ia juga memastikan, proses penggeledahan Konsulat Saudi tersebut akan mematuhi Konvensi Wina tentang Hubungan Konsuler. Penggeledahan tersebut akan dilakukan jika Saudi memberikan izin karena bagaimanapun Konsulat adalah wilayah kedaulatan Saudi di Turki.


Sebelumnya, Turki telah memeriksa kamera pengawas di sudut-sudut Konsulat Saudi, namun Jamal Khashoggi tidak terlihat keluar dari gedung. Yang ada hanya mobil-mobil yang keluar masuk gedung Konsulat. 

Dari invesitgasi kamera, Turki curiga terhadap dua mobil van. Turki menduga Jamal Khashoggi dibawa keluar dari Konsulat menggunakan mobil tersebut. Sebagaimana dilaporkan Hurriyet Daily News, kedua mobil van itu milik Konsulat Saudi. Salah satunya memiliki kaca jendela yang gelap. 

Dikabarkan bahwa dua mobil van tersebut keluar dari Konsulat dua jam setelah Jama Khashoggi memasuki gedung. Otoritas Turki tidak bisa melanjutkan investigasinya terkait dua mobil van tersebut karena berplat hijau atau memiliki kekebalan diplomatik. 

Baca juga: Drama Jamal Khashoggi, Jurnalis Asal Saudi yang Hilang di Turki (Bagian I)

Turki juga melakukan penyelidikan terhadap 15 warga Saudi yang datang ke Turki pada hari dimana Jamal hilang. 15 warga Saudi tersebut juga masuk keluar ke dan dari gedung Konsulat Saudi pada 2 Oktober. 

Sementara itu, pihak Saudi belum memberikan izin kepada aparat keamanan Turki untuk melakukan pemeriksaan di Konsulatnya.

Pengakuan saksi terakhir yang melihat Jamal

Hatice Cengiz (36) adalah saksi yang terakhir kali melihat Jamal Khashoggi sebelum hilang. Ia merupakan tunangan Jamal yang ikut ke Konsulat Saudi di Istanbul. Hatice tidak diizinkan masuk, sehingga ia menunggu tunangannya di luar gedung Konsulat. 

Pada pukul 13.00 tanggal 2 Oktober, Hatice –yang sengaja tidak masuk kuliah untuk gelar doktornya- menemani Jamal untuk mengurus surat-surat pernikahannya. Ini adalah kunjungan kedua mereka ke Konsulat Saudi. Sebelumnya pada kunjungan pertama, keadaan aman-aman saja. 

Pukul 16.00, Jamal tak kunjung keluar. Hatice mulai panik dan khawatir. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Ia berpikir, pasti ada sesuatu karena tunangannya yang belum keluar. Akhirnya ia bertanya kepada petugas keamanan Konsulat.

“Saat itu, saya mulai bertanya, kemana Jamal pergi?” kata Hatice, dikutip laman The Washington Post, Selasa (8/10).

Setelah bertanya sana-sini, Hatice tidak mendapatkan jawaban yang jelas. Bahkan, ada seorang yang muncul di pintu masuk gedung Konsulat menyatakan bahwa tidak ada siapa-siapa di dalam gedung.

Hatice akhirnya menghubungi seorang penasihat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, sebagaimana pesan Jamal sebelum hilang. Bahwa jika ada apa-apa, Hatice diminta untuk menghubungi orang tersebut. Hatice juga melaporkan hal itu kepada kepolisian Turki. (Red: Muchlishon)
Selasa 9 Oktober 2018 19:30 WIB
Fatayat NU Gagas Pertemuan Perempuan Muslim Muda Dunia
Fatayat NU Gagas Pertemuan Perempuan Muslim Muda Dunia
Ketum Fatayat NU, Anggia Ermarini (tengah)
Jakarta, NU Online
Pimpinan Pusat Fatayat NU bakal menyelenggarakan forum Internasional Young Moslem Woman Forum (IYMWF) atau Poros Perempuan Muslim Muda Dunia pada 24-28 Oktober 2018 mendatang.

Ketua Umum PP Fatayat NU, Anggia Ermarini mengatakan saat ini persiapan teknis IYMWF 2018, sudah mencapai 80 persen. Forum ini akan menghadirkan para pembicara dari dalam dan luar negeri.

"Sudah ada tujuh narasumber asing yang mengkonfirmasi kedatangannya," kata Anggia pada peluncuran perdana IYMWF, Selasa (9/10).

Selain itu peserta aktif yang telah dinyatakan lolos seleksi administrasi sebanyak 60 orang. Para peserta juga berasal dari dalam dalam dan luar negeri. "Semua pihak yang terlibat adalah perempuan Muslim muda dari lintas organisasi dan lintas negara," kata Anggia.

(Fatayat NU dan Aktivis Iran Bahas Tingginya Pernikahan Anak)
Ia menjelaskan ada lima tema besar yang didiskusikan pada IYMWF 2018. Kelima tema besar ini adalah kepemimpinan, pendidikan inklusif, pemberdayaan ekonomi, kesehatan perempuan dan media digital. Selain sesi seminar, forum ini juga dihiasi dengan pameran kebudayaan islam dari beberapa negara dan pertunjukan budaya selama forum berlangsung pada tanggal 24-28 Oktober 2018.

"Pada akhir forum peserta diajak untuk melakukan kunjungan ke Gedung PBNU, TMII, dan pesantren," imbuh Anggia.

Forum diagendakan ditutup dengan deklarasi Poros Perempuan Muslim Muda Dunia. (Kendi Setiawan)
Selasa 9 Oktober 2018 18:45 WIB
Fatayat NU dan Aktivis Iran Bahas Tingginya Pernikahan Anak
Fatayat NU dan Aktivis Iran Bahas Tingginya Pernikahan Anak
Jakarta, NU Online
Pimpinan Pusat Fatayat NU melakukan perbincangan mengenai soal isu-isu perempuan dengan aktivis perempuan asal Iran, Fateema Hashemi yang juga kepala Yayasan Amal untuk Penyakit Khusus. Perbindangan ini digelar bersamaan dengan peluncuran perdana Internasional Young Moslem Woman Forum (IYMWF) atau Poros Perempuan Muslim Muda Dunia, Selasa (9/10).

Fateema mengatakan bahwa Indonesia memiliki perempuan-perempuan berkualitas yang meningkat setiap tahunnya. Baginya, keterwakilan perempuan dalam semua sektor baik level nasional dan internasional adalah bentuk representasi peran perempuan.

Ketua Umum PP Fatayat NU, Anggia Ermarini menyambut baik kunjungan para perempuan Iran ini sebagai simbol persahabatan. "Kesempatan bertukar pikiran dan pengalaman antarnegara ini bisa jadi pelajaran yang luar biasa," ujarnya.


Anggia menegaskan beberapa isu perempuan yang masih menjadi PR besar bagi Fatayat NU dan bangsa Indonesia ini adalah tentang tingginya angka perkawinan pada anak. "Terutama tantangan terberat adalah regulasi yang masih melegalkan anak di usia 16 tahun untuk menikah," ujarnya. 

Fateema menimpali, di Iran, fenomena tersebut tak jauh berbeda. Angka praktik kawin anak cukup tinggi karena adanya regulasi usia yang lebih rendah dari Indonesia. Dari sisi perlindungan perempuan dan anak, isu ini cukup mendominasi selama diskusi. 

Acara tersebut dihadiri juga oleh Tayeeba Siyavashi, anggota parlemen Iran; dan Tahereh Taheriyan, vice president of Iran Olpic National Committee. Ketiganya hadir ke Indonesia dalam rangka Asian Para Games yang diadakan beberapa waktu lalu. (Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG