IMG-LOGO
Nasional
NU PEDULI NTB

Jatman Gelar Dzikir dan Tabligh Akbar Bersama Warga Lombok

Kamis 11 Oktober 2018 19:30 WIB
Bagikan:
Jatman Gelar Dzikir dan Tabligh Akbar Bersama Warga Lombok

Lombok Barat, NU Online

Jami'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdiyah (Jatman) menggelar dzikir dan tabligh akbar di Lombok Barat, Rabu (10/10). Acara yang berlangsung setelah shalat maghrib berjamaah dilaksanakan di hamparan persawahan kering depan Pondok Pesantren Riyadlusshibyan, Desa Lembah Sari, Kecamatan Batu Layar.

Mudir Aam Idarah Aliyah Jatman, Kiai Wahfiudin Wafa tiba di lokasi pukul 17.20 WITA disambut Rais Aam NTB, TGH Hanafi dan Mudir Aam NTB, HM Ilham. Kedatangan Mudir Aam Idarah Aliyah selain menghadiri dzikir dan tabligh akbar juga melakukan penyerahan 28 unit hunian sementara (Huntara) untuk pengungsi yang terkena dampak gempa NTB.

TGH Hanafi dalam sambutannya yang diwakili putranya Nurul mengucapkan terimakasih atas dukungan doa dan materi yang diberikan oleh Pengurus Idarah Aliyah. "Terima kasih Jatman NTB sudah diperhatikan oleh Idarah Aliyah. Huntara yang didirikan benar-benar sangat dibutuhkan oleh warga," ucapnya sebelum dimulainya acara dzikir dan tabligh akbar.

Sementara itu Mudir Aam NTB mengajak jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. "Mari kita selalu bersabar atas ujian yang kita alami. Dengan bersabar insyaallah kita akan memperoleh yang lebih baik," katanya.

Kiai Wahfiudin sebelum mengajak jamaah berdzikir menjelaskan pentingnya membersihkan diri dengan dzikrullah. Wakil Talqin TQN Suryalaya ini menjelaskan hubungan manusia dengan Allah Sst melalui qalbu. "Maka menjadi penting selalu membersihkan qalbu dari ilah-ilah palsu. Perbanyak ucapkan 'Laa ilaaha illallah'," ajaknya kepada jamaah.

Tidak kurang dari 600 warga yang tinggal di sekitar lokasi hadir untuk ikut dzikir yang dipimpin langsung oleh Mudir Aam Jatman.

"Terima kasih Kiai telah meluangkan waktu untuk mengunjungi kami. Terima kasih atas segala perhatian dan bantuannya," ucap salah seorang jamaah selesai acara pukul 23.00 WITA. (Nugraha Ramadhan/Kendi Setiawan)

Bagikan:
Kamis 11 Oktober 2018 22:15 WIB
Kaji Pemahaman Sufi terhadap Teks Nahwu Antar Qustulani Raih Doktor
Kaji Pemahaman Sufi terhadap Teks Nahwu Antar Qustulani Raih Doktor

Tangsel, NU Online
Namanya Muhammad Qustulani. Wakil Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Tangerang itu rupanya masih penasaran terhadap teks nahwu yang menjadi kajian konsentrasinya pada bidang Bahasa dan Sastra Arab.

Setelah membahas kitab Alfiyyah Ibn Malik tidak dari sisi nahwiyah-nya dalam tesisnya, ia pun kembali mengupas makna-makna sufistik dalam kitab Syarh Ajurumiyyah Ibn Ajibah dalam disertasinya. Hal ini menjadi kebaruan dalam sebuah kajian keislaman.
 
"Belum ada yang membahas penafsiran sebuah kitab yang memang itu buku teks nahwu tapi dipahami sebagai teks sufi," kata Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Masykuri Abdillah saat ditemui NU Online usai sidang di kantornya, Jalan Kertamukti, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten, Kamis (11/10).
 
Namun, tak ada gading yang tak retak. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu melihat bahwa teori dasar yang digunakan oleh Qustulani lebih tampak pada teori barat dengan pandangan Roland Barthes.
 
"Saya minta bisa diintegrasikan. Bawa juga istilah dalam ilmu balaghah," ujarnya.
 
Masykuri menilai jika langkah itu dapat dilakukan, keinginan integrasi keilmuan Islam dan Barat dapat terwujud. "Apa yang kita inginkan untuk mengatakan integrasi keilmuan antara persepektif dunia Islam dan dunia Barat ikut terwujud di sini."
 
Qustulani menjelaskan bahwa fail yang dimaksud adalah Allah Swt, sedangkan maf'ul adalah manusia. Ketika ia menjadi insan kamil, maka ia bisa menjadi naibul fail. Dalam hal ini, manusia sebagai pengganti Tuhan.
 
"Dia akan seperti Tuhan," kata alumnus Pondok Buntet Pesantren itu. Meskipun demikian, pada hakikatnya, ia tetaplah manusia, tetaplah maf'ul.
 
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hasaniyah Rawalini itu berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Makna Imajinatif Nahwu: Studi Kitab Ajurumiyyah Ibn Ajibah di hadapan para penguji. Ia mendapatkan nilai rata-rata disertasinya 95 dan rata-rata nilai seluruh kuliahnya 89,18. Karena itu, ia berhak mendapatkan nilai cumlaud. (Syakir NF/Kendi Setiawan)

Kamis 11 Oktober 2018 22:0 WIB
Pengamat Nilai Hoaks Ancam Proses Demokrasi
Pengamat Nilai Hoaks Ancam Proses Demokrasi
Jakarta, NU Online
Direktur Eksekutif Perjumpaan Pendidikan Pancasila dan Demokrasi (P3D), Syaiful Arif menyatakan bahwa keberadaan hoaks atau berita bohong mengancam jalannya demokrasi.

"Ya, tentu sangat mengancam sekali," kata Arif di Jakarta Pusat, Kamis (11/10).

Menurut Arif, dalam proses demokrasi dibutuhkan kejujuran. Demokrasi juga tidak membenarkan skenario politik yang menjatuhkan lawan politiknya. "Skenario politik yang menjatuhkan pihak lain itu bagian dari black campaign," kata Arif.

Arif mengatakan, hoaks yang berkembang pada akhir-akhir ini bisa menimbulkan perpecahan di masyarakat level bawah. Ia menyebut bahwa hoaks  yang terjadi akibat dorongan ujaran kebencian para elit politik.

"Permainan elit politik di dalam elit akhirnya berdampak pada pengerasan kutub-kutub di masyarakat yang semakin meruncing. Itu yang menjadi bahaya dari hoaks yang terjadi di ranah politik praktis," ucapnya.

Padahal, sambungnya, para elit politik harusnya menunjukkan prestasi yang baik ke masyarakat agar menarik simpati. Memberitahukan tentang kinerja baiknya selama memegang sebuah jabatan dan bukan sebaliknya, melakukan rekayasa dan intrik-intrik politik.

"Masyarakat kita sudah cerdas. Para elit politik seharusnya menunjukkan gagasan dan track record, baik kualitas kepribadian, gak punya rekam jejak yang buruk, misalnya pelanggar HAM, pernah korupsi, atau kinerja di dalam jabatan-jabatan yang pernah dipanggul. Udah itu aja ditunjukkan kepada masyarakat," jelasnya.

Menurut Arif, dalam proses demokrasi dibutuhkan kejujuran. Demokrasi juga tidak membenarkan skenario politik yang menjatuhkan pihak lain. "Skenario politik yang menjatuhkan pihak lain itu bagian dari black campaign," jelasnya. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Kamis 11 Oktober 2018 21:30 WIB
Sejumlah Pihak Setuju 3 Oktober Diperingati Hari Antihoaks Nasional
Sejumlah Pihak Setuju 3 Oktober Diperingati Hari Antihoaks Nasional
Jakarta, NU Online
Direktur Eksekutif Perhimpunan Pendidikan Pancasila dan Demokrasi, Syaiful Arif menyatakan kesetujuannya tentang usulan 3 Oktober dijadikan sebagai Hari Antihoaks Nasional.

"Setuju setuju aja sih," kata Arif di Jakarta Pusat, Kamis (11/10).

Sebagimana diketahui, seusai peristiwa penyebaran hoaks yang dilakukan oleh beberapa elit politik Indonesia, kemudian mendapat respons dari beberapa pihak, seperti Ketua Umum DPP PPPP Muhammad Romahurmuziy dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang mengusulkan agar tanggal 3 Oktober menjadi Hari Antihoaks Nasional.

Kesetujuan penulis buku Deradikalisasi Islam: Paradigma dan Strategi Islam Kultural itu agar dijadikan peringatan kepada semua pihak supaya peristiwa serupa tidak terjadi lagi.

Menurutya, apabila rekayasa hoaks pada 3 Oktober itu tidak terungkap, maka berdampak pada terjadinya kerusuhan politik dan sosial di masyarakat.

"Dampaknya kaos (keadaan kacau-balau) dan yang kasian masyarakat itu (menjadi korban)," jelasnya.

Sebelumnya, pernyataan kesetujuan atas usulan tersebut juga disampaikan Calon Wakil Presiden Indonesia KH Ma'ruf Amin dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG