IMG-LOGO
Nasional
NU PEDULI SULTENG

Klinik NU Peduli Sulteng Perluas Jangkauan Layanan Kesehatan

Kamis 11 Oktober 2018 20:30 WIB
Bagikan:
Klinik NU Peduli Sulteng Perluas Jangkauan Layanan Kesehatan
Klinik NU Peduli Sulteng bantu warga terdampak gempa

Palu, NU Online
Untuk memaksimalkan layanan kesehatan bagi warga terdampak gempa dan tsunami Sulawesi Tengah, NU Peduli bakal mendirikan Klinik NU Peduli Sulteng. Klinik akan dibangun di Kelurahan Kayu Malue, RT 1 RW 1 Ngapa, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu.

Anik Rifqoh dari NU Peduli menyatakan klinik nantinya berfungsi sebagai pusat pemeriksaan kesehatan bagi warga terdampak gempa, mengingat saat ini warga masih menglami susahnya akses terhadap layanan kesehatan.

Menurutnya di lokasi tersebut terdapat 50 KK yang bermukim di tenda-tenda pengungsian. Nantinya klinik tidak hanya melayani warga dari pengungsian setempat, namun juga warga dari daerah lainnya.

“NU Peduli akan enjemput warga menyediakan rawat inap dan aktivitas kesehatan lainnya,” kata Anik, Kamis (11/10).

Pihaknya berharap hadirnya Klinik NU Peduli akan memberikan kemanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat terdampak gempa. “Doakan kami untuk bisa memberikan manfaat terbaik untuk warga Sulawesi Tengah,” imbuhnya.

Bayu Aji Wicaksono, dokter NU Peduli mengatakan Kelurahan Kayu Malue dipilih sebagai lokasi Klinik NU Peduli karena rumah sakit dan klinik lainnya jauh dari lokasi tersebut. Walaupun ada klinik, namun tidak menyediakan rawat inap.

Selain itu keberadaan Klinik NU Peduli sangat strategis karena berada mudah dijangkau dari Donggala dan Kota Palu. 

Sementara itu, Nurochman, salah satu dokter NU Peduli mengatakan layanan kesehatan menjadi salah satu fokus NU Peduli dalam penanganan bagi warga terdampak gempa Sulteng. Higga saat ini Tim Kesehatan NU Peduli telah melayani 500 warga di beberapa titik pengungsian.

Dari pemeriksaan di lapangan, ditemukan gangguan kesehatan yang paling banyak diidap warga adalah infeski saluran pernapasan atas (ISPA), diare, dan gatal-gatal.

“Karena banyak debu dan kondisi pengungsian yang buruk,” kata Nurochman.

Tim NU Peduli memfokuskan layanan melalui 12 pos yang tersebar di Palu, Sigi, Donggala. (Kendi Setiawan)

Bagikan:
Kamis 11 Oktober 2018 22:15 WIB
Kaji Pemahaman Sufi terhadap Teks Nahwu Antar Qustulani Raih Doktor
Kaji Pemahaman Sufi terhadap Teks Nahwu Antar Qustulani Raih Doktor

Tangsel, NU Online
Namanya Muhammad Qustulani. Wakil Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Tangerang itu rupanya masih penasaran terhadap teks nahwu yang menjadi kajian konsentrasinya pada bidang Bahasa dan Sastra Arab.

Setelah membahas kitab Alfiyyah Ibn Malik tidak dari sisi nahwiyah-nya dalam tesisnya, ia pun kembali mengupas makna-makna sufistik dalam kitab Syarh Ajurumiyyah Ibn Ajibah dalam disertasinya. Hal ini menjadi kebaruan dalam sebuah kajian keislaman.
 
"Belum ada yang membahas penafsiran sebuah kitab yang memang itu buku teks nahwu tapi dipahami sebagai teks sufi," kata Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Masykuri Abdillah saat ditemui NU Online usai sidang di kantornya, Jalan Kertamukti, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten, Kamis (11/10).
 
Namun, tak ada gading yang tak retak. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu melihat bahwa teori dasar yang digunakan oleh Qustulani lebih tampak pada teori barat dengan pandangan Roland Barthes.
 
"Saya minta bisa diintegrasikan. Bawa juga istilah dalam ilmu balaghah," ujarnya.
 
Masykuri menilai jika langkah itu dapat dilakukan, keinginan integrasi keilmuan Islam dan Barat dapat terwujud. "Apa yang kita inginkan untuk mengatakan integrasi keilmuan antara persepektif dunia Islam dan dunia Barat ikut terwujud di sini."
 
Qustulani menjelaskan bahwa fail yang dimaksud adalah Allah Swt, sedangkan maf'ul adalah manusia. Ketika ia menjadi insan kamil, maka ia bisa menjadi naibul fail. Dalam hal ini, manusia sebagai pengganti Tuhan.
 
"Dia akan seperti Tuhan," kata alumnus Pondok Buntet Pesantren itu. Meskipun demikian, pada hakikatnya, ia tetaplah manusia, tetaplah maf'ul.
 
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hasaniyah Rawalini itu berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Makna Imajinatif Nahwu: Studi Kitab Ajurumiyyah Ibn Ajibah di hadapan para penguji. Ia mendapatkan nilai rata-rata disertasinya 95 dan rata-rata nilai seluruh kuliahnya 89,18. Karena itu, ia berhak mendapatkan nilai cumlaud. (Syakir NF/Kendi Setiawan)

Kamis 11 Oktober 2018 22:0 WIB
Pengamat Nilai Hoaks Ancam Proses Demokrasi
Pengamat Nilai Hoaks Ancam Proses Demokrasi
Jakarta, NU Online
Direktur Eksekutif Perjumpaan Pendidikan Pancasila dan Demokrasi (P3D), Syaiful Arif menyatakan bahwa keberadaan hoaks atau berita bohong mengancam jalannya demokrasi.

"Ya, tentu sangat mengancam sekali," kata Arif di Jakarta Pusat, Kamis (11/10).

Menurut Arif, dalam proses demokrasi dibutuhkan kejujuran. Demokrasi juga tidak membenarkan skenario politik yang menjatuhkan lawan politiknya. "Skenario politik yang menjatuhkan pihak lain itu bagian dari black campaign," kata Arif.

Arif mengatakan, hoaks yang berkembang pada akhir-akhir ini bisa menimbulkan perpecahan di masyarakat level bawah. Ia menyebut bahwa hoaks  yang terjadi akibat dorongan ujaran kebencian para elit politik.

"Permainan elit politik di dalam elit akhirnya berdampak pada pengerasan kutub-kutub di masyarakat yang semakin meruncing. Itu yang menjadi bahaya dari hoaks yang terjadi di ranah politik praktis," ucapnya.

Padahal, sambungnya, para elit politik harusnya menunjukkan prestasi yang baik ke masyarakat agar menarik simpati. Memberitahukan tentang kinerja baiknya selama memegang sebuah jabatan dan bukan sebaliknya, melakukan rekayasa dan intrik-intrik politik.

"Masyarakat kita sudah cerdas. Para elit politik seharusnya menunjukkan gagasan dan track record, baik kualitas kepribadian, gak punya rekam jejak yang buruk, misalnya pelanggar HAM, pernah korupsi, atau kinerja di dalam jabatan-jabatan yang pernah dipanggul. Udah itu aja ditunjukkan kepada masyarakat," jelasnya.

Menurut Arif, dalam proses demokrasi dibutuhkan kejujuran. Demokrasi juga tidak membenarkan skenario politik yang menjatuhkan pihak lain. "Skenario politik yang menjatuhkan pihak lain itu bagian dari black campaign," jelasnya. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Kamis 11 Oktober 2018 21:30 WIB
Sejumlah Pihak Setuju 3 Oktober Diperingati Hari Antihoaks Nasional
Sejumlah Pihak Setuju 3 Oktober Diperingati Hari Antihoaks Nasional
Jakarta, NU Online
Direktur Eksekutif Perhimpunan Pendidikan Pancasila dan Demokrasi, Syaiful Arif menyatakan kesetujuannya tentang usulan 3 Oktober dijadikan sebagai Hari Antihoaks Nasional.

"Setuju setuju aja sih," kata Arif di Jakarta Pusat, Kamis (11/10).

Sebagimana diketahui, seusai peristiwa penyebaran hoaks yang dilakukan oleh beberapa elit politik Indonesia, kemudian mendapat respons dari beberapa pihak, seperti Ketua Umum DPP PPPP Muhammad Romahurmuziy dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang mengusulkan agar tanggal 3 Oktober menjadi Hari Antihoaks Nasional.

Kesetujuan penulis buku Deradikalisasi Islam: Paradigma dan Strategi Islam Kultural itu agar dijadikan peringatan kepada semua pihak supaya peristiwa serupa tidak terjadi lagi.

Menurutya, apabila rekayasa hoaks pada 3 Oktober itu tidak terungkap, maka berdampak pada terjadinya kerusuhan politik dan sosial di masyarakat.

"Dampaknya kaos (keadaan kacau-balau) dan yang kasian masyarakat itu (menjadi korban)," jelasnya.

Sebelumnya, pernyataan kesetujuan atas usulan tersebut juga disampaikan Calon Wakil Presiden Indonesia KH Ma'ruf Amin dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)