IMG-LOGO
Tokoh

KH Madiyani Iskandar, Ulama NU Bersahaja dari Pasuruan

Selasa 16 Oktober 2018 3:0 WIB
Bagikan:
KH Madiyani Iskandar, Ulama NU Bersahaja dari Pasuruan
KH Madiyani Iskandar
KH Madiyani Iskandar lahir pada tanggal 28 Desember 1949 dari pasangan Bapak Iskandar dan Ibu Painah, dan cucu dari Mbah Mustari. Riwayat pendidikan dia dimulai pada Sekolah Rakyat (1962) dan Langgar Kiai Zakariya Gading Tahun 1962 (sore). 

Lalu, dilanjutkan pada Pondok Pesantren Sidogiri (1969). Setelah di Sidogiri, dia melanjutkan ngangsu ilmunya di Pondok Pesantren Al-Hidayah Lasem pada KH Maksum Lasem dan KH Mansur Kholil Lasem (1969-1975). Sepulangnya ke Pasuruan, dia masih mau menimba ilmu pada Kyai Ghofur di Pondok Al-Ghofuri Bugul Kidul.

Selain pendidikan nonformal, dia juga menempuh pendidikan formal, yang antara lain diselesaikan di MTs Darumafatihil Ulum Podokaton Bayeman Gondangwetan (1984), MA Darumafatihil Ulum Podokaton Bayeman Gondangwetan (1987), dan Universitas Islam Pasuruan sampai semester 7 (1986-1990).

Pengabdian dia di masyarakat diwujudkan dalam berbagai kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan. Berbagai majelis taklim dia asuh, seperti pengajian rutin di Taman Nongkojajar setiap hari Jumat selepas waktu dluhur, pengajian rutin di Telaga Sari Nongkojajar, pengajian rutin di Tanjung Gempol.

Selain itu, ada pula pengajian rutin di rumah Bapak Mahfudz Gading Kidul, pengajian rutin di Jambangan (selatan Lapangan Wijaya), pengajian rutin di Gayaman Jambangan Kebon Agung.

Pengajian yang juga dia rutin asuh adalah Pengajian di Taman Sari Wonorejo, pengajian rutin di Pondok Pesantren Raudlotus Salamah Wironini, pengajian rutin di Pondok Pesantren Al-Munawwarah Kebonsari, pengajian rutin di Langgar Nurul Qodim Wonorejo.

Selain mengabdi di masyarakat, dia dikenal banyak berkiprah di organisasi, seperti Ketua Tanfidziyah Ranting NU Cabang Gadingrejo Pasuruan (1989-1991), Ketua Syuriyah MWCNU Cabang Gadingrejo Pasuruan, Katib Syuriah NU Cabang Kota Pasuruan, Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Kota Pasuruan, dan Pembina RMI Kota Pasuruan.

Bahkan, beberapa kali dia mengikuti Muktamar NU sebagai utusan NU Kota Pasuruan, beberapa kali mengikuti kegiatan RMI tingkat nasional sebagai Ketua RMI Kota Pasuruan, beberapa kali mengikuti Bahtsul Masa'il sebagai utusan NU Kota Pasuruan.

Dia juga pendiri Jamiyah Istighotsah di Gadingrejo, pelopor Khataman Bin-Nazhar di Wilayah Gadingrejo (bersama dengan Ustadz Najib (alm.) dan Ustadz Salim (alm.), dan penasihat ISHARI Ranting Gadingrejo

Pengabdian untuk pendidikan, dia wujudkan dengan bersedia menjadi Kepala Sekolah Madrasah Tsanawiyah Sunan Ampel (1984-2002), Kepala Sekolah Madrasah Diniyah Raudhatul Mustariyah, Kepala Sekolah Madrasah Darul Ulum Kisik Kali Rejo (1981-1985), pendiri Madrasah Miftahul Huda Gadingrejo (1976). Dia pula pendiri Pondok Pesantren Terpadu Raudhatul Mustariyah.

Dia menghadap ke haribaan Allah pada tanggal 4 Syawal 1424 H. Dia menikah dengan Ibu Suaibah Fakhriah, yang melahirkan putra-putri sebagai berikut: Moch. Syarif Hidayatullah, Ummu Salamaturrohmah, Kholilur Rokhman, M.M, Shochibul Hujjah, Fathira Nadia Mekka.

Perjalanan hidup dia kiranya bisa dirangkum dalam beberapa bait bijak berikut:

Hidup sederhana dan bersahaja
Kemana-mana tidak malu memakai sepeda
 
Tetap sabar meski ada yang tidak suka
Rela berjuang meski tak mendapat rupiah
Menikmati hidup meski difitnah
 
Dengan orang tidak punya mau menyapa
Dengan orang kaya tidak menghamba
Semua sama di hadapannya
 
Pendidikan adalah pengabdiannya
NU adalah organisasinya
Pondok Pesantren adalah kehidupannya
 
Pribadinya tegas berwibawa
Sosoknya rendah hati suka tertawa
Tidak pernah berambisi untuk selalu di muka
Amanah umat selalu ditunaikannya
 
Selalu memberi contoh pada keluarga dan lingkungannya
Selalu memberi teladan tidak dengan kata-kata
Lisanul hal afshahu min lisanil maqal, katanya. (Abu Avzalea)

Tags:
Bagikan:
Selasa 9 Oktober 2018 14:6 WIB
Gus Dur dan Orang yang Membentuk Karakternya
Gus Dur dan Orang yang Membentuk Karakternya
Gus Dur dan Nyai Sholihah Munawwaroh
Karakter Gus Dur banyak dipengaruhi oleh ibundanya, Nyai Sholihah Munawwaroh. Perempuan tangguh yang ditinggal wafat suaminya, KH. A Wahid Hasyim ketika dirinya mengandung putra keenam, Hasyim Wahid, ini mempengaruhi Gus Dur dalam keteguhan memegang prinsip dan kepedulian kepada mereka yang terpinggirkan.

Nyai Hj Sholihah binti KH. Bisri Syansuri ini sedang mengandung anak keenamnya saat sang suami, KH. Abdul Wahid Hasyim, ulama cum negarawan muda paling moncer dalam sejarah Indonesia, berpulang akibat kecelakaan di Bandung, 1953.

Nyai Sholihah, yang belum genap berusia 30 tahun menjanda dengan tanggungan 6 buah hati: Abdurrahman Ad-Dakhil, Aisyah, Shalahuddin, Lily Khadijah, Umar dan Hasyim Wahid. Tak tega melihatnya sendirian di Jakarta, KH. Bisri Syansuri meminta puterinya itu kembali tinggal ke Jombang. Sholihah menolak, dia bertekad membesarkan buah hatinya sendirian di ibukota. Di era 1950-an, di mana kondisi sosial-politik dan ekonomi tidak stabil, tentu pilihan ini sangat beresiko.

Instingnya sebagai seorang perempuan tangguh mulai terasah saat dia mulai berbisnis beras. Bahkan menjadi makelar mobil dan pemasok material ke kontraktor pun pernah dia jalani. Nyai Sholihah juga merintis panti asuhan, rumah bersalin, beberapa majelis taklim, dan kegiatan sosial lainnya. Karakter Gus Dur yang peduli wong cilik, mendahulukan kepentingan orang lain, dan tempat bersandar mereka yang terpinggirkan dan terdzolimi, saya kira menurun secara genetik dari ibundanya.

Tak hanya itu, rumahnya dia jadikan sebagai salah satu basis politik NU. Keputusan penting seputar kiprah NU di perpolitikan digodog di sini oleh dua tokoh sentralnya: KH. Bisri Sjansuri, ayahnya; dan KH. A. Wahab Chasbullah, pakdenya. Sikap NU terkait dengan Dekrit Presiden, Kabinet Gotong Royong, hingga keputusan cepat Muslimat dan NU beberapa waktu usai G-30-S/PKI digodog di sini.

Dengan kerja keras dan tirakatnya, kelak para buah hatinya menjadi orang berhasil di bidangnya: Abdurrahman Ad-Dakhil alias Gus Dur menjadi Presiden Ke-4; Aisyah Hamid Baidlawi menjadi ketua Muslimat NU dan politisi Golkar dan Lili Khadijah menjadi politisi PKB, Sholahuddin Wahid menjadi pengasuh pesantren, Umar Wahid menjadi direktur rumah sakit di Jakarta.

Bahkan, dalam beberapa keputusan penting di PBNU, ketika para kiai "gagal" melunakkan Gus Dur, mereka memilih jalan menghadap Nyai Sholihah agar bisa melunakkan putranya. Berhasil. Gus Dur taat pada ibundanya. Karakter Gus Dur yang dipahat ibundanya, juga sama dengan yang dialami oleh seorang yatim lainnya, BJ. Habibie. Keduanya ditinggal wafat sang ayah dalam usia belia, ditempa sang ibu, dan kemudian menjadi presiden RI.

Ketika Gus Dur di Universitas al-Azhar, Nyai Sholihah kerap menitipkan (melalui para sahabatnya) beberapa botol kecap dan puluhan sarung agar Gus Dur mau menjualnya. Maksudnya, biar menjadi tambahan uang saku. Apa daya, Gus Dur memang nggak berbakat sebagai pedagang. Kecap dan sarung memang ludes, bukan dibeli, tapi diminta para sahabat-sahabatnya. Hehehhee. (Rijal Mumazziq Z)

Senin 8 Oktober 2018 0:30 WIB
Belajar Tawadhu' dari Kiai Masbuhin Faqih, Mamba'us Sholihin
Belajar Tawadhu' dari Kiai Masbuhin Faqih, Mamba'us Sholihin
KH Masbuhin Faqih, Sumber: Istimewa
Di era media sosial seperti saat ini, pembahasan konflik dan intrik politik cenderung lebih menarik mengalahkan tema budi pekerti, akhlaqul karimah atau tema sejenis lainnya. Akibatnya sifat baik seperti tawadhu’ menjadi barang langka yang asing dan seolah tak penting.

Namun bukan berarti sifat ini telah sepenuhnya hilang. Ia masih ada dan terus tumbuh di lembaga pendidikan bernama pondok pesantren. Para kiai di kalangan NU juga masih memegang teguh prinsip sifat ini. Kiai Masbuhin Faqih (71), pengasuh pondok pesantren Mambaus Sholihin salah satunya. Beliau adalah salah seorang kiai yang meletakkan tawadhu' di tempat yang amat tinggi. Walaupun merupakan kiai besar dengan jumlah santri dan alumni hingga puluhan ribu, namun beliau tak jumawa. Rasa hormat dan takdim pada guru-gurunya tetap dijunjungnya tinggi-tinggi.

Sifat tawadlu'nya tampak saat disowani oleh Kiai Muda Dr Afifuddin Dimyati (39), pengasuh pondok pesantren Hidayatul Quran, Rejoso, Peterongan, Jombang pada Ahad (7/10) pagi. Saat keduanya bersalaman, Kiai Masbuhin yang 32 tahun lebih tua berusaha mencium tangan sang tamu, namun tak berhasil.

Kiai Masbuhin lantas mengatakan “Kulo (saya) yang seharusnya mencium tangan panjenengan," sambil mendekat berusaha meraih tangan sang tamu, namun ditolak secara halus. 


(Kiai Masbuhin Faqih saat berusaha meraih tangan Gus Afif untuk dicium
 
Gus Afif memang bukan guru yang pernah memberi pelajaran pada Kiai Masbuhin. Namun nasab Gus Afif sampai pada guru-guru Kiai Masbuchin. Dari jalur ayah, Gus Afif adalah putra Kiai Dimyati bin Kiai Romli Attamimi. Kiai Romli Attamimi sendiri merupakan guru dari Kiai Usman Al-Ishaqi, yang tak lain adalah guru Kiai Masbuhin. Sementara di sisi ibu, Gus Afif merupakan cucu dari Kiai Ahmad Marzuki Zahid Langitan yang juga merupakan guru Kiai Masbuhin Faqih. Silsilah itulah yang membuat Kiai Masbuhin begitu menghormati Gus Afif seperti menghormati gurunya sendiri. 

Sebenarnya cerita tingginya sifat tawadhu' Kiai Masbuhin pada gurunya telah banyak berkembang. Alkisah, pernah pada suatu hari, seorang santri laki-laki dari Kiai Masbuhin meminta sang kiai untuk melamarkan seorang gadis untuk dijadikan istri. 

Pada waktu yang ditetapkan, berangkatlah sang kiai menuju rumah sang gadis yang akan dilamarkan. Akan tetapi sesampainya di lokasi, Kiai Masbuhin batal melamarkan santrinya, setelah mengetahui bahwa sang gadis merupakan alumni pondok pesantren Langitan, Jawa Timur, tempat beliau menimba ilmu selama belasan tahun. Konon, Kiai Masbuhin ‘tak berani’ melamarkan karena takut su’ul azab pada gurunya. 

Profil Kiai Masbuhin Faqih dan Sejarah Mamba'us Sholihin

Kiai yang oleh masyarakat Gresik dikenal dengan nama Yai Buhin dilahirkan di desa Suci Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik, pada 31 Desember 1947 atau 18 Shafar 1367 H dari pasangan KH Abdullah Faqih dan Nyai Hj Tswaibah. Jika dirunut lebih jauh, silsilah Kiai Masbuhin akan sampai ke Sunan Giri.

Sanad keilmuan Kiai Masbuhin secara formal berasal dari dua pondok pesantren, yakni Gontor dan Langitan. Di Gontor, beliau menimba ilmu sejak di bangku Masdrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah sambil memperdalam bahasa Arab dan Inggris. Setelah lulus, beliau melanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban, di bawah pimpinan KH Abdul Hadi dan KH Abdullah Faqih. Di sana Masbuhin muda memperdalam ilmu Nahwu, Shorof, Fiqh, Tauhid, Tasawwuf dll, selama lebih dari 17 tahun. 

Kelak sistem kedua pesantren ini diduplikasi dan diterapkan di Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin; yakni mengajarkan ilmu-ilmu agama seperti  Langitan dan mewajibkan santrinya berbahasa Arab dan Inggris seperti Gontor. Dari sana pula Mambaus Sholihin dikenal dengan istilah pondok ‘salafi-modern’.

Di tahun 2018 ini, Mambaus Sholihin yang didirikan oleh sang ayah KH Abdullah Faqih dari sebuah surau kecil telah menginjak usia 49 tahun. Pada awalnya, pondok ini bernama “At-Thohiriyah” menyesuaikan dengan nama desa; Suci. Namun nama itu kemudian diganti menjadi “Mambaus Sholihin”, sesuai dengan pemberian guru Mursyid Tariqat Qadariyah Naqsabandiyah, KH Usman Al-Ishaqi.

Seiring perjalanan waktu, pondok pesantren Mambaus Sholihin saat ini telah menjelma menjadi sebuah institusi pesantren yang terbesar di kawasan Pantai Utara Pulau Jawa. Mamba'us Sholihin menyediakan pembelajaran mulai dari level Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah hingga perguruan tinggi bernama Istitut Keislaman Abdullah Faqih (INKAFA). Saat ini, Mambaus Sholihin juga telah berkembang dengan memiliki sembilan cabang pesantren hingga di luar Jawa.

Cara berdakwah pondok pesantren Mamba'us Sholihin juga mengalami adaptasi. Di era digital seperti saat ini, metode dakwah di pondok pesantren Mamba'us Sholihin tidak hanya ditempuh melalui metode formal dan konvensional secara ofline, namun juga disiar-luaskan melalui sejumlah platform digital seperti channel YouTube dan Facebook. 

kendati demikian kebesaran nama itu tak membuat sang kiai jumawa. Beliau tetaplah seorang kiai yang meletakkan rasa hormat yang sangat tinggi pada guru-gurunya, termasuk keturunan dari guru-gurunya. Itulah alasan mengapa Kiai Masbuhin Faqih bersikeras hendak mencium tangan Gus Afif yang puluhan tahun lebih muda darinya; karena Gus Afif adalah cucu dari guru-gurunya. (Ahmad Rozali)
Senin 1 Oktober 2018 4:0 WIB
Habib Utsman Rais Syuriyah PWNU Jabar 1960-1970
Habib Utsman Rais Syuriyah PWNU Jabar 1960-1970
KH Habib Utsman bin Husein bin Utsman bin Abdurrahman Al-Idrus lahir di Kota Bandung pada tanggal l Ramadhan 1329 H bertepaten dengan (1911 M.) Ia adalah ulama dan tokoh masyarakat Jawa Barat yang dikenal tidak saja karena pemikiran-pemikirannya seperti yang tertuang dalam berbagai media, melainkan juga karena perhatiannya yang sangat besar kepada dunia kependidikan. 

Ia adalah pendiri Yayasan Assalaam yang bergerak dalam bidang pendidikan formal, mulai dari jenjang Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Menengah Umum, maupun nonformal, serta dalam bidang sosial keagamaan. 

Ia juga perintis dan pendiri Universitas Nahdlatul Ulama (UNNU) yang merupakan cikal bakal Universitas Islam Nusanlara (Uninus) sekarang ini, dan anggola Dewan Kurator Universilas Islam Bandung (UNISBA) (1962-1985).

Pergaulannya luas. Ia dikenal dengan berbagai tokoh termasuk kalangan pemerintahan. Hal itu menjadikannya seorang tokoh masyarakat yang disegani. 

Dalam keluarga besar Nahdlatul Ulama, terutama di Jawa Barat, ia mendapatkan tempat tersendiri. Di kalangan NU sendiri tercipta kultur penghormalan tinggi kepada keturunan Nabi Muhammad (habaib). Namun, di kalangan NU, ia dihormati tidak saja karena kehabibannya, melainkan karea keulamaannya dan perjuangannya di organisasi itu. 

Habib Utsman tercatat Rais Syuriyah NU tingkat Kotamadya Bandung (1950-1955) dan kemudian Rais Syuriyah Pengurus Wilayah NU Jawa Barat (1960-1970). Pada tingkatan nasional, ia terpilih sebagai Ketua Panitia Muktamar NU ke-24 (1967) di Bandung. 

Di kalangan NU, ia dikenal dekat dengan tokoh-tokoh nasional seperti KH Idham Chalid, H. Subhan Z.E., KH Anwar Musyadad, KH Saifuddin Zuhri, KH Burhan, dan KH Moch. Dahlan. Juga H Mahbub Djunaidi, seorang kolumnis terkenal di samping tokoh NU. Bahkan Mahbub Djunaidi dikebumikan di pemakan keluarga sang habib.

Karena kecintaannya kepada NU, ia mengajak kiai di Jawa Barat untuk aktif di NU. Salah satu kiai yang pernah dimintanya adalah KH Ahmad Syuja’i Cianjur, salah seorang kiai yang banyak melahirkan tokoh NU di wilayah Sukabumi, Bogor dan Cianjur sendiri, saat ini.  

Beliau sendiri, bersama dengan KH Abdul Hamid dan KH Abdullatief Yasin dikenal sebagai tiga serangkai yang selalu bersama-sama dan seia sekata dalam melaksanakan tugas berdakwah dan berorganisasi di NU. 

Dekat dengan Kalangan Pesantren
Meski seorang habib, ia menuntut ilmu kepada kalangan pesantren Sunda. Pada masa mudanya, ia pernah nyantri di pondok pesantren terkenal, yaitu Gentur, Cianjur, yang diasuh Mama Ajengan KH Ahmad Syatibi. Sebuah pesantren yang melahirkan tokoh-tokoh besar, di antaranya KH Ahmad Sanusi (Sukabumi), pengarang Tafsir Raudlatul Irfan dan pendiri organisasi Al-Ittihadul Islamiyah (AII, yang kemudian bergabung dengan Perkumpulan Ulama menjadi Persatuan Umat Islam, PUI).

Sepulang menghabiskan waktu empat tahun mengaji kepada Gentur, Habib Utsman menjadi santri kelana. Ia kemudian berguru ke pesatren-pesantren lainnya. Ia melakukan tabaruk kepada para ulama pimpinan pesantren. 

Ia kemudian menjalin hubungan dekat dengan tokoh-tokoh pesantren di antaranya dengan KH Abdullah Falak, Pagentongan (tokoh NU Bogor), KH Sholeh Madani (Cianjur), Mama Ajengan Santang dan KH Abdumhman, KH Tubagus Bakri (Mama Sempur), ketiganya di Purwakarta, Mama Cibaduyut, Mama Cijawura (Bandung) dan lain-lain. 

Beliau dikenal sangat-istiqonmh dalam melaksanakan amaliah kesehatian. Beliau bangun pada sekilar pukul liga dini hnri, melaksanakan shalat malam, mengaji, memimpin shalat. Kemudian memberikan ceramah subuh, ceramah dluha, dan melaksanakan tugas-tugasnya di Yayasan Assalaam. Dengan naik sepeda, kemudian bertabligh.

Di tengah kesibukannya itu, ia menuangkan pemikiran dari keilmuannya melalui buletin yang rutin diterbitkan  1974-1985. Kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku yang diberi judul, Panggilan Selamat. Karyanya yang lain adalah Sumber Peradaban, Al-Muslih dan Tutungkusan. 

Secara garis besar, khazanah pemikirannya terbagi ke dalam beberapa topik antara lain, Islam sebagai agama yang haq, hakikat manusia, hakikat kehidupan, arkanul iman dan implikasinya dalam amal saleh, arkanul Islam berikut hikmah amaliahnya, akhlak dan tasawuf, peristiwa-peristiwa besar yang sarat makna, Asmaul Husna, dan kapita selekta tentang kehidupan sehari-hari. 

Menurut Habib Utsman, agama Islam adalah agama yang haq (benar), pembawa damai dan selamat. Agama Islam diperuntukan bagi manusia hidup, yang hidup akal pikirannya, perasaannya, kemauannya, dan tujuan hidupnya. Dengan agama manusia berbeda dengan binatang, dengan agama manusia menjadi makhluk yang mulia dibandingkan dengan makhluk lainnya. 

Kesempurnaan ilmu seseorang baru berarti apabila disertai agama. Tujuan agama adalah kebenaran dan sasaran ilmu juga kebenaran. Keduanya menuju kebenaran mutlak. Oleh karena itu, ilmu tidak boleh bertentangan dengan agama. Ilmu untuk mengetahui dan agama untuk merasakan, menghayati, dan mengamalkannya. Ilmu itu bendanya dan agama adalah jiwanya. 

Habib Utsman wafat pada 7 Maret 1985 di Bandung dalam usia 74 tahun. Meski dia telah tiada, warisan keilmuannya terwariskan kepada murid dan anak cucunya, yaitu lembaga pendidikan dan karya tulis. Perjuangannya di NU dilanjutkan salah seorang putranya, Habib Syarif yang pernah menjadi Ketua PWNU Jawa Barat dan kini menjadi mustasyar PCNU Kota Bandung. (Abdullah Alawi)




IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG