IMG-LOGO
Esai

Alasan Pemuda Makassar, Balikpapan dan Salatiga Jadi Relawan Gempa Palu

Rabu 17 Oktober 2018 02:50 WIB
Alasan Pemuda Makassar, Balikpapan dan Salatiga Jadi Relawan Gempa Palu

Palu, NU Online
Dari berita-berita yang beredar, berbagai kiriman foto dan video di media sosial, menggambarkan bagaimana kerusakan beberapa lokasi di Sulawesi Tengah akibat gempa bumi dan tsunami. Timbul kengerian, rasa takut sekaligus takjub bagi Ahmad.

Namun, informasi-informasi tersebut juga mengusik rasa kemanusiaannya. Pemuda aktivis PMII Makassar itu, bersama anggota PMII Makassar lainnya, segera mengorganisasi penggalangan dana yang hasilnya mereka kirim untuk warga terdampak gempa di Sulawesi Tengah.

“Kami kerahkan komisariat-komisariat PMII yang ada di Makassar untuk menggalang dana. Lalu kami belikan beberapa logistik, obat-obatan, pampers untuk bayi dan kami bawa ke Palu,” kata Ahmad di Pos NU Peduli Tavanjuka Kota Palu.

Ahmad dan tujuh anggota PMII Makassar tiba di Palu 7 Oktober 2018. Tak lama setiba di Palu, mereka tergabung dengan Tim NU Peduli yang juga sejak beberapa hari sebelumnya telah tiba di Palu untuk melakukan pelayanan kepada warga.

Bergabug bersama NU Peduli dalam penanganan dampak bencana, bagi Ahmad memang sebuah usaha untuk membesarkan NU sendiri.

“Bagaimanapun kami ini santri NU dari PMII Makasar,” ujarnya.

Bukan hanya anggota laki-laki yang berangkat ke Palu. Relawan PMII Makassar ada juga yang perempuan. Selama di Palu mereka berbagi tugas di beberapa kluster.

“Kami ada yang diperbantukan di tim medis, pendistribusian logistik, ada yang menjaga gudang, dan yang perempuan membantu dapur umum,” imbuh Ahmad.

Di Palu, Ahmad dan teman-temannya juga mendirikan tenda yang ia namai pos PMII Makassar. Tenda ini terbuat dari terpal, didirikan di antara tenda pengungsian warga terdampak gempa.

“Kami datang ke sini bukan untuk berwisata ataupun bersenang-senang. Jadi kami bikin tenda sendiri, tidur di dalam tenda. Kami merasakan bagaimana warga di pengungsian, merasakan kedinginan dan penderitaan mereka,” kisahnya lagi.

Sepekan berada di Palu, Ahmad dan teman-temannya merasakan bagaimana bersentuhan langsung dengan warga terdampak gempa di Palu, Donggala dan Sigi, tiga kabupaten terdampak gempa dan tsunami berkekuatan 7,4 SR pada 28 September 2018.

Hal paling paling menarik selama menjadi relawan bagi Ahmad, ia melihat solidaritas dan kepedulian dari para relawan NU Peduli. “Orangnya (para relawan) ramah-ramah. Menurut saya ini juga ajang teman-teman NU Peduli untuk saling menjalin silaturahim, karena silaturahim kan juga anjuran Rasulullah Muhammad,” tuturnya.

Sementara pengalaman paling mengesankan dengan warga yang didapat Ahmad adalah saat mengantar logistik dan membantu tim medis, terlihat keceriaan dan kebahagiaan warga.

“Mereka yang terkena penyakit atau kesusahan makanan, saat kita datang ke sana mereka jadi senang karena dipedulikan oleh NU,” kata Ahmad.

Ahmad sendiri karena memiliki keahlian menyetir mobil sering kali menjadi sopir mobil saat NU Peduli mengantar bantuan kepada warga di pengungsian.

Selain Ahmad ada Zahrina, relawan NU Peduli LPBI NU Boyolali Jawa Tengah. Gadis anggota Mapala Mitapasa IAIN Salatiga ini mengaku ingin sekali tahu kondisi warga terdampak gempa di Sulawesi Tengah.

“Saya ingin berinteraksi langsung dengan saudara-saudara kita yang terkena musibah, dan membantu mereka sebisa saya,” tutur Zahrina.

Zahrina yang mengaku takut melihat jenazah, apalagi saat ia mendengar adanya isu pencurian di Palu. Tiba di Palu 12 Oktober bersama dua rekan lainnya, Zahrina kini ditempatkan di bagian pencatatan keluar masuknya barang bantuan di pos induk NU Peduli. Namun sering juga ia membantu memasak dan membuatkan minuman untu relawan lainnya.

Dari Kalimantan Timur, ada Rhofitania dan Maulana dari PMII Balikpapan. Mereka tiba di Palu 12 Oktober, dan ‘dipasrahkan’ oleh Ketua LAZISNU Balikpapan Nur Halim kepada NU Peduli untuk siap membantu kelancaran kegiatan NU Peduli.

Rhofitania, Mahasiswa STITBA Balikpapan ini, mengaku trenyuh dengan keadaan di pengungsian warga terdampak gempa dan tsunami. Melihat kesusahan warga bagi Fita merupakan beban moral. “Sedih, apalagi kalau melihat anak-anak kecil yang kehilangan orang tuanya,” tuturnya.

Rasa itulah yang membuat Fita mengaku siap menjalankan tugas-tuga di Pos NU Peduli. “Saya dan Zahria membantu pendataan logistik bantuan untuk warga. Sebisa mungkin saya menjalankan tugas ini sebaik-baiknya,” tekad Fita.

Hadirnya para relawan berusia muda ini, seperti menegaskan bahwa para mahasiswa dan pemuda juga dapat berkiprah membantu sesama manusia, terlebih warga yang sedang dirudung duka akibat bencana. (Kendi Setiawan)

Bagikan:
IMG
IMG