IMG-LOGO
Internasional

Di Musim Gugur Ini NU Jerman Punya Kantor di Berlin

Selasa 16 Oktober 2018 16:0 WIB
Bagikan:
Di Musim Gugur Ini NU Jerman Punya Kantor di Berlin
Para pengurus PCINU Jerman saat peresmian kantornya
Berlin, NU Online 
Musim gugur yang umumnya bersuhu dibawah 15°C, pada hari itu 13 Oktober, matahari bersinar tak malu-malu di di ibu kota Jerman, Berlin. Hawanya istimewa mirip seperti musim panas. Lebih istimewa lagi, sehari sebelumnya, pada pukul 12 siang sebagian Nahdliyin di Jerman berkumpul di Landsberger Allee 394, ruang 721, untuk acara peresmian kantor PCINU Jerman.

Keistimewaan ini tidak hanya disebabkan karena PCINU Jerman memiliki kantor untuk pertama kalinya, tetapi juga acara peresmian yang dihadiri oleh jajaran mustasyar, syuriyah, serta tanfidziyah, yang tinggal tidak hanya di Berlin, melainkan juga dari berbagai penjuru Jerman: München, Heidelberg, Stuttgart, Dresden, Dessau, Frankfurt, Wiesbaden, Bremen, dan Karlsruhe.

Setelah acara dibuka dengan Maulid Simtudduror, dzikir Sunan Ampel dan Shalawat Al-Fatih ijazah dari KH Thobary Syadzily, peresmian kemudian ditandai dengan penandatanganan piagam peresmian oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Federal Jerman, Arif Havas Oegroseno, dan Rais Syuriyah PCINU Jerman, KH Syaeful Fatah.

Bertambah istimewa acara ini sebab turut hadirnya para sahabat dari Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) se-Jerman Raya, Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia (KMKI) Berlin, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Berlin, dan Pusat Kebudayaan dan Kearifan Indonesia (IWKZ, Masjid Al-Falah) Berlin.

Acara peresmian berakhir sekitar pukul 14:30. Saat sebagian undangan meninggalkan lokasi, seluruh pengurus PCINU Jerman tetap tinggal di lokasi untuk melaksanakan bahtsul masail yang pertama di kantor barunya agar tak menyia-nyiakan kesempatan berkumpul yang langka ini. Mereka menyelesaikan forum diskusi berbagai permasalahan aktual di lingkungan PCINU Jerman ini tepat pada pukul 23:00.

Tak lupa pada kesempatan tersebut, para pengurus memohon doa dari segenap masyarakat agar dari ruangan tersebut akan banyak barokah dan manfaat yang dihasilkan, terutama untuk diri mereka sendiri agar terus berproses menuju kebaikan, juga untuk masyarakat sekitar.

Bagi masyarakat Muslim di Jerman yang tertarik, baik untuk bergabung, bekerjasama, ataupun sekedar ingin tahu lebih lanjut mengenai PCINU Jerman, silahkan kunjungi website https://www.pcinu.de. (Red: Abdullah Alawi)

Bagikan:
Senin 15 Oktober 2018 23:30 WIB
Drama Jamal Khashoggi, Jurnalis Asal Saudi yang Hilang di Turki (Bagian VIII)
Drama Jamal Khashoggi, Jurnalis Asal Saudi yang Hilang di Turki (Bagian VIII)
Foto: AFP
Istanbul, NU Online
Kasus hilangnya Jamal Khashoggi (59) di Kedutaan Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu memasuki babak baru. Sebelumnya otoritas Saudi terkesan ‘irit bicara’ soal kasus Jamal Khashoggi ini. Namun kali ini Saudi berupaya menanggapi berbagai tudingan yang mengarah kepadanya.

Menteri Dalam Negeri Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Saud bin Naif bin Abdulaziz, membantah secara tegas bahwa Jamal Khashoggi dibunuh atas perintah ‘pimpinan Saudi’ di dalam gedung Konsulat. Baginya, tuduhan tersebut adalah sebuah hal yang tidak benar dan tidak berdasar. Demikian kata Pangeran Abdulaziz bin Saud sebagaimana diberitakan kantor berita Saudi, SPA, Sabtu (13/10). 

Selain itu, pihak Saudi juga terlihat ‘lebih serius’ mengungkap apa yang sebetulnya terjadi kepada Jamal Khashoggi. Pada Ahad, (14/10), Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud dilaporkan menelepon Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk membahas kasus hilangnya Jamal Khashoggi.

Diberitakan kantor berita kantor berita Anadolu Agency, Senin (15/10), dalam percakapan telepon tersebut kedua pemimpin negara itu membicarakan tentang pembentukan tim gabungan  Turki dan Saudi untuk mengungkap kasus hilangnya Jamal Khashoggi. 

Sementara kantor berita Saudi, SPA, memberitakan bahwa Raja Salman mengucapkan terima kasih kepada Presiden Erdogan karena telah menyambut baik pembentukan tim gabungan. Raja Salman juga menekankan untuk menjaga hubungan baik Saudi dan Turki. Atas hal itu, Presiden Erdogan menyampaikan apresiasinya kepada Raja Salman.

Tidak hanya itu, Raja Salman juga memerintahkan jaksa penuntut umum untuk mengungkap kasus hilangnya Jamal Khashoggi secara tuntas. 

"Raja (Salman) memerintahkan Jaksa Umum untuk membuka sebuah penyelidikan internal terhadap persoalan Kashoggi berdasarkan informasi dari tim gabungan di Istanbul," kata salah seorang pejabat Saudi, dikutip dari laman Reuters, Senin (15/10).

Jenazahnya dilarutkan dengan zat asam

Hilangnya Jamal Khashoggi memunculkan banyak spekulasi. Pihak Saudi menyebut kalau Jamal Khashoggi sudah meninggalkan Konsulat beberapa jam setelah masuk. Pihak Turki mengklaim bahwa Jamal dibunuh di dalam gedung dan mayatnya dipotong-potong. Terbaru ada spekulasi bahwa Jamal Khashoggi dibunuh dan jenazahnya ‘dilarutkan’ dengan zat asam. Tuduhan ini dibeberkan oleh seorang kolumnis media lokal Turki, Haberutk, Svilay Yilman.

Yilman menuturkan bahwa saat ini otoritas Turki tengah menyelidiki tuduhan tersebut –Jamal dibunuh dan jenazahnya dilarutkan- secara serius.

"Mereka memeriksa apakah jenazah Khashoggi dilarutkan dengan zat asam," kata Yilman, sebagaimana dilansir media lokal Turki, Hurriyet Daily News, Senin (15/10).

Menolak sanksi

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, Saudi akan dikenai sanksi berat apabila Jamal Khashoggi terbukti terbunuh di Konsulat Saudi di Istanbul. AS mendesak Saudi untuk mengungkap apa yang sebetulnya terjadi kepada Jamal Khashoggi.

“Kita akan menyelidiki sampai ke akar dan akan ada hukuman berat,” kata Trump seperti dilansir CNBC International, Ahad (14/10).

Tidak hanya AS, sejumlah negara Eropa seperti Inggris, Jerman, dan Prancis juga mendesak Saudi untuk memberikan keterangan yang jelas dan detil perihal kasus hilangnya Jamal Khashoggi. 

Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris Jeremy Hunt, Menlu Prancis Jean-Yves Le Drian, dan Menlu Jerman Heiko Maas mengemukakan bahwa proses penyelidikan harus terus dilakukan sampai Jamal Khashoggi ditemukan. 

“Dalam semangat ini, pencarian harus diteruskan terhadap hilangnya jurnalis Saudi Jamal Khashoggi, yang keluarganya kehilangan kontak sejak 2 Oktober,” kata para menlu tersebut, dilansir Anadolu.

Merespons ancaman sanksi tersebut terkait hilangnya Jamal Khashoggi, Saudi menyatakan akan membalas setiap ancaman dan sanksi yang dialamatkan kepada mereka.

“Kerajaan menyatakan penolakan total terhadap setiap ancaman dan upaya untuk melemahkannya baik lewat ancaman sanksi ekonomi, tekanan politik atau mengulangi tuduhan palsu,” demikian pernyataan seorang pejabat tinggi Saudi yang tidak diungkap identitasnya, dilansir kantor berita Saudi, SPA, Ahad (14/10).

“Kerajaan juga menegaskan bahwa jika menerima tindakan apa pun, akan meresponsnya dengan tindakan yang lebih besar dan bahwa ekonomi Kerajaan memiliki peran yang berpengaruh dan vital dalam ekonomi global," tambahnya. (Red: Muchlishon)
Senin 15 Oktober 2018 13:30 WIB
Soal Perlakuan China terhadap Muslim di Xinjiang, PBNU: Kita Prihatin
Soal Perlakuan China terhadap Muslim di Xinjiang, PBNU: Kita Prihatin
Foto: Reuters
Jakarta, NU Online
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H. Masduki Baidlowi mengaku prihatin dengan perlakuan otoritas China terhadap Muslim Uighur di wilayah otonomo barat laut Xinjiang. Ia menyebutkan, dalam beberapa laporan yang diterimanya Muslim di Xinjiang mendapatkan perlakuan diskriminasi.

“Saya sangat prihatin dengan kondisi masyarakat Muslim di Xinjiang Cina,” katanya saat dihubungi NU Online, Senin (15/10).

Sebagaimana hadits nabi, Ia kemudian mengibaratkan bahwa umat Islam itu seperti tubuh yang satu. Apabila ada satu umat Islam yang tersakiti, maka umat Islam yang lainnya juga merasakan rasa sakit itu. Jika Muslim di Xinjiang 'mengalami kesakitan,' maka Muslim di seluruh dunia juga merasakan hal yang sama. 

“Jika kaki sakit maka yang merasa sakit bukan cuma kaki saja, tetapi seluruh tubuh kita juga merasakan sakit,” papar.

Ia menuturkan, ‘sakit yang diderita’ Muslim di Xinjiang akibat diskriminasi dan perlakuan tidak adil serta pelanggaran otoritas setempat  terhadap prinsip-prinsip hak asasi manusia masyarakat Muslim di sana.

Sebelumnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi hak asasi internasional menuduh China telah ‘menahan’ satu juta Muslim Uighur 'kamp-kamp interniran.' Menurut Human Right Watch, di ‘kamp-kamp tahanan itu,’ Muslim Uighur dan lainnya dilarang mengucapkan salam. Mereka harus mempelajari bahasa Mandarin dan menyanyikan lagu-lagu propaganda. Jika menolak instruksi yang ditetapkan pihak berwenang, mereka akan dihukum seperti tidak mendapatkan makanan, berdiri selama 24 jam, atau ditempatkan di ruang isolasi.

Meski demikian, China menyangkal telah melakukan penahanan dan kekerasan secara sistematis kepada Muslim Uighur. Mereka berdalih, kamp tersebut dimaksudkan sebagai tempat ‘pendidikan ulang’ bagi mereka yang terpapar ekstremisme agama dan pusat pelatihan kejuruan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. 

“Warga Xinjiang termasuk orang-orang Uighur menikmati kebebasan dan hak yang sama," Hu Lianhe, juru bicara Departemen Pekerjaan Front Bersatu Cina, dikutip CNN, Kamis (11/10). (Muchlishon)
Ahad 14 Oktober 2018 23:0 WIB
China: ‘Cinafikasi’ Agama di Xinjiang Harus Tetap Berlanjut
China: ‘Cinafikasi’ Agama di Xinjiang Harus Tetap Berlanjut
Muslim Uighur. Foto: Reuters

Urumqi, NU Online
Seorang pejabat senior Partai Komunis China (CPC) menyerukan penerapan kebijakan etnis di wilayah otonomi barat laut Xinjiang, rumah bagi Muslim Uighur. Dikatakan pula bahwa cinafikasi (sinicization) pada agama –Islam- harus terus dilakukan untuk mempromosikan solidaritas etnis dan kerukunan beragama.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh You Quan, seorang anggota Sekretariat Komite Pusat CPC dan kepala Departemen Kerja Gabungan Serikat Komite Pusat CPC, selama kunjungannya ke Xinjiang.  

Cinafikasi (sinicization) merupakan sebuah proses dimana masyarakat non-China dipengaruhi dengan budaya China, khususnya budaya China Han. Sehingga mereka hidup dengan ‘cara China.’

Selama di Urumqi dan Hotan, Quan mengunjungi masjid, madrasah, berbicara dengan pemerintah setempat, serta berdiskusi dengan kader partai dan tokoh agama.

Dia menegaskan, kepemimpinan partai atas agama harus ditegakkan. “Infiltrasi ekstremisme agama harus dijaga,” kata Quan, dikutip dari laman kantor berita yang dikelola pemerintah China, Xinhua, Sabtu (13/10).

Quan menyebut, orang-orang yang berada di lingkungan beragama dapat mewarisi dan meneruskan tradisi-tradisi halus untuk mencintai tanah air dan iman mereka. Mereka juga diharapkan bisa mengikuti iman yang benar, mematuhi hukum, dan berkontribusi pada perkembangan Islam yang sehat.

Sebelumnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi hak asasi internasional menuduh China telah ‘menahan’ satu juta Muslim Uighur 'kamp-kamp interniran.' Menurut Human Right Watch, di ‘kamp-kamp tahanan itu,’ Muslim Uighur dan lainnya dilarang mengucapkan salam. Mereka harus mempelajari bahasa Mandarin dan menyanyikan lagu-lagu propaganda. Jika menolak instruksi yang ditetapkan pihak berwenang, mereka akan dihukum seperti tidak mendapatkan makanan, berdiri selama 24 jam, atau ditempatkan di ruang isolasi.

Otoritas China juga meluncurkan kampanye anti produk yang berlabel halal di Provinsi Xinjiang dengan alasan untuk menghentikan pengaruh Islam dalam kehidupan sekuler di China dan memerangi ekstremisme. 

Meski demikian, China menyangkal telah melakukan penahanan dan kekerasan secara sistematis kepada Muslim Uighur. Mereka berdalih, kamp tersebut dimaksudkan sebagai tempat ‘pendidikan ulang’ dan pusat pelatihan kejuruan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. (Red: Muchlishon)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG