IMG-LOGO
Pustaka

Membaca Khazanah Pemikiran Hasyim Muzadi

Jumat 19 Oktober 2018 3:0 WIB
Bagikan:
Membaca Khazanah Pemikiran Hasyim Muzadi
Kecerdasan mantan Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH A. Hasyim Muzadi, baik dalam hal intelektual maupun organisasi, tidak ada yang meragukan lagi. Kiprahnya tidak sekadar di level nasional, bahkan internasional. 

Kesaksian akan khazanah dan kecemerlangan pemikiran-pemikiran KH. A. Hasyim Muzadi, itu antara lain ‘’terangkum’’ dalam buku apik karya Tasirun Sulaiman, KH. A. Hasyim Muzadi Sang Peace Maker.

Membagi dalam empat bagian, Tasirun Sulaiman mengawali bukunya dengan mengulas tentang ‘’Pergumulan Sang Peace Maker’’ (Bagian I), Pemikiran Sang Peace Maker di Pentas Nasional (Bagian II), Pemikiran Sang Peace Maker di Pentas Internasional (Bagian III) dan ditutup dengan ulasan mengenai Peran Sang Peace Maker dalam Menciptakan Perdamaian (Bagian IV). 

Dalam buku ini, penulis memaparkan betapa KH A. Hasyim Muzadi tidak meraih amanah memimpin PBNU secara sertamerta, melainkan dia menapaki memimpin Nahdlatul Ulama (NU) sebagai anggota GP Ansor dan di PMII. (Hal 3)

Tahun 1992, KH A. Hasyim Muzadi terpilih untuk memimpin PWNU Jawa Timur. Dan keberhasilannya memimpin PWNU Jawa Timur itulah, yang kemudian mengantarkannya sebagai Ketum PBNU dengan KH MA. Salah Mahfudh sebagai rais syuriyah. 

Selama memimpin organisasi NU, KH A. Hasyim Muzadi sangat sadar akan pentingnya membangun serta memperbaiki kondisi umat, tidak sekadar warga Nahdliyyin yang dipimpinnya, juga bangsa Indonesia secara keseluruhan. 

Maka baginya, banyak hal yang mesti mendapatkan perhatian dan lebih diberdayakan, baik dalam bidang pendidikan, perekonomian, organisasi harus dibangun dengan tangguh, dan budaya lokal sebagai ciri khas Nahdliyin harus dikuatkan sebagai kekuatan kultural. (Hal. 7)

Buku ini semakin menarik, karena mendedahkan berbagai ‘’kesaksian’’ tentang peran-peran penting yang pernah dilakukan oleh KH A. Hasyim Muzadi di level nasional maupun internasional, antara lain melalui forum Interfaith, menampilkan wajah Islam ramah di Inggris, hingga ‘’membela si Miskin di PBB, New York. 


Peresensi adalah Rosidi, pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Kudus, Pemimpin Redaksi Suaranahdliyin.com dan staf pengajajar MA. NU. Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus.

Identitas buku: 
Judul : KH. A. Hasyim Muzadi Sang Peace Maker
Penulis: Tasirun Sulaiman 
Penerbit: Real Books, Yogyakarta 
Cetakan: I, 2017

Bagikan:
Selasa 2 Oktober 2018 8:0 WIB
Mengkaji dan Mengaji Semesta Raya
Mengkaji dan Mengaji Semesta Raya
Seiring menuanya zaman, diam-diam ada yang hilang dari kehidupan manusia, utamanya masyarakat kota, yaitu eksotisme langit. Kelap-kelip gemintang termanipulasi oleh gemerlap lampu perkotaan. Indahnya matahari terbit dan terbenam tertabiri deretan gedung tinggi menjulang.

Pergantian siang dan malam hanya dipahami sederhana sebagai isyarat untuk bekerja dan beristirahat. Padahal jika disimak dan direnungi lebih jauh, peristiwa-peristiwa tersebut bukan hanya formalitas dan kesia-siaan semata, tapi mengandung pesan dan pelajaran yang sangat berharga.

Dalam khazanah keilmuan, sains dapat berperan sebagai media untuk mengkaji sekaligus menafakuri gejala alam yang terjadi. Namun di ranah agama, beberapa kelompok seringkali memetak-pisahkan kesinambungan antara sains  dan al-Quran, lantaran fakta-fakta alam yang berhasil diungkap sains dinilai tidak searah dengan ayat-ayat kauniyah yang tertulis dalam kitab suci. Salah satu misal, perihal kepercayaan bumi datar yang kata penulis buku ini sebatas dongeng belaka.

Melalui “Semesta pun Berthawaf”nya, T. Djamaluddin menampilkan sudut yang berbeda untuk memandang posisi sains dalam agama. Menurutnya, asumsi yang menggaungkan bahwa sains menyalahi al-Quran, sebenarnya disandarkan pada penafsiran yang dicomot sembarangan terhadap ayat-ayat kauniyah sehingga tercerabut dari konteksnya.

Seperti kata Firasyan(hamparan) dalam QS. Al-Baqarah ayat 22 yang sejatinya bermakna “hamparan tempat istirahat”, bukan dalam makna keseluruhan bumi datar. Demikian pula term-term lain yang kerapkali diartikan terlalu sederhana dan jauh dari objektivitas tafsirnya, semacam kata Madadnaha(QS [15]: 19), Barizatan(QS [18]: 47), Mihadan(QS [78]: 6), dan Suthihat (QS [88]: 20). 
 
Di samping meluruskan ketimpangan antara sains dan agama,  Profesor Riset Astronomi Astrofisika LAPAN dan Tim Tafsir Ilmi Kemenag RI ini juga mengurai proses tata kerja benda-benda langit yang kaya hikmah dan permenungan. Allah adalah kreator terbaik yang menciptakan jagad raya, dengan keindahan, keharmonisan dan keteraturan dalam setiap mekanismenya. Namun, kreasi ini bukan sekedar konsumsi indrawi, Allah juga menyiratkan hikmah di balik penciptaan sebagai konsumsi batin manusia. 

Untuk kita yang masih enggan berdamai dengan kemajemukan bangsa ini, barangkali perlu belajar dari harmoni pelangi yang amat indah sekalipun terdiri atas aneka spektrum warna. Pelangi menggambarkan hakikat persatuan. Karakteristik masing-masing komponen tidak perlu ditonjolkan, dihilangkan atau diseragamkan, karena keanekaragaman adalah kekayaan. Masing-masing elemen memiliki perannya sendiri dan tidak saling mendominasi(hlm. 29).

Bintang juga menyimpan hikmah agung yang berkelindan langsung dengan kehidupan manusia. Bintang tidak selamanya di atas. Ada saatnya muncul, mencapai puncak, kemudian pada saatnya juga akan tenggelam. Bintang juga tidak selamanya cemerlang. Awan gelap, polusi cahaya dan polusi udara kadangkala usil menghalangi cahayanya.

Siklus bintang ini merupakan analogi dari seorang pemimpin, yang lahir, menggapai masa emasnya, kemudian wafat atau mundur teratur mengalami keruntuhan. Adakalanya kecemerlangan sang pemimpin meredup dan dilupakan orang karena tertutup “awan gelap” kondisi politik masanya. Terkadang pula, “polusi” berupa godaan duniawi mengganggu kecemerlangannya, dan akhirnya sinar sang pemimpin lenyap begitu saja (hlm. 23).

Sebenarnya tidak satu pun karya manusia yang mampu menuntaskan hikmah di balik penciptaan yang serupa mayapada tak berujung ini. Namun, setidaknya buku ini bisa menjadi salah satu media tafakur bagi kehidupan manusia kekinian, yang semakin enggan mengkaji dan mengaji semesta raya.

Dengan ilustrasi dan foto-foto serta gaya bahasa yang menarik dan menyenangkan. Sang penulis buku T. Djamaluddin menggiring kita untuk tidak sekedar melihat dan menikmati alam semesta dalam wujud an sichnya. Lebih jauh, pikiran kita diarahkan pada sejumlah pertanyaan: Apa, siapa, mengapa, kapan dan bagaimana wujud itu berada secara eksistensial dan menautkannya dengan fungsi-fungsi universal kehidupan manusia.

Sebuah upaya untuk mendekatkan diri pada Allah dan mencapai predikat “Ulul Albab”, yaitu para cendekia yang pandai menggunakan akalnya untuk membaca dan menyimak realitas alam semesta. Wallahu a’lam. Selamat membaca dan Salam Literasi!

Peresensi adalah Muhammad Faiz As, santri pegiat literasi yang bermukim di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan Guluk-guluk, Sumenep, Jawa Timur.

Identitas buku: 
Judul: Semesta pun Berthawaf
Penulis: T. Djamaluddin
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Maret 2018
ISBN: 978-602-441-051-3
Jumat 28 September 2018 23:15 WIB
Teladan Tokoh Muslim Tetap Aktual Hingga Kini
Teladan Tokoh Muslim Tetap Aktual Hingga Kini
Panglima Khalid bin Walid tiba-tiba saja jabatannya dicopot Khalifah Umar bin Khatab tanpa dijelaskan duduk perkaranya, tanpa ada kesalahan sedikit pun. Panglima itu kemudian hanya menjadi prajurit biasa saja.

Meski demikian, Khalid bin Walid tidak sedikit pun luntur semangatnya dalam menghadapi peperangan. Bagi dia, berperang bukan karena sebagai jabatan panglima, tetapi kebesaran agama Islam dan karena Allah. 

Belakangan Umar menjelaskan bahwa mencopot Khalid itu bukan karena kesalahan, melainkan supaya tidak tumbuh sedikit pun rasa sombong dalam dirinya. Ia juga ingin memberi tahu kepada masyarakat Muslim waktu itu, bahwa Islam tersebar tidak hanya karena jasa Khalid.  

Bagaimana jika peristiwa tersebut terjadi zaman sekarang di suatu negara? Mungkin sudah geger dan menjadi isu internasional. Bahkan bisa berembus isu kudeta. Namun, peristiwa semacam itu tidak menjadi goncangan berarti pada umat Islam, terutama tokoh-tokohnya.

Karena apa? Mereka dikader langsung oleh Nabi Muhammad yang selalu dibimbing wahnya. Mereka sedari awal menyadari, posisi dan jabatan hanyalah sementara dan bukan untuk dipertahanakan dengan darah. 

Teladan semcam itu banyak dijumpai dalam sejarah Islam. Karena mengandung nilai kemanusiaan yang universal, rasanya tetap aktual hingga hari ini. Bahkan harus diaktualisasi dengan terus mengisahkannya baik melalui buku, ceramah, video, meme, infografis dan lain-lain. 

Penerbit Pustaka Jaya yang berjaya pada tahun 1970 hingga 1990-an, menerbitkan beberapa buku terkait sejarah Nabi, sahabat dan tokoh-tokoh sejarah Islam. Isinya adalah teladan dan hikmah yang tetap aktual hingga hari ini. Di antaranya kepemimpinan Umar bin Khatab. 

Endang Basri Astari mengumpulkan kisah-kisah tersebut dalam buku berjudul Kisah-kisah dari Tarikh. Di dalam buku itu memuat teladan dari Abu Bakar, sahabat yang begitu setia kepada Nabi Muhammad dalam kondisi apa pun.  

Buku tersebut sarat dengan kisah bermuatan hikmah, yang bisa dipetik pelajarannya tidak hanya bagi para pemimpin, tapi juga rakyat biasa. Buku ini menceritakan kebijaksanaan, keberanian, persahabatan sejati, baiknya membalas budi, bekerja tanpa pamrih, dan cara memimpin umat Islam. Bahkan ada kisah yang lucu dari Khalifah Al-Mahdi.

Namun sayangnya, buku ini tidak mencantumkan rujukan satu pun, apalagi catatan kaki sehingga pembaca tidak dapat menelusuri kepada naskah aslinya. Meski demikian, buku ini layak dibaca, paling tidak untuk dongeng sebelum tidur, tak hanya buat anak-anak, tapi orang tua. 

Info Buku:
Judul              : Kisah-kisah dari Tarikh 
Penulis           : Endang Basri Astari
Cetakan          : 1977
Penerbit          : Pustaka Jaya
Tebal               : 124 Halaman
Peresensi       : Abdullah Alawi
Ahad 23 September 2018 6:0 WIB
Menelusuri Jagat Sufisme Ibnu Athaillah
Menelusuri Jagat Sufisme Ibnu Athaillah
Dalam khazanah Islam, kitab kuning menempati posisi paling krusial sebagai wadah  tranformasi keilmuan dan pelestarian ajaran-ajaran Islam. Asas-asas agama semacam, ahlak, fiqih dan akidah tertampung dalam lembaran-lembaran kuning yang lumrahnya tanpa tanda baca dan harakat.

Bagi masyarakat pesantren, menekuri lembar demi lembar kitab kuning dan mempelajarinya bukanlah hal yang asing dan sulit. Tradisi pembelajaran ilmu alat seperti nahwu dan sharaf memiliki andil besar sebagai medium untuk memahami literatur-literatur klasik, semacam kitab Al-Hikam yang merupakan masterpiece Syekh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari ini.

Di Indonesia sendiri, karya syekh Ibnu Athaillah tersebut begitu fenomenal, utamanya di lingkungan pesantren. Bahkan KH. Hasyim Muzadi menetapkannya sebagai nama pondok pesantrennya di Malang (al-Hikam). Untaian-untaian kata mutiara yang sangat menandakan kedalaman makrifat sang muallif, khususnya mereka yang tengah menempu jalan menuju Allah. Barangkali inilah alasan penerjemahan kitab ini, padahal secara isi dan materi, kitab ini cukup berat untuk dicerna nalar biasa. 

Hadirnya versi terjemahan yang diterbitkan oleh Qaf Media ini merupakan berita gembira bagi mereka yang gagap literasi klasik. Mereka bisa mereguk hikmah-hikmah menyejukkan tanpa perlu mengernyitkan dahi menelaah lembar kitab kuningnya terlebih dahulu. Di ranah pesantren, kedudukan kitab ini sangat spesial, bahkan di beberapa pesantren, seorang santri terlebih dahulu harus khatam kitab Sullamut taufiq dan Bidayatul hidayah sebagai pengantar demi membaca kitab ini.  

Sebagai seorang arif billah, Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari telah mengenali proses terjal dan penuh liku-liku yang harus di tempuh seorang salik, dan kitab ini serupa buku panduan untuk melaluinya dengan baik, terlebih di zaman yang disesaki ontran-ontran duniawi dan hedonisme ini. Tentunya kita tidak perlu khawatir kitab ini akan melencengkan kita dari syariat, karena kitab ini ditulis dengan basis Al-quran dan sunnah, nyaris searah dengan mekanisme yang ditempuh Imam Al-Ghazali (hlm. 98) 

Kredibilitas Ibnu ‘Atha’illah sendiri tidak perlu diragukan. Ulama yang hidup sekitar 700 tahun lalu ini tergolong penulis yang produktif. Tidak kurang dari 20 karya lintas bidang pernah dita’lifnya, seperti tasawuf, tafsir, ushul fiqh dan lainnya. Di antaranya adalah Unwaan al-Taufiq fi ‘dab al-Thariq, latha’iful minan, dan Miftah al-Falah serta beragam kitab lain yang belum penulis ketahui dan konon, kitab Al-Hikam ini adalah magnum opus dari seluruh karya Beliau. Beliau juga mamiliki posisi sebagai syekh ke-3 dalam tarekat Syadziliyah.

Di masanya, tidak sedikit pihak yang antipati dan melancarkan berbagai kritik terhadap ajaran sufi, salah satunya adalah Ibnu Taimiyah. Sejarah telah mencatat dialog sengit yang pernah terjadi antara dua ulama ini. Menurut ibnu Taimiyah, ajaran tasawuf terlalu mengada-ada dan tanpa dasar, baik dari al-Quran atau pun Sunnah. Kritik-kritik ini ditanggapi dengan santun oleh Syekh Ibnu ‘Atha’illah melalui karyanya, yaitu Al-Qaul al-Mujarrad fi al-Ism al-Mufrad.

Guru Besar Psikologi UI, Prof. Dr. Ahmad Mubarak, MA, pernah menuturkan bahwa karya tasawuf model al-Hikam ini lahir dari penghayatan spiritual terhadap dinamika sosial yang cenderung menyimpang dari nilai-nilai akhlak Islam. Ketika umat lebih suka mengkoarkan argumentasi ‘aqly dan naqly, para sufi melalui makrifatnya lebih memilih merumuskan kaidah-kaidah agama dengan petikan-petikan hikmah yang menyejukkan. Ini mengindikasikan bahwa keluhungan etika adalah pondasi utama membangun ketentraman agama secara umum dan menyerukan eksistensi manusia yang sejati, yaitu sebagai Abdullah.

Selain Syarah al-Hikam yang ditulis oleh Dr. Ashim Ibrahim al-Kayyali ini, ada banyak ulama lain yang pernah menulis syarah atau komentar terhadap al-Hikam, diantaranya: Ibn Abbad, Ibn Ajibah, Syekh al-Syarnubi, Syekh Ahmad al-Zarruq dan Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati.

Sebenarnya terjemahan kitab ini pun sudah banyak beredar di Indonesia dengan pengulas yang berbeda pula, sebut saja al-Hikam yang diulas oleh syekh asy-Syarqawi al-Khalwati yang dialihbahasakan oleh penerbit Turos dan ditahbis sebagai “terlengkap yang pernah diterbitkan”.

Kendatipun berskala lebih kecil, terjemahan al-Hikam yang diulas oleh Dr. Ashim Ibrahim al-Kayyali ini, memiliki nilai tawar yang tidak bisa disepelekan. Pasalnya, dalam terjemahan kitab ini termaktub al-Hikam al-‘athaiyyah al-shugra yang selama ini masih berupa manuskrip dan belum tersentuh bahasa populer. Terdapat pula istilah-istilah penting dalam belantara tasawuf Syekh Ibnu ‘Atha’illah yang dikupas tuntas agar pembaca lebih mengenali spiritualitas Islam.

Kitab al-Hikam ini adalah semacam antitesis dari kehidupan umat yang telah mengalami disorientasi akibat desakan duniawi dari berbagai aspek kehidupan. Kekalutan politik, kehausan material, adalah sekilas potret kekacauan umat kekinian yang berakibat pada kegersangan spiritual. Dan kitab al-Hikam ini hadir di tengah-tengah kita laksana oase yang melebur kehausan dan menjernihkan qalbu dari segala anasir-anasir yang menghijab dari Allah. Wallahu a’lam, salam literasi dan selamat membaca!

Peresensi adalah Muhammad Faiz As, santri pegiat literasi yang bermukim di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan Guluk-guluk, Sumenep, Jawa Timur.

Identitas buku:
Judul Buku: Al-Hikam Ibnu ‘Atha’illah: Jalan Kebahagiaan 
Penulis: Ibnu ‘Atha’illah
Cetakan: I, Juli 2018
Penerbit: Qaf Media
Tebal: 332 Halaman.
ISBN: 978-602-5547-25-6
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG