IMG-LOGO
Trending Now:
Tokoh

Mengenal Sosok Habib Umar bin Hafidz

Jumat 19 Oktober 2018 16:25 WIB
Bagikan:
Mengenal Sosok Habib Umar bin Hafidz
Perawakannya tak terlalu tinggi, sedang-sedang saja. Wajahnya yang dihiasi jambang yang rapih berwarna kemerahan dan hidung mancung dengan mata bulat tampak begitu meneduhkan. Dari itu semua, keindahan yang paling jelas terlihat adalah senyumnya yang selalu mengembang di wajahnya. Itulah perawakan Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. 

Pekan lalu, dalam pidatonya di Jakarta di hadapan tokoh lintas agama, Habib Umar menyampaikan pandangan tentang pentingnya menjaga hubungan baik antar umat beragama. Pandangannya terasa begitu kokoh karena selalu ditopang oleh sederet ayat Al-Qur’an, Al-Hadist atau pendapat ulama terdahulu.

Di depan pendeta, romo, bikkhu dan tokoh agama lain, Habib Umar berhasil menemukan common ground di mana semua agama memiliki kesamaan pandangan, misalnya tentang pernghormatan pada kemanusiaan, larangan mengambil hak tetangga dan pentingnya menjaga kebaikan di antara umat beragama. Kesamaan ini yang diangkat dan di-highlight berkali-kali dengan landasan ayat Al-Qur’an dan Al-Hadist. 

Habib Umar yang menyadari bahwa dalam perbedaan masyarakat kerap terjadi perbedaan pendapat dan ‘gesekan’ di antara merekameminta maaf jika itu terjadi di Indonesia. Kelompok umat Islam yang melakukan tindakan anarkis sehingga menyebabkan umat lain terganggu disebutnya sebagai umat yang belum paham tentang ajaran Islam. Kalaupun mereka adalah orang yang paham akan ajaran Islam, maka mereka adalah orang yang belum menjalankan ajaran Islam dengan baik.  

“Kami meminta maaf apabila sampai ada orang nonmuslim yang pernah mendapatkan gangguan dari oknum beragama Islam. Seandainya ada umat agama lain yang terganggu oleh oknum agama Islam, saya katakan bahwa mereka adalah orang yang tidak paham ajaran Islam, atau mereka tak menjalankan ajaran agama Islam dengan baik,” kata Habib Umar.

Sosok yang bijaksana dan penuh perhatian

Selain berpemikiran luas, Habib Umar bin Hafidz merupakan sosok yang bijaksana. Habib Hamid Al-Qodri salah seorang murid Habib Umar yang berasal dari Indonesia mengatakan bahwa kebijaksanaan Habib Umar terlihat dari kebiasaannya yang tidak pernah menggeneralisir sebuah kesalahan dan menisbatkannya pada sebuah kelompok tertentu.

“Beliau (Habib Umar) tidak akan menyebut sebuah kesalahan sebagai kesalahan sebuah kelompok. Sebab bisa jadi kesalahan itu tidak dilakukan oleh semuanya,” kata Habib Hamid Al-Qodri kepada NU Online.

Dalam pandangan Habib Umar, katanya, akan selalu ada anggota kelompok yang berperilaku tidak sesuai dengan ajaran baik di dalam kelompoknya. Maka dari itu, penyamarataan atau melakukan generalisasi sama dengan menyebut bahwa semua orang di dalam kelompok melakukan hal buruk itu yang hanya dilakukan satu atau dua orang itu. Jika sikap itu diambil, maka akan menghalangi silaturrahmi antara kelompok. 

Selain itu, Habib Umar merupakan sosok yang memiliki perhatian yang tinggi pada muridnya-muridnya. Habib Hamid Al-Qodri mengisahkan, pada sebuah malam di musim dingin di mana suhu di Pondok Darul Mustofa, Tarim, Hadramaut, Yaman mencapai 4 derajat celcius, beberapa murid asal Indonesia kedinginan. Mereka adalah murid yang baru beberapa saat tiba di Yaman dan baru pertama kali merasakan musim dingin.

Pada waktu itu, terdapat empat murid asal Indonesia yang tak kebagian selimut tebal. Akhirnya Habib Umar mendatanginya sambil membawa dua lembar selimut. Lalu Habib Umar bertanya, ‘apakah selimutnya masih kurang?’. Para muridnya menjawab, ‘Iya masih kurang, Habib’. 

Selang beberapa waktu Habib Umar datang dengan selembar selimut di tangannya. Setelah menyerahkan, Habib Umar bertanya lagi, ‘apakah masih kurang?’. Lalu muridnya menjawab ‘Iya, kurang satu lagi Habib’. Tak lama, Habib Umar datang lagi membawa dan menyerahkan selembar selimut lainnya yang agak bau ‘pesing’. Walhasil murid yang menerima selimut terakhir ini sedikit menggerutu.

Keesokan harinya ia mengeluh pada temannya yang lebih senior tentang selimut yang diterimanya. Rekannya lalu berkata, “Sesungguhnya dua selimut yang diberikan pertama kali oleh Habib Umar adalah milik Habib Umar sendiri dan istrinya. Sedangkan dua yang terakhir adalah milik anak-anaknya yang masih kecil,” kata rekannya seperti ditirukan Habib Hamid Al-Qodri. 

“Jadi Habib Umar sampai rela dia dan keluarganya serta anak-anaknya tidur kedingingan karena rasa perhatian yang tinggi pada muridnya yang datang dari jauh,” ujarnya.

Habib Umar bin Hafidz dan perjalanan hidupnya

Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz dilahirkan di Tarim pada Senin, 4 Muharram 1383 H atau 27 Mei 1963 M. Sejak belia, beliau telah mempelajari sejumlah ilmu agama seperti Al-Hadist, Fiqih, Tauhid dan Ushul Fiqih dari lingkungan keluarganya sendiri, terutama dari ayahnya, Muhammad bin Salim yang merupakan seorang Mufti di Tarim. 

Selain dari Ayahnya, pada masa itu ia juga belajar dari tokoh-tokoh lainnya seperti Al-Habib Muhammad bin Alawi bin Shihab al-Din, Al-Habib Ahmad bin Ali Ibn al-Shaykh Abu Bakr, Al-Habib Abdullah bin Shaykh Al-Aidarus, Al-Habib Abdullah bin Hasan Bil-Faqih, Al-Habib Umar bin Alawi al-Kaf, al-Habib Ahmad bin Hasan al-Haddad, dan ulama lain di Tarim. 

Habib Umar sendiri mulai mengajar dan berdakwah sejak dia berusia 15 tahun sambil melanjutkan belajar pada para ulama kala itu.

Di saat situasi sosial-politik di Tarim sedang kacau atas penguasaan Rezim Komunis pada tahun 1981, Habib Umar pindah ke Kota Al-Bayda di sebelah utara Yaman. Di sana Habib Umar kembali mempelajari ilmu agama kepada al-Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar, Al-Habib Zain bin Ibrahim Bin Sumayt dan Al-Habib Ibrahim bin Umar bin Aqil. Sambil belajar, ia juga mengajar dan membuat forum kajian baik di kota Al-Bayda, di Al-Hudaydah dan juga di Kota Ta`izz.

Pada tahun 1992, Habib Umar pidah dari Al-Bayda ke kota Al-Shihr, Ibu Kota Provinsi Hadramaut untuk mengajar di sana setelah Rezim Komunis yang menguasai kota itu takluk. Setelah beberapa tahun tinggal di sana, Habib Umar kembali ke kota asalnya, Tarim pada tahun 1994. Pada tahun itu juga, Habib Umar mulai merintis berdirinya pondok pesantren Darul Mustofa dan mulai menerima murid dari berbagai tempat. Walau demmikian, pembukaan resmi Darul Mustofa baru diresmikan pada tahun 1997. Dan sejak saat itu, murid-murid berdatangan dari berbagai negara berdatangan untuk belajar di Darul Mustofa.

Kiprah dakwahnya tak hanya melalui mendirikan pesantren. Habib Umar juga menginisiasi sejumlah forum kajian keagamaan di kota Tarim. Salah satu forum yang rutin dia hadiri adalah pertemuan mingguan dengan warga Tarim yang digelar di pusat kota Tarim dan selalu dihadiri oleh ratusan penduduk kota setempat. Selain pertemuan formal, ia juga melakukan silaturrahmi ke berbagai tempat di Yaman untuk mengunjungu kampus-kampus dan sejumlah organisasi.

Saat ini, Habib Umar telah melakukan dakwahnya secara global. Sejumlah negara yang kerap dia hadiri adalah Syiria, Lebanon, Jordania, Mesir, Aljazair, Sudan, Mali, Kenya, Tanzania, Afrika Selatan, India, Pakistan, Sri lanka, Malaysia, Singapura, Australia dan sejumlah negara Eropa lainnya. 

Habib Umar, Indonesia dan NU

Di Indonesia sendiri, Habib Umar telah melakukan dakwah rutin sejak tahun 1994. Awal kedatangan Habib Umar ke Indonesia adalah pada tahun 1994 saat diutus oleh Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf yang berada di Jeddah untuk mengingatkan dan menggugah ghirah (semangat atau rasa kepedulian) para Alawiyyin Indonesia. Perintah itu disebabkan sebelumnya ada keluhan dari Habib Anis bin Alwi al-Habsyi seorang ulama dan tokoh asal Kota Solo, Jawa Tengah tentang keadaan para Alawiyyin di Indonesia yang mulai jauh dan lupa akan nilai-nilai ajaran para leluhurnya.

Intensitas kedatangan yang semakin sering ke Indonesia membuat Habib Umar menginisiasi lahirnya organisasi bernama Majelis Al-Muwasholah Bayna Ulama Al Muslimin atau Forum Silaturrahmi Antar Ulama. Sejak itu, Habib Umar menjadi semakin sering datang ke Indonesia untuk menyampaikan dakwah dan ajarannya.  

Pekan lalu, Habib Umar mengunjungi Indonesia selama 10 hari. Selama itu Habib Umar bin Hafiz mengunjungi sejumlah tempat mulai di Jakarta, Bandung, Cirebon, hingga Kalimantan. Setiap bulannya, secara rutin, Habib Umar juga megajar di sejumlah pondok pesantren Nahdlatul Ulama melalui siaran teleconference. 

Habib Umar sendiri menempati tempat yang khusus di hati Nahdlatu Ulama. Penghormatan pada keturunan Nabi Muhammad Saw telah ditanamkan jauh-jauh hari di dalam lingkungan pesantren. Di dalam struktur pengurus NU, selalu ada sosok habaib yang duduk di dalam kepengurusan NU baik di tingkat cabang hingga di tingkat pusat. 

Kedekatan NU dengan para habaib diakui kalangan habib sendiri, misalnya oleh Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus Bandung yang tercatat pada pengantar buku ‘Panggilan Selamat’ yang menyatakan bahwa NU memiliki watak yang sangat menghormati dzuriyah (keturunan) Rasulullah atau para habib. 

Habib Umar sendiri juga sangat menghormati para ulama di Indonesia. Dalam pengajian rutinnya, Habib Umar mengkaji kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim karya pendiri NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Penghormatan Habib Umar pada ulama diakui oleh penguru PBNU.

“Penghormatan beliau (habib Umar) terhadap ulama Indonesia dibuktikan dengan komitmen beliau secara terus-menerus untuk mengkaji kitab karya Hadratusyeikh KH Hasyim Asy’ari setiap bulan,” ungkap Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Hery Haryanto Azumi, beberapa waktu lalu. 

Hal itu adalah suatu bukti nyata bahwa Indonesia menempati posisi yang sangat spesial di hati Habib Umar bin Hafidz. Lebih dari itu, kata Hery, Habib Umar meyakini bahwa kebangkitan Islam di masa depan akan datang dari Indonesia. (Ahmad Rozali)

(Sumber: NU Online, www.alhabibomar.com)

Bagikan:
Selasa 16 Oktober 2018 3:0 WIB
KH Madiyani Iskandar, Ulama NU Bersahaja dari Pasuruan
KH Madiyani Iskandar, Ulama NU Bersahaja dari Pasuruan
KH Madiyani Iskandar
KH Madiyani Iskandar lahir pada tanggal 28 Desember 1949 dari pasangan Bapak Iskandar dan Ibu Painah, dan cucu dari Mbah Mustari. Riwayat pendidikan dia dimulai pada Sekolah Rakyat (1962) dan Langgar Kiai Zakariya Gading Tahun 1962 (sore). 

Lalu, dilanjutkan pada Pondok Pesantren Sidogiri (1969). Setelah di Sidogiri, dia melanjutkan ngangsu ilmunya di Pondok Pesantren Al-Hidayah Lasem pada KH Maksum Lasem dan KH Mansur Kholil Lasem (1969-1975). Sepulangnya ke Pasuruan, dia masih mau menimba ilmu pada Kyai Ghofur di Pondok Al-Ghofuri Bugul Kidul.

Selain pendidikan nonformal, dia juga menempuh pendidikan formal, yang antara lain diselesaikan di MTs Darumafatihil Ulum Podokaton Bayeman Gondangwetan (1984), MA Darumafatihil Ulum Podokaton Bayeman Gondangwetan (1987), dan Universitas Islam Pasuruan sampai semester 7 (1986-1990).

Pengabdian dia di masyarakat diwujudkan dalam berbagai kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan. Berbagai majelis taklim dia asuh, seperti pengajian rutin di Taman Nongkojajar setiap hari Jumat selepas waktu dluhur, pengajian rutin di Telaga Sari Nongkojajar, pengajian rutin di Tanjung Gempol.

Selain itu, ada pula pengajian rutin di rumah Bapak Mahfudz Gading Kidul, pengajian rutin di Jambangan (selatan Lapangan Wijaya), pengajian rutin di Gayaman Jambangan Kebon Agung.

Pengajian yang juga dia rutin asuh adalah Pengajian di Taman Sari Wonorejo, pengajian rutin di Pondok Pesantren Raudlotus Salamah Wironini, pengajian rutin di Pondok Pesantren Al-Munawwarah Kebonsari, pengajian rutin di Langgar Nurul Qodim Wonorejo.

Selain mengabdi di masyarakat, dia dikenal banyak berkiprah di organisasi, seperti Ketua Tanfidziyah Ranting NU Cabang Gadingrejo Pasuruan (1989-1991), Ketua Syuriyah MWCNU Cabang Gadingrejo Pasuruan, Katib Syuriah NU Cabang Kota Pasuruan, Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Kota Pasuruan, dan Pembina RMI Kota Pasuruan.

Bahkan, beberapa kali dia mengikuti Muktamar NU sebagai utusan NU Kota Pasuruan, beberapa kali mengikuti kegiatan RMI tingkat nasional sebagai Ketua RMI Kota Pasuruan, beberapa kali mengikuti Bahtsul Masa'il sebagai utusan NU Kota Pasuruan.

Dia juga pendiri Jamiyah Istighotsah di Gadingrejo, pelopor Khataman Bin-Nazhar di Wilayah Gadingrejo (bersama dengan Ustadz Najib (alm.) dan Ustadz Salim (alm.), dan penasihat ISHARI Ranting Gadingrejo

Pengabdian untuk pendidikan, dia wujudkan dengan bersedia menjadi Kepala Sekolah Madrasah Tsanawiyah Sunan Ampel (1984-2002), Kepala Sekolah Madrasah Diniyah Raudhatul Mustariyah, Kepala Sekolah Madrasah Darul Ulum Kisik Kali Rejo (1981-1985), pendiri Madrasah Miftahul Huda Gadingrejo (1976). Dia pula pendiri Pondok Pesantren Terpadu Raudhatul Mustariyah.

Dia menghadap ke haribaan Allah pada tanggal 4 Syawal 1424 H. Dia menikah dengan Ibu Suaibah Fakhriah, yang melahirkan putra-putri sebagai berikut: Moch. Syarif Hidayatullah, Ummu Salamaturrohmah, Kholilur Rokhman, M.M, Shochibul Hujjah, Fathira Nadia Mekka.

Perjalanan hidup dia kiranya bisa dirangkum dalam beberapa bait bijak berikut:

Hidup sederhana dan bersahaja
Kemana-mana tidak malu memakai sepeda
 
Tetap sabar meski ada yang tidak suka
Rela berjuang meski tak mendapat rupiah
Menikmati hidup meski difitnah
 
Dengan orang tidak punya mau menyapa
Dengan orang kaya tidak menghamba
Semua sama di hadapannya
 
Pendidikan adalah pengabdiannya
NU adalah organisasinya
Pondok Pesantren adalah kehidupannya
 
Pribadinya tegas berwibawa
Sosoknya rendah hati suka tertawa
Tidak pernah berambisi untuk selalu di muka
Amanah umat selalu ditunaikannya
 
Selalu memberi contoh pada keluarga dan lingkungannya
Selalu memberi teladan tidak dengan kata-kata
Lisanul hal afshahu min lisanil maqal, katanya. (Abu Avzalea)

Selasa 9 Oktober 2018 14:6 WIB
Gus Dur dan Orang yang Membentuk Karakternya
Gus Dur dan Orang yang Membentuk Karakternya
Gus Dur dan Nyai Sholihah Munawwaroh
Karakter Gus Dur banyak dipengaruhi oleh ibundanya, Nyai Sholihah Munawwaroh. Perempuan tangguh yang ditinggal wafat suaminya, KH. A Wahid Hasyim ketika dirinya mengandung putra keenam, Hasyim Wahid, ini mempengaruhi Gus Dur dalam keteguhan memegang prinsip dan kepedulian kepada mereka yang terpinggirkan.

Nyai Hj Sholihah binti KH. Bisri Syansuri ini sedang mengandung anak keenamnya saat sang suami, KH. Abdul Wahid Hasyim, ulama cum negarawan muda paling moncer dalam sejarah Indonesia, berpulang akibat kecelakaan di Bandung, 1953.

Nyai Sholihah, yang belum genap berusia 30 tahun menjanda dengan tanggungan 6 buah hati: Abdurrahman Ad-Dakhil, Aisyah, Shalahuddin, Lily Khadijah, Umar dan Hasyim Wahid. Tak tega melihatnya sendirian di Jakarta, KH. Bisri Syansuri meminta puterinya itu kembali tinggal ke Jombang. Sholihah menolak, dia bertekad membesarkan buah hatinya sendirian di ibukota. Di era 1950-an, di mana kondisi sosial-politik dan ekonomi tidak stabil, tentu pilihan ini sangat beresiko.

Instingnya sebagai seorang perempuan tangguh mulai terasah saat dia mulai berbisnis beras. Bahkan menjadi makelar mobil dan pemasok material ke kontraktor pun pernah dia jalani. Nyai Sholihah juga merintis panti asuhan, rumah bersalin, beberapa majelis taklim, dan kegiatan sosial lainnya. Karakter Gus Dur yang peduli wong cilik, mendahulukan kepentingan orang lain, dan tempat bersandar mereka yang terpinggirkan dan terdzolimi, saya kira menurun secara genetik dari ibundanya.

Tak hanya itu, rumahnya dia jadikan sebagai salah satu basis politik NU. Keputusan penting seputar kiprah NU di perpolitikan digodog di sini oleh dua tokoh sentralnya: KH. Bisri Sjansuri, ayahnya; dan KH. A. Wahab Chasbullah, pakdenya. Sikap NU terkait dengan Dekrit Presiden, Kabinet Gotong Royong, hingga keputusan cepat Muslimat dan NU beberapa waktu usai G-30-S/PKI digodog di sini.

Dengan kerja keras dan tirakatnya, kelak para buah hatinya menjadi orang berhasil di bidangnya: Abdurrahman Ad-Dakhil alias Gus Dur menjadi Presiden Ke-4; Aisyah Hamid Baidlawi menjadi ketua Muslimat NU dan politisi Golkar dan Lili Khadijah menjadi politisi PKB, Sholahuddin Wahid menjadi pengasuh pesantren, Umar Wahid menjadi direktur rumah sakit di Jakarta.

Bahkan, dalam beberapa keputusan penting di PBNU, ketika para kiai "gagal" melunakkan Gus Dur, mereka memilih jalan menghadap Nyai Sholihah agar bisa melunakkan putranya. Berhasil. Gus Dur taat pada ibundanya. Karakter Gus Dur yang dipahat ibundanya, juga sama dengan yang dialami oleh seorang yatim lainnya, BJ. Habibie. Keduanya ditinggal wafat sang ayah dalam usia belia, ditempa sang ibu, dan kemudian menjadi presiden RI.

Ketika Gus Dur di Universitas al-Azhar, Nyai Sholihah kerap menitipkan (melalui para sahabatnya) beberapa botol kecap dan puluhan sarung agar Gus Dur mau menjualnya. Maksudnya, biar menjadi tambahan uang saku. Apa daya, Gus Dur memang nggak berbakat sebagai pedagang. Kecap dan sarung memang ludes, bukan dibeli, tapi diminta para sahabat-sahabatnya. Hehehhee. (Rijal Mumazziq Z)

Senin 8 Oktober 2018 0:30 WIB
Belajar Tawadhu' dari Kiai Masbuhin Faqih, Mamba'us Sholihin
Belajar Tawadhu' dari Kiai Masbuhin Faqih, Mamba'us Sholihin
KH Masbuhin Faqih, Sumber: Istimewa
Di era media sosial seperti saat ini, pembahasan konflik dan intrik politik cenderung lebih menarik mengalahkan tema budi pekerti, akhlaqul karimah atau tema sejenis lainnya. Akibatnya sifat baik seperti tawadhu’ menjadi barang langka yang asing dan seolah tak penting.

Namun bukan berarti sifat ini telah sepenuhnya hilang. Ia masih ada dan terus tumbuh di lembaga pendidikan bernama pondok pesantren. Para kiai di kalangan NU juga masih memegang teguh prinsip sifat ini. Kiai Masbuhin Faqih (71), pengasuh pondok pesantren Mambaus Sholihin salah satunya. Beliau adalah salah seorang kiai yang meletakkan tawadhu' di tempat yang amat tinggi. Walaupun merupakan kiai besar dengan jumlah santri dan alumni hingga puluhan ribu, namun beliau tak jumawa. Rasa hormat dan takdim pada guru-gurunya tetap dijunjungnya tinggi-tinggi.

Sifat tawadlu'nya tampak saat disowani oleh Kiai Muda Dr Afifuddin Dimyati (39), pengasuh pondok pesantren Hidayatul Quran, Rejoso, Peterongan, Jombang pada Ahad (7/10) pagi. Saat keduanya bersalaman, Kiai Masbuhin yang 32 tahun lebih tua berusaha mencium tangan sang tamu, namun tak berhasil.

Kiai Masbuhin lantas mengatakan “Kulo (saya) yang seharusnya mencium tangan panjenengan," sambil mendekat berusaha meraih tangan sang tamu, namun ditolak secara halus. 


(Kiai Masbuhin Faqih saat berusaha meraih tangan Gus Afif untuk dicium
 
Gus Afif memang bukan guru yang pernah memberi pelajaran pada Kiai Masbuhin. Namun nasab Gus Afif sampai pada guru-guru Kiai Masbuchin. Dari jalur ayah, Gus Afif adalah putra Kiai Dimyati bin Kiai Romli Attamimi. Kiai Romli Attamimi sendiri merupakan guru dari Kiai Usman Al-Ishaqi, yang tak lain adalah guru Kiai Masbuhin. Sementara di sisi ibu, Gus Afif merupakan cucu dari Kiai Ahmad Marzuki Zahid Langitan yang juga merupakan guru Kiai Masbuhin Faqih. Silsilah itulah yang membuat Kiai Masbuhin begitu menghormati Gus Afif seperti menghormati gurunya sendiri. 

Sebenarnya cerita tingginya sifat tawadhu' Kiai Masbuhin pada gurunya telah banyak berkembang. Alkisah, pernah pada suatu hari, seorang santri laki-laki dari Kiai Masbuhin meminta sang kiai untuk melamarkan seorang gadis untuk dijadikan istri. 

Pada waktu yang ditetapkan, berangkatlah sang kiai menuju rumah sang gadis yang akan dilamarkan. Akan tetapi sesampainya di lokasi, Kiai Masbuhin batal melamarkan santrinya, setelah mengetahui bahwa sang gadis merupakan alumni pondok pesantren Langitan, Jawa Timur, tempat beliau menimba ilmu selama belasan tahun. Konon, Kiai Masbuhin ‘tak berani’ melamarkan karena takut su’ul azab pada gurunya. 

Profil Kiai Masbuhin Faqih dan Sejarah Mamba'us Sholihin

Kiai yang oleh masyarakat Gresik dikenal dengan nama Yai Buhin dilahirkan di desa Suci Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik, pada 31 Desember 1947 atau 18 Shafar 1367 H dari pasangan KH Abdullah Faqih dan Nyai Hj Tswaibah. Jika dirunut lebih jauh, silsilah Kiai Masbuhin akan sampai ke Sunan Giri.

Sanad keilmuan Kiai Masbuhin secara formal berasal dari dua pondok pesantren, yakni Gontor dan Langitan. Di Gontor, beliau menimba ilmu sejak di bangku Masdrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah sambil memperdalam bahasa Arab dan Inggris. Setelah lulus, beliau melanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban, di bawah pimpinan KH Abdul Hadi dan KH Abdullah Faqih. Di sana Masbuhin muda memperdalam ilmu Nahwu, Shorof, Fiqh, Tauhid, Tasawwuf dll, selama lebih dari 17 tahun. 

Kelak sistem kedua pesantren ini diduplikasi dan diterapkan di Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin; yakni mengajarkan ilmu-ilmu agama seperti  Langitan dan mewajibkan santrinya berbahasa Arab dan Inggris seperti Gontor. Dari sana pula Mambaus Sholihin dikenal dengan istilah pondok ‘salafi-modern’.

Di tahun 2018 ini, Mambaus Sholihin yang didirikan oleh sang ayah KH Abdullah Faqih dari sebuah surau kecil telah menginjak usia 49 tahun. Pada awalnya, pondok ini bernama “At-Thohiriyah” menyesuaikan dengan nama desa; Suci. Namun nama itu kemudian diganti menjadi “Mambaus Sholihin”, sesuai dengan pemberian guru Mursyid Tariqat Qadariyah Naqsabandiyah, KH Usman Al-Ishaqi.

Seiring perjalanan waktu, pondok pesantren Mambaus Sholihin saat ini telah menjelma menjadi sebuah institusi pesantren yang terbesar di kawasan Pantai Utara Pulau Jawa. Mamba'us Sholihin menyediakan pembelajaran mulai dari level Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah hingga perguruan tinggi bernama Istitut Keislaman Abdullah Faqih (INKAFA). Saat ini, Mambaus Sholihin juga telah berkembang dengan memiliki sembilan cabang pesantren hingga di luar Jawa.

Cara berdakwah pondok pesantren Mamba'us Sholihin juga mengalami adaptasi. Di era digital seperti saat ini, metode dakwah di pondok pesantren Mamba'us Sholihin tidak hanya ditempuh melalui metode formal dan konvensional secara ofline, namun juga disiar-luaskan melalui sejumlah platform digital seperti channel YouTube dan Facebook. 

kendati demikian kebesaran nama itu tak membuat sang kiai jumawa. Beliau tetaplah seorang kiai yang meletakkan rasa hormat yang sangat tinggi pada guru-gurunya, termasuk keturunan dari guru-gurunya. Itulah alasan mengapa Kiai Masbuhin Faqih bersikeras hendak mencium tangan Gus Afif yang puluhan tahun lebih muda darinya; karena Gus Afif adalah cucu dari guru-gurunya. (Ahmad Rozali)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG