IMG-LOGO
Internasional

Saudi: Jamal Khashoggi Terbunuh di Konsulat Setelah Berkelahi

Sabtu 20 Oktober 2018 12:15 WIB
Bagikan:
Saudi: Jamal Khashoggi Terbunuh di Konsulat Setelah Berkelahi
Jamal Khashoggi. Foto: Hasan Jamali/AP
Riyadh, NU Online
Otoritas Arab Saudi mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengejutkan terkait dengan kasus hilangnya jurnalis Jamal Khashoggi (59) di Konsulat Saudi di Istanbul Turki pada 2 Oktober lalu. 

Otoritas Saudi mengakui bahwa Jamal Khashoggi meninggal di Konsulat setelah terlibat perkelahian. Namun demikian, Saudi tidak menyebutkan dimana jenazah Jamal Khashoggi saat ini. Ini adalah pertama kalinya Kerajaan mengakui Jamal Khashoggi telah meninggal. Sebelumnya, pihak Saudi menyatakan Jamal Khashoggi telah meninggalkan Konsulat beberapa jam setelah ia masuk. 

Pernyataan ini didasarkan pada hasil penyelidikan yang telah dilakukan, dimana Jamal Khashoggi terbunuh setelah terlibat perkelahian beberapa saat setelah ia memasuki gedung Konsulat. 

Jaksa Agung Saudi Sheikh Saud al-Mojeb mengatakan, Jamal Khashoggi tewas setelah ‘diskusi’ dengan orang-orang di dalam Konsulat. Namun diskusi tersebut berubah menjadi sebuah pertengkaran. 

“Investigasi masih terus berlangsung dan 18 warga Saudi telah ditangkap," kata al-Mojeb, dilansir laman Aljazeera, Sabtu (20/10), sebagaimana diberitakan kantor berita resmi Kerajaan, SPA.

Buntut dari kasus Jamal Khashoggi ini, Saudi memecat penasihat Kerajaan al-Qahtani dan wakil kepala intelijen Ahmed al-Asiri. Sebelumnya Konsul Saudi di Istanbul Muhammad al-Otaibi juga diberhentikan dari jabatannya. 

Tidak hanya itu, kasus Khashoggi juga menyebabkan para bos perusahaan besar dan pejabat asing secara berjamaah membatalkan keikutsertaannya dalam acara konferensi investasi yang akan digelar di Riyadh Arab Saudi pekan depan, 23-25 Oktober.

Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde dan Menteri Perekonomian Prancis Bruno Le Maire yang secara tegas menyatakan tidak akan menghadiri agenda tersebut. 

“Saya tak akan pergi ke Riyadh pekan depan," tegas Le Maire pada saluran televisi Prancis, Public Senat TV, dilansir Press TV, Kamis (18/10).

Ditambah para bos perusahaan besar juga banyak yang memboikot dan tidak menghadiri agenda konferensi Saudi tersebut. Diberitakan AFP, Kamis (18/10), para bos perusahaan besar yang tidak hadir diantaranya CEO MasterCard Ajay Banga, bos HSBC John Flint, dan CEO Credit Suisse Tidjane Thiam. 

Kemudian ada CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon, CEO London Stock Exchange David Schwimmer, bos BNP Paribas Jean Lemierre, CEO Uber Dara Khosrowshahi, bos Ford Bill Ford, dan miliarder Inggris Richard Branson. 

Tidak hanya para bos dan pejabat, beberapa media internasional seperti The New York Times, CNBC dan Financial Times, CNN, Bloomberg, dan The Economist yang memboikot agenda konferensi tersebut. Mereka menarik eksekutif atau jurnalisnya yang seharusnya bertugas di acara tersebut.

Jamal Khashoggi, seorang jurnalis asal Arab Saudi, tiba-tiba saja menghilang ketika berkunjung ke Konsulat Arab Saudi di Istanbul Turki pada Selasa (2/10) lalu. Ia sengaja mendatangi kantor perwakilan Saudi di Turki tersebut untuk mengurus dokumen pernikahannya dengan Hatice, tunangannya asal Turki. 

Jamal Khashoggi merupakan jurnalis yang banyak mengkritisi kebijakan Saudi, terutama dalam hal kebebasan berpendapat, hak asasi manusia di Saudi, dan keterlibatan Saudi pada Perang Yaman. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Sabtu 20 Oktober 2018 23:59 WIB
PBB: Para Gadis Rohingya Dijual untuk Kerja Paksa di Bangladesh
PBB: Para Gadis Rohingya Dijual untuk Kerja Paksa di Bangladesh
Cox’s Bazar, NU Online
Badan Migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan, para gadis pengungsi Rohingya dijual untuk menjalani kerja paksa di Bangladesh guna mendapatkan uang bagi keluarganya di kamp-kamp pengungsian.

The International Organisation for Migration (IOM) menyebutkan, telah mengidentifikasi 99 kasus perdagangan manusia di kalangan pengungsi Rohingya sejak September 2017 lalu. Bagi IOM, kasus tersebut mungkin saja lebih banyak daripada yang diidentifikasi.

Dalam laporan IOM pekan ini, diantara yang menjadi korban perdagangan manusia adalah 35 gadis dan 31 wanita pengungsi Rohingya. 31 dari gadis-gadis itu berakhir dengan kerja paksa seperti yang dilakukan 26 wanita. 

Juru bicara IOM Dina Parmer mengatakan, motif yang biasa digunakan oleh para pedagang manusia adalah iming-iming janji palsu seperti pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. 

“Kisah-kisah yang biasanya kita dengar adalah orang-orang rentan yang didekati oleh pedagang (manusia) dengan janji-janji palsu tentang pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik,” kata Parmer, dikutip laman Aljazeera, Rabu (17/20).

Ada juga yang curiga dengan iming-iming tersebut, namun karena kondisi keluarga yang memprihatinkan akhirnya mereka mengambil tindakan ekstrem, yakni merelakan salah satu keluarganya untuk kerja paksa. 

Para wanita Rohingya tersebut dipaksa bekerja dalam jangka waktu yang lama, namun upahnya sangat sedikit. Sementara para gadis dipekerjakan menjadi pembantu rumah tangga. Tidak hanya itu, ada juga gadis yang sampai mengalami eksploitasi seksual.

Sementara itu, sebuah organisasi sosial Bangladesh The Bangladeshi charity Young Power in Social Action (YPSA) memberikan advokasi kepada para pengungsi Rohingya, utamanya para gadis dan wanita. YPSA terus meningkatkan kesadaran para pengungsi akan bahaya perdagangan manusia. 

“Lebih dari 1.000 orang telah diidentifikasi sebagai korban perdagangan manusia,” kata Jishu Barua dari YPSA.

“Mereka (para pengungsi) putus asa sehingga keluar kamp untuk mendapatkan uang,” imbuhnya.

IOM menyebut, keputusasaan para pengungsi inilah yang menjadi celah para pedagang manusia untuk ‘memangsa’ korbannya. 

Bangladesh melarang para pengungsi untuk meninggalkan kamp-kamp atau melakukan pekerjaan lain selain berpartisipasi dalam program kerja tunai skala kecil yang dijalankan oleh lembaga-lembaga kemanusiaan.

Lebih dari 900 ribu Muslim Rohingya mengungsi di Bangladesh. Sebagian besar mereka tinggal di kamp-kamp di Distrik Cox’s Bazar. Sekitar 700 ribu dari mereka tiba di Bangladesh tahun lalu setelah operasi militer berdarah yang diluncurkan oleh tentara Myanmar. (Red: Muchlishon)
Sabtu 20 Oktober 2018 21:45 WIB
Itsna R Fitri, Santri Pegiat Kesetaraan Gender di Tiongkok
Itsna R Fitri, Santri Pegiat Kesetaraan Gender di Tiongkok
Beijing, NU Online
Menyongsong Hari Santri 2018, berbagai kegiatan dan gelaran disuarakan sebagai momen kebangkitan kaum sarungan. Termasuk peran perempuan santri di masa kini. Itsna Rahma Fitriani, santri jebolan Al-Hikmah Sirampog, Benda, Brebes, Jawa Tengah telah membuktikan keberadaannya yang tidak kalah dengan laki-laki. Aktifitasnya menyuarakan gerakan gender dari Indonesia sampai Tiongkok.

Terlahir dari pasangan aktivis NU, Agus Fathuddin Yusuf dengan Imaroh, dara kelahiran Semarang, 29 Maret 1993 ini memiliki kepedulian pada gerakan humanis dan pluralis. Bersentuhan dengan dunia pendidikan dari TK Muslimat NU Semarang pada 1998, kemudian melanjutkan ke SDN Muktiharjo Kidul 01 Semarang.

Basis keagamaan diperoleh saat nyantri di Pondok Pesantren Ar-Risalah Lirboyo, Jawa Timur sampai tahun 2007. Namun dirinya menamatkan pendidikan lanjutan pertamanya di SMP Al-Hikmah Sirampog, Benda, Kabupaten Brebes pada tahun 2007 hingga 2008. 

Setamat MAN-1 Semarang memilih mengambil jurusan Ekonomi Islam pada Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN-sekarang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN, red) Walisongo dan aktif pada dua organisasi kemahasiswaan, Jamiyyatul Qurra wal Huffadz (JQH) Fakultas Syari'ah dan untuk tekadnya dalam kegiatan kemanusiaan, Itsna memilih Korp Sukarela (KSR) Palang Merah Indonesia (PMI) Unit IAIN Walisongo. 

Kiprahnya bersama PMI, tercatat dalam kinerja maupun mobilisasi relawan di kampusnya. Menjaga di pos rest area dan pertolongan pertama arus mudik lebaran, kebencanaan dan sebagainya. Selain itu, ia juga dikaruniai bakat vokal, suara merdu dengan vibrasi yang baik mengantarkannya sebagai vokalis yang cukup kondang di kalangan pemusik gambus dan rebana Jawa tengah. 

Kiprah tertingginya sebagai aktifis mahasiswa, pada tahun 2014 dinobatkan sebagai Komandan KSR, sedangkan di JQH Fakultas Syariah mendapat amanah sebagai sekretaris untuk periode 2012-2014. 

Tahun 2017, Itsna mendapatkan beasiswa CGS, China Goverment Scholarship by Embassy Indonesia mengantarkannya melanjutkan belajar di Jiangxi University of Finance and Ekonomic, kota Nanchang provinsi Jiangxi. Saat ini, dirinya didaulat menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT) Cabang Nanchang, 

"Jadi PPI Tiongkok saat ini telah berdiri 25 cabang, sejak didirikan pada tahun 2014. Nah, para pelajar Indonesia yang ada di Nanchang merupakan salah satu pelopornya, dan kebetulan sekarang ini aku jadi ditunjuk sebagai ketua cabang Nanchang, gitu ceritanya," tulisnya saat lewat sambungan WhatsApp

Tak hanya itu, nama Itsna juga tercatat sebagai Wakil Ketua PCINU Tiongkok tahun 2017-2018.
"PPIT tak ubahnya seperti UKM di kampus pada umumnya, hanya saja di sini (Tiongkok), kita lebih memupuk rasa persaudaraan antar sesama pelajar Indonesia dari berbagai penjuru di tanah air,” katanya. 

Mereka ada dari Papua, Makassar, Kalimantan, Manado, Riau, Jawa dan sebagainya. Selain biar tidak merasa asing di negeri orang, gabung di PPIT juga agar ingat dan cinta tanah air. “Jadi, berasa memiliki keluarga baru," sergahnya.

Selain itu, untuk lebih mengenalkan budaya Indonesia, PPIT memiliki peran yang besar di Tiongkok, "Kita sebagai salah satu duta, juga turut mempromosikan budaya dan pariwisata indonesia," katanya. 
Hal tersebut dapat dilakukan melalui event Indonesian Culture Festival. “Yang mana kita mendapat kesempatan untuk menampilkan berbagai macam tarian, lagu, juga baju adat dari Indonesia, terus food festival juga lho,” ungkapnya.

Kalau dari segi nasionalismenya, perkumpulan ini ada juga Latihan Dasar Kemimpinan (LDK) dengan materi dasar 4 pilar kebangsaan, pendidikan politik dan sebagainya. “Pokoknya untuk memupuk nasionalismenya itulah intinya," pungkasnya. (Ibnu Nawawi)

Sabtu 20 Oktober 2018 17:45 WIB
Sekjen CCA: NU Selalu Bekerja untuk Harmoni
Sekjen CCA: NU Selalu Bekerja untuk Harmoni
Sekjen CCA, Mathews George Chunakara
Chiang Mai, NU Online
Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang sangat baik. Begitulah kesan pertama Mathews George Chunakara, Sekretaris Jenderal Christian Conference of Asia (CCA).

Saat gereja diserang oleh kelompok Islam fundamentalis, NU lah yang menjaga dan memberi perlindungan terhadap gereja tersebut. "NU selalu bekerja untuk membentuk harmoni antaragama," katanya usai penutupan acara Young Ambassadors of Peace in Asia (YAPA) 2018 di Universitas Payap, Chiang Mai, Thailand, Jumat (19/10).

Setiap gereja, jelasnya, dari tingkat lokal di kabupaten/kota, provinsi, hingga pusat berhubungan baik dengan NU di setiap tingkatannya masing-masing.

Mathews berharap NU dapat terus menjaga harmoni dan perdamaian di Indonesia dan mempromosikan Pancasila sebagai falsafah bernegara. Sebab, tugas utama organisasi, menurutnya adalah mengajarkan persatuan dan kemanusiaan.

"NU dengan anggotanya yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia dapat terus menebar perdamaian di Indonesia," ujarnya.

Tidak hanya itu, ia yakin NU sebagai organisasi Muslim terbesar, mampu menjadi pemimpin yang menjaga stabilitas perdamaian di Indonesia, bahkan negara lain.

"Saya yakin, negara lain di Asia Tenggara percaya NU dapat melakukan itu di Indonesia, khususnya di wilayah Islam di Asia Tenggara, seperti Provinsi Aceh, Malaysia, Thailand selatan, Bangladesh, Pakistan, dan negara Islam lainnya," tuturnya.

Mathews menjelaskan hanya manusia biasa yang membuat konflik agama, suku, komunitas, dan sebagainya. Jika setiap agama dapat mengarahkan pemeluknya kembali ke ajaran Nabi, bakal terwujud harmoni, perdamaian di masyarakat. Sebab, menurutnya, tak ada agama yang mengajarkan kebencian.

Ia mengenal baik KH Abdurrahman Wahid. Beberapa bulan sebelum Gus Dur diangkat sebagai presiden, Mathew sempat berkunjung ke kediamannya di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Pria asal India itu juga dekat dengan KH Hasyim Muzadi. Ia pun pernah berkunjung ke Pesantren Al-Hikam, Malang. Bahkan, ia mengundang Kiai Hasyim secara khusus untuk berbicara dalam forum Christian Muslim Solidarity Human Rights di Bangkok dan forum lain di Brazil. (Syakir NF/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG