IMG-LOGO
Nasional

Budayawan: Islam Nusantara Itu Strategi Kebudayaan Para Wali

Ahad 21 Oktober 2018 5:31 WIB
Bagikan:
Budayawan: Islam Nusantara Itu Strategi Kebudayaan Para Wali
Cirebon, NU Online
Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi mengatakan, Islam Nusantara hanya istilah yang dipakai Nahdlatul Ulama untuk menyebut strategi kebudayaan para wali dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang berpusat di tajug atau masjid.

“Islam nusantara itu strategi kebudayaan para wali. Jadi kalau ada orang yang bilang Islam Nusantara itu pemecah belah, berarti orang itu gak paham. Jika ada orang yang bilang Islam Nusantara itu agama baru, orang itu bodoh,” kata Zastrouw pada Halaqah Masjid Kesultanan dan Dakwah Islam Rahmatan lil Alamin di Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (20/10) melalui tayangan video.

Menurut pimpinan grup musik religi Ki Ageng Ganjur ini, ada empat strategi kebudayaan yang digunakan para wali dalam menyebarkan ajaran Islam di Nusantara ini.

Pertama, strategi vernakularisasi. Menurutnya, strategi ini mengambil inti atau saripati dari ajaran Islam yang ada di Al-Qur’an dan Hadits, yang kemudian dibahasakan ulang ke dalam bahasa lokal sehingga dapat dipahami oleh masyarakat Nusantara.

Bagi Zastrow, amanat Sunan Gunung Jati Cirebon yang berbunyi ‘Ingsun titip tajug lan fakir miskin’ ini salah satu contoh dari strategi vernakularisasi. Tajug merupakan tempat yang menjadi pusat ajaran agama Islam dalam mengembangkan Al-Qur’an dan hadits.

“Jika langsung menitipkan Al-Qur'an dan Hadis, Orang Cirebon tidak akan paham karena menggunakan bahasa Arab, sementara Orang Cirebon menggunakan bahasa Jawa dan sebagian Sunda, makanya yang dititipkan Tajug sebagai tempat pembelajaran Al-Qur’an dan hadits,” ucapnya.

Adapun amanat menjaga fakir miskin, sambung Zastrow, agar masyarakat menjalankan perintah yang ada dalam Al-Qur’an. "Jika Anda hanya membutuhkan Al-Qur'an, nanti orang fakir dan miskin dilupakan, tapi jika Anda mengurusi orang fakir dan miskin, pasti melakukan Al-Qur'an. Inilah metode vernakularisasi,” ucapnya.

Kedua, strategi infiltrasi. Prinsip dari strategi ini dengan memasukkan nilai-nilai dan ajaran Islam ke dalam format kebudayaan, seperti pada upacara sedekah laut yang tidak bertentangan dengan syariat karena telah dimasuki ajaran-ajaran Islam.

Ketiga, strategi rekonstruksi. Dalam menjalankan strategi itu, berbagai kebudayaan dan tradisi seperti wayang dan gamelan direkonstruksi.

Keempat, strategi hikmah. Strategi ini menjunjung kearifan dalam menerapkan syari’at Islam, seperti yang dipraktikkan oleh Sunan Kudus yang menganjurkan umat Islam untuk tidak menyembelih sapi disebabkan untuk menghormati pemeluk agama Hindu. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Ahad 21 Oktober 2018 22:45 WIB
HARI SANTRI 2018
Presiden Jokowi: Keutuhan Indonesia Tak Lepas dari Peran Ulama dan Santri
Presiden Jokowi: Keutuhan Indonesia Tak Lepas dari Peran Ulama dan Santri
Bandung, NU Online
Di tengah serangan faham radikal, semangat persatuan dalam berbangsa dan bernegara harus dijaga lebih kuat. Salah satu elemen bangsa yang berhasil mengawinkan keberagamaan dan semangat kebangsaan adalah kaum santri. Demikian diingatkan presiden Jokowi pada acara malam puncak peringatan Hari Santri Nasional 2018 di lapangan Gasibu Bandung, Ahad (21/10).

Presiden Jokowi yang mengenakan sarung, peci, dan baju koko dibalut jas hitam meminta semua elemen bangsa menjaga rumah bersama yang bernama NKRI. “Aset kita yang terbesar adalah persatuan, kerukunan, dan persaudaraan, maka mari kita jaga ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah,” katanya di depan 10.000 pengunjung yang memadati lapangan Gasibu sejak sore.

Indonesia, lanjut Jokowi, adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dan salah satu elemen terpenting yang menjaga keutuhan NKRI adalah kaum santri. “Kita patut bersukur karena bangsa indonesia dipandu tradisi kesantrian yang kuat,” katanya. 

Bangsa Indonesia itu berbeda-beda, jangan sampai perbedaan itu memecah belah. Indonesia memiliki 17 ribu pulau, 34 provinsi, 514 kabupaten/kota, 263 juta penduduk yang terdiri dari 714 suku, 5 agama, dan 1100 bahasa. Menurut Jokowi, orang sering lupa bahwa kita saudara sebangsa dan setanah air. 

Menurut Presiden, persatuan Indonesia yang terbangun sejauh ini tak lepas dari peran ulama. Sejarah mencatat peran besar mereka pada masa perjuangan kemerdekaan kemudian menjaga pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam pidatonya Jokowi menyampaikan, peringatan Hari Santri merupakan penghormatan dan rasa terima kasih negara kepada para alim ulama, kiai, habaib, ajengan dan para santri serta seluruh komponen bangsa yang mengikuti keteladanan mereka. 

“Menjadi santri adalah menjadi islam yang cinta bangsa, muslim yang relijius, dan pelajar yang ahlaqul karimah sebagaimana diteladankan para kiyai kita,”  katanya.

Untuk itu pemerintah telah memiliki beberapa program yang mendorong kemajuan pesantren secara kongkrit, misalnya Bank Wakaf Mikro dan Balai Latihan Ketrampilan yang saat ini tengah diuji coba.

“Kita akan terus mengevaluasi apakah itu semua berguna atau tidak. “Persaingan antar negara yang begitu ketat membutuhkan sumberdaya manusia yang tidak saja berahlaqul karimah tetapi juga berskill tinggi,” katanya.

Menteri Agama yang juga berbicara pada acara itu mengatakan, isu perdamaian diangkat guna merespon kondisi bangsa yang sedang ditimpa berbagai persoalan hoax, ujaran kebencian, propaganda kekerasan, dan terorisme.

Acara Hari Santri Nasional 2018 yang bertema Bersama Santri Damailah Negeri ini, kata Menag, bukan hanya seremoni belaka, tetapi penegasan bahwa bernegara itu sama pentingnya dengan beragama.

“Di malam Santriversary ini saya mengajak seluruh santri agar jangan pernah lelah mencintai indonesia,” katanya.

Peringatan Hari Santri Nasional pertama kali dilakukan tahun 2015 lalu, setelah presiden Joko Widodo menandatangani Kepres No 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober. (Red: Fathoni)
Ahad 21 Oktober 2018 19:45 WIB
KIRAB SATU NEGERI
Ansor Majalengka Usulkan KH Abdul Chalim Pahlawan Nasional
Ansor Majalengka Usulkan KH Abdul Chalim Pahlawan Nasional
Majalengka, NU Online
Keberadaan dan peran almaghfurlah KH Abdul Chalim Leuwimunding sebagai salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) menjadi perhatian khusus bagi keluarga besar Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor dalam memotivasi spirit kebangsaan. 

Hal ini disampaikan Ketua PC GP Ansor Majalengka, Ahmad Cece Ashfiyadi usai prosesi penyerahterimaan Kirab Satu Negeri (KSN) di pendopo setempat, Ahad (21/10).

Kang Cece biasa disapa mengatakan bahwa melalui Acara KSN ini, Ansor ingin membangun kembali spirit kebangsaan yang diajarkan KH Abdul Chalim Leuwimunding (Mbah Abdul Chalim) kepada kaum muda khususnya nahdliyin. 

"Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari Mbah Abdul Chalim di antaranya spirit perjuangan dan kebangsaan. Sehingga kami kaum muda NU Majalengka merasa terpanggil untuk terus menggelorakan nilai kebangsaan di tengah masyarakat ," katanya.

Ia pun mengungkapkan harapannya bahwa Mbah Abdul Chalim sebagai tokoh NU yang merupakan pejuang kemerdekaan juga mendapatkan perhatian pemerintah. "Pada kesempatan KSN ini sebagai bukti kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, kami keluarga besar Ansor Majalengka mengusulkan kepada pemerintah untuk mengangkat Mbah Abdul Chalim menjadi pahlawan nasional," harapnya.

Dan tentunya, tambah pria yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al Bukhorie Sumberjaya ini mengharap dukungan dan doa dari masyarakat khususnya nahdliyin agar menjadikan KH Abdul Chalim menjadi pahlawan nasional. "Ansor mengajak dan memohon doa serta dukungan dari masyarakat Majalengka khususnya warga NU agar usulan ini bisa diwujudkab oleh pemerintah", ungkapnya.

Di tempat yang sama, Pemerintah Kabupaten Majalengka dalam sambutannya yang disampaikan Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat, H Abdul Ghani mengungkapkan terima kasih dan selamat datang pada rombongan KSN di Majalengka. "Tentunya kami ungkapkan selamat datang dan terima kasih kepada rombongan KSN hadir di Majalengka", ungkapnya.

Tampak hadir dalam prosesi Penyerah terimaan KSN, Asisten Daerah H Abdul Ghani, Wakasatkorwil Banser Jawa Barat, Zainal Abidin, Ketua PC GP. Ansor Majalengka, Ahmad Cece Ashfiyadi beserta jajarannya, Kasatkorcab Banser Majalengka, Wahyudin, Juga ketua badan otonom NU beserta jajarannya dan ribuan kader Ansor dan Banser se-Majalengka. (Tata Irawan/Ibnu Nawawi)

Ahad 21 Oktober 2018 17:30 WIB
Satkornas Banser Gelar ToT Banser Husada Nasional
Satkornas Banser Gelar ToT Banser Husada Nasional
Purwokerto, NU Online
Satuan Koordinasi Nasional atau Satkornas Barisan Ansor Serbaguna (Banser) menggelar  Pendidikan dan Latihan Khusus atau Diklatsus serta Training of Trainer (ToT) Banser Husada (Basada) angkatan pertama. Kegiatan yang diikuti 117 peserta tersebut dilaksanakan di Ajibarang, Banyumas Purwokerto, Jawa Tengah sejak Jumat hingga Ahad (19-21/10).

Para peserta terdiri dari 11 Perwakilan Satkorwil Banser se-Indonesia, 14 peserta dari Denwatser  dan sisanya Banser. 

"Harapan saya dengan  dilaksanakan Diklatsus Basada ini ada sinkronisasi organisasi Satuan Khusus Banser Husada," ujar Kasatsus Husada Nasional Yunianto Wahyudi, Ahad (21/10).

Selain itu, lanjut Yunianto kegiatan demi terpenuhinya kebutuhan personil Banser Husada yang memahami dan berpengalaman dalam  penanganan kesehatan dan sumber daya manusia yang siap untuk diterjunkan dalam penanggulangan kesehatan. 

"Juga SDM yang siap terlibat dalam kejadian khusus baik kegiatan Ansor, Banser maupun ada bencana alam di seluruh Indonesia," katanya.
 
Yang juga tidak kalah penting adalah tersosialisasinya organisasi Banser Husada ke seluruh jaringan organisasi Ansor dan Banser se Indonesia, lanjutnya.

Dijelaskan, kegiatan  selama tiga hari ini peserta dilatih mulai dari materi ruang kelas, dengan materi  tentang  dasar kesehatan, organisasi Basada, hidup sehat,  organ tubuh manusia, kebencanaan, psikologi, hidup darurat, koordinasi lembaga anti narkoba, PMI, BPBD. 

Dan yang kedua praktik lapangan. “Diberikan materi praktek penanganan patah tulang,  pendirian tenda kesehatan, penanganan situasi dan kondisi bencana, ambulance dan lainnya,” ungkapnya. 

“Untuk pemateri dihadirkan dari dinas instansi terkait," tandas Setyo Utomo yang juga Ketua Sistem Komando Latihan (Skolat) Diklatsus. (Imam Kusnin Ahmad/Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG