IMG-LOGO
Nasional

Banjir Bandang di Sigi Seret Rumah Warga


Senin 22 Oktober 2018 08:30 WIB
Bagikan:
Banjir Bandang di Sigi Seret Rumah Warga
Banjir campur lumpur di Salua, Ahad (21/10)

Palu, NU Online
Banjir bandang kembali menimpa Desa Salua, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Ahad (21/10) sore. Laporan relawan NU Peduli yang juga Sekretaris PCNU Sigi mengatakan banjir pada 17.00 WITA telah menyebabkan sebuah rumah warga terbawa arus.

“Sebuah sekolah yakni MTs Alkhairaat Salua tertimbun akibat banjir,” kata Mubarak Latopada.

Ia menjelaskan kejadian serupa sudah ketiga kalinya terjadi pascagempabumi dan likuifaksi 28 September 2018. Banjir bercampur lumpur, pasir dan batang pepohonan sehingga menghalangi jalan.

Banjir terjadi karena tanah-tanah di tebing dan perbukitan dekat desa runtuh pascagempabumi, sehingga ketika hujan turun mudah terbawa air. Selain itu juga terjadi kerusakan aliran air menuju ke sungai sehingga air yang membawa material membentuk jalurnya sendiri yang merusak permukiman dan fasilitas desa.

Terdapat lebih dari 1000 jiwa tinggal di Desa Salua. Barang-barang bantuan sangat diperlukan termasuk logistik oleh warga desa, mengingat akses menuju ke desa sangat sulit disebabkan longsor yang terjadi di jalur menuju desa.

“Ada tiga kecamatan di Sigi yaitu Kecamatan Kulawi, Kecamatan Lindu dan Kecamatan Kulawi Selatan yang terisolir tidak bias dijangkau kendaraan roda dua akibat longsor,” imbuhnya.

Munculnya banjir bandang atau banjir debris yang membawa lumpur sudah diprediksi oleh Ketua GP Ansor Sulteng, Alamsyah Palenga. Dalam wawancara dengan NU Online pekan lalu, ia mengatakan jika melihat karakter pegunungan dan tanah di Sulawesi Tengah potensi banjir debrisnya tinggi.

Karakter yang dimaksud Alamsyah dapat dilihat dari aliran sungai yang kering dan berisi pasir jika lama tidak turun hujan. Namun, jika terjadi hujan beberapa jam saja, aliaran air langsung membludak.

Debris atau banjir bandang adalah keadaan di mana luapan air sungai yang terjadi secara mendadak. Banjir debris tidak hanya membawa air, namun bisa batu, pasir dan lumpur.

“Beberapa tahun lalu pernah terjadi banjir debris dengan membawa batu ukuran tiga meter. Banjir menghancurkan lima belas rumah,” kata pria yang juga dosen Prodi Teknik Sipil Universitas Tadulako, Palu.

Alamsyah mengkhawatirkan jika banjir debris terjadi di pengungsian, bakal menambah duka dan kerugian ketika akibat gempa dan tsunami juga masih harus diselesaikan.

Menurut Alamsyah, masyarakat termasuk relawan harus diberi kesadaran bagaimana mencegah kerugian akibat banjir debris. Warga dan relawan harus memahami daerah atau kondisi tanah yang dijadikan lokasi pengungsian.

Potensi debris juga dapat dilihat dari runtuhnya tanah di beberapa perbukitan akibat gempa. Reruntuhan itu juga harus diwaspadai karena jika sewaktu-waktu terjadi hujan dalam durasi yang lama, reruntuhan tanah akan tergerus air dan menimpa perdesaan.

“Kita lihat di Sibalaya misalnya ada beberapa bukit yang runtuh. Memang kelihatannya jauh, padahal jaraknya lima ratus atau satu kilometer (dari permukiman). Itu kalau tiba-tiba hujan besar, lalu longsor, bisa membahayakan juga,” katanya.

Mengingat besarnya potensi bahaya banjir debris dan tanah longsor, Alamsyah mengatakan pihaknya menjadikan situasi tersebut dalam rekomendasi penanganan kebencanaan terutama di Sulawesi Tengah saat ini. (Kendi Setiawan)

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG