IMG-LOGO
Fragmen

Inilah Resolusi Jihad NU yang Kini Diperingati Hari Santri

Senin 22 Oktober 2018 20:0 WIB
Bagikan:
Inilah Resolusi Jihad NU yang Kini Diperingati Hari Santri
Pada 22 Oktober 1945 sebuah keputusan dihasilkan dari rapat besar konsul-konsul (setingkat pengurus wilayah sekarang) NU se-Jawa dan Madura, di Surabaya, Jawa Timur. Pada pertemuan tersebut, menghasilkan keputusan yang disebut Resolusi Jihad. 

Berikut ini adalah isi dari Resolusi Jihad NU sebagaimana pernah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, edisi No. 26 tahun ke-I, Jumat Legi, 26 Oktober 1945. Salinannya di sini dengan menyesuaikan ejaan:

Bismillahirrahmanirrahim

Resolusi

Rapat besar wakil-wakil daerah (Konsul-konsul) Perhimpunan Nahdlatul Ulama seluruh Jawa-Madura pada tanggal 21-22 Oktober 1945 di Surabaya:

Mendengar:

Bahwa di tiap-tiap daerah di seluruh Jawa-Madura ternyata betapa besarnya hasrat ummat Islam dan Alim ulama di tempatnya masing-masing untuk mempertahankan dan menegakkan AGAMA, KEDAULATAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA MERDEKA.Menimbang:

a. Bahwa untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum AGAMA ISLAM, termasuk sebagai suatu kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam

b. Bahwa di Indonesia ini warga Negaranya adalah sebagian besar terdiri dari Ummat Islam.

Mengingat:

a. Bahwa oleh pihak Belanda (NICA) dan Jepang yang datang dan berada di sini telah banyak sekali dijalankan banyak kejahatan dan kekejaman yang mengganggu ketenteraman umum.

b. Bahwa semua yang dilakukan oleh semua mereka itu dengan maksud melanggar Kedaulatan Republik Indonesia dan Agama, dan ingin kembali menjajah di sini, maka di beberapa tempat telah terjadi pertempuran yang mengorbankan beberapa banyak jiwa manusia.

c. Bahwa pertempuran-pertempuran itu sebagian besar telah dilakukan ummat Islam yang merasa wajib menurut hukum agamanya untuk mempertahankan Kemerdekaan Negara dan Agamanya.

d. Bahwa di dalam menghadapi sekalian kejadian-kejadian itu belum mendapat perintah dan tuntutan yang nyata dari Pemerintah Republik Indonesia yang sesuai dengan kejadian-kejadian tersebut.Memutuskan:

1. Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan Agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap fihak Belanda dan kaki tangan.

2. Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat “sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam. 

Resolusi Jihad ini ini memiliki pengaruh yang besar dalam menggalang umat Islam khususnya untuk berjuang mengangkat senjata melawan kehadiran Belanda setelah diproklamirkannya kemerdekaan. 

Masjid-masjid, pesantren-pesantren dan kantor-kantor NU tingkat Cabang dan Ranting segera menjadi markas Hizbullah yang menghimpun terutama pemuda-pemuda santri yang ingin berjuang dengan semangat yang tinggi meski dengan keahlian dan fasilitas persenjataan yang sangat terbatas. 

Resolusi ini juga diyakini memiliki sumbangan besar atas pecahnya Peristiwa 10 November 1945 yang terkenal dan kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan. Soetomo atau terkenal dengan panggilan Bung Tomo, pimpinan laskar BPRI dan Radio Pemberontakan, yang sering disebut sebagai penyulut utama peristiwa 10 November diketahui memiliki hubungan yang dekat dengan kalangan Islam.

Para pengurus NU di tingkat pusat menegaskan bahwa hukum membela Tanah Air adalah fardhu ain bagi setiap umat Islam di Indonesia. Tak hanya itu, ditegaskan bahwa Muslimin yang berada dalam radius 94 kilometer dari pusat pertempuran wajib ikut berperang melawan Belanda.

Bertahun-tahun, peristiwa bersejarah yang dilakukan kalangan pesantren tersebut terbungkam. Bahkan kalangan pesantren sendiri hampir melupakannya. Kemudian atas permintaan PBNU kepada pemerintah, agar Resolusi Jihad diperingati sebagai Hari Santri, mengingat perjuangan para santri yang banyak gugur membela negaranya. 

Permintaan tersebut dikabulkan pemerintah pada masa Presiden Joko Widodo dengan meresmikannya pada 22 Oktober 2015. (Abdullah Alawi)

Bagikan:
Senin 22 Oktober 2018 14:15 WIB
HARI SANTRI 2018
Ketika KH Hasyim Asy’ari Bergegas Mengumpulkan Para Santri
Ketika KH Hasyim Asy’ari Bergegas Mengumpulkan Para Santri
Pada tahun 1937 misalnya, pernah datang kepada Kiai Hasyim Asy’ari seorang ambtenar (utusan pemerintah Hindia-Belanda) bermaksud memberikan tanda jasa berupa ‘Bintang Jasa’ yang terbuat dari perak dan emas. Tetapi dengan tegas kakek KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menolak pemberian itu. (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 1985)

Sikap ayah Kiai Wahid Hasyim itu tidak lepas dari pandangan bahwa apa yang dilakukan Belanda hanya intrik politik semata untuk menundukkan sikap kritis dan perjuangan para kiai pesantren dalam melawan penjajah. Lalu, Hadratussyekh pun bergegas mengumpulkan santrinya lalu berkata:

"Sepanjang keterangan yang disampaikan oleh ahli riwayat, pada suatu ketika dipanggillah Nabi Muhammad SAW oleh kakeknya Abdul Muthalib dan diberitahu bahwasanya pemerintah jahiliyah di Mekkah telah mengambil keputusan menawarkan tiga hal untuk Nabi Muhammad: 1) kedudukan yang tinggi; 2) harta benda yang berlimpah; dan 3) gadis yang cantik.

Akan tetapi Baginda Nabi Muhammad menolak ketiga-tiganya itu dan berkata di hadapan kakeknya, Abdul Muthalib: “Demi Allah umpama mereka itu kuasa meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku dengan maksud agar aku berhenti berjuang, aku tak akan mau. Dan aku akan berjuang terus sampai cahaya Islam merata ke mana-mana, atau aku gugur lebur menjadi korban.” Maka, kamu sekalian anakku, hendaknya dapat meneladani Baginda Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi segala pesoalan."

Kiai Hasyim Asy’ari merupakan salah satu ulama yang mempunyai sikap tegas terhadap penjajah. Perlawanan terhadap penjajah yang dilakukan oleh Kiai Hasyim dan kawan-kawan tidak hanya dilakukan secara fisik, tetapi juga perlawanan kultural. Di mana segala sesuatu yang yang berkaitan dengan penjajah tidak mendapat kompromi.


Koran Kedaulatan Rakjat (Sumber: @pekerjamuseum)

Upaya kultural tersebut dilakukan oleh santri dan kiai sebagai salah satu ruang perlawanan, meskipun langkah diplomasi juga tetap dilakukan. Langkah kultural tanpa kompromi misalnya dilakukan oleh Kiai Hasyim ketika melarang para santrinya dan masyarakat untuk menyerupai identitas penjajah Belanda seperti memakai celana, jas, dan dasi. Bahkan dengan tegas, Kiai Hasyim mengharamkan.

Konteks pengharaman ini merupakan salah satu strategi perlawanan terhadap ketidakperikemanusiaan yang dilakukan penjajah kepada bangsa Indonesia. Kiai Hasyim ingin menunjukkan bahwa bangsa Indonesia juga mempunyai kekuatan dan tidak akan tinggal diam terhadap kekejaman penjajah. Meskipun fatwa haram terhadap identitas penjajah tersebut tidak berlaku permanen.


Koran Kedaulatan Rakjat (Sumber: @pekerjamuseum)

Hal ini dijalankan oleh Gus Wahid Hasyim ketika melakukan diplomasi dan kesepakatan dengan penjajah Jepang. Ia sering memakai celana, jas, dan dasi untuk memberikan efek psikologi bahwa dirinya sangat terbuka ketika melakukan pertemuan dan pembicaraan dengan penjajah.

Atas perlawanan kultural yang kerap dilakukan oleh Kiai Hasyim, gerak-geriknya serta pesantren di seluruh Indonesia mendapat sorotan utama oleh Belanda karena dianggap menyimpan potensi perlawanan yang luar biasa. Fakta sejarah mencatat, pesantren kala itu bukan hanya menjadi tempat menempa ilmu agama, tetapi juga menjadi wadah pergerakan nasional dan penanaman cinta tanah air.

Berita-berita perjuangan di koran nasional seperti Kedaulatan Rakjat rutin memberitakan dinamika peperangan pada tahun 1945. Bahkan, Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 dijelaskan dalam koran tersebut bahwa dampak dan semangat yang ditimbulkan luar bias.


Koran Kedaulatan Rakjat (Sumber: @pekerjamuseum)

Resolusi Jihad yang menjadi dasar historis ditetapkannya Hari Santri 22 Oktober berhasil menggerakkan rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap tentara sekutu, baik di Surabaya dan daerah-daerah lain seperti Ambarawa, Temanggung, Semarang. Armada tentara sekutu yang di laut berhasil ditenggelamkan, yang di udara berhasil ditembak jatuh.

Bahka menurut pemberitaan koran Kedaulatan Rakjat kala itu, ketika fatwa Resolusi Jihad dicetuskan KH Hasyim Asy’ari, sebanyak 60 juta umat Islam di Indonesia bersiap melaksanakan jihad fi sabilillah. (Fathoni)
Rabu 10 Oktober 2018 13:30 WIB
Ketika Mbah Muqoyyim Dirikan Setu Patok
Ketika Mbah Muqoyyim Dirikan Setu Patok
Tirakat Mbah Muqoyyim Buntet Pesantren (ist)
Sungai-sungai mengalir ke hilir yang sempit. Saat air melimpah, muara tak lagi menampung sehingga menimbulkan bah. Ia menggenangi sawah dan perkampungan yang keberadaannya berdekatan. Hal ini terjadi berulang kali di sebuah daerah di Cirebon sehingga menarik tokoh setempat, Ki Entol Rujitnala, membuat sayembara. Siapapun yang berhasil mengatasi permasalahan tersebut, ia akan dinikahkan dengan putrinya, Nyai Randu Lawang.

Mbah Muqoyim terpanggil untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut. Tentu bukan semata ingin mendapat putri Ki Entol, tetapi membantu mereka yang terus-terusan mendapat musibah agar dapat kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa.

Meskipun demikian, dengan ketawadhuannya, pendiri Pondok Buntet Pesantren itu mengajukan syarat agar Ki Entol juga menemaninya dalam membuat solusi tersebut. Keduanya berjalan mengitari suatu tempat. Di setiap ujungnya, dipasang sebuah patok. Setiap pemasangan itu, mereka berdoa.

Air pun tak lagi keluar menggenangi pemukiman lagi. Ia tertampung pada tanah yang sudah diberi patok itu. Saat ini, tanah tersebut sudah dibangun sebuah situ yang dinamai Setu Patok mengingat dibangun dengan mengandalkan patok.

Sebelumnya, Ki Entol telah berkali-kali berusaha untuk mengatasi hal tersebut dengan membuat bendungan. Namun usahanya belum berhasil sampai akhirnya diatasi bersama dengan Mbah Muqoyim.

KH Ade Nasihul Umam saat menceritakan legenda ini kepada penulis mengungkapkan tiga pelajaran penting dari dua tokoh tersebut. Pertama, dalam setiap gelaran sayembara menjadi ajang untuk menghilangkan kesombongan. Sebab, pembuat sayembara mesti bukanlah orang sembarangan yang memiliki kekuatan lebih.

Sayembara membuat penyelenggaranya merasa bahwa dirinya tidak lebih kuat ketimbang siapapun yang dapat mengatasi problematika yang tak dapat ia atasi sendiri.

Namun, bukan seorang ulama jika ia tak tawadlu. Mbah Muqoyyim juga enggan menyombongkan diri dapat menjawab tantangan itu sekaligus menunjukkan diri sebagai orang yang lebih kuat. Tidak demikian. Untuk menghapus pikiran itu, ia enggan sendirian dalam mengatasi permasalahan tersebut.

Justru, ia meminta penyelenggara, Ki Entol, untuk membantunya. Hal ini agar Mbah Muqoyyim tidak merasa bahwa ia sendiri yang membuat situ itu.

Di samping itu, hal lain yang hampir tak pernah alpa dalam setiap sayembara adalah hadiah bagi yang dapat melaksanakannya berupa pernikahan dengan putri penyelenggara. Mbah Muqoyyim pun dinikahkan dengan Nyi Randulawang yang juga dikenal sebagai Nyi Pinang.

"Ada dua tujuan sayembara, littazwij dan menghilangkan kesombongan," kata Kiai Ade pada Ahad (6/10) lalu. (Syakir NF)
Kamis 4 Oktober 2018 15:9 WIB
Ketika KH Hasyim Asy’ari Hadapi Hoaks Penjajah
Ketika KH Hasyim Asy’ari Hadapi Hoaks Penjajah
KH Hasyim Asy'ari dan serdadu Nippon (istimewa)
Sejarah mencatat bahwa sejumlah Pahlawan Kemerdekaan Indonesia terjebak oleh bujuk rayu dan tipu muslihat penjajah Belanda yang awalnya menawarkan perdamaian, tetapi berujung penangkapan lewat pertemuan yang mereka inisiasi. Hal ini menimpa Pangeran Diponegoro saat Belanda merasa kewalahan dalam Perang Jawa (1825-1830 M), selain itu Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, dan lain-lain.

Tipu muslihat dan kebohongan atau yang saat ini familiar disebut hoaks menjadi salah satu senjata ampuh karena Belanda memahami karakter bangsa Indonesia yang cenderung terbuka terhadap jalan keluar terbaik. Senjata hoaks ini juga menimpa perjuangan para kiai ketika berhadapan dengan penjajah Belanda.

Salah satu sorotan menarik penjajah Belanda yaitu ketika umat Islam dari berbagai jalan pemikiran dan madzhab membentuk perkumpulan atau organisasi. Memang, di satu sisi Belanda juga mempunyai rasa khawatir dengan perkumpulan-perkumpulan tersebut. Karena menyebabkan mereka semakin kuat dalam hal doktrin dan konsolidasi.

Kekhawatiran munculnya perlawanan dari kaum pribumi melalui berbagai organisasi seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, dan organisasi Islam lainnya juga menjadi alasan Belanda mencari celah untuk melawan mereka. Melawan secara frontal tentu tidak akan dilakukan Belanda karena bisa memunculkan perlawanan yang lebih dahsyat dari rakyat pribumi.

Belanda melihat celah di mana setiap organisasi mempunyai pandangan-pandangan tersendiri perihal paham keagamaan dan madzhab. Mereka dilihat Belanda juga sering berbeda pendapat bahkan saling ‘serang’ argumen sehingga tak jarang menimbulkan friksi atau gesekan.

Untuk menjalankan misinya itu, Belanda kerap mencampuri urusan agama, melakukan politik adu domba, dan kebohongan. Namun, strategi adu domba belum juga membuahkan hasil yang diharapkan sehingga langkah akhirnya mereka lakukan ketika menyebarkan tulisan-tulisan atau kabar bohong (hoaks) yang cenderung menghina prinsip ajaran Islam.

Namun, perdebatan dan pertengkaran di antara umat Islam dari berbagai perkumpulan organisasi lewat politik adu domba pun semakin memberikan sinyal bahwa Islam harus bersatu melawan penjajah Belanda.

Nahdlatul Ulama (NU) dalam forum Muktamar tahun 1936 di Banjarmasin menegaskan pentingnya persatuan umat Islam untuk melawan berbagai propaganda Belanda. Rais Akbar NU KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) memanfaatkan forum tertinggi di NU tersebut untuk menggaungkan tali kuat persatuan di kepada para peserta Muktamar dan umat Islam pada umumnya, baik dari golongan ulama maupun masyarakat umum.

Dalam amanatnya, Kiai Hasyim Asy’ari menyerukan terjalinnya persatuan umat Islam dan membunag jauh pertengkaran soal khilafiyah guna menghadapi siapa saja yang sengaja memusuhi Islam, terutama kaum penjajah. Kiai Hasyim (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010) mengatakan:

"Wahai sekalian ulama yang berta’assub kepada sebagian madzhab atau qaul ulama, tinggalkanlah ta’assub kalian terhadap perkara-perkara furu’ (cabang)."

Kiai Hasyim berpandangan, sebesar apapun kepentingan suatu kelompok, jika hanya memunculkan perpecahan di antara umat Islam Indonesia harus segera diakhiri untuk prospek perjuangan yang lebih besar mengingat bangsa Indonesia masih terjajah oleh Belanda kala itu. Apalagi pemicu perpecahan dari intrik-intrik yang dilakukan penjajah.

Untuk memperkuat persatuan tersebut, langkah tindak lanjut dilakukan Kiai Hasyim Asy’ari ketika NU menyelenggarakan Muktamar ke-12 tahun 1937 di Malang, Jawa Timur. Kiai Hasyim mengajak golongan Islam manapun untuk ikut menghadiri Muktamar NU tersebut. Ajakan itu tertulis dalam sebuah undangan yang berbunyi:

“.....kemarilah tuan-tuan yang mulia, kemarilah, kunjungilah permusyawaratan kami, marilah kita bermusyawaralah tentang apa-apa yang terjadi baiknya agama dan umat, baikpun urusan agamanya dan dunianya; sebab dunia ini tempat mengusahakan akhirat dan kebajikan tergantung pula atas beresnya perikeduniaan...”

Seruan dan ajakan Kiai Hasyim Asy’ari selaku pemimpin tertinggi NU itu cukup mengetuk kesadaran seluruh pemimpin perkumpulan Islam. Jika sejak 1927-1936 tidak lagi terdengar kegiatan Kongres Al-Islam (setelah Muktamar Dunia Islam di Mekkah tahun 1926 diubah namanya menjadi MAIHS, Muktamar ‘Alam Islami Far’ul Hidis Syarqiah), yang biasanya diprakarsai Syarikat Islam dan Muhammadiyah, maka sejak ada seruan Kiai Hasyim itulah usaha untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa persatuan dan melepaskan simpul-simpul pertengkaran, mulai tampak dirintis kembali atas kepeloporan Kiai Hasyim.

Upaya Kiai Hasyim tidak hanya berhasil menyatukan seluruh komponen umat Islam, tetapi juga mampu mengikis usaha Belanda untuk memecah belah rakyat Indonesia. Karena walau bagaimana pun, seluruh elemen masyarakat masih menjadikan ulama dan kiai sebagai tokoh panutan dan subjek utama untuk dimintai pandangan dan pemikirannya. Hal ini menjadikan titik utama kenapa Belanda berupaya menggemboskan peran dan posisi ulama dengan menjadikan mereka terus bertengkar lewat kabar-kabar bohong.

Tidak hanya di zaman penjajahan Belanda, saat Pasukan Nippon (Jepang) datang menjajah Indonesia, negeri matahari terbit ini juga menyasar pergerakan KH Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Aksi kebohongan Jepang ialah melontarkan tuduhan dan fitnah kepada Kiai Hasyim soal pemberontakan rakyat di Desa Cukir, Jombang.

Dengan bekal kabar bohong yang sampai di telinga para petinggi Jepang di Jakarta, pasukan Nippon bergerak ke Jombang untuk menangkap Kiai Hasyim Asy’ari atas tuduhan pemberontakan di Cukir. Atas tindakan semena-mena tersebut, santri Tebuireng tidak tinggal diam. Mereka melawan dan mencegah penangkapan gurunya itu.

Namun, Kiai Hasyim bersedia ditangkap, bukan karena dia salah tetapi untuk keselamatan pesantren secara luas. Peristiwa ini sekaligus memberikan pelajaran berharga untuk putra KH Wahid Hasyim (putra KH Hasyim Asy’ari) dalam berdiplomasi dengan penjajah. Dibantu KH Wahab Chasbullah, Gus Wahid berhasil membebaskan ayahnya dari penjara dan siksa tentara Jepang. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG