IMG-LOGO
Fragmen

Fatwa Resolusi Jihad, Jejak Kemesraan NU dan Muhammadiyah

Selasa 23 Oktober 2018 10:0 WIB
Bagikan:
Fatwa Resolusi Jihad, Jejak Kemesraan NU dan Muhammadiyah
Sedianya tulisan ini akan penulis beri judul ‘Hari Santri: Bukti Sejarah NU dan Muhammadiyah Pertahankan Negeri’. Namun dalam diskusi kecil-kecilan dalam grup WA penulis ada beberapa keberatan dari rekan-rekan penulis lain, dengan judul ini.

Bukannya ada yang ‘berisik’ menolak Hari Santri? Apa urgensinya? Bagian mana yang mendukung? Dan beberapa pernyataan lain atas ketidaksetujuan judul itu, hingga penulis memutuskan untuk memilih judul ‘Menelisik Peran Muhammadiyah dalam Fatwa Jihad Hadhratus Syekh KH M Hasyim Asy’ari’.

Fatwa Jihad dan Beberapa Resolusi Setelahnya
Sebagaimana dalam tulisan terdahulu, sebelum Resolusi Jihad NU 22 Oktober 1945 diputuskan, telah lahir Fatwa Jihad Hadratus Syaikh KH M Hasyim Asy’ari yang memfatwakan tiga hal: 1) kewajiban melawan penjajah, 2) mati dalam perang melawan penjajah adalah mati syahid dan 3) hukum pengkhianat negara adalah wajib dibunuh.

Fatwa Jihad ini kemudian menginspirasi organanisasi keagamaan seperti NU yang kemudian menegaskannya dalam Resolusi Jihad pertama 22 Oktober 1945 di Surabaya dan Resolusi Jihad kedua dalam forum Muktamar Nahdlatul Ulama ke-XVI di Purwokerto 26-29 Maret 1946. 

Demikian pula Resolusi Muktamar Islam Indonesia yang dikeluarkan oleh Masyumi di Yogyakarta pada 7-8 November 1945 dan ‘Seruan Jihad fi Sabilillah dan Pembahasan Hukumnya’ dalam forum Muktamar Masumi 6-9 Desember di Bukit Tinggi.

Menurut Direktur Museum NU Surabaya Ahmad Muhibbin Zuhri, berdasarkan kajian teks-teks berbagai resolusi jihad tersebut, seluruhnya dapat dikatakan merujuk pada fatwa Jihad KH M Hasyim Asy’ari yang saat itu menjabat sebagai Rais Akbar Jam’iyah Nahdlatul Ulama sekaligus menjabat sebagai Rais Syuriyah Masyumi, yang memiliki kompetensi menyampaikan fatwa. (Lihat Ahmad Muhibbin Zuhri, KH M Hasyim Asy’ari: Fatwa Jihad dan Perjuangan Kemerdekaan, dimuat dalam nusurabaya.or.id dan diakses pada 22 Oktober 2018).

Laporan Kedaulatan Rakyat 20 November 1945
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apa peran Muhammadiyah berkaitan dengan Fatwa Jihad Hadratus Syekh KH M Hasyim Asy’ari pada waktu itu? 

Dalam konteks ini Harian Kedaulatan Rakyat edisi 20 November 1945 cukup memberi informasi awal bagi peran Muhammadiyah.

Adalah Langgar Notoprajan Yogyakarta yang secara historis merupakan salah satu basis pergerakan Muhammadiyah menjadi saksi sejarah atas persetujuan ulama-ulama Yogjakarta terhadap Fatwa Jihad Hadhratus Syekh KH M Hasyim Asy’ari. Secara lengkap Kedaulatan Rakyat melaporkan:

“Alim Oelama Menentoekan Hoekoem Perdjoangan. Pertemuan 30 orang Kiai dan Alim Oelama se-Jogjakarta di bahwa (di bawah-pen) pimpinan Kiai H Fadil dan Kiai H. Amir, atas nama Pemerintah Repoeblik Indonesia bg. Agama Oeroesan Alim Oelama, bertempat di langgar Notoprajan, baru2 ini telah memoetoeskan hukum-hukum sbb:

I. Menyetoejoei fatwanja Kiai Hasjim Asjari Teboeireng Djombang jang ringkasnja sebagai berikoet:

a) Hoekoemnja  memerangi  orang  kafir  jang  merintangi  kepada kemerdekaan  kita  sekarang  ini  adalah  fardoe ‘ain  bagi  tiap2 orang  Islam jang moengkin meskipun bagi orang fakir.

b) Hoekoemnja orang  jang meninggal dalam peperangan melawan Nica serta komplot2nja, adalah mati sjahid.

c) Hoekoemnja orang  jang  memetjah  persatoean  kita  sekarang  ini  wajib diboenoeh.

Mengingat fatwa terseboet, maka para Alim Oelama selaloe siap sedia berdjoeang dengan sekoeat tenaga oentoek membela Agama dan Kemerdekaan. 

II. Berhoeboeng amalan2:
a) Segenap Oemat Islam soepaja mengamalkan solat-hadjat dg bermaksoed memohon kepada Toehan Allah s.w.t. keselamatan dan langsoengnya kemerdekaan Indonesia.

b) Memperbanyak sedekah, teroetama oentoek memberi bekal kepada prfadjurit2 kita jang sama bertempeor.

c) Memperbanyak Poeasa, ditengah mendjalankan poeasa (sebeloem boeka) memperbanyak Istighfar (minta ampoen kepada Toehan) dan do’a2. (Tanjaklah kepada Alim Oelama tentang Istighfar dan do’anja).

d) Memperbanyak membatja Al-Qoer’an (teroetama soerfat Al-Baqoroh, atau soerat Alam- nasjroh dan Alam-tara).” (Alim Oelama Menentoekan Hoekoem Perdjoangan, dimuat dalam Kedaulatan Rakyat, 20 November 1945).

Dukungan Muhammadiyah Terhadap Fatwa Jihad
Menurut penulis, laporan Kedaulatan Rakyat setidaknya menginformasikan bahwa Muhammadiyah terlibat dalam upaya mendukung Fatwa Jihad Hadhratus Syekh KH M Hasyim Asy’ari. Kenapa demikian? Bukankah dalam laporan tersebut Muhammadiyah tidak tercantum? Justru yang ada adalah ‘30 orang Kiai dan Alim Oelama se-Jogjakarta di bahwa (di bawah-pen) pimpinan Kiai H Fadil dan Kiai H Amir, atas nama Pemerintah Repoeblik Indonesia bg Agama Oeroesan Alim Oelama’?

Memang sekilas nama Muhammadiyah tidak tercantum dalam laporan Kedaulatan Rakyat. Namun demikian perlu dipahami bahwa pemahaman kontekstual pada waktu itu meniscayakan keterlibatannya.

Adalah ‘langgar Notoprajan’ yang merupakan tempat terselenggaranya keputusan hukum diambil, merupakan merupakan salah satu dari basis-basis pergerakan Muhammadiyah tempo dulu di sekitarnya hingga sekarang.

Selain Langgar Pusaka Notoprajan, heritage Muhammadiyah yang masih kokoh berdiri hingga sekarang di kampung Notoprajan antara lain Gedung Dakwah Muhammadiyah dan ‘Gedoeng Muhammadiyah’ yang menjadi kantor lama Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Selain itu juga terdapat Madrasah Mu’allimat Muhammadiyah yang merupakan sekolah kader putri Muhammadiyah yang didirikan pada 1923. Sekarang di sekitarnya pun berdiri pula beberapa asrama yang menjadi tempat tinggal santriwati.

Sebab itu, tidak dapat diterima nalar sehat bila Muhammadiyah tidak berperan dalam mendukung Fatwa Jihad Hadhratus Syekh KH M Hasyim Asy’ari, sementara basis pergerakannya tercatat secara rapi menjadi tempat diambil keputusan untuk mendukung fatwa jihad tersebut.

Bahkan bila melihat amalan-amalan yang dirumuskan dalam pertemuan alim ulama di Langgar Notoprajan, yaitu anjuran shalat hajat, sedekah untuk prajurit bangsa yang melawan penjajah, puasa beserta istighfar dan doanya, juga anjuran untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an khususnya Surat Al-Baqarah atau Surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) dan Alam-Tara (Al-Fiil), terbukti pula, bahwa Muhammadiyyah bersama NU kompak mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari ancaman dan rongrongan penjajah, seiring spirit Al-Qur’an: 

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

Artinya, “Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, sebab mereka telah dizalimi (sebagaimana dizalimi oleh penjajah-pen), dan sungguh hanya Allah Yang Maha Kuasa menolong mereka,” Surat Al-Hajj ayat 39. (Lihat Fakhruddin Muhammad bin Umar Ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah: 1421 H/2000 M], cetakan pertama, juz XXIII, halaman 35).

Bila demikian adanya, masihkah ada yang ‘berisik’ menolak hari santri? Wallahu a’lam. (Sekretaris LBM NU Jatim Ahmad Muntaha AM)
Bagikan:
Senin 22 Oktober 2018 20:0 WIB
Inilah Resolusi Jihad NU yang Kini Diperingati Hari Santri
Inilah Resolusi Jihad NU yang Kini Diperingati Hari Santri
Pada 22 Oktober 1945 sebuah keputusan dihasilkan dari rapat besar konsul-konsul (setingkat pengurus wilayah sekarang) NU se-Jawa dan Madura, di Surabaya, Jawa Timur. Pada pertemuan tersebut, menghasilkan keputusan yang disebut Resolusi Jihad. 

Berikut ini adalah isi dari Resolusi Jihad NU sebagaimana pernah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, edisi No. 26 tahun ke-I, Jumat Legi, 26 Oktober 1945. Salinannya di sini dengan menyesuaikan ejaan:

Bismillahirrahmanirrahim

Resolusi

Rapat besar wakil-wakil daerah (Konsul-konsul) Perhimpunan Nahdlatul Ulama seluruh Jawa-Madura pada tanggal 21-22 Oktober 1945 di Surabaya:

Mendengar:

Bahwa di tiap-tiap daerah di seluruh Jawa-Madura ternyata betapa besarnya hasrat ummat Islam dan Alim ulama di tempatnya masing-masing untuk mempertahankan dan menegakkan AGAMA, KEDAULATAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA MERDEKA.Menimbang:

a. Bahwa untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum AGAMA ISLAM, termasuk sebagai suatu kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam

b. Bahwa di Indonesia ini warga Negaranya adalah sebagian besar terdiri dari Ummat Islam.

Mengingat:

a. Bahwa oleh pihak Belanda (NICA) dan Jepang yang datang dan berada di sini telah banyak sekali dijalankan banyak kejahatan dan kekejaman yang mengganggu ketenteraman umum.

b. Bahwa semua yang dilakukan oleh semua mereka itu dengan maksud melanggar Kedaulatan Republik Indonesia dan Agama, dan ingin kembali menjajah di sini, maka di beberapa tempat telah terjadi pertempuran yang mengorbankan beberapa banyak jiwa manusia.

c. Bahwa pertempuran-pertempuran itu sebagian besar telah dilakukan ummat Islam yang merasa wajib menurut hukum agamanya untuk mempertahankan Kemerdekaan Negara dan Agamanya.

d. Bahwa di dalam menghadapi sekalian kejadian-kejadian itu belum mendapat perintah dan tuntutan yang nyata dari Pemerintah Republik Indonesia yang sesuai dengan kejadian-kejadian tersebut.Memutuskan:

1. Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan Agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap fihak Belanda dan kaki tangan.

2. Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat “sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam. 

Resolusi Jihad ini ini memiliki pengaruh yang besar dalam menggalang umat Islam khususnya untuk berjuang mengangkat senjata melawan kehadiran Belanda setelah diproklamirkannya kemerdekaan. 

Masjid-masjid, pesantren-pesantren dan kantor-kantor NU tingkat Cabang dan Ranting segera menjadi markas Hizbullah yang menghimpun terutama pemuda-pemuda santri yang ingin berjuang dengan semangat yang tinggi meski dengan keahlian dan fasilitas persenjataan yang sangat terbatas. 

Resolusi ini juga diyakini memiliki sumbangan besar atas pecahnya Peristiwa 10 November 1945 yang terkenal dan kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan. Soetomo atau terkenal dengan panggilan Bung Tomo, pimpinan laskar BPRI dan Radio Pemberontakan, yang sering disebut sebagai penyulut utama peristiwa 10 November diketahui memiliki hubungan yang dekat dengan kalangan Islam.

Para pengurus NU di tingkat pusat menegaskan bahwa hukum membela Tanah Air adalah fardhu ain bagi setiap umat Islam di Indonesia. Tak hanya itu, ditegaskan bahwa Muslimin yang berada dalam radius 94 kilometer dari pusat pertempuran wajib ikut berperang melawan Belanda.

Bertahun-tahun, peristiwa bersejarah yang dilakukan kalangan pesantren tersebut terbungkam. Bahkan kalangan pesantren sendiri hampir melupakannya. Kemudian atas permintaan PBNU kepada pemerintah, agar Resolusi Jihad diperingati sebagai Hari Santri, mengingat perjuangan para santri yang banyak gugur membela negaranya. 

Permintaan tersebut dikabulkan pemerintah pada masa Presiden Joko Widodo dengan meresmikannya pada 22 Oktober 2015. (Abdullah Alawi)

Senin 22 Oktober 2018 14:15 WIB
HARI SANTRI 2018
Ketika KH Hasyim Asy’ari Bergegas Mengumpulkan Para Santri
Ketika KH Hasyim Asy’ari Bergegas Mengumpulkan Para Santri
Pada tahun 1937 misalnya, pernah datang kepada Kiai Hasyim Asy’ari seorang ambtenar (utusan pemerintah Hindia-Belanda) bermaksud memberikan tanda jasa berupa ‘Bintang Jasa’ yang terbuat dari perak dan emas. Tetapi dengan tegas kakek KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menolak pemberian itu. (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 1985)

Sikap ayah Kiai Wahid Hasyim itu tidak lepas dari pandangan bahwa apa yang dilakukan Belanda hanya intrik politik semata untuk menundukkan sikap kritis dan perjuangan para kiai pesantren dalam melawan penjajah. Lalu, Hadratussyekh pun bergegas mengumpulkan santrinya lalu berkata:

"Sepanjang keterangan yang disampaikan oleh ahli riwayat, pada suatu ketika dipanggillah Nabi Muhammad SAW oleh kakeknya Abdul Muthalib dan diberitahu bahwasanya pemerintah jahiliyah di Mekkah telah mengambil keputusan menawarkan tiga hal untuk Nabi Muhammad: 1) kedudukan yang tinggi; 2) harta benda yang berlimpah; dan 3) gadis yang cantik.

Akan tetapi Baginda Nabi Muhammad menolak ketiga-tiganya itu dan berkata di hadapan kakeknya, Abdul Muthalib: “Demi Allah umpama mereka itu kuasa meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku dengan maksud agar aku berhenti berjuang, aku tak akan mau. Dan aku akan berjuang terus sampai cahaya Islam merata ke mana-mana, atau aku gugur lebur menjadi korban.” Maka, kamu sekalian anakku, hendaknya dapat meneladani Baginda Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi segala pesoalan."

Kiai Hasyim Asy’ari merupakan salah satu ulama yang mempunyai sikap tegas terhadap penjajah. Perlawanan terhadap penjajah yang dilakukan oleh Kiai Hasyim dan kawan-kawan tidak hanya dilakukan secara fisik, tetapi juga perlawanan kultural. Di mana segala sesuatu yang yang berkaitan dengan penjajah tidak mendapat kompromi.


Koran Kedaulatan Rakjat (Sumber: @pekerjamuseum)

Upaya kultural tersebut dilakukan oleh santri dan kiai sebagai salah satu ruang perlawanan, meskipun langkah diplomasi juga tetap dilakukan. Langkah kultural tanpa kompromi misalnya dilakukan oleh Kiai Hasyim ketika melarang para santrinya dan masyarakat untuk menyerupai identitas penjajah Belanda seperti memakai celana, jas, dan dasi. Bahkan dengan tegas, Kiai Hasyim mengharamkan.

Konteks pengharaman ini merupakan salah satu strategi perlawanan terhadap ketidakperikemanusiaan yang dilakukan penjajah kepada bangsa Indonesia. Kiai Hasyim ingin menunjukkan bahwa bangsa Indonesia juga mempunyai kekuatan dan tidak akan tinggal diam terhadap kekejaman penjajah. Meskipun fatwa haram terhadap identitas penjajah tersebut tidak berlaku permanen.


Koran Kedaulatan Rakjat (Sumber: @pekerjamuseum)

Hal ini dijalankan oleh Gus Wahid Hasyim ketika melakukan diplomasi dan kesepakatan dengan penjajah Jepang. Ia sering memakai celana, jas, dan dasi untuk memberikan efek psikologi bahwa dirinya sangat terbuka ketika melakukan pertemuan dan pembicaraan dengan penjajah.

Atas perlawanan kultural yang kerap dilakukan oleh Kiai Hasyim, gerak-geriknya serta pesantren di seluruh Indonesia mendapat sorotan utama oleh Belanda karena dianggap menyimpan potensi perlawanan yang luar biasa. Fakta sejarah mencatat, pesantren kala itu bukan hanya menjadi tempat menempa ilmu agama, tetapi juga menjadi wadah pergerakan nasional dan penanaman cinta tanah air.

Berita-berita perjuangan di koran nasional seperti Kedaulatan Rakjat rutin memberitakan dinamika peperangan pada tahun 1945. Bahkan, Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 dijelaskan dalam koran tersebut bahwa dampak dan semangat yang ditimbulkan luar bias.


Koran Kedaulatan Rakjat (Sumber: @pekerjamuseum)

Resolusi Jihad yang menjadi dasar historis ditetapkannya Hari Santri 22 Oktober berhasil menggerakkan rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap tentara sekutu, baik di Surabaya dan daerah-daerah lain seperti Ambarawa, Temanggung, Semarang. Armada tentara sekutu yang di laut berhasil ditenggelamkan, yang di udara berhasil ditembak jatuh.

Bahka menurut pemberitaan koran Kedaulatan Rakjat kala itu, ketika fatwa Resolusi Jihad dicetuskan KH Hasyim Asy’ari, sebanyak 60 juta umat Islam di Indonesia bersiap melaksanakan jihad fi sabilillah. (Fathoni)
Rabu 10 Oktober 2018 13:30 WIB
Ketika Mbah Muqoyyim Dirikan Setu Patok
Ketika Mbah Muqoyyim Dirikan Setu Patok
Tirakat Mbah Muqoyyim Buntet Pesantren (ist)
Sungai-sungai mengalir ke hilir yang sempit. Saat air melimpah, muara tak lagi menampung sehingga menimbulkan bah. Ia menggenangi sawah dan perkampungan yang keberadaannya berdekatan. Hal ini terjadi berulang kali di sebuah daerah di Cirebon sehingga menarik tokoh setempat, Ki Entol Rujitnala, membuat sayembara. Siapapun yang berhasil mengatasi permasalahan tersebut, ia akan dinikahkan dengan putrinya, Nyai Randu Lawang.

Mbah Muqoyim terpanggil untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut. Tentu bukan semata ingin mendapat putri Ki Entol, tetapi membantu mereka yang terus-terusan mendapat musibah agar dapat kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa.

Meskipun demikian, dengan ketawadhuannya, pendiri Pondok Buntet Pesantren itu mengajukan syarat agar Ki Entol juga menemaninya dalam membuat solusi tersebut. Keduanya berjalan mengitari suatu tempat. Di setiap ujungnya, dipasang sebuah patok. Setiap pemasangan itu, mereka berdoa.

Air pun tak lagi keluar menggenangi pemukiman lagi. Ia tertampung pada tanah yang sudah diberi patok itu. Saat ini, tanah tersebut sudah dibangun sebuah situ yang dinamai Setu Patok mengingat dibangun dengan mengandalkan patok.

Sebelumnya, Ki Entol telah berkali-kali berusaha untuk mengatasi hal tersebut dengan membuat bendungan. Namun usahanya belum berhasil sampai akhirnya diatasi bersama dengan Mbah Muqoyim.

KH Ade Nasihul Umam saat menceritakan legenda ini kepada penulis mengungkapkan tiga pelajaran penting dari dua tokoh tersebut. Pertama, dalam setiap gelaran sayembara menjadi ajang untuk menghilangkan kesombongan. Sebab, pembuat sayembara mesti bukanlah orang sembarangan yang memiliki kekuatan lebih.

Sayembara membuat penyelenggaranya merasa bahwa dirinya tidak lebih kuat ketimbang siapapun yang dapat mengatasi problematika yang tak dapat ia atasi sendiri.

Namun, bukan seorang ulama jika ia tak tawadlu. Mbah Muqoyyim juga enggan menyombongkan diri dapat menjawab tantangan itu sekaligus menunjukkan diri sebagai orang yang lebih kuat. Tidak demikian. Untuk menghapus pikiran itu, ia enggan sendirian dalam mengatasi permasalahan tersebut.

Justru, ia meminta penyelenggara, Ki Entol, untuk membantunya. Hal ini agar Mbah Muqoyyim tidak merasa bahwa ia sendiri yang membuat situ itu.

Di samping itu, hal lain yang hampir tak pernah alpa dalam setiap sayembara adalah hadiah bagi yang dapat melaksanakannya berupa pernikahan dengan putri penyelenggara. Mbah Muqoyyim pun dinikahkan dengan Nyi Randulawang yang juga dikenal sebagai Nyi Pinang.

"Ada dua tujuan sayembara, littazwij dan menghilangkan kesombongan," kata Kiai Ade pada Ahad (6/10) lalu. (Syakir NF)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG