IMG-LOGO
Nasional

Dari Liga Pelajar, Menpora Ingin Lahir Egy Maulana Vikri Baru

Ahad 11 Maret 2018 22:15 WIB
Bagikan:
Dari Liga Pelajar, Menpora Ingin Lahir Egy Maulana Vikri Baru
Liga Pelajar Gunung Kidul 2018
Gunugkidul, NU Online
Bergabungnya pemain Timnas Egy Maulana Vikri di kanca sepakbola Eropa bersama klub divisi utama Liga Polandia, Lechia Gdansk menjadi kabar yang membanggakan bagi sepakbola Indonesia. Menpora Imam Nahrawi ingin dari sebuah kompetisi atau turnamen dari lapangan desa seperti Liga Pelajar Gunung Kidul 2018 ini mampu melahirkan Egy Maulana Vikri yang baru. 

"Saya sangat senang dan bangga karena hari ini ada kabar baik. Ada seorang anak Indonesia bernama Egy Maulana Vikri. Egy adalah contoh hasil didik Sekolah Khusus Olahraga Ragunan, Kemenpora yang menjadi bukti keberhasilan kombinasi pendidikan dan olahraga. Ia sedang menandatangani kontrak sebagai pemain sepakbola di Eropa. Salah satu pemain Indonesia yang dipercaya bermain di Negara Polandia," kata Menpora saat menutup Liga Pelajar Gunungkidul 2018, Ahad (11/3) sore di Stadion Gelora Handayani. 

"Saya berharap dari Lipeg ini bisa lahir Egy-Egy baru yang terus bermimpi dan mewujudkan mimpinya itu membawa nama baik Indonesia. Karena itu, pemerintah akan terus mendukung semua bakat-bakat terbaik bangsa untuk maju dan tampil di pentas dunia," tambahnya. 

Egy sendiri diketahui sudah bertolak ke Polandia, dan kabarnya bakal diperkenalkan secara resmi oleh pihak klub Lechia Gdanks yang saat ini klub tersebut berada di posisi ke-12 dari 16 kontestan Ekstraklasa.

Pada kesempatan tersebut Menpora menyerahkan trophy kepada SMAN 2 Playen yang meraih juara 1. Sedangkan  SMAN 1 Tanjung Sari Kidul meraih juara 2, hadiah diserahkan oleh Wakil Bupati Gunungkidul. Juara 3 SMK 1 Nglipar dan juara 4 diraih oleh SMK Muhammadiyah 1 Playen. (Red-Zunus) 
Bagikan:
Ahad 11 Maret 2018 23:45 WIB
Tutup Liga Pelajar Gunungkidul 2018, Menpora Ingin Daerah Lain Ikut Kembangkan Sepakbola Nasional
Tutup Liga Pelajar Gunungkidul 2018, Menpora Ingin Daerah Lain Ikut Kembangkan Sepakbola Nasional
Menpora Imam Nahrawi didampingi Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi, menutup Lipeg 2018
Gunungkidul, NU Online
Menpora Imam Nahrawi secara resmi menutup Liga Pelajar Gunungkidul (Lipeg) 2018 di Stadion Gelora Handayani. Ahad, (11/3) sore.

"Saya bersyukur dan senang bisa hadir secara langsung di liga pelajar terbaik dan terbesar. Lipeg ini akan memberikan inspirasi bagi pemerintah daerah dan masyarakat khususnya pelajar. Karena Lipeg ini sudah eksis selama 4 tahun tanpa dukungan finansial dari pemerintah pusat," ucap Menpora sebelum laga final yang mempertemukan antara SMAN 1 Tanjung Sari Kidul lawan SMAN 2 Playen, 

Menpora mengatakan, pemerintah akan terus mendorong agar sepak bola yang menjadi olahraga terpopuler ini selalu eksis dan bisa berkembang dan pada saatnya sepakbola Indonesia bisa memberikan yang terbaik untuk negeri ini. "Saya harap kepada seluruh insan olahraga  untuk terus menjaga persatuan sepakbola Indonesia ini menuju kebangkitan yang lebih baik lagi," kata Menpora.

Lebih lanjut ia mengatakan, pemerintah juga terus mendorong dana desa bisa dialokasikan untuk kegiatan olahraga dan infrastruktur penunjang. "Tiga tahun yang lalu Kemenpora menganggarkan satu lapangan satu desa. Dan sekarang dana desa bisa dialokasikan untuk infrastruktur dan kegiatan olahraga," tutupnya. 

Sementara itu, Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi yang turut hadir menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga.

"Saya mewakili Bupati mengucapkan terima kasih yang sudah hadir di Lipeg 2018 ini. Mudah-mudahan pada kesempatan yang lain, Pak Menpora bisa melihat anak-anak muda di sini dalam  rutinitasnya berolahraga. Selain itu, kami juga bangga, anak muda di sini yang dibantu oleh KNPI Gunungkidul bisa mengelar event olahraga yang cukup meriah," tuturnya.

Ketua Panitia Lipeg 2018 Heri Santoso mengatakan, Liga Pelajar Gunungkidul ini telah diadakan selama 4 kali. Tahun 2018 ini, diikuti oleh 20 SMA/SMK se Kabupaten Gunungkidul dan dibagi menjadi 5 Grup dan tiap Grup akan diambil 5 Juara Grup dan 3 Runner up untuk masuk 8 besar.

Lebih lanjut ia mengatakan, untuk total hadiah secara keseluruhan mencapai 20 juta rupiah. Nantinya akan terbagi beberapa kategori yakni juara I sampai III, top skor, suporter terbaik, dan pemain terbaik. "Untuk yang juara 1 hadiah yang didapat sebesar 5 juta, juara II 3 juta dan juara III 2 juta," imbuhnya. (Red-Zunus) 
Ahad 11 Maret 2018 22:30 WIB
UNIQ dan MDHW Komitmen Jaga Keharmonisan Bangsa
UNIQ dan MDHW Komitmen Jaga Keharmonisan Bangsa
Malang, NU Online
Haul Akbar dan Istighosah NKRI yang diselenggarakan Yayasan UNIQ bekerjasama dengan Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) pada 9-10 Maret 2018 berjalan lancar.

Acara yang dihelat di Pesantren UNIQ Cabang Malang ini juga diisi dengan gelaran wayang bertajuk Petruk Gugat.

Sekretaris Jendral PB MDHW Hery Haryanto Azumi tiba di Pesantren UNIQ Pamotan, Dampit, Malang, Jumat (9/3) pukul 15.30 WIB. Ia didampingi beberapa Pengurus Pusat dan Pengurus Wilayah.

Kehadiran Hery dan pengurus MDHW lainnya disambut dengan antusias oleh pengasuh Pesantren UNIQ KH Gufron Albantani dan para hadirin yang ada di acara itu. Kang Gufron, begitu panggilan akrabnya, dalam sambutannya, menyanjung peran yang telah dijalankan oleh MDHW selama ini.

“Bahwa adanya MDHW penting. Apalagi terus berupaya merangkul semua golongan," kata KH Gufron Albantani.

Menurutnya, bangsa ini butuh mediator yang mampu menyatukan semua golongan untuk menjaga keharmonisan negeri.

"Negeri ini butuh mediator untuk menjaga keharmonisan berbangsa," tambahnya.

KH Gufron Albantani kemudian mengajak Hery ke panggung untuk menyerahkan pelakat dan gunungan wayang. Kemudian Hery diminta untuk memberikan gunungan wayang kepada ki dalang secara simbolik.

Di saat bersamaan, Hery juga mengatakan bahwa setiap anak bangsa punya tanggung jawab membangun bangsa. Peran warga sipil, khususnya para ulama dan santri, dalam upaya membangun bangsa sangat signifikan. Hal itu harus dipupuk dan dilestarikan. Ulama dan santri tidak boleh kendur dalam menjaga keutuhan NKRI dan membangun bangsa.

"Jadi ulama dan santri merupakan elemen tak terpisahkan bangsa ini, dari dulu hingga sekarang," kata Hery.

Karena itu, Hery sangat mengapresiasi kegiatan Pesantren UNIQ dengan menggelar Haul Akbar dan Istighosah NKRI.

"Apa yang telah dilakukan Pesantren UNIQ patut dijadikan inspirasi," tambahnya. (Red: Kendi Setiawan)
Ahad 11 Maret 2018 15:2 WIB
HARI MUSIK NASIONAL
Ini Dua Hambatan bagi Shalawat dan Perkembangan Musik
Ini Dua Hambatan bagi Shalawat dan Perkembangan Musik
Jakarta, NU Online
Saat ini, shalawat yang diiringi musik baik tradisional maupun kontemporer sangat digemari. Acara shalawatan hampir tak pernah sepi. Melihat hal tersebut, tentu baik, menurut Ngatawi Al-Zastrouw saat ditemui NU Online di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Matraman, Jakarta, Sabtu (10/3).

“Kebangkitan shalawat tidak semata-mata masuk ke era industri. Hal itu bisa menghilangkan spirit dari shalawat,” lanjut dosen Unusia itu.

Pria asal Pati itu menjelaskan bahwa seni religi saat ini menghadapi dua gempuran fundamentalisme. Dari sisi kanan, ada fundamentalisme agama yang mengharamkan dan membid’ahkan. “Karena dianggap mengotori agama.”

Sisi kirinya, seni religi menghadapi fundamentalisme pasar atau kapitalisasi dan industrialisasi. Shalawatan tidak hanya menuntut produksi dan mengejar materi dari hukum pasar.

“Hal itu dapat menghilangkan substansi seni karena hanya menuntut produksi dan materi dari hukum pasar,” kata pimpinan grup musik Ki Ageng Ganjur itu.

“Ini yang perlu dicermati oleh kebangkitan shalawat,” tegasnya.

Musik dipilih sebagai media pengantar dalam menebarkan Islam di Nusantara. Alasannya, musik dapat menyentuh relung hati terdalam. Orang Nusantara lebih tersentuh hatinya jika menggunakan seni. Musik masuk ke dalam bagian seni.

“Penanaman Islam di Nusantara tidak melalui sentuhan kohersif, tetapi melalui sentuhan hati, melalui getaran-getaran hati. Paling efektif ya melalui seni,” katanya.

Selain itu, musik juga sudah menjadi bagian hidup masyarakat Nusantara. Maka, setidaknya ada tiga hal yang membuat musik dipilih, yakni lebih menarik, lebih gampang menyentuh hati, dan lebih gampang dipahami.

Perkembangan Musik
Musik tradisional, pada asalnya, sebagai ekspresi spiritualitas. Maka permainan itu merupakan bentuk persembahan, ketundukan, atau cara ibadah.

“Seni dalam konteks masyarakat tradisional itu menjadi alat peribadatan. Maka dia berangkatnya dari spiritualitas,” katanya.

Lalu, musik mengalami perkembangan. Mulanya, hanya menjadi sarana ritual, musik berkembang menjadi sarana pendidikan.  “Lagu Gundul-gundul Pacul, Cublek-cublek Suweng, itu musik sebagai sarana pendidikan,” ujarnya.

Perkembangan musik semakin meluas dengan menjadi hiburan. Meskipun meluas, tetapi tidak menghilangkan fungsi sebelumnya. Hal ini terbukti dengan masih adanya musik sebagai sarana untuk shalawatan yang merupakan bagian dari ritus dalam Islam. Selain itu, dalam dunia pendidikan, musik juga tidak pernah ditinggalkan.

“Jadi, perkembangan musik itu tidak pernah menegasikan yang lain,” tutupnya. (Syakirnf/Alhafiz K)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG