IMG-LOGO
Internasional

Saudi Akui Pembunuhan Jamal Khashoggi Terencana

Jumat 26 Oktober 2018 23:59 WIB
Bagikan:
Saudi Akui Pembunuhan Jamal Khashoggi Terencana
Foto: AFP
Riyadh, NU Online
Jaksa penuntut umum Arab Saudi mengatakan, pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi (59) di Konsulat Saudi di Istanbul Turki pada 2 Oktober lalu telah direncanakan. Keterangan ini disampaikan jaksa penuntut umum Saudi sebagaimana diberitakan kantor berita resmi Saudi.

Pernyataan ini membalikkan pernyataan resmi Saudi sebelumnya bahwa pembunuhan Jamal tidak disengaja. Sebelumnya, Jaksa Agung Saudi Sheikh Saud al-Mojeb mengatakan, Jamal Khashoggi tewas setelah ‘diskusi’ dengan orang-orang di dalam Konsulat. Namun diskusi tersebut berubah menjadi sebuah pertengkaran. 

“Investigasi masih terus berlangsung dan 18 warga Saudi telah ditangkap," kata al-Mojeb, dilansir laman Aljazeera, Sabtu (20/10), sebagaimana diberitakan kantor berita resmi Kerajaan, SPA.

Keterangan bahwa pembunuhan Jamal Khashoggi direncanakan sesuai dengan hasil investigasi tim gabungan Saudi-Turki. Begitu pun dengan tim penyelidik Turki. Semuanya menyatakan bahwa pembunuhan Jamal Khashoggi telah direncanakan dengan baik.

Saat ini tim penyelidik, baik dari Saudi, Turki, maupun gabungan Saudi-Turki, terus melakukan penyelidikan untuk mengetahui dimana jenazah dan siapa dalang di balik pembunuhan Jamal Khashoggi.

Dilaporkan, potongan jenazah Jamal Khashoggi ditemukan di sebuah lubang di taman rumah Konsul Jenderal (Konjen) Saudi Muhammad al-Otaibi di Istanbul, sekitar 500 meter dari gedung Konsulat. Namun demikian, belum ada tanggapan resmi dari pihak Turki dan Saudi mengenai hal ini.

Kantor berita Anadolu melaporkan, ada 38 staf Konsulat Saudi di Istanbul yang dimintai keterangan sebagai saksi atas kasus pembunuhan Jamal Khashoggi.

"Masih ada pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban atas pembunuhan berencana itu. Siapa yang memberikan perintah dan di mana jasadnya,” kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, dilansir Press TV, Jumat (26/10). 

Jamal Khashoggi, seorang jurnalis asal Arab Saudi, tiba-tiba saja menghilang ketika berkunjung ke Konsulat Arab Saudi di Istanbul Turki pada Selasa (2/10) lalu. Ia sengaja mendatangi kantor perwakilan Saudi di Turki tersebut untuk mengurus dokumen pernikahannya dengan Hatice, tunangannya asal Turki. 

Jamal Khashoggi merupakan jurnalis yang banyak mengkritisi kebijakan Saudi, terutama dalam hal kebebasan berpendapat, hak asasi manusia di Saudi, dan keterlibatan Saudi pada Perang Yaman. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Jumat 26 Oktober 2018 23:15 WIB
Fatayat NU Tampilkan Produk Busana Muslimah pada IYMWF 2018
Fatayat NU Tampilkan Produk Busana Muslimah pada IYMWF 2018
Fashion show IYMWF 2018
Jakarta, NU Online
Forum Internasional Perempuan Fatayat NU memasuki hari ketiga, Jumat (26/10). Sejak dibuka oleh Presiden RI pada Rabu lalu, berbagai inovasi dan kreativitas ditampilkan selama acara berlangsung. Salah satunya adalah produk fashion Muslimah di mana Indonesia saat ini menjadi kiblat dunia. 

Tiga brand fesyen ternama turut meramaikan ajang fashion show di IYMWF ini. Di antaranya adalah Albis Group, Nanenia dan Mumtaz. Ketiganya menampilkan fashion style yang berbeda. Albis dengan konsep glamor, Nanenia mengangkat tema tenun NTT, dan Mumtaz dengan tema Oase dengan style abaya Timur Tengah. 

"Kami bangga punya kesempatan bisa tampil di sini. Menurut saya forum ini keren banget. Forum yang smart, ngga hanya diskusi serius tapi ada sisi lainnya yang kreatif gini," ujar Nia, owner Albis. 

Menampilkan sisi kreativitas perempuan adalah tujuan utama dari acara ini. Inovasi yang diciptakan oleh perempuan dinilai membawa dampak yang positif bagi pemberdayaan perempuan. 

Sementara itu, Ifa Abdullah, owner dari brand Nanenia mengatakan forum kreatif seperti ini yang bisa mengimbangi persepsi negatif tentang Islam dan perempuan.

"Makin banyak perempuan muslim yang berkecimpung di sektor-sektor strategis salah satunya pada bisnis fesyen. Nah, konsep acara yang open seperti ini tentu kami support banget," ungkapnya.

Designer fashion yang juga pengurus PP Fatayat NU ini mengaku konsep kenangan yang diusung adalah untuk menggaungkan tenun NTT pada dunia. Dengan style yang kasual nan anggun, motif tenun dikombinasikan dengan bahan hitam polos dan menghasilkan karya istimewa.

Sementara itu menurut Masyitah, konsep fashion show ini sangat menarik dengan menyajikan kekayaan fashion style Muslim Indonesia. Peserta asal Malaysia ini mengaku senang dengan konsep tradisional yang dikombinasikan dengan style modern.
 
"I love to the concept of Indonesian touch. Its really nice," pungkasnya. (Red: Kendi Setiawan)
Jumat 26 Oktober 2018 22:45 WIB
Perempuan Muda Muslim Dunia Resah Persoalan Stunting
Perempuan Muda Muslim Dunia Resah Persoalan Stunting
International Young Muslim Women Forum, Jumat (26/10).
Jakarta, NU Online
Bahasa agama dan suara tokoh-tokoh agama cukup efektif dalam mendukung pencegahan stunting di Indonesia.

Hal ini diungkapkan Anggia Ermarini, Ketum Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama (PP Fatayat NU) di Hotel Aryaduta, Jumat (26/10), dalam gelaran International Young Muslim Women Forum (IYMWF). 

Anggia Ermarini adalah salah satu pembicara yang menyajikan topik 'Inisiatif Pencegahan Stunting untuk Senyum Anak Bangsa'. Menurut perempuan yang juga Inisiator Barisan Nasional Cegah Stunting ini, jarang sekali organisasi keagamaan mengusung isu praktikal seperti stunting.

"Baru kemarin Munas Konbes PBNU merekemondasikan agar stunting diintervensi secara serius oleh pemerintah," ujarnya. 

Menurut Anggia, selama ini kerja-kerja Fatayat NU dalam isu stunting mengandalkan basis jaringan, pengajian, dan struktur kader organisasi. "Kader-kader Fatayat menjadi tempat bertanya bagi masyarakat," kata Anggia.

Stunting adalah masalah kronis pertumbuhan, mulai dari usia kandungan sampai dua tahun. Kasus stunting di Indonesia mencapai 37,2 persen.

"Fatayat NU bekerja pada isu stunting sejak 2012 di Kabupaten Brebes, kabupaten dengan 40 persen kasus stunting," ujar Anggia. 

Isu stunting sangat penting karena Indonesia sedang menyongsong bonus demografi. Menurut Anggia, jika bayi-bayi saat ini mengalami stunting, akan mempengaruhi inovasi bangsa, juga menghabiskan anggaran negara karena warganya akan sering sakit.

"Al-Qur'an telah menyatakan bahwa berikan anak-anakmu rizki yang halalan thoyyiban. Selain halal, juga harus thoyyiban, berkualitas," ujarnya. 

Pembicara lain adalah Ninuk Mardiana Pambudy, wakil Redaktur Harian Kompas, mengetengahkan 'Peran Media Memperkuat Pengalaman Masyarakat dalam Isu Kesehatan'.

"Saya beruntung bekerja di Kompas karena visi pendirinya sangat kuat. Perhatian Kompas sangat serius pada isu-isu grassroot kesehatan masyarakat. Tantangan kita saat ini adalah masyarakat lebih suka membaca digital daripada membaca koran," ujar Ninuk.

Perempuan yang telah 32 tahun bekerja untuk Kompas ini menekankan yang paling penting dalam sebuah tulisan adalah perlunya pesan kuat untuk disampaikan.

"Best practices Fatayat NU sangat banyak. Akan lebih baik daripada diceritakan dari mulut ke mulut, ditulis kesan-kesan dan cara-cara menyelesaikan persoalan, serta pengalaman-pengalaman menarik yang dapat menarik perhatian pemerintah pusat," ungkapnya. (Red: Kendi Setiawan)
Jumat 26 Oktober 2018 13:0 WIB
Masuk Islam, Sinead O'Connor Kenakan Jilbab
Masuk Islam, Sinead O'Connor Kenakan Jilbab
Foto: Twitter @MagdaDavitt77
Dublin, NU Online
Sinead O'Connor, penyanyi gaek asal Irlandia, baru-baru ini mengumumkan sudah masuk Islam. O'Connor mengumumkan keputusannya itu melalui akun Twitter pribadinya, @MagdaDavitt77.

“Aku mengumumkan bahwa aku bangga menjadi seorang Muslim. Ini adalah keputusan alami dari perjalanan seorang teolog yang cerdas,” tulis Sinead di akun Twitternya, Jumat (19/10) lalu.

Penyanyi yang mulai ngetop pada era 80-an ini juga memiliki nama baru setelah memeluk Islam yakni Shuhada Davitt. Selain Sinead O’Connor, ia juga dikenal sebagai Magda Davitt.

“Saya akan diberi nama baru (yang lain). Yaitu Shuhada’,” cetusnya.

Pelantun tembang 'Nothing Compares 2 U' ini juga mengambil keputusan yang mengejutkan. Pasalnya, satu hari setelah mengaku memeluk Islam, ia langsung mengenakan jilbab. Ia mengaku senang bisa memakai jilbab untuk menutup kepalanya.

Shuhada mengungkapkan, ia pertama kali mendapat jilbab atas bantuan teman baiknya, Elaine.

“Sahabatku, Elaine baru saja memberiku jilbab pertama dan dia menggigil di sekujur tubuhnya saat aku mengenakannya,” kata O’Connor, dikutip laman The Star, Jumat (26/10).

Sejak saat itu, Penyanyi 51 tahun ini sering kali mengunggah ceritanya mempelajari Islam seperti belajar adzan dan lainnya. 

O’Connor lahir di Dublin pada 1966. Ia mulai terkenal pada akhir 1980-an dengan album debutnya The Lion and the Cobra. Sejak saat itu, ia menghasilkan sepuluh album solo.

Ia mencapai puncak kesuksesan pada 1990 dengan aransemen baru dari lagu Prince Nothing Compares 2 U. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG