IMG-LOGO
Wawancara

Beben Jazz Bisa Mengenal Allah melalui Musik

Kamis 1 November 2018 9:0 WIB
Bagikan:
Beben Jazz Bisa Mengenal Allah melalui Musik
Foto: harnas.co
Belakangan ada kalangan pemusik yang meninggalkan musik. Bukan karena usianya tua atau tak ada lagi fasilitas, tapi lebih karena pemahaman. Bagi mereka, bermain musik adalah haram. Padahal di kalangan ulama sendiri, musik adalah masalah khilafiyah (perbedaan) pendapat. Ada yang membolehkan, ada pula yang mengharamkan. 

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj misalnya pernah berkomentar bahwa seni, termasuk di dalamnya musik, kalau bisa menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, dibolehkan. Yang diharamkan adalah musik yang menjadi sarana maksiat. 

Salah seorang pemusik Indonesia pada genre jazz, yaitu Beben Jazz punya penjelasan tersendiri terkait dia, musik dan Sang Pencipta. Menurut dia, ketika bermain musik, justru bisa mendekatkan diri kepada Allah. Dalam penghayatannya, saat bermain musik bisa merasakan keindahan. Tentu, pada hakikatnya keindahan itu diciptakan Yang Maha Indah. 

Pada saat yang sama, rasa syukur juga bisa timbul karena betapa manfaatnya organ tubuh si pemusik. Jika Beben tak punya satu saja jari kelingking, akan sukar sekali memainkan musik jazz. Dengan demikian, betapa pentingnya kelingking itu. Betapa hebat Sang Pencipta kelingking itu. Dialah Allah.

Untuk lebih lengkap bagaimana pengalaman bermain musik dari Beben Jazz, Abdullah Alawi berhasil mewawancarainya selepas Haul Mahbub Djunaidi yang diselenggarakan PMII UNUSIA Jakarta dan komunitas literasi Omah Aksoro itu di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Jumat (19/10). 

Berikut petikannya: 

Kenapa untuk tahun kedua ini, secara berturut-turut datang dan mengisi acara di Haul Mahbub Djunaidi? 


Pertama sih, kalau dari sisi spiritual, pasti tidak  ada yang kebetulan. Kenapa saya ada di sini lagi? Kedatangan kedua ini semacam menegaskan bahwa Pak Mahbub ini jiwanya jazz. 

Bagi saya, yang pertama adalah pertemuan, perkenalan saya dengan PAK mahbub dan coba kita lihat, jazz dan esai, karena Pak Mahbub sudah Jazz. Tapi apakah cukup suka jazz. Pak Mahbub sudah jazz, anaknya ada yang jazz. 

Kalau yang di atas, sang Maha Kekasah, Allah, biasanya kalau kisah dengan ruh, ruh, penasaran itu, secara enggak langsung seakan-seakan menuju ke arah Pak Mahbub itu jiwanya jazz, jazz dalam politik, dalam organisasi, dalam spiritual. Tapi rasanya,  kurang cukup kalau sekali. 

Oh ya, bisa ceritakan tentang musik jazz, terkait agama? 

Kadang-kadang ada orang cuap-cuap agama, mungkin ahli fiqih, mungkin ahli yang lain. Tetapi ada orang-orang "laku", mungkin "laku"-nya, meskipun tidak bicara ayat, tapi lakunya spiritual; jadi, kadang-kadang bisa bentuknya penyampaian bisa bentuknya simbol, tapi kan poinnya satu, jazznya Allah adalah, ternyata orang bisa menjadi baik enggak lewat masjid semua; orang bisa lewat jazz, bisa lewat komputer itu kenal Allah. Segala sesuatu kan ujung-ujungnya, aku harta karun terpendam, aku ingin ditemukan. Saya menemukan Allah lewat jazz. Saya tidak tahu nanti di Padang Mahsyar, musik jazz saya statusnya saya tidak tahu, tapi saya mengenal Allah melalui jazz. Tapi saya juga nurut atas kehendak Allah, kalau 5 tahun nanti saya tidak ngejazz itu lebih baik, saya nurut juga. Tapi saat ini saya kenal Allah melalui jazz. 

Bagaimana penjelasannya mengenal Allah lewat jazz itu? 

Sederhana. Sebetulnya jazz itu hanya simbol. Kita kan bisa merasakan hadirnya Allah itu lewat rasa takut, keindahan dan knowledge (pengetahuan). Sekarang jazzer salah satu amanahnya adalah menghadirkan keindahan dengan laku yang khusuk, bermain karena Allah, yang semata-mata karena Allah. Ketika kita main, orang positif orang merasakan hadirnya Allah di situ. Atau dengan ma’rifat, mendalami jazz.

Kita kan tahu ketika lautan dijadikan tinta dituliskan di buku, tak akan cukup. Tapi merasa tidak keluasan ilmu Allah. Dan kalau mau merasakan, dalami ilmu satu saja. Contohnya jazz. Jazz itu banyak banget. Allah mengajar, Allah itu maha detail, di cord jazz itu, kok cord jazz itu susah-susah, itu untuk detail, untuk menghadirkan keindahan sejati. Bukankah itu Allah mengajarkan detail. Ya kalau kita paham itu, detailnya jazz itu belum seberapa dengan Allah. Tapi kita lewat jazz dulu supaya kita bisa merasakan apa yang dinamakan Allahu akbar lewat jazz. 

Jadi korelasi begini, bukan hanya jazz, bisa di komputer, bisa di mana pun, tapi saya kan jazzer. Dengan mendalami ilmu jazz, nanti yang dinamakan ilmu Allah itu luas terasa banget. Akhirnya apa? Akhirnya saya ketemu cord c7-9. Terus kalau cord c7-9, kalau kelingking gua enggak ada, gua enggak bisa megang cord ini nih. Akhirnya apa, megang megang cord itu saya menjadi zikir. Kelingking aja itu, kok ada ya cord seperti ini. Detail. 

Dengan menyadari bahwa kelingking ini berfungsi, kadang-kadang kita tak bersyukur dengan adanya kelingking ini, padahal ketika dalam konteks pemain jazz demikian sangat berarti banget. 

Banget. 

Fungsi kelingking saja bagi seorang jazzer bisa mengingatkannya kepada Sang Penciptanya.

Betul. Jadi, semua yang saya lakuin di jazz, bagi saya itu dzikir itu semua. Bagi saya itu ibadah.  

Padahal itu hanya dari satu kelingking; mensyukuri ciptaan Allah melalui kelingking. 

Iya. Itu baru hal kecilnya. Jadi, bagi Rumi, sementara kan, kalau dibicarain panjang ya, isu-isu musik halal haram, halal haram, pasti orang punya perjalanan, spiritual journey, spiritual music, sementara saya merasakan hadirnya Allah, merasakan kebesaran Allah lewat jazz, sementara sahabat spiritual saya, yang saya belum pernah ketemu, Jalaluddin Rumi mengatakan, seni adalah keindahan Tuhan yang turun ke bumi. Tapi intinya adalah lewat jazz, saya bisa mengenal Allah.


Bagikan:
Selasa 23 Oktober 2018 20:0 WIB
HARI SANTRI 2018
Disebut Santri Jika Siap Pertahankan Agama dan Negara
Disebut Santri Jika Siap Pertahankan Agama dan Negara
Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin
Empat tahun sudah 22 Oktober ditetapkan pemerintah sebagai Hari Santri. Peringatan yang bersandar pada Resolusi Jihad yang dikeluarkan NU tersebut dari tahun ke tahun makin meriah. Hampir setiap pesantren memperingatinya dengan beragam cara. Mulai dengan upacara, kirab, lomba-lomba, dan lainnya. Tiap hari itu, dalam empat tahun terakhir, santri menunjukkan eksistensinya.

Hampir tiap tahun, kegiatan-kegiatan tersebut semarak diberitakan media massa karena menyangkut kegiatan yang melibatkan banyak orang dan dihadiri tokoh publik. Juga meramaikan jagat media sosial dengan kalimat, foto hingga video. 

Tak hanya itu, hampir tiap tahun pula pada peringatannya kerap mendapatkan rekor-rekor yang tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI). Tahun lalu, misalnya ada rekor MURI dengan jumlah makanan tradisonal terbanyak yang disantap ribuan santri Probolinggo. Tahun ini, di Situbondo dengan karya kaligrafinya. Sementara di Tasikmalaya rekor nasi liwet terbanyak. 

Namun, cukupkah Hari Santri diperingati dengan cara-cara seperti itu? Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin di Gedung PBNU, Jakarta, Ahad (21/10). Berikut petikannya: 

Apa refleksi Pak Kiai terkait Hari Santri 2018?

Hari santri Bukan hanya sekedar diperingati dengan upacara, tapi bagaimana sebanyak mungkin Indonesia menjadi santri. Pengertian santri bukan makna sempit, tapi bisa diartikan secara luas, yaitu semua orang yang memiliki akhlak para santri, yang meniru ulama, para kiai di pesantren. 

Akhlak para santri para kiai itu bagaimana? 

Ya, akhlak yang mulia karena diutusnya Nabi Muhammad itu kan innama bu'itstu liutammima makarimal akhlaq, sesungguhnya aku diutus ke dunia ini untuk untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Bukan sekadar menyempurnakan akhlak, tetapi menyempurnakan akhlak yang mulia. Itu kan dicontohkan para ulama, para kiai di pesantren kepada para santri. Tetapi maknanya bisa diperluas, orang yang berakhlak mulia seperti para santri di pesantren adalah santri. Oleh karena itu, momentum Hari Santri harus diiringi dengan gerakan memesantrenkan anak di pondok-pondok pesantren. Karena di pesantren, tempat anak-anak itu mengaji akan melahirkan alumn, pertama adalah paham dengan baik agama, sehingga dia juga menjadi orang baik. Kedua mencetak manusia-manusia yang cinta kepada agama dan tanah air. 

Hari santri adalah hari bagaimana bangsa ini memerhatikan pesantren karena pesantren dengan para kiai dan santrinya memiliki andil yang sangat besar untuk membangun bangsa dan mendirikan NKRI. Bahkan juga mempertahankannya. Saya kira, tanpa peran para kiai dan para santri, mungkin kemerdekaan Indonesia tidak akan bertahan lama. 

Bagaimana bisa begitu? 

Ya, karena mereka terlibat dalam dalam perjuangan fisik di dalam memprjuangkam negara Indonesia. misalnya para kiai pesantren, terutama NU terlibat di dalam menyusun Pancasila dan UUD 1945 dalam sidang BPUPKI. Setelah itu  juga terlibat di dalam melawan Agresi Militer Belanda, melawan NICA. Pada tanggal 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar PBNU  mengeluarkan Resolusi Jihad yang berujung pada peristiwa pertempuran 10 November itu juga sebagai salah satu peran santri. Itu peran santri. 

Selanjutnya Hari Santri harus menjadi momentum kesadaran untuk merawat apa yang yang sudah dirintis NKRI, mengisi kemerdekaan, mencerdaskan kebangsaan, mewujudkan keadilan dan perdamaian di Indonesia ini. Bukan sekadar sebagai sesuatu yang digembar-gemborkan di dalam ucapan, akan tetapi berwujud di dalam tindakan. 

Kita juga berterima kasih kepada pemerintahan yang dipimpin oleh Pak Presiden Joko Widodo yang telah memulai dan menerima gagasan Hari Santri yang diajukan dari tokoh-tokoh dari PBNU. 

Santri dan kalangan pesantren masih dicitrakan sebagaia kalangan yang melulu terkait agama, sementara skill yang dibutuhkan saat ini tidak hanya bidang itu. Bagaimana supaya pesantren menjadi tertarik bagi kalangan yang berpikir seperti itu?

Yang jelas, tidak semua orang Indonesia wajib di pesantren karena semua itu wajib dipelajari. Harus ada sebagian orang Indonesia yang belajar di pesantren liyatafaqahu fid din, untuk memahami agama, dan mereka nanti dari pesantren memberikan peringatan, mengajar kepada kaumnya ketika kembali ke masyarakat. Jadi, sebetulnya hanya fardu kifayah. Ya, secukupnya saja. Tidak semua orang harus di pesantren. Karena pesantren itu pada umumnya adalah untuk mendidik orang di bidang agama secara mendalam. Meskipun demikian, pesantren tidak boleh menutup mata dengan adanya perkembangan pesat di bidang sains dan teknologi. Alumni-alumninya misalnya, saya kira memiliki peluang untuk belajar di perguruan-perguruan tinggi umum untuk mempelajari sains dan teknologi, pertanian dan sebagainya, perdagangan, perbankan, asuransi dan sebagainya. 

Pesantren saat ini harus mempersiapkan diri mengikuti perkembangan sehingga tidak ada keengganan bagi orang kota untuk memesantrenkan anaknya. Saya kira itu momentum penting dari diadakannya hari santri. 

Mempersiapkan diri dengan cara bagaimana? 

Mempersiapkan diri selama di pesantren untuk siap terjun di masyarakat yang majemuk. Dan itu dengan mendalami ilmu agama sedalam-dalamnya dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan dakwah agar bisa diterima masyarakat perkotaan misalnya. Itu tidak ada jalan kecuali dengan memiliki ilmu yang spesialis juga memmiliki wawasan yang luas, memperbanyak hubungan dengan berbagai pihak itu juga sebuah persiapan menghadapi kehidupan yang sangat kompleks. 

Ya, intinya bagaimana agar santri menjadi orang-orang yang bermanfaat, bisa memberi solusi, memecahkan masalah atas problem-problem kehidupan di masyarakat yang semakin lama semakin rumit, bukan justru sebaliknya, menjadi sumber masalah kehidupan itu sendiri. maka, santri harus rajin belajar, rajin ibadah, rajin bekerja, harus senantiasa mencerdaskan dirinya dengan sansntiasa tidak berhenti belajar. 

Yang terakhir, santri harus merasa bangga bahwa dirinya menjadi santri. Bahwa Indonesia sebagai sebuah negara yang didirikan atas peran para santri dan kiai, itu member peluang sangat besar kepada santri-santri yang memiliki kecerdasan, keterampilan, untuk menempati pos-pos penting di negara ini. Santri bisa menjadi camat, bisa menjadi bupati, gubernur, bahkan santri di Indonesia pernah menjadi presiden seperti KH Abdurrahman Wahid dan kita saat ini berharap agar KH Ma’ruf Amin sebagai alumnus pesantren, sebagai santri yang telah malang-melingtang di dunia politik juga menempati posisi penting sebagai wakil presiden. Itu sekadar contoh bawah santri tak boleh minder.

Bagaimana supaya Hari Santri ini tidak hanya milik santri di pesantren, tapi untuk semua kalangan? 

Dalam pengertian makna yang diperluas, akhlak mulia, menyayangi yangmuda menghormati yang tua, tidak sembarangan bicara, seikapnya tidak merugikan siapa pun, dia bermanfaat untuk keluarganya, bermanfaat untuk orang banyak, menebarkan kebaikan itu santri, meskipun bukan santri sesungguhnya dalam pengertian kebiasaan adat istiadat di dunia pesantren yang sudah maklum di kalangan Nahdlatul Ulama. Jadi, santri dalam pengertian sempit adalah orang yang belajar di pesantren. Santri dalam pengertian luas adalah mereka yang akhlaknya baik, cinta tanah air. Mendalam ilmu agamanya, dan melaksanakannya, dan dia juga cinta tanah air. Memiliki jiwa nasionalisme. Jadi, tanpa dua itu, bukan santri. Santri harus mendalam dalam agama. Kedua, cinta tanah air.

Kenapa salah satu kriteria mendasarnya cinta tanah air?

Karena santri itu 22 Oktober itu diawali dengan Resolusi Jihad. Inti dari Hari Santri adalah bagaimana semua orang mencintai tanah airnya. 

Lalu, bagaimana kalau ada seorang santri, tapi tidak cinta tanah air?  

Bukan santri yang hakiki. Sekadar tinggal di pesantren, kalau tidak cinta tanah air, tidak mengisi kemerdekaan Indonesia dengan hal-hal yang bermanfaat, itu bukan santri,   

Meskipun santri itu mendalam agamanya? 

Ya, meskipun merasa tafaquh fid din karena Hari Santri itu memperingati Resolusi Jihad. 

Hampir setiap kiai di pesantren menghabiskan usianya untuk mendidik para santri yang rata-rata sangat baik akhlaknya dan rata-rata sangat cinta kepada tanah airnya. Itu di setiap pesantren Nahdlatul Ulama seperti itu. 

Itu berpengaruh tidak kitab kuning kepada cara berpikir dan gerakan santri yang cinta tanah air? 

Cinta tanah air itu diajarkan di dalam Al-Qur’an, diajarkan di dalam hadits nabi, diuraikan para ahli tafsir, para sufi, ahli fiqih, oleh para penyair. Itu ada dalam kitab klasik. Di dalam Al-Qur’an contohnya, ya nabi-nabi diutus untuk kaumnya, kecuali Nabi Muhammad untuk alam semesta. Jadi, santri itu, siap untuk mengemban amanah agama, dan cinta tanah air. Contoh yang paling bagus ya KH Hasyim Asy’ari. Dipaksa Balanda untuk seikerei, sujud atau menunduk ke arah matahari, tapi menolaknya. Dia berarti mempertahankan agamanya. Dia juga melawan Jepang, mengusir Belanda. Berarti dua hal itu dilakukan. Agama dipertahankan, tanah airnya dipertahankan dalam waktu bersamaan.

Para kiai dan para santri itu terlatih hidup sederhana tidak bermewah-mewah, tidak rakus kepada harta benda. Indonesia ini kalau dipenuhi akhllak santri, tidak rakus, tidak korupsi, Indonesia akan makmur.  

Senin 24 September 2018 18:0 WIB
PBNU Nilai Lembaga dan Banom NU Berkhidmah dengan Baik
PBNU Nilai Lembaga dan Banom NU Berkhidmah dengan Baik
PBNU menggelar Rapat PLeno di Gedung PBNU, Jakarta, Sabtu (22/9). Rapat yang dipimpin Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj ini dimulai dengan pengunduran diri Rais Aam KH Ma’ruf Amin yang kemudian ditetapkan menjadi muastasyar serta penetapan Wakil Rais KH MIftachul Akhyar menjadi Penjabat Rais Aam. 

Selepas itu, PBNU menerima laporan seluruh lembaga dan badan otonom di lingkungan NU di tingkat pusat. Laporan itu berisi khidmah selama ini. Bagaiamana penilaian PBNU terhadap laporan lembaga dan banom NU belakangan ini? Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faishal Zaini. Berikut petikannya: 

Secara umum, bagaimana laporan kinerja lembaga dan banom sejak 2015? 

Sejak 2015, alhamdulillah mengalami peningkatan-peningkatan, terutama kita kan menggunakan KPI, Key Performance Indicators ya. Jadi, KPI-nya kita bagi di dalam tiga, dengan indikator tiga. Pertama, dalam konteks konsolidasi organisasi, yaitu apakah mereka  mengorganisasi lembaga ini secara baik atau tidak. Kemudian yang kedua, berbasis kepad output dan outcome-nya. Jadi, satu kegiatan ini misalnya menghasilkan apa, kemudian memberikan dampak apa. Misalnya kerja sama mendapatkan mitra kerja untuk pemberdayaan ekonomi, itu outputnya, outcome-nya itu adalah terbentuknya adanya sekian ratus ribu warga NU yang mendapatkan manfaat dari program ini sehingga mereka, dari yang miskin, kemudian sekarang menjadi lebih sejahtera. 

Jadi, pertama dari konsolidasi organisasi. Kedua, dari output dan outcome. Kemudian yang ketiga, diukur berdasarkan juga kesesuaian. Kesesuaian itu harus tepat dengan tupoksinya; tugas pokok dan fungsinya. Jadi, enggak bisa operlap (tumpang-tindih), misalnya kayak LAZISNU, ya sifatnya fundraising (penggalangan dana), kalau sudah pengelolaan tanggap darurat, kemudian pasca bencana, kemudian, ya itu kita serahkan ke LPBINU. Kemudian madrasah darurat, kita serahkan ke Ma’arif. Kalau asal kerja, bisa aja kan LAZISNU mengerjakan semuanya. Itu kan tidak tepat sasaran. 

Sebetulnya ada lima ya, yang keempat itu pertanggungjawaban dalam bentuk pelaporan. Yang kelima itu peningkatan kerja. Jadi, harus terukur. Kalau kemarin misalnya dapat seratus program, sekarang harus nambah programnya. Ada akselerasi, ada capaian-capaian. 

Berdasarakan KPI itulah kita memberikan penilaian kinerja lembaga dan banom. Ya ada juga lembaga yang kalau diukur dengan lima itu, tapi secara keseluruhan, saya dapat katakan bahwa lembaga-lembaga di lingkungan ini dapat berkhidmah di organisasi dengan baik.

Capaian itu kan menggembirkan, faktor apa bisa berjalan seperti itu? 

Koordinasi. Korrdinasi. Misalnya kalau ada tuntutan membantu Lombok, itu harus rapat koordinasi. Itu kan sampai 9 miliar kan. Koordinasi. Lembaga dan banom yang bisa terkait dengan satu hal, dikoordinasikan. Semua bekerja berdasarkan tupoksinya, tapi begitu keluar semua melakukan gerakan menjadi satu, NU Peduli. Kemudian, lembaga dan banom, egosektoralnya harus dihilangkan. 

Nah, Rapat Pleno tadi juga menegaskan ulang soal apa yang menjadi mandat dalam muktamar NU, yaitu tiga hal, menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunah wal Jamaah an-nahdliyah. Yang kedua adalah komitmen kita untuk mengawal Pancasila dan NKRI. Yang ketiga, peningkatan kualitas hidup warga NU, terutama dalam tiga bidang, pendidikan, kesehatan dan perekonomian. 

Nah, yang pertama, tadi sudah saya sampaikan risetnya kan, hasil Alvarra, 90 persen Maulid Nabi, sekian persen ziarah kubur. Itu kan berarti salah satu mengukur bagaimana pelaksanaan ajaran amaliah NU di Indonesia itu seperti apa. Kalau sampai seluruh ajaran amaliah NU itu di bawah 50 persen, atau tinggal 10 persen, itu sudah darurat. 

Dengan data seperti itu NU akan mempertahankan seperti itu bagaimana? 

Jangan berbangga, itu sebagai acuan saja. itu kan amaliah, tapi belum berafiliasi dalam jamiyah, tugas kita melakukan transformasi bagaimana seluruh yang melaksanakan amaliah itu berjamiyah NU, gitu lho. Kalau warga NU 36, 3 ya berarti ada potensi memperbesar yang maulid nabi itu. 

Apa lagi yang dibahas? 

Kita bahas sinergi program sekaligus membaca tantangan-tantangan NU di luar seperti apa, dan seperti apa pula kita mengantisipasinya. Tadi kan saya katakan, di era milenial ini berarti kan dakwah melalui sosmed, di era milenial ini kan berarti ekonomi digital. Itu sudah harus mulai. 

Bagi lembaga agak kendor, akan dilakukan seperti apa? 

Terus kita lakukan pendampingan, melakukan revitalisasi program, penyegaran pengurus. 

Dari amanat muktamar ke-33 di Jombang, yang belum dikerjakan, atau yang muskil dikerjakan itu apa atau yang masih kurang diperkuat? 

Ya, kesehatan dan ekonomi. Yang paling lumayan itu ya pendidikan. 

Upaya PBNU? 

Ya, terus melakukan upaya pendampingan, menggandeng pihak lain karena kita juga tidak bisa bekerja sendirian. 

Apa imbauan PBNU kepada lembaga dan banom mdengan capaian saat ini? 

Imbauan kita ya, untuk segeralah melaksanakan program. Kita mendapatkan amanah ini tidak main-main, harus dikerjakan sebaik mungkinlah. Jangan mengecewakan amanah yang diberikan kepada kita.
Jumat 21 September 2018 6:0 WIB
RUU Pesantren, Upaya untuk Memperkuat Kelembagaan Pesantren
RUU Pesantren, Upaya untuk Memperkuat Kelembagaan Pesantren
Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (Baleg DPR) RI mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pesantren dan Pendidikan Keagamaan sebagai RUU inisiatif DPR pada Kamis (13/9) lalu. Dalam waktu dekat, RUU tersebut akan dibawa ke sidang paripurna untuk dimintakan persetujuan.

Disahkannya RUU Pesantren tersebut mendapat sambutan hangat dari insan pesantren. Mulai dari santri, praktisi, hingga kiai pengasuh pesantren. Secara umum, mereka mengapresiasi pengesahan RUU Pesantren tersebut. Ketua Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama, KH Abdul Ghaffar Rozin misalnya. Ia menilai, RUU tersebut merupakan pengakuan dari berbagai kalangan, terutama pemerintah dan parlemen, terhadap eksistensi pondok pesantren yang notabennya menjadi lembaga pendidikan tertua di Indonesia. 

Tidak hanya itu, RUU Pesantren ini juga dinilai sebagai bentuk keberpihakan pemerintah terhadap pesantren. Disadari atau tidak tidak, ada ketimpangan atau ketidakadilan di dunia pendidikan di Indonesia. Selama ini pemerintah dinilai kurang begitu memberikan perhatian terhadap lembaga pendidikan madrasah dan pesantren, terutama dalam hal finansial dan pemberdayaan yang bersifat kelembagaan.

Untuk melihat lebih jauh tentang urgensi RUU Pesantren, Jurnalis NU Online A Muchlishon Rochmat berhasil mewawancarai Founder Pusat Studi Pesantren Achmad Ubaidillah pada Kamis, (20/9). Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana respons Anda terhadap disahkannya RUU Pesantren?

Saya menyambut baik adanya Rancangan Undang-Undang Madrasah dan Pesantren yang belum lama ini disahkan oleh Badan Legislasi sebagai RUU inisiatif DPR RI. Artinya, ini membuktikan bahwa DPR sebagai institusi negara yang memiliki hak legislasi terbukti memiliki keberpihakan terhadap madrasah dan pesantren. 

Tapi, ini kan baru disahkan sebagai RUU inisiatif, belum disahkan sebagai UU yang sah.

Iya, perjuangan ini belum selesai karena menunggu persetujuan dari rapat paripurna. Itu mekanisme yang ada di lembaga DPR. 

Menurut Anda, apakah RUU ini merupakan sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh pihak pesantren sebagai sebuah lembaga tertua di Indonesia namun selama ini kurang diperhatikan?

Saya kira ini memang produk hukum yang ditunggu oleh masyarakat, khususnya kalangan pesantren. Karena bagaimanapun, tidak bisa dimungkiri peran dan posisi strategis pesantren di dalam konteks pendidikan nasional. Madrasah dan pesantren secara eksistensi telah berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka. Artinya, madrasah dan pesantren memiliki kontribusi yang jelas dalam bidang pendidikan masyarakat Indonesia. 

Selain sebagai bentuk keberpihakan, jika RUU Pesantren disahkan menjadi UU maka akan menjadi payung hukum yang bisa menaungi segala bentuk inisiatif atau usulan. Selama ini, pesantren lebih banyak dibiayai oleh kiai pendiri atau pengelola meski negara juga memiliki peran yang tidak bisa diabadikan dalam keberlangsungan eksistensi madrasah dan pesantren.   

Jadi secara konkrit, misalnya apa dampak RUU ini terhadap madrasah dan pesantren?

Dengan adanya UU Pesantren, saya kira ini akan menjadi tegas bahwa program pemerintah dalam beberapa tahun ke belakang, yakni anggaran pendidikan 20 persen dari APBN. APBN kita tahun 2018 mencapai 2.220 triliun. Artinya, total anggaran yang diplot untuk anggaran pendidikan itu sekitar 440 triliun. 

Ini menjadi catatan penting agar program madrasah dan pesantren bisa diperhatikan di dalam postur APBN tersebut. Artinya, ada penyerapan atau penganggaran untuk kegiatan-kegiatan di madrasah dan pesantren. 

Bagaimana saran Anda terkait RUU Pesantren tersebut?

Pesantren harus mulai dilibatkan di dalam banyak aktivitas lintas sektoral. Dalam dunia pesantren, kita mengkaji banyak hal yang bisa dieksplorasi untuk kepentingan nasional. Misalnya isu lingkungan. Pesantren berbicara banyak tentang fiqih lingkungan. Pesantren juga berbicara soal fiqih sosial, pesantren juga memiliki kajian-kajian terkait isu pemberdayaan perempuan, dan lainnya.

Pesantren dan madrasah tidak semestinya hanya dilihat dalam konteks lembaga pendidikan dan pengajaran, tapi juga dalam konteks kajian-kajian. Oleh itu, saran yang ingin saya sampaikan bahwa ini terkait dengan aktivitas riset. Banyak negara yang menganggap riset sebagai aktivitas penting dalam skema pembangunan nasional. Ini mungkin bukan saran yang mainstream, tapi saya melihat riset merupakan aktivitas yang sangat penting dan kontributif.

Untuk menyambut RUU Pesantren tersebut, apa yang seharusnya dipersiapkan?

Ada lembaga-lembaga tersendiri di kita, baik di pesantren atau pun di PBNU, untuk kembali mendata ulang jumlah pesantren yang riil di seluruh Indonesia, termasuk juga jumlah santri dengan data terbaru. 

Jika RUU tersebut disahkan menjadi UU dan ada klausul yang menyebutkan tentang keberpihakan negara terhadap pesantren dalam konteks program bantuan, maka prioritas yang dimunculkan adalah program bantuan infrastruktur untuk madrasah dan pesantren. Terutama madrasah dan pesantren yang memiliki sarana dan infrastruktur yang kurang layak. 

Harus ada penjelasan lebih lanjut tentang upaya mengklasifikasi pesantren mana yang betul-betul perlu dibantu negara. Fakta di lapangan, banyak pesantren yang sudah berdaya dan memiliki infrastruktur yang baik. Saya kira, infrastruktur yang baik dan memadahi merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas belajar mengajar di pesantren. Namun kalau berbicara sejarah hal itu berbeda. Dimana banyak pesantren salaf yang infrastrukturnya biasa-biasa saja, tapi tidak mempengaruhi kualitas para santri yang dihasilkannya. Tapi saya kira, hari ini berbeda dan kebutuhan zaman juga berbeda.

Kalau seandainya RUU itu disahkan, ada kekhawatiran tidak kalau negara ikut 'cawe-cawe' dalam penyelenggaraan pesantren. Dan membuat pesantren tidak 'independen' lagi misalnya?

Saya kira kita tetap bersangka baik bahwa RUU ini justru akan memperkuat institusi dan kelembagaan madrasah dan pesantren meskipun sejak berabad-abad lalu pesantren sudah membuktikan kemandiriannya.

Apa harapan Anda terhadap RUU Pesantren tersebut?

Sebagai warga negara Indonesia dan orang yang lahir di lingkungan pesantren berharap, seluruh fraksi-fraksi di DPR RI mempertimbangkan RUU ini dengan matang. Mudah-mudahan RUU ini benar-benar disahkan di rapat paripurna menjadi UU, tidak hanya ditetapkan di badan legislasi sebagai RUU inisiatif DPR saja.  

Kalau seandainya RUU Pesantren ini betul-betul disahkan menjadi UU, apa yang selanjutnya mesti dilakukan?

Setelah RUU ini disahkan DPR RI menjadi UU, saya berharap DPR daerah, baik tingkat provinsi atau kabupaten kota, bisa menindaklanjutinya. Mereka bisa melahirkan rancangan peraturan daerah yang berpihak pada madrasah dan pesantren. Ini bukan sesuatu yang tidak mungkin karena banyak Perda yang lahir itu mengadopsi atau mengadaptasi UU yang ada di tingkat nasional. 

Mudah-mudahan ini akan menjadi sebuah gerakan yang masif supaya aktivitas madrasah dan pesantren direncanakan di dalam postur APBD di provinsi maupun di kabupaten kota. Jadi peraturannya tidak hanya dalam bentuk UU, tapi juga dalam bentuk peraturan daerah.

Saat ini sudah ada UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Apakah nantinya RUU Pesantren tersebut tidak berbenturan dengan UU pendidikan yang sudah ada?

Adanya UU Madrasah dan Pesantren ini akan memperkuat UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Di UU itu tidak disebutkan secara detail bagaimana keberpihakan negara terhadap pesantren dan pendidikan pesantren tidak menjadi isu utama. Menurut saya, lahirnya UU ini tidak akan berbenturan dengan UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 tersebut. Justru UU ini nanti akan memperkuat dan mempertajam keinginan atau good will negara terhadap madrasah dan pesantren.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG