::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Eropa Tegaskan ‘Menghina Nabi Muhammad’ Bukan Bagian Kebebasan Berekspresi

Sabtu, 27 Oktober 2018 23:59 Internasional

Bagikan

Eropa Tegaskan ‘Menghina Nabi Muhammad’ Bukan Bagian Kebebasan Berekspresi
Gedung Pengadilan HAM Eropa di Prancis. Foto: BBC
Paris, NU Online
Di negara-negara Eropa, kebebasan berpendapat dan berekspresi sangat dijunjung tinggi. Siapapun boleh mengungkapkan apa yang ada di dalam benaknya. Termasuk ‘menyinggung’ orang lain, bahkan tokoh-tokoh penting seperti presiden. 

Mereka juga biasa saja mengejek atau mencemooh suatu agama atau tokoh agama tertentu. Semua bebas dilakukan atas dasar kebebasan berpendapat.

Namun baru-baru ini, Pengadilan hak asasi manusia (HAM) Eropa telah menetapkan bahwa menghina Nabi Muhammad saw. bukan lah bagian dari kebebasan berpendapat atau berekspresi. 

Putusan Pengadilan HAM Eropa ini merujuk kepada seorang perempuan berusia 47 tahun yang menyebut pernikahan Nabi Muhammad saw. dengan Aisyah yang masih anak-anak sebagai pedofil. Perempuan berinisial S tersebut menyampaikan pendapatnya ini dalam sebuah seminar pada 2009 silam. 

Karena dianggap doktrin agama tertentu, maka pada 2011 lalu Pengadilan Austria menjatuhkan sanksi kepada perempuan tersebut berupa denda 480 euro (sekitar Rp7 juta). 

Tidak terima dengan putusan Pengadilan Austria tersebut, perempuan tersebut membawa kasusnya ke Pengadilan HAM Eropa. Mengukuhkan putusan sebelumnya, Pengadilan HAM Eropa menetapkan bahwa menghina Nabi Muhammad saw. bisa mengancam perdamaian, memicu prasangka, dan melampaui batas debat yang objektif. 

"Pengadilan dalam negeri telah mengkaji konteks yang lebih luas terkait pernyataan pemohon dan secara berhati-hati mengimbangi hak kebebasan berekspresi dengan hak serta perasaan pemeluk agama lain dilindungi, serta menjaga tujuan perdamaian agama di Austria." 

Demikian bunyi putusan Pengadilan HAM Eropa yang dikeluarkan pada 25 Oktober 2018, sebagaimana dikutip laman BBC, Sabtu (27/10).

Dari total 8,8 juta penduduk Austria, sekitar 600 ribu orang adalam pemeluk agama Islam. Sama seperti beberapa negara Barat lainnya, islamophobia juga melanda Austria. Misalnya Kanselir Sebastian Kurz mengancam akan menutup salah satu masjid terbesar di Wina pada April lalu. Ia juga mendesak agar pemerintah kota memperketat bantuan untuk organisasi Muslim di kota itu. (Red: Muchlishon)