IMG-LOGO
Internasional

Eropa Tegaskan ‘Menghina Nabi Muhammad’ Bukan Bagian Kebebasan Berekspresi

Sabtu 27 Oktober 2018 23:59 WIB
Bagikan:
Eropa Tegaskan ‘Menghina Nabi Muhammad’ Bukan Bagian Kebebasan Berekspresi
Gedung Pengadilan HAM Eropa di Prancis. Foto: BBC
Paris, NU Online
Di negara-negara Eropa, kebebasan berpendapat dan berekspresi sangat dijunjung tinggi. Siapapun boleh mengungkapkan apa yang ada di dalam benaknya. Termasuk ‘menyinggung’ orang lain, bahkan tokoh-tokoh penting seperti presiden. 

Mereka juga biasa saja mengejek atau mencemooh suatu agama atau tokoh agama tertentu. Semua bebas dilakukan atas dasar kebebasan berpendapat.

Namun baru-baru ini, Pengadilan hak asasi manusia (HAM) Eropa telah menetapkan bahwa menghina Nabi Muhammad saw. bukan lah bagian dari kebebasan berpendapat atau berekspresi. 

Putusan Pengadilan HAM Eropa ini merujuk kepada seorang perempuan berusia 47 tahun yang menyebut pernikahan Nabi Muhammad saw. dengan Aisyah yang masih anak-anak sebagai pedofil. Perempuan berinisial S tersebut menyampaikan pendapatnya ini dalam sebuah seminar pada 2009 silam. 

Karena dianggap doktrin agama tertentu, maka pada 2011 lalu Pengadilan Austria menjatuhkan sanksi kepada perempuan tersebut berupa denda 480 euro (sekitar Rp7 juta). 

Tidak terima dengan putusan Pengadilan Austria tersebut, perempuan tersebut membawa kasusnya ke Pengadilan HAM Eropa. Mengukuhkan putusan sebelumnya, Pengadilan HAM Eropa menetapkan bahwa menghina Nabi Muhammad saw. bisa mengancam perdamaian, memicu prasangka, dan melampaui batas debat yang objektif. 

"Pengadilan dalam negeri telah mengkaji konteks yang lebih luas terkait pernyataan pemohon dan secara berhati-hati mengimbangi hak kebebasan berekspresi dengan hak serta perasaan pemeluk agama lain dilindungi, serta menjaga tujuan perdamaian agama di Austria." 

Demikian bunyi putusan Pengadilan HAM Eropa yang dikeluarkan pada 25 Oktober 2018, sebagaimana dikutip laman BBC, Sabtu (27/10).

Dari total 8,8 juta penduduk Austria, sekitar 600 ribu orang adalam pemeluk agama Islam. Sama seperti beberapa negara Barat lainnya, islamophobia juga melanda Austria. Misalnya Kanselir Sebastian Kurz mengancam akan menutup salah satu masjid terbesar di Wina pada April lalu. Ia juga mendesak agar pemerintah kota memperketat bantuan untuk organisasi Muslim di kota itu. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Sabtu 27 Oktober 2018 0:30 WIB
Yordania Diterjang Banjir Bandang, 18 Orang Meninggal
Yordania Diterjang Banjir Bandang, 18 Orang Meninggal
Foto: Mohammad Abu Ghosh/Xinhua
Amman, NU Online
Hujan lebat yang mengguyur di wilayah mata air panas Zara Maeen Yordania, dekat Laut Mati, mengakibatkan sedikitnya 18 orang meninggal dan puluhan orang lainnya. Sampai saat ini, ada 34 orang yang berhasil diselamatkan dari hantaman banjir. 

Departemen Pertahanan Sipil mengatakan, sebagian besar korban –baik yang meninggal atau pun yang hilang- adalah pelajar yang tengah melakukan perjalanan ke daerah mata air panas Zara Maeen Yordania. Mereka merupakan siswa dari sebuah sekolah swasta yang berada di ibu kota Amman. 

“Para siswa sedang dalam perjalanan menuju sekolah dan terlihat bahwa tanah longsor di sepanjang jalan menghancurkan bus mereka," kata seorang pejabat dari Departemen Pertahanan Sipil Yordania, dikutip AFP, Jumat (26/10).

Upaya penyelamatan korban yang hilang masih terus dilakukan. Banyak orang dari beberapa lembaga, penyelam Angkatan Laut, perahu dan helikopter pertolongan dikerahkan untuk mencari korban yang belum ditemukan. 

Dikutip Xinhua, sebuah keterangan dari Kantor Perdana Menteri Yordania menyatakan bahwa sekolah tersebut menyetujui untuk membawa muridnya melakukan perjalanan ke Azraq, namun sekolah tersebut tidak mematuhi persetujuan untuk membawa muridnya ke wilayah Laut Mati.

Perdana Menteri Yordania Omar Razzaz menginstruksikan lembaga-lembaga negara untuk menyediakan semua bantuan yang dibutuhkan untuk menyelamatkan murid-murid tersebut.

Yordania diguyur hujan lebat dan banjir bandang pada Kamis (25/10) sore waktu setempat. Laut Mati merupakan daerah yang dikelilingi lereng lembah yang curam. Daerah ini sering kali menjadi tempat terjadinya tanah longsor. (Red: Muchlishon)
Jumat 26 Oktober 2018 23:59 WIB
Saudi Akui Pembunuhan Jamal Khashoggi Terencana
Saudi Akui Pembunuhan Jamal Khashoggi Terencana
Foto: AFP
Riyadh, NU Online
Jaksa penuntut umum Arab Saudi mengatakan, pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi (59) di Konsulat Saudi di Istanbul Turki pada 2 Oktober lalu telah direncanakan. Keterangan ini disampaikan jaksa penuntut umum Saudi sebagaimana diberitakan kantor berita resmi Saudi.

Pernyataan ini membalikkan pernyataan resmi Saudi sebelumnya bahwa pembunuhan Jamal tidak disengaja. Sebelumnya, Jaksa Agung Saudi Sheikh Saud al-Mojeb mengatakan, Jamal Khashoggi tewas setelah ‘diskusi’ dengan orang-orang di dalam Konsulat. Namun diskusi tersebut berubah menjadi sebuah pertengkaran. 

“Investigasi masih terus berlangsung dan 18 warga Saudi telah ditangkap," kata al-Mojeb, dilansir laman Aljazeera, Sabtu (20/10), sebagaimana diberitakan kantor berita resmi Kerajaan, SPA.

Keterangan bahwa pembunuhan Jamal Khashoggi direncanakan sesuai dengan hasil investigasi tim gabungan Saudi-Turki. Begitu pun dengan tim penyelidik Turki. Semuanya menyatakan bahwa pembunuhan Jamal Khashoggi telah direncanakan dengan baik.

Saat ini tim penyelidik, baik dari Saudi, Turki, maupun gabungan Saudi-Turki, terus melakukan penyelidikan untuk mengetahui dimana jenazah dan siapa dalang di balik pembunuhan Jamal Khashoggi.

Dilaporkan, potongan jenazah Jamal Khashoggi ditemukan di sebuah lubang di taman rumah Konsul Jenderal (Konjen) Saudi Muhammad al-Otaibi di Istanbul, sekitar 500 meter dari gedung Konsulat. Namun demikian, belum ada tanggapan resmi dari pihak Turki dan Saudi mengenai hal ini.

Kantor berita Anadolu melaporkan, ada 38 staf Konsulat Saudi di Istanbul yang dimintai keterangan sebagai saksi atas kasus pembunuhan Jamal Khashoggi.

"Masih ada pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban atas pembunuhan berencana itu. Siapa yang memberikan perintah dan di mana jasadnya,” kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, dilansir Press TV, Jumat (26/10). 

Jamal Khashoggi, seorang jurnalis asal Arab Saudi, tiba-tiba saja menghilang ketika berkunjung ke Konsulat Arab Saudi di Istanbul Turki pada Selasa (2/10) lalu. Ia sengaja mendatangi kantor perwakilan Saudi di Turki tersebut untuk mengurus dokumen pernikahannya dengan Hatice, tunangannya asal Turki. 

Jamal Khashoggi merupakan jurnalis yang banyak mengkritisi kebijakan Saudi, terutama dalam hal kebebasan berpendapat, hak asasi manusia di Saudi, dan keterlibatan Saudi pada Perang Yaman. (Red: Muchlishon)
Jumat 26 Oktober 2018 23:15 WIB
Fatayat NU Tampilkan Produk Busana Muslimah pada IYMWF 2018
Fatayat NU Tampilkan Produk Busana Muslimah pada IYMWF 2018
Fashion show IYMWF 2018
Jakarta, NU Online
Forum Internasional Perempuan Fatayat NU memasuki hari ketiga, Jumat (26/10). Sejak dibuka oleh Presiden RI pada Rabu lalu, berbagai inovasi dan kreativitas ditampilkan selama acara berlangsung. Salah satunya adalah produk fashion Muslimah di mana Indonesia saat ini menjadi kiblat dunia. 

Tiga brand fesyen ternama turut meramaikan ajang fashion show di IYMWF ini. Di antaranya adalah Albis Group, Nanenia dan Mumtaz. Ketiganya menampilkan fashion style yang berbeda. Albis dengan konsep glamor, Nanenia mengangkat tema tenun NTT, dan Mumtaz dengan tema Oase dengan style abaya Timur Tengah. 

"Kami bangga punya kesempatan bisa tampil di sini. Menurut saya forum ini keren banget. Forum yang smart, ngga hanya diskusi serius tapi ada sisi lainnya yang kreatif gini," ujar Nia, owner Albis. 

Menampilkan sisi kreativitas perempuan adalah tujuan utama dari acara ini. Inovasi yang diciptakan oleh perempuan dinilai membawa dampak yang positif bagi pemberdayaan perempuan. 

Sementara itu, Ifa Abdullah, owner dari brand Nanenia mengatakan forum kreatif seperti ini yang bisa mengimbangi persepsi negatif tentang Islam dan perempuan.

"Makin banyak perempuan muslim yang berkecimpung di sektor-sektor strategis salah satunya pada bisnis fesyen. Nah, konsep acara yang open seperti ini tentu kami support banget," ungkapnya.

Designer fashion yang juga pengurus PP Fatayat NU ini mengaku konsep kenangan yang diusung adalah untuk menggaungkan tenun NTT pada dunia. Dengan style yang kasual nan anggun, motif tenun dikombinasikan dengan bahan hitam polos dan menghasilkan karya istimewa.

Sementara itu menurut Masyitah, konsep fashion show ini sangat menarik dengan menyajikan kekayaan fashion style Muslim Indonesia. Peserta asal Malaysia ini mengaku senang dengan konsep tradisional yang dikombinasikan dengan style modern.
 
"I love to the concept of Indonesian touch. Its really nice," pungkasnya. (Red: Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG