IMG-LOGO
Nasional

Jargon Kaum Khawarij saat ‘Mendemo’ Sayyidina Ali

Senin 29 Oktober 2018 8:30 WIB
Bagikan:
Jargon Kaum Khawarij saat ‘Mendemo’ Sayyidina Ali
Ilustrasi (via ok.ru)
Jakarta, NU Online
Sejarah peradaban Islam mencatat bahwa khawarij merupakan kelompok yang kerap menyimpangkan dalil-dalil agama untuk gerakan-gerakan politiknya. Bahkan, sejumlah riwayat menyatakan, khawarij menghalalkan darah seseorang yang berbeda pandangan dengannya.

Tidak tanggung-tanggung, yang menjadi korban atas kekeliruan pandangan keagamaan kaum khawarij ialah Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Ia dibunuh oleh seorang bernama Ibnu Muljam karena Ali dianggap telah keluar dari hukum Allah. Sebelumnya, kaum khawarij tidak mengakui kekhalifahan Ali.

Ibnu Muljam dikenal sebagai orang yang taat dalam beribadah, shalat, puasa, bahkan hafal Al-Qur'an. Tapi bacaannya tidak masuk ke dalam hati hanya sampai batas kerongkongannya sehingga mudah termakan oleh kabar palsu (hoaks) yang telah disebarkan oleh kaum khawarij.

Terkait gerakan-gerakan kegelapan yang mengatasnamakan agama tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor KH M. Luqman Hakim menegaskan bahwa khawarij seringkali mengklaim berdiri di atas hukum Allah.

“Ingat jargon kaum khawarij yang demo di hadapan Sayyidina Ali? Tak ada hukum kecuali hukum Allah (laa hukma Illa lillahi)!" ujar Kiai Luqman mengungkapkan perkataan kaum khawarij dikutip NU Online, Senin (29/10) lewat twitternya.

Ketika kaum khawarij berkata demikian, Sayyidina Ali sama sekali tidak menampik kebenaran kalimat tersebut. Tetapi, Ali tidak setuju karena kalimat mulia itu diarahkan untuk kebatilan.

"Lalu Sayyidina Ali menjawab: Itu kalimat yang benar! Tetapi diarahkan untuk kebatilan!" ungkapnya.

“Setiap zaman selalu muncul kaum neo-khawarij yang memanipulasi kalimat tauhid sebagai cover kebatilan,” imbuh Kiai Luqman. (Fathoni)
Bagikan:
Senin 29 Oktober 2018 23:50 WIB
Musytasar PBNU Ajak Berdoa untuk Korban Kecelakaan Lion Air
Musytasar PBNU Ajak Berdoa untuk Korban Kecelakaan Lion Air
Jember, NU Online
Musytasar PBNU KH Ma’ruf Amin mengajak umat Islam, khususnya warga NU untuk mendoakan korban musibah pesawat Lion Air yang terjatuh di Karawang, Jawa Barat. Ia mengajak hal itu ketika bersilaturahim di Pondok Pesantren Bustanul Ulum, Jember, Jawa Timur, (29/10). 

“Semoga para korban diterima di sisi Allah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan. Semoga musibah-musibah yang terjadi tidak ada lagi,” katanya yang kemudian diamini para hadirin. 

Lebih lanjut ia mengucapkan terima kasih kepada pihak pesantren yang menerima silaturahimnya. Ia mengagumi pesantren tersebut yang memberikan pendidikan agama Islam kepada anak-anak fakir miskin. 

Sebgaimana silaturahimnya yang berantai dalam beberapa hari ini, Kiai Ma’ruf menyampaikan peran penting pesantren sebagai lembaga tafaquh fid din. 

Menurut dia, pesantren bertanggung jawab atas tiga hal, yatu menjaga agama, umat dan negara. Hal itu harus dilakukan dalam waktu bersamaan. 

Kiai Ma’ruf, sejak 28 Oktober melakukan sejumlah kunjungan ke beberapa pesantren di Jawa Timur mulai di Kota Malang, yaitu ke Pesantren Sabilur Rosyad. 

Keesokan harinya, Senin (29/10), ia bersilaturahim ke Pesantren An-Nur di Kabupaten Malang. Pada hari yang sama, ia memenuhi undangan pertemuan ratusan kiai muda dan para gus dari 13 kota dan kabupaten di sekitar Malang. Kemudian sore hari, ia bertolak ke Jember, ke Bustanul Ulum.  

Esok hari, ia akan kembali bersilaturahim ke beberap pesantren di Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi. (Abdullah Alawi)

Senin 29 Oktober 2018 22:30 WIB
KH Masjkur Terpilih Pahlawan Santri 2018
KH Masjkur Terpilih Pahlawan Santri 2018
KH Asy'ari Sarbani (kiri) keluarga alm Kiai Masjkur menerima Pahlawan Santri 2018.
Surabaya, NU Online
KH Masjkur dari Malang, Jawa Timur terpilih sebagai Pahlawan Santri 2018 pada puncak penganugerahan Santri of The Year 2018 yang digelar di UIN Surabaya, Senin (29/10).

KH Masjkur adalah Menteri Agama Indonesia pada 1947 hingga 1949 dan 1953 sampai 1955. Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI periode 1956 sampai 1971 dan anggota Dewan Pertimbangan Agung pada 1968.

Keterlibatannya dalam perjuangan kemerdekaan menonjol di zaman pendudukan Jepang, sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). 

KH Masjkur juga tercatat selaku pendiri Pembela Tanah Air (Peta) yang kemudian menjadi unsur laskar rakyat dan TNI di seluruh Jawa. Ketika pertempuran 10 November 1945, namanya muncul sebagai pemimpin Barisan Sabilillah.

Sementara itu, penghargaan nominasi Santri Mengabdi Sepanjang Hayat jatuh pada KH Hasyim Muzadi. Selain nama tokoh, sejumlah pesantren juga mendapat penghargaan dari Islam Nusantara Center (INC) selaku penggagas anugerah Santri of The Year.

Rektor UIN Surabaya Masdar Hilmy berharap nominator bisa membawa berkah dan motifasi bagi para santri dan masyarakat Indonesia. “Semoga bisa membawa berkah dan menjadi motivasi," katanya.

Direktur Islam Nusantara Center (INC), Ginanjar Sabana menegaskan dipilihnya Surabaya sebagai kegiatan ketiga kalinya ini karena sejarah besar kota Pahlawan ini.

"Jika Jakarta wajah kemerdekaan Indonesia, maka Surabaya rahim kemerdekaannya. Jika tidak ada santri dan Surabaya sebagai medan tempur, rasanya mustahil meraih kemerdekaan. Surabaya kota ilmu, santri dan kepahlawanan," ungkapnya.

Santri of The Year 2018 ini dimaksudkan untuk menemukan dan menampilkan tokoh atau figur santri yang telah memberikan sumbangsih prestasi mereka dalam bentuk gagasan inovatif. Sekaligus kerja dan karya juga prestasi bagi pembangunan bangsa dan negara. 

Sejumlah tokoh santri hadir, Gubernur Jatim terpilih Khofifah Indar Parawansa dan Wagub Jatim terpilih Emil Elestianto Dardak juga para penerima penghargaan. Sedangkan masing-masing kategori pesantren inspiratif diterima langsung oleh para pengasuh. 

Para Pemenang
Berikut adalah Santri dan Pesantren inspiratif peraih penghargaan Santri of The Year 2018:
Kategori Pesantren Salaf Inspiratif adalah Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Kategori Pesantren Modern Inspiratif adalah Pesantren Amanatul Ummah Surabaya-Mojokerto, Kategori Pesantren Entrepreneur adalah Pesantren Al Mawaddah (Kudus), Kategori Pesantren Takhassus Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo (fiqh).

Kategori Santri Inspiratif Bidang Dakwah adalah KH Imam Mawardi (Surabaya). Kategori Santri Inspiratif Bidang Pendidikan adalah H Abdul Haris, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Kategori Santri Inspiratif Bidang Wirausaha/Entrepreneur adalah Dahlan Iskan Pemilik Jawa Pos Group. Kategori Santri Inspiratif Bidang Kepemimpinan dalam Pemerintahan Kabupaten/Kotamadya adalah H. Asip Kholbihi, Bupati Pekalongan. Kategori Santri Inspiratif Bidang Kepemimpinan dalam Pemerintahan Provinsi adalah H Nurdin Basirun Gubernur Kepulaun Riau.

Sedangkan kategori Santri Inspiratif Bidang Seni dan Budaya adalah Veve Zulfikar (Sidoarjo). Untuk kategori Pahlawan Santri 2018 adalah KH Masjkur Malang dan kategori Santri Mengabdi Sepanjang Hayat adalah KH Hasyim Muzadi. (Rof Maulana/Ibnu Nawawi)

Senin 29 Oktober 2018 22:28 WIB
Para Gus Jawa Timur Siap Jadi Makmum Kiai Ma'ruf Amin
Para Gus Jawa Timur Siap Jadi Makmum Kiai Ma'ruf Amin
Para gus Jatim bersilaturahim dengan Musytasar PBNU KH Ma'ruf Amin
Malang, NU Online
Para putra kiai (gus) bisa juga disebut kiai muda di Jawa Timur menyatakan siap menjadi makmum Kiai Ma'ruf Amin dalam soal kebangsaan. Hal itu mengemuka pada kegiatan bertajuk Silaturahim dan Ngopi Bareng KH Ma'ruf Amin di Hotel Harris Kota Malang, Senin (29/10).

Kami siap menjadi makmum panjenengan dalam kebangsaan," ungkap Ketua Panitia kegiatan tersebut,  Muhammad Nabil Hasbullah, seorang gus  dari pondok pesantren  tua di Ponorogo, yaitu Jorsan. 

Menurut Gus Nabil, para gus yang hadir pada kegiatan tersebut tidak hanya berasal dari Malang Raya, tapi juga Tuban, Kediri atau 13 kota kabupaten Jawa Timur yang disebut wilayah Mataraman. 

"Di sini ada Gus Maksum Faqih dari Pesantren Langitan, ada gus dari Lirboyo, Ploso dan lain-lainnya," katanya. 

Gus Nabil menambahkan, para gus tersebut, selain mengurusi pesantren orang tuanya, mereka mengurusi komunitas-komunitas yang seperti majelis shalawat, majelis mayoran, atau liwetan dengan jumlah jamaah sangat banyak.

"Komunitas-komunitas ini semuanya intens mengadakan pertemuan," lanjutnya. 

Gus Nabil kembali menegaskan bahwa para gus di wilayahnya berjamaah secara rapat akan menjadi makmum kepasa KH Ma'ruf Amin, mustasyar PBNU. 

Pernyataan Gus Nabil diperkuat Gus Maksum dari pesantren tua Langitan. Menurut dia, ayahnya yaitu KH Abdullah Faqih merupakan sahabat seperjuangan Kiai Ma'ruf Amin. Dengan demikian, ia menganggap Kiai Ma'ruf sebagai ayahnya, sebagai gurunya. 

"Kiai Ma'ruf saya anggap guru. Sebagai seorang santri saya akan bergerak dengan sekuat tenaga untuk membantunya. Insyaallah melalui Kiai Ma'ruf, para santri memberikan sesuatu untuk bangsa ini," pungkasnya. 

Kiai Ma'ruf pada kesempatan itu menjelaskan tentang pentingnya kaderisasi ulama melalui pesantren untuk menjaga keberlangsungan ajaran Islam Ahlussunah wal Jamaah. 

Ia juga menjelaskan tentang pentingnya para santri, kiai muda untuk menjaga agama, umat, dan negara. (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG