IMG-LOGO
Esai

Ada Kaligrafi di Bendera Rasulullah?

Ahad 28 Oktober 2018 5:30 WIB
Bagikan:
Ada Kaligrafi di Bendera Rasulullah?
Oleh Didin Sirojuddin AR
Yang dikibarkan dan dikobarkan Rasulullah adalah semangat dan kumandang tauhid:

لا إله إلا اللّه محمّد رسول اللّه

bukan bendera berkaligrafi kalimat tauhid:

لا إله إلا الله محمد رسول الله

Dalam  peperangan, Rasulullah SAW diketahui selalu membawa bendera. Lebih jelas dalam Perang Mu'tah. Beliau menyerahkan bendera kepada Zaid bin Haritsah yang ditunjuk memimpin 3000 prajurit pilihan untuk menghadapi 300 ribu pasukah Romawi dan Arab di bawah komando Heraklius.

Bendera itu berpindah-pindah tangan dari Zaid ke Ja'far bin Abi Thalib, lalu berpindah lagi ke Abdullah bin Rawahah setelah satu per satu gugur menjadi syahid. Bendera Nabi diambil oleh Tsabit bin Arqam yang kemudian diserahkan kepada Khalid bin Walid sebagai komandan tempur terakhir.

Namun, bendera ini dan bendera-bendera yang digunakan Rasulullah SAW lainnya masih polos. Tidak mencantumkan satu pun kalimat, simbol atau yel-yel. Rasulullah hanya mengutus para pemberani seperti Umar bin Khattab untuk pergi duluan guna menggertak penduduk yang mau diserbu sambil meneriakkan:

قولوالاإله إلا الله تمنعوا أنفسكم وأهليكم نارا

Artinya, "Katakan, ‘La ilāha illallāh,’ pasti dirimu dan keluargamu tercegah dari api neraka."

Maka, klaim bahwa bendera Rasulullah bertuliskan kalimat tauhid seperti banyak diperbincangkan waktu-waktu belakangan, tidak benar dan tanpa dasar yang akurat. Tidak pula dikuatkan fakta dokumenter yang ditinggalkan.

Dalam perang-perang bersama Khalid pun (sampai zaman Umar), bendera tentara Islam masih polos. Dalam film dokumenter, Khalid bahkan memanggil satu per satu batalionnya untuk maju dengan bendera masing-masing:

"Al-'alamul abyadh!!!"  (bendera putih)

"Al-'alamul ahdhar!!!" (bendera hijau) 

"Al-'alamul azraq!!!" (bendera biru) dan seterusnya.

Lantas dari mana kita tahu, bendera Rasulullah tidak berisi kaligrafi apa pun?

Tulisan Arab di zaman Rasulullah masih sederhana dan hanya digunakan untuk menyalin teks wahyu di media kulit, pelepah kurma, batu, dan kayu yang tercecer di  tempat-tempat wahyu diturunkan. Gaya khat kufi qadim atau kufi mushaf kuno ini hanya bersifat fungsional, yakni semata untuk tulisan Al-Qur'an, belum berperan estetis seumpama untuk lukisan, simbol, atau dekorasi.

Khat Kufi, pada periode awal Islam, masih "mencari bentuk kesempurnaannya" di antara percampuran gaya muqawwar wa mudawwar (yang lentur plastis) dan mabsuth wa mustaqim (yang kaku kejur menjulur).

Bagaimana mungkin para Muslim awal sudah memikirkan untuk menjadikan "tulisan yang belum sempurna" sebagai alat penghias seperti aksesoris bendera atau rumah tinggal mereka? Mustahil.

Dunia tulis-menulis belum  mentradisi, kecuali di beberapa kalangan yang bisa dihitung dengan jari. Bahkan Rasulullah  pernah memerintahkan untuk menghapus informasi apa pun selain Al-Qur'an yang datang dari dirinya karena dikhawatirkan tercampurnya Al-Qur'an dan unsur kata-kata lain saat kitab suci dikodifikasi.

لا تكتبوا عنى ومن كتب عنى غيرالقرآن فليمحه. حدثوا عنى ولا حرج ومن كذب على متعمدا فليتبوأ مقعده من النار. رواه هسلم

Artinya, "Jangan tulis tentang diriku. Siapa menulis dariku selain Al-Qur'an, hendaknya dia menghapusnya kembali. Bicarakanlah tentang aku dan itu tidak mengapa. Tapi siapa berdusta atas  namaku, maka silakan menduduki tempatnya di neraka," (HR Muslim).

Ini menutup kemungkinan adanya tulisan atau lukisan kaligrafi di medium selain lembaran-lembaran Al-Qur'an yang tercecer, yang itu pun baru berhasil dikumpulkan di masa Abu Bakar, sepeninggal Rasulullah.

Jika pun ada teks lain, hanyalah surat-surat Nabi Muhammad SAW kepada raja-raja (Heraklius, Kisra, Muqauqis, Harits Al-Ghassani, Harits Al-Himyari, dan Najasi). Surat-surat ini dicap stempel محمد رسول الله yang beliau desain sendiri dengan memosisikan kata الله paling atas kemudian رسول, dan محمد paling bawah.

Menasabkan bendera-bendera berkaligrafi khat Tsulus sempurna (seperti bendera Arab Saudi, bendera HTI, dan lain-lain) sebagai bendera Rasulullah lebih tidak tepat lagi. Sebab, khat Tsulus belum lahir di masa Rasulullah. Tsulus lahir atas inisiatif Khalifah Muawiyah sebagai usaha "menggali batang terendam" bersama khat-khat lainnya seperti Thumar, Jalil, Nishf, Muhaqqaq, Raihani, Tauqi sebagai alternatif pengganti Kufi yang kurang praktis baik untuk penyalinan Al-Qur'an maupun untuk transaksi-transaksi bisnis administrasi.

Kaligrafi di bendera-bendera tersebut bahkan sudah masuk lingkup khat Tsulus Jali yang puncaknya jauh setelah periode Bani Umayah dan Bani Abbas, yaitu Turki Usmani.

Yang mendekati pola Kufi zaman Nabi Muhammad SAW justru kalimat tauhid pada bendera ISIS. Namun, sekali lagi, tulisan tersebut di zaman Nabi Muhammad SAW hanya digunakan untuk menyalin mushaf Al-Qur'an. Klaim "bendera Rasulullah" karena ada tanda tangan  محمد رسول الله di baris bawahnya  tidak berdasar.

Tulisan tersebut menjiplak stempel Rasulullah untuk surat-suratnya yang dikirimkan kepada Raja-raja dan mirip tulisan pada koin-koin Islam dari dinasti Bani Thulun dan Bani Seljuk. Dengan demikian, bendera ISIS dan bendera-bendera berkalimat tauhid lainnya bukanlah bendera Rasulullah.

Kalimat tauhid di bendera apalagi jika ditulis dengan kaligrafi yang indah sangat bagus. Tapi jangan diklaim sebagai bendera Rasulullah karena beliau tidak pernah menggunakan bendera yang itu. 

Catatan ini sekadar memberi  informasi. Begitulah sejarah yang sebenarnya. Supaya kita tidak larut dan berlarut-larut dalam cerita yang dibikin-bikin alias bohong.


*) Penulis adalah pengurus Lembaga Kaligrafi (Lemka) dan pengasuh pesantren kaligrafi di Sukabumi. Maestro kaligrafi ini juga mengajar di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Bagikan:
Kamis 25 Oktober 2018 19:0 WIB
Banser itu Bisa Galak, Bisa Lucu!
Banser itu Bisa Galak, Bisa Lucu!
Ilustrasi
Oleh Rijal Mumazziq Z

Banyak anggota Banser yang dalam DNA-nya mengalir genetika pengawal ulama. Artinya, jika ditelusuri, leluhur mereka ini dulunya anggota laskar Diponegoro yang berdiaspora di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jika tidak, bisa dipastikan bapak maupun simbah mereka dulu pernah nderek (menyertai) kiainya bertempur dalam perang kemerdekaan. Ada jiwa keperwiraan yang diwariskan secara turun-temurun.

Karena itu, meski Banser diolok-olok dan difitnah, sampai kapan pun tetap ada peminatnya karena memang punya suplier tetap.

Meski terkadang lebih galak dibanding tentara betulan, tapi saya lebih sering menjumpainya bertingkah laku lucu tapi loyal, suka guyon tapi ikhlas mengabdi, sering membantu acara-acara keagamaan, dan kecintaannya terhadap para ulama.

Lagi pula, saya melihat, sahabat-sahabat saya yang menuduh Banser sering membubarkan pengajian memang bukan dari kalangan penikmat pengajian ala NU. Yaitu, jenis pengajian yang dikemas kolosal, mengundang penceramah yang punya selera humor, jamaahnya duduk lesehan, dan diakhiri tengah malam. Di dalam arena pengajian inilah Banser menjadi bintangnya. Bertanggung jawab atas keamanan, kondisivitas massa, hingga bagian penyalur logistik. Sifatnya kerja bakti, mengabdi, tanpa bayaran. Bahkan, sering ikut iuran dan tekor.

Jangan heran jika banyak kisah Banser yang unik, aneh-aneh, bahkan mengundang tawa. 

Misalnya, ketika warga Nahdliyyin hadir membludak dalam acara Istighosah Akbar II, 31 Mei 1998, kaum Muslimat NU tak mau ketinggalan. Mereka datang berombongan. 

Ketika ada Banser ganteng dan gagah ikut mengatur tertib parkir, ibu-ibu nyelutuk, "Wuih, Cak Bangser gagah yo, koyok tentara...."

Giliran menjumpai tentara yang agak tambun sedang mengatur lalu lintas, ganti mereka nyelutuk, "Walah, tentara kok kayak Bangser..."

*

Kalau tentara lagi apel akbar, biasanya akan ada inspeksi pasukan dari seorang jenderal sambil naik jip bak terbuka. Gagah berwibawa pokoknya.

Nah, tampaknya para Banser nggak mau kalah sama tentara. Dalam sebuah apel akbar, Ketua Umum GP Ansor, saat itu H. Slamet Efendi Yusuf, didaulat melakukan inspeksi pasukan menggunakan jip.

Jadilah saat itu Pak Slamet berdiri gagah di atas jip melakukan inspeksi ribuan Banser yang corak doreng-nya berbeda-beda itu. Wuih kerrreeeen! Aksi gaya para TNU alias Tentara Nahdlatul Ulama itu berjalan dengan lancar.

Jip merangkak pelan dan pasti. Pak Slamet menatap pasukannya dengan meyakinkan.

Sayang sekali, di tengah atraksi, tiba-tiba jipnya mogok.

Lhah! Pak Ketum GP Ansor tetap di atas jip, dengan posisi siaga, sembari menunggu si sopir menyalakan mesin.

Sayang, meski dicoba berkali-kali mesinnya nggak mau nyala.

Para Banser sudah mulai mesam-mesem.

Akhirnya Pak Slamet turun dari jip, dan memilih inspeksi jalan kaki sambil senyum-senyum.

"Mangkane tah, nggak usah gaya-gaya," kata Gus Dur terbahak-bahak saat mendengar cerita ini.

*

Selain Gus Dur, Kiai Hasyim Muzadi adalah Sohibul Hikayah mengenai polah tingkah Banser yang unik dan lucu-lucu. Ketika keduanya meledek para Banser, objek candaan hanya bisa menyambut dengan tawa.

Para kiai lain, silakan ditanya, pasti punya cerita soal Banser yang manusiawi. Banser bukan pekerjaan, sebagaimana digambarkan dalam film "Tanda Tanya", melainkan pengabdian. Mereka percaya, dalam khidmah kepada ulama, umat, dan bangsa, ada barakah yang mengalir untuk dirinya dan keluarganya. Inilah yang mereka harapkan. Karena itu, ketika membersamai dan mengawal ulama, biasanya mereka juga ikhlas diledek.

"Banser itu gayanya meyakinkan, sayang, rokoknya eceran," demikian Kiai Hasyim Muzadi meledek. Adapun yang diledek malah terbahak-bahak. 

"Besok, Banser itu masuk surga terlebih dulu daripada kiainya," kata Gus Muwafiq, dalam sebuah pengajiannya.

"Kok bisa Gus?"

"Jelas bisa, wong mereka bagian cek lokasi, kok!"

Wallahu A'lam Bisshawab.


* Penulis adalah Rektor Institut Agama Islam Al-Falah Assunniyyah

Senin 22 Oktober 2018 13:30 WIB
Ketika Santri Membentuk Kisahnya Sendiri
Ketika Santri Membentuk Kisahnya Sendiri
Ilustrasi. Salah satu adengan dalam film 'Sang Kiai'
Oleh Dinno Munfaidzin Imamah


Sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, pondok pesantren 
menjadi markas-markas Hizbullah-Sabilillah. 
Pengajian kitab-kitab telah berganti 
menjadi pengajian tentang caranya 
menggunakan karaben, mortir dan cara bertempur 
dalam medan-medan pertempuran

---Kiai Saifuddin Zuhri ---
Guruku Orang-Orang Pesantren


Kisah kita berawal ketika gerombolan manusia dari dunia lain menjajah manusia lainnya di Nusantara. Mereka ingin menguasai, memenuhi dan menghancurkan penggalan surga di bumi. Sebelum itu terjadi, para kiai dan santri bangkit bersaksi, berkorban untuk sebuah kemerdekaan negeri, demi rakyat dan ilahi.

Begitulah yang terjadi pada sejarah bangsa Indonesia. Kisah fatwa Resolusi Jihad 45 yang digerakkan oleh para kiai dan santri untuk membela sekaligus mempertahankan kemerdekaan. Ya, tentang Resolusi Jihad 45! Bagaimanakah kita membayangkan rakyat Indonesia di Surabaya, 73 tahun yang lalu, ketika mereka menghadang maut, dengan ketulusan tanpa pamrih, membela tanah airnya, hubbul wathon minal-Iman. Sebuah negeri akan dimakmurkan dengan kecintaannya pada tanah air, Umiratil buldan bihubbil awthan, begitulah dawuh suami tercinta Sayyidah Fatimah Az Zahra.

Ketika Mayor Jenderal R.C Mansergh, Panglima Tentara Darat Sekutu mengancam, mengultimatum bangsa Indonesia serta pemimpinnya untuk menyerah bersama seluruh persenjataannya. Terjadilah pertempuran dahsyat, tawuran massal di kota arek-arek Suroboyo itu melakukan perlawanan sebagai reaksi atas ancaman gerombolan Inggris yang menghina bangsa dan kemerdekaan Indonesia. Tak kurang 200.000 lebih ‘gladiator-gladiator bangsa’ kita meninggal dan syahid. Merdeka atau mati, begitulah semboyannya. Sebuah pengorbanan tanpa pamrih, membela martabat, harga diri, dan kemerdekaan.

Lihat saja, betapa pasukan gabungan Inggris yang baru saja memenangkan Perang Dunia II mengalahkan geng militer Roberto (Roma, Berlin, Tokyo), NAZI Hitler, dengan keahlian, pengalaman perang, bertempur dan kelengkapan senjata, menjadi kewalahan menghadapi perlawanan bangsa Indonesia. Kota Surabaya, bagi pasukan NICA adalah neraka tergelap dalam hidupnya. Sekali dan selamanya, kami takkan pernah lagi menginjakan kaki di bumi para Wali, demikianlah isi laporan dari dinas intelijennya, membawa kisah pilu pulangnya dengan seribu bara api di benaknya. 

Sejak saat itu hingga kini, kaum santri dan kiai setia bersumpah memperingati kepahlawanan, patriotisme ini dan berusaha mengambil hikmah dan teladan dari sebuah pengorbanan.  Tindakan besar dan pikiran selevel raksasa dalam hidup mereka, mempertahankan kemerdekaan, membuat Indonesia “ada”. 

Perubahan besar apakah yang dilakukan santri? Hadratussyakh Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Wahid Hasyim dan pendiri bangsa ini. Gerangan percikan cahaya langit apakah yang mengubah santri yang katanya “moderat dan kompromistis” menjadi gerakan revolusioner-radikal yang menjebol tembok besar imperialisme. Sebagaimana kata sejarawan Thomas Carlyle, ”And I said the great man always act like a thunder. He stormed the sky, while other are waiting to be stormed.”

Deklarasi Resolusi Jihad 1945, yang tidak mendapat perhatian yang selayaknya dari para sejarawan, aparatus ideologis kampus. Adanya Proklamasi Kemerdekaan yang diucapkan Bung Karno dan Bung Hatta merupakan tantangan kepada tentara Sekutu (geng anti-fasisme Hitler) yang saat itu berkuasa setelah Jepang menyerah. Visi geopolitik pendiri bangsa saat itu adalah mengetahui bahwa ada UU Agraria Tahun 1870 yang berlaku untuk masa 75 tahun. Artinya, tahun 1945 akan ada tanah tak bertuan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.  Dengan pengetahuan global ini mereka merancang upaya pergerakan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Dan saat Perang Pasifik terjadi, mereka berhasil mencuri momentum besar ini. 

Deklarasi Resolusi Jihad 21-22 Oktober 1945 yang merupakan kelanjutan dari hasil pertemuan Bung Karno dengan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Resolusi itu menunjukkan bahwa NU (Nahdlatul Ulama) mampu menampilkan diri sebagai kekuatan radikal yang tak disangka-sangka dalam sejarah, kata pakar yang meneliti Islam Indonesia. Maka, berkobarlah Pidato Bung Tomo di bumi Surabaya, “….dan kita akan memberikan tanda revolusi, merobek usus setiap makhluk hidup yang berusaha menjajah kita kembali!” Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar.

Rakyat bersatu takkan bisa dikalahkan, melawan penjajah NICA (geng pemenang Perang Dunia II) adalah fardu ‘ain, setiap nyawa 200.000 yang wafat dan darah-air mata yang tertumpah hanyalah untuk Indonesia, tanah tumpah darah: sebuah kisah negeri yang teraniaya, terjarah dan terjajah hingga kini. Doa, duka, dan cinta Hadratussyaikh terhadap bangsanya takkan pernah luntur dan surut seujung rambut pun. Walaupun sadar bangsa kita kini masih terjarah dan terjajah oleh metamorfosa kapitalisme. Patriotisme bangsa tetap berkobar hingga kini, melawan apa yang tak abadi.

Kisah nasionalisme santri membangun hidupnya penuh dengan bara api, tertatih-tatih, membentuk kisah dan legendanya sendiri sebagaimana harapan filsuf Socrates, yang sekian lama ditindas oleh rezim sejarah bentukan para intelektual anti-kiai-santri yang ada di desa-desa dan kampung, jauh dari gedung menjulang tinggi di kota-kota besar.  Ucap filsuf Socrates dalam buku berjudul Republic,  sungguh mendebarkan, bagaimana caranya membangun mentalitas para pengawal negara,” ….tugas kita yang utama adalah mengawasi fabel dan legenda serta menolak semua yang tidak memuaskan”. Demi mencetak karakter anak-anak dan putra bangsa,” harus kita perintahkan seluruh ibu dan inang pengasuh agar menceritakan dongeng-dongeng yang telah kita setujui saja…” 

Perjuangan kiai dan santri tidak layak masuk sejarah,  bahkan dalam cerita level anak-anak TK/SD pun tidak ada apalagi kampus, tragis. Propaganda hitam dan kesunyian perjuangan masa lalu harus dikubur bersama waktu hingga berakhirnya dunia.

Monumental history, perjuangan kiai-santri harus dihilangkan dalam peta bumi republik, dan layaknya usaha untuk membunuh nyamuk menghabiskan energi kalau perlu dengan belati. Dalam situasi itu kiai-santri dijadikan target operasi Orde Baru pimpinan Jenderal Soeharto. Kiai- santri yang ikut mendirikan Indonesia, disingkirkan atas nama ideologi.

History doesn’t repeat itself, but it sure does rhyme. Sejarah tak mengulangi dirinya, tapi sungguh ia punya pola yang sama. Karena sesungguhnya, seperti sejarah, justru saat kekuatan lahiriah melemah, tumbuh kekuatan akbar dari kuasa bathiniah kiai-santri yang sekian waktu ditindas oleh struktur kekuasaan.

Kini setiap tanggal 22 Oktober, semua anak negeri bersuka cita, Hari Santri diperingati di segala penjuru negeri, kaum santri bangkit bersaksi di desa-desa dan kota. Diakui negara, mengakui identitas dan perjuangannya. Leluhur kiai-santri dalam sejarah, dalam keabadian, dalam kisah Indonesia. Ada 270.000 ribu basis pesantren, yang harus dikuatkan kembali di era modern ini. Karena pesantren adalah pembentuk negara modern bernama nation state of Indonesia.

Sekecil apapun peristiwa hidup apalagi sejarah kiai-Santri itu wajib ditulis. Siapa yang dapat menulis kisahnya, dia tidak akan lekang dan sirna di makan zaman dan cuaca. Kisahnya akan terus abadi menjadi warisan berharga dan bintang penuntun bagi generasi berikutnya yang mewarnai kehidupan bangsa, anak-cucu-murid dan kader-kadernya. Maka, benar apa yang disampaikan filsuf eksistensialisme Eropa, Soren Kierkegaard, ”Seorang tiran mati dan kekuasaannya berakhir. Ketika sang martir gugur ke bumi, kisahnya baru dimulai.”


Penulis adalah Kader Muda NU

Senin 22 Oktober 2018 12:30 WIB
HARI SANTRI 2018
Kisah Seorang Santri: Ditulis dari Kairo
Kisah Seorang Santri: Ditulis dari Kairo
Usman Arrumy (Foto: istimewa)
Tahun 2006 saya matur kepada bapak saya untuk minta dipondokkan di Yai Wahid Zuhdi, bapak saya terkesan agak kaget manakala mendengar itu karena tahu kalau saya termasuk golongan ‘ndableg’ menurut ukuran yang tidak umum. Bapak saya kemudian bilang.

"Bapak tentu bahagia mendengar kamu minta mondok, terlebih di pondok Yai Wahid, kebahagiaan bapak bukan karena beliau teman mondok bapak sewaktu di Sarang, tapi yang buat bapak agak heran, kenapa kamu memilih pondoknya Yai Wahid?”.

"Aku ingin alim seperti Yai Wahid," jawab saya datar.

“Iya sudah, mangkat Ahad besok apa Rabu depan?” tanya bapak.

ndereake.”

Saya teringat, dalam kitab Ta’limul Muta’alim, diterangkan bahwa waktu terbaik untuk berangkat belajar kalau tidak Ahad ya Rabu. Pendek kata, hari Rabu saya diantar ke Bandungsari, Grobogan. Selama masuk desa sudah terbayang betapa hari-hari ke depan saya akan menjalani kehidupan yang jauh dari suasana kota, suasana tandus yang akan menjadikan saya berjuang dengan tingkat yang ekstra untuk ‘kerasan’.

Sebelumnya saya belum pernah tahu letak geografis dari pondok yang kemudian saya tahu bernama Al-Ma’ruf itu, pertimbangan saya satu-satunya mengapa saya berangkat ke situ adalah Yai Wahid. Maka tibalah saya sekeluarga di ndalemnya Yai Wahid. Setelah bapak saya dan Yai Wahid ngobrol lama, barulah saya—kalau istilah pesantren, dimaturke. 

Saya teringat, Yai Wahid memanggil lurah pondok bernama Pak Sokhi. “Ini, Usman ditaruh di kamar yang jauh dari Masjid dan dekat dengan tempat wudhu," dawuh Yai Wahid kepada pak Sokhi. 

“Kenapa begitu, Yi?” Bapak saya menyela.

“Kalau semakin jauh dari Masjid kan langkah untuk menuju Masjid semakin banyak. Nah, kalau langkah semakin banyak, maka pahalanya juga banyak," timpal Yai Wahid sambal tersenyum.

Lalu Pak Sokhi membimbing saya menuju kamar yang dimaksud. Dan sampailah saya di kamar i2.

Setelah menghantarkan saya, bapak saya berpesan menjelang beliau masuk mobil. 

“Kalau bisa kamu menawarkan diri untuk membantu keperluan Yai Wahid. Apa saja.”.

Kini tiba-tiba saya hampir menitikkan airmata, bahwa Yai Wahid begitu memperhatikan santri barunya dengan pertimbangan Fikih. Tiap kali saya mengingat kembali peristiwa itu, mata saya selalu hampir kuyup. Perhatian Yai Wahid kepada santrinya antara lain ketika suatu pagi saya dipanggilnya ke Ndalem, saya bergegas sambil gugup lantaran baru kali ini dipanggil, dan Kang Santri yang disuruh beliau bilang untuk cepat.

Sampai di ndalem, Yai Wahid sudah menerima beberapa tamu, dan sedang daharan

Mriki, Gus," panggil Yai Wahid sambil melambaikan tangannya ke arah saya. Sementara itu, Yai Wahid mengambil piring dan menyiduk nasi beserta lauknya.

“Ini Gus, lauk buatanku sendiri, gorengan telur campur mie. Bahasa kotanya Omelete Noddle,” dawuh Yai Wahid sambil menyodorkan sepiring nasi.

Ya Ampun. Saya gemetar menyaksikan peristiwa itu, saya hampir tak kuasa menggerakkan tangan untuk menerimanya. Satu-satunya yang dapat menggerakkan tangan saya adalah lantaran saya sadar betul bahwa saat itu saya sedang lapar-laparnya. Di titik itulah kini saya teringat kalau kenakalanku waktu itu masih begitu jelas tergambar. Saya lahap sekali makan karena 'aji mumpung', mumpung lapar, mumpung lauknya Yai Wahid sendiri yang memasak, dan mumpung-mumpung yang lain.

Maka ketika Yai Wahid melihat piring di depanku ludes, beliau mengambilnya dan menciduk nasi lagi beserta lauknya untuk kemudian diletakkan di depanku. Dan itu terulang sampai tiga kali. Dan tiap kali Yai Wahid menambahi nasinya, saya semakin lahap. Saya tahu bahwa sejak piring pertama habis, sebenarnya saya sudah kenyang, namun ini aji mumpung. 

Seminggu kemudian saya pulang, ketika mau pamit Yai Wahid sedang tindakan. Saya matur bapak kalau saya sudah tidak kerasan, saya ingin pindah. Raut muka bapak saya ketika itu memerah. 

Dua tahun kemudian, di suatu hari pada malam Selasa—kalau tidak salah ingat, saya bermimpi. Yai Wahid mengenakan pakaian Ihrom di seberang jalan. Yai Wahid melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah saya. 

Kejadian itu mengingatkan saya terhadap seseorang yang hendak berangkat haji, saya masih teringat dalam mimpi itu saya berpikir mengapa ya, Yai Wahid memakai Ihrom dan dada-dada ke arah saya. Saya bersedih seperti ketika waktu kecil saya melepas orangtua saya berangkat haji.

Tepat Seminggu kemudian, hari selasa siang, Syarifah Nikmah, Rembang, menemui saya di Kaliwungu, dan mengabari kalau Yai Wahid sudah 'sedo' seminggu lalu. Saya seketika tercenung. Apakah mimpi saya seminggu lalu itu pertanda kalau Yai Wahid hendak berpamitan? Saya menitikkan airmata. Bagaimana mungkin, waktu saya bermimpi dan waktu ketika Yai Wahid sedo, terjadi di hari yang sama? Mataku kuyup oleh luh, berkunang-kunang.

*** 
Saya mondok di Djagalan tak seberapa lama untuk ukuran santri serius, hanya 10 tahun secara akumulasi, sebab ada era di mana saya sempat mbalelo tidak berangkat mondok dan hanya main-main saja di rumah. Saya tak termasuk golongan santri yang dalam kehidupannya di pesantren upyek terhadap kitab melulu, saya lebih sering cangkrukan di warung kopi. 

Ketika bapak saya mengantarkanku ke pondok Djagalan untuk pertama kalinya—setelah setahun mangkrak di rumah, beliau hanya berpesan; 

“Kamu aku antarkan di pondok sini, terserah mau ngapain. Ngaji atau tidak itu urusanmu. Aku Cuma bertanggung-jawab memberi uang saku terhadapmu. Tapi satu yang harus kamu pegang dan harus kamu jalani, yaitu jangan sampai su’u dzon terhadap putra-putrinya Mbah Dim, apalagi kepada Mbah Dim sendiri. Jangan sampai, jangan sampai, jangan sampai. Kalau sampai kamu berprasangka buruk terhadap keluarga ndalem, aku tidak ridho sampai akhirat”

Begitulah pesan satu-satunya bapak saya ketika mengantarkanku mondok di Djagalan. Sebagai bocah berusia 12 tahun, saya kira hal itu pesan yang wajar-wajar saja dan mudah untuk saya jalani, namun dalam perjalanan saya di Djagalan, hari demi hari, saya baru merasa kalau pesan bapak tersebut justru menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk dihindari.

Saya pernah mbatin; ini Kiai, tapi kok mobilnya sak arat-arat—BMW, Alphard, Jeep Wrangler, Ford Ranger, dan mbuh merek apa lagi.’’ Astaghfirullah. 

Hingga suatu hari saya tercengang ketika mobil BMW yang tiap hari terparkir di depan ndalem tersebut digunakan hanya untuk ngangkut gabah. Dan mobil Ford Ranger hanya digunakan untuk ngangkut ikan bandeng. Saya tersentak oleh sesuatu yang dulu saya unen-uneni.

Saya dinasehati tidak dalam bentuk kata-kata atau bahkan fatwa sekalipun, namun saya dinasehati oleh kejadian. Seolah-olah Mbah Dim tahu benak saya sehingga harus memberi edukasi dengan cara memperlihatkan bahwa semua dunia yang tampak ini hanya ada di telapak tangan, tidak berada di dalam hati.

Pesan bapak satu-satunya itu tiba-tiba terngiang. 

Rasa-rasanya, tirakatku waktu di pondok dulu tidak poso mutih atau ngaji atau bahkan ngerowot entah apa lagi dawud (karena memang Abah melarang untuk itu), namun tirakat saya adalah berjihad untuk tidak berprasangka buruk terhadap keluarga ndalem.

Saya tak terlalu yakin kalau poso atau tiap sesuatu yang saya lakoni selama di pondok itu bisa diterima. Oleh karenanya, harapan saya sebagai santri hanya agar tirakatku dalam menolak su'u dzon kepada keluarga ndalem, terutama kepada Abah bisa diterima pahalanya. 

Kenapa bapak saya lebih memprioritaskan untuk menolak su'u dzon dan tidak menyuruh saya agar berusaha untuk selalu husnu dzon? Belakangan saya baru meyakini kalau itu berdasarkan kaidah fikih, Dar'ul mafasid muqoddimi ala jalbil masolih. Menolak keburukan lebih diutamakan dari mengambil kebaikan.

Bapak saya mungkin sudah mengetahui perangaiku yang selalu melibatkan rasionalitas terhadap setiap hal--- saya sejak kecil orang yang suka ngeyel soalnya, itu sebabnya bapak berpesan begitu teguh terhadap saya seperti itu.

Pada suatu malam jum'at kliwon, ketika sedang persiapan istighosah, saya ikut mengangkut kardus berisi minuman mineral di belakang ndalem. Karena kardus masih banyak dan harus cepat tertata, maka saya dan kawan-kawan santri meletakkannya dengan susunan yang tak tertata rapi.

Ketika saya meletakkan kardus dengan buru-buru dan karenanya susunan kardus itu ambruk, Abah keluardari dalam ndalem dan dawuh: ''noto kardus wae ora pecus, ngono kok meh noto masyarakat''. Saya tertunduk.

Tahun 2011, kelas tiga Aliyah, hari pertama masuk sekolah, hari senin, ada pelajaran ilmu Falak—astronomi, yang mengajar Pak Ahmad. Saya tidur di kelas, Pak Mad membangunkan dan menyuruh saya berdiri dengan satu kaki selama tiga jam.

Setelah itu, saya semacam punya trauma sehingga tiap hari senin saya selalu mencari celah agar terhindar dari ancaman ‘berdiri dengan satu kaki’. Dan tempat paling aman adalah di depan ndalem sepuh, pura-pura sowan Mbah Dim.

Tiap hari senin saya punya rutinitas duduk-duduk di depan ndalem, soalnya para pengurus tidak berani ngoyaki santri yang berada di zona aman. Dan tiap kali Mbah Dim bertanya ada keperluan apa, saya Cuma menjawab ingin salim. Dan itu berlangsung selama setahun tiap hari senin.

Belakangan saya mendapat ilmu dari Habib Umar Mutohar—barangsiapa yang pernah bersalaman dengan orang yang bersalaman dan bersalaman dengan orang yang salaman hingga Rasulullah, maka ia seperti bersalaman dengan Kanjeng Nabi. 

من صافحنى او صافح من صافحنى الى يوم القيامة دخل الجنة

Barangsiapa yang berjabat tangan kepadaku atau berjabat tangan kepada yang pernah berjabat tangan denganku hingga hari kiamat maka masuk syurga.

Demikianlah kisah singkat saya selama berada di Pondok, selama menjadi santri. Kini, kalau ada satu harapan yang harus saya perjuangkan mati-matian, itu adalah agar saya diakui santri oleh KH. Dimyati Rois dan KH. Wahid Zuhdi. (Usman Arrumy)


Kairo, 22 Oktober 2018
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG