IMG-LOGO
Nasional

Pesantren Amanatul Ummah Raih Penghargaan Santri of The Year 2018

Rabu 31 Oktober 2018 18:30 WIB
Bagikan:
Pesantren Amanatul Ummah Raih Penghargaan Santri of The Year 2018
Jakarta, NU Online
Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Mojokerto meraih penghargaan sebagai Pesantren Modern Inspiratif. Prestasi ini diumumkan pada  Malam Penghargaan yang digelar di Auditorium UIN Surabaya, Senin (29/10). Ini adalah kali kedua event penghargaan Santri of the Year dilaksanakan oleh Islam Nusantara Center.

Penghargaan diserahkan oleh Emil Dardak, Wakil Gubernur Jatim terpilih kepada H Muhammad al Barra, ketua Yayasan Amanatul Ummah.

Penghargaan kategori Pesantren Modern Inspiratif ini semakin meneguhkan kualitas Pesantren Amanatul Ummah. Selama ini, Pesantren Amanatul Ummah dikenal oleh masyarakat luas sebagai pesantren yang secara konsisten melahirkan alumni alumni berkualitas.

"Hal ini ditunjukkan dengan sebaran lulusannya yang diterima di pelbagai perguruan tinggi negeri dan swasta favorit. Lulusannya antara lain kuliah di ITB, UI, Unair, UGM di fakultas-fakultas dengan peminatan yang tinggi seperti Fakultas Kedokteran, Teknik dan Farmasi," kata Wakil Ketua Pergunu, Aris Adi Laksono, Rabu (31/10).

Lebih dari itu, lulusan Pesantren Amanatul Ummah juga menyebar di berbagai perguruan tinggi di luar negeri. Tidak hanya di kawasan Timur Tengah seperti Maroko, Mesir, Yaman dan Sudan, tapi juga di negara Barat dan Asia seperti Australia, China, Russia, Jerman dan negara negara lain.

Sebelumnya, Pesantren Amanatul Ummah, dari lembaga lain juga memperoleh penghargaan dalam kategori 'The Most Favorite Islamic School of The Year 2017' dan 'The Best Tutoring Program in Islamic School 2018'. (Kendi Setiawan)
Bagikan:
Rabu 31 Oktober 2018 23:30 WIB
Gus Mus: Mari Tinggalkan Kebencian, Apapun Alasannya
Gus Mus: Mari Tinggalkan Kebencian, Apapun Alasannya
KH Mustofa Bisri (Gus Mus)
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang KH Mustofa Bisri (Gus Mus) mengajak umat Islam di Indonesia untuk kembali memikirkan hal yang lebih penting dari pada membahas polemik kejadian pembakaran bendera HTI di Garut beberapa waktu lalu.

“Menurut saya, pembicaraan itu dihentikan. Sudah tidak bicara itu lagi karena sudah saya bilang yang melakukan pembakaran sudah menyadari kesalahannya dan sudah minta maaf. Penegak hukum sudah bergerak dan melakukan apa yang telah menjadi tugasnya. Jadi sudahlah kita ndak usah ngomong itu lagi. berfikir yang lebih penting,” kata Gus Mus dalam Program Mata Najwa di salah satu stasiun TV Nasional, Rabu (31/10) malam.

Sebagai umat mayoritas di Indonesia, Gus Mus berharap umat Islam lah yang menyelesaikan masalah-masalah di Indonesia ini. Umat Islam harus bisa menjadikan Indonesia tempat ibadah yang mengkhusyukkan, dan tempat bersilaturahmi yang islami. Hal ini menurutnya bisa dilakukan dengan kembali kepada ajaran tauhid.

“Tauhid itu berarti mengesakan Allah dan menyatukan manusia untuk hanya menyembah Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa. Untuk itu kita sudah mempunyai pedoman yaitu Al-Qur’an dan Sunah Rasul SAW. Apa yang terjadi di kita ini karena kita berlebih-lebihan,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa umat Islam diperintahkan untuk menegakkan kebenaran karena Allah SWT.  Ia pun menegaskan hal ini dengan ayat Al-Qur’an Surat Al Maidah: 8 yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan".

Allah memang menyuruh kita menegakkan kebenaran. Tapi lillah (karena Allah) bukan linafsi (untuk diri sendiri) bukan untuk diri kita, bukan untuk kelompok kita bukan untuk siapa-siapa. Tapi lillah untuk Allah saja. Ini firman Allah bukan kata saya,” tegasnya.

Gus Mus juga mengajak umat Islam di Indonesia untuk menjadi pelopor perdamaian dengan menjadikan Indonesia sebagai tempat yang nyaman untuk menyembah Allah, untuk beribadah, untuk bersilaturahmi satu sama lain, dan untuk meneruskan perjuangan Rasulullah SAW guna menyempurnakan akhlak manusia.

Kepada pemuka-pemuka agama Islam, Gus Mus menghimbau agar mengajak umat untuk meneladani dan mengikuti jejak Rasul yang menyukai kasih sayang dari pada kebencian dan yang menyukai silaturahmi dari pada perpecahan.

“Mari tinggalkan kebencian apapun alasannya,” ajaknya sekaligus menghimbau umat Islam bergegas mendapatkan maghfirah (ampunan) Allah SWT yang luasnya selangit dan sebumi yang diperuntukkan bagi orang-orang bertakwa.

Gus Mus menambahkan bahwa Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik yang dengan segala usahanya mau minta maaf dan mau memberikan maaf.

“Mudah-mudahan Allah menjadikan Indonesia ini tempat bersilaturahmi, tempat berteduh, tempat bersujud yang nyaman,” pungkasnya. (Muhammad Faizin)
Rabu 31 Oktober 2018 23:0 WIB
Eksekusi Mati Tuti Tursilawati, Kiai Said: Ada yang Ditutup-tutupi
Eksekusi Mati Tuti Tursilawati, Kiai Said: Ada yang Ditutup-tutupi
Tuti Tursilawati (liputanbmi.com)

Jakarta, NU Online
Ketua PBNU, KH Said Aqil Siroj menilai ada ketidaktransparansian pada kasus penjatuhan hukuman mati terhadap TKI Tuti Tursilawati oleh Pemerintah Arab Saudi. Kiai Said berpendapat,situasi tersebut menunjukkan kapada dunia internasional tentang adanya ketertutupan informasi terkait berbagai pelanggaran HAM.

"Ada yang ditutup-tutupi. Inilah yang harus diungkapkan," ucap Kiai Said di Gedung PBNU Kramat Raya, Rabu (31/10).

Oleh karena itu, kata Kiai Said, PBNU mengecam keras atas eksekusi mati yang dilakukan Pemerintah Arab Saudi terhadap Tuti Tursilwati, seorang tenaga kerja asal Indonesia. Terlebih tidak adanya pemberitahuan resmi kepada pihak Perwakilan RI di Arab Saudi.

"Kami mengecam Pemerintah Saudi yang telah menghukum mati Tuti Tursilawati apalagi tidak ada notifikasi kepada perwakilan Pemerintah Indonesia di Saudi," kata Kiai Said.

Dalam pandangan Kiai Said, Pemerintah Indonesia harus segera mengambil langkah-langkah strategis-diplomasi guna melancarkan protes keras atas sikap Pemerintah Saudi.

Lebih lanjut Kiai Said menilai bahwa sikap Saudi dari dulu tetap tidak berubah secara signifikan dalam konteks penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kepatuhan pada tata krama diplomasi internasional.

"Kami berduka dan menyampaikan bela sungkawa yang mendalam kepada keluarga korban. Namun yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita menyikapi persoalan ini. Ini persoalan yang sangat serius," jelas Kiai Said.

Terkait upaya penyikapan terhadap peristiwa tersebut, PBNU akan mendorong dan mendukung pemerintah untuk mencari jalan keluar terbaik bagi persoalan ini. "Ya, kami akan komunikasi dengan Pemerintah," ucapnya.

Tuti Tursilawati merupakan tenaga kerja Indonesia asal Desa Cikeusik, Majalengka, Jawa Barat. Tuti divonis mati oleh pengadilan di Arab Saudi pada Juni 2011 dengan tuduhan membunuh majikannya.

Pembunuhan itu tak disengaja lantaran Tuti membela diri dari upaya pemerkosaan majikannya. Selama bekerja di rumah majikan itu, Tuti kerap mendapat pelecehan seksual hingga pemerkosaan. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)

Rabu 31 Oktober 2018 22:45 WIB
Kiai Ma'ruf Amin: Santri Zaman Now Harus Lanjutkan Perjuangan Santri Zaman Old
Kiai Ma'ruf Amin: Santri Zaman Now Harus Lanjutkan Perjuangan Santri Zaman Old
Mustasyar PBNU, KH Ma'ruf Amin di PBNU
Jakarta, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma'ruf Amin mengajak para santri zaman milenial agar mengikuti dan melanjutkan perjuangan santri di zaman old yang telah berkiprah dan berjuang dengan sangat luar biasa.

Menurutnya, zaman telah berbeda. Santri di masa mendatang akan menghadapi masalah yang kompleks dan tantangan yang lebih banyak. 

"Karena itu, santri zaman now harus melengkapi diri dengan ilmu yang lebih dari cukup," kata Kiai Ma'ruf saat ceramah keagamaan di Istighotsah Kubro dalam rangka Hari Santri di Halaman Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat.

Di hadapan ribuan Nahdliyin yang memadati halaman Kantor PBNU, Kiai Ma'ruf mengatakan, santri zaman now harus bisa membaca huruf-huruf Al-Qur'an, huruf-huruf yang ada di kitab-kitab klasik atau kitab kuning, dan berbagai huruf yang termaktub di dalam tatanan kehidupan masyarakat.

"Santri harus bisa membaca situasi dan kondisi kekinian, baik politik maupun ekonomi, dan sosial, serta budaya," katanya.

Santri, lanjut Kiai Ma'ruf, bukan hanya harus mampu menganalisa berbagai keadaan, tetapi juga harus mencari dan memberi solusi. "Terutama santri harus bisa menguasai berbagai fiqhiyyah. Itu untuk mengurai serta mencari solusi dari berbagai problem yang terjadi di negara ini. Kita harus menyiapkan santri dengan berbagai kelengkapan," katanya.

Santri zaman now harus menjaga bangsa dan negara agar tetap tegak. Sebab, menurut Kiai Ma'ruf, terdapat berbagai upaya yang akan menghancurkan dari gerakan-gerakan separatisme, yakni kelompok yang ingin memisahkan diri dari NKRI.

"Menurut ulama, separatisme itu dihukumi sebagai bughot atau pemberontakan yang harus diperangi dan harus dikembalikan ke pangkuan NKRI," katanya.

Sebelum menutup ceramahnya, ia mengajak para santri agar optimis menghadapi kehidupan. Bahwa santri tidak hanya bisa menjadi kiai, tetapi juga mampu mengisi berbagai posisi di segala lini, termasuk menjadi presiden atau wakil presiden. (Aru Elgete/Muiz)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG