IMG-LOGO
Internasional

Suriah Berusaha Damai, Sementara Indonesia Belajar Konflik?

Jumat 2 November 2018 5:23 WIB
Bagikan:
Suriah Berusaha Damai, Sementara Indonesia Belajar Konflik?
Jakarta, NU Online
Ketua Dewan Rekonsiliasi Nasional Suriah Syekh Adnan Al-Afyouni terus berupaya mendamaikan kubu-kubu yang berkonflik di Suriah. Ia berkeliling ke berbagai daerah mewujudkan perdamaian itu.

"Rakyat Suriah sepakat melakukan rekonsiliasi," katanya saat menjadi narasumber pada seminar bertajuk Jangan Suriahkan Indonesia di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (1/11).

Mereka, kata Syekh Adnan, ingin meletakkan kepentingan Suriah di atas kepentingan yang lain. "Sebagaimana kalian juga, kami ingin memperoleh harapn hidup yang lebih baik," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Presiden Assad membuka diri untuk memaafkan seluruh pihak yang memusuhinya demi Suriah. Siapapun yang tidak bersedia berdamai, disilakan untuk pergi ke selatan, tempat bagi para pemberontak yang negara akan memeranginya.

Pihaknya telah berbicara dengan pemimpin oposisi. "Apakah krisis ini yang kalian mau?" Tanyanya kepada oposisi itu. "Tidak," jawab mereka. "Baik. Mari kita duduk bersama untuk masa depan Suriah yang baru," ajak Syekh Adnan kepada mereka.

Dialog itu menarik seluruh rakyat Suriah berbondong-bondong untuk rekonsiliasi. Rakyat pun bersepakat mendahulukan kepentingan negara Suriah daripada yang lain. Tidak akan lagi saling menyalahkan dan fokus rekonsiliasi. 

"Kami bersepakat membangun Suriah ke depan. Mereka yang melawan sudah bersatu dalam satu barisan," jelas Mufti sekitar Damaskus itu.

Mereka berkumpul bersama dalam berbagai komponen yang sebelumnya saling bertempur. Mereka pun bersepakat mengakhiri konflik kemarin. "Tidak ada harganya diri kita jika tidak memiliki negara, Suriah hancur," ujarnya.

Oleh karenanya, ia berpesan kepada masyarakat Indonesia, bahwa kepentingan negara adalah di atas segalanya. "Kepentingan negara adalah di atas perasaan kita, kepentingan negara di atas emosional kita," ujarnya.

Ketika berita ini ditulis, di Twitter sedang trending topic tagar #JanganSuriahkanIndonesia oleh warganet. Hal ini berkaitan dengan akan adanya Aksi Bela Tauhid siang ini, Jumat (2/11). Padahal kasus itu sudah ditangani yang berwajib. Karena itu, warganet menengarai bahwa aksi itu bermuatan politis, bukan tauhid. Bahkan berdampak pada perpecahan. 

Akun @abubakarsegaf mengajak, "Ayo rapatkan barisan, hentikan pertikaian, saling bergandengan tangan menjaga persatuan & kerukunan. Lbh baik berlebihan dlm mengkhawatirkan perpecahan, daripada terlambat menyadarinya #JanganSuriahkanIndonesia.

"Saudara-saudara twips, tolong gencarkan hastag #JanganSuriahkanIndonesia ya! Semoga Indonesia tetap aman, ummat Islam semoga tetap bersatu, jangan mau diadu domba atas nama apapun !!! Jangan sampai nanti kita menyesal setelah negri kita berantakan #JanganSuriahkanIndonesia," ungkapnya lagi. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Jumat 2 November 2018 22:25 WIB
Indonesia Desak ILO Atasi Krisis Ketenagakerjaan di Palestina
Indonesia Desak ILO Atasi Krisis Ketenagakerjaan di Palestina
Jenewa, NU Online
Indonesia mendesak Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) segera membantu mengatasi krisis ketenagakerjaan di Palestina. Hal tersebut disampaikan Wakil Tetap RI untuk PBB, WTO dan Organisasi Internasional Lainnya di Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib, di hadapan Dirjen ILO, Guy Ryder, dan para peserta sidang sesi ke-334 Governing Body ILO di Jenewa, Swiss (31/10).

Akibat blokade Israel selama bertahun-tahun, saat ini Palestina mengalami krisis ketenagakerjaan. “Tingkat pengangguran di Palestina tercatat tertinggi di dunia, sementara angka partisipasi tenaga kerja tercatat paling rendah. Ini sangat memprihatinkan,” kata Dubes Hasan Kleib.

Dubes Hasan Kleib menyambut baik upaya ILO yang saat ini baru saja menyelesaikan tahap pertama pelaksanaan Decent Work Country Programme di Palestina dan memulai pelaksanaan tahap ke-2 untuk periode tahun 2018-2022. Meski demikian, implementasi program ILO terancam tidak akan dapat terlaksana dengan baik selama Israel masih membatasi akses penduduk Palestina untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, terutama di wilayah Gaza dan Tepi Barat. 

"Indonesia mendorong agar ILO memperkuat kapasitas Palestina dalam pengembangan pasar kerja, termasuk di wilayah pendudukan Israel," lanjut Hasan. 

Dalam kesempatan tersebut, Indonesia juga mendesak ILO memastikan perlindungan warga Palestina dari kemungkinan eksploitasi dan pelanggaran hak-hak ketenagakerjaan lainnya, termasuk mereka yang terpaksa harus mencari kerja di Israel dan di wilayah pemukiman ilegal karena tidak ada pilihan lain. 

Suara Indonesia tentang Palestina di ILO bukan kali ini saja. Sebelumnya, pada forum ILO Juni lalu, Menaker RI  Hanif Dhakiri juga menyampaikan hal serupa. Indonesia senantiasa aktif menyuarakan dukungan terhadap tercapainya pertumbuhan ekonomi dan kerja layak di negara tersebut. Hal ini mengingat kerja layak merupakan elemen penting dalam pembangunan ekonomi dan sosial di Palestina. 

Di hadapan sidang ILO, Menteri Hanif menegaskan sikap Pemerintah RI akan terus bekerjasama dengan ILO dan masyarakat internasional untuk memastikan terciptanya kerja layak di Palestina. 

Situasi ketenagakerjaan di Palestina menjadi salah satu isu penting yang dibahas dalam pertemuan sidang sesi ke-334 GB ILO yang berlangsung di Jenewa, Swiss, sejak tanggal 29 Oktober 2018 dan akan berakhir pada tanggal 8 November 2018.

Pertemuan juga membahas masalah dialog sosial, kerja masa depan, kasus dan situasi ketenagakerjaan di sejumlah negara serta isu standar ketenagakerjaan internasional. Governing Body (GB) merupakan badan eksekutif ILO yang terdiri dari 56 negara dimana Indonesia saat ini menjabat sebagai Deputy Member dan memiliki mandat memutuskan kebijakan, anggaran dan program-program ILO. (Red: Kendi Setiawan)

Jumat 2 November 2018 17:30 WIB
Langka, Arab Saudi Jamu Tokoh Kristen Evangelis AS
Langka, Arab Saudi Jamu Tokoh Kristen Evangelis AS
Foto: Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court/Handout via REUTERS
Riyadh, NU Online
Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman menggelar sebuah pertemuan langka dengan para tokoh Kristen evangelis Amerika Serikat (AS) di Istana Kerajaan di Riyadh pada Kamis (1/11). Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki citra intoleransi agama di Saudi kepada dunia.

Para tokoh Kristen evangelis AS yang hadir dalam acara tersebut diantaranya ahli strategi komunikasi Joel Rosenberg, mantan anggota kongres AS Michele Bachmann, dan kepala organisasi evangelis Amerika. 

Beberapa orang dalam rombongan memiliki hubungan dan mendukung Israel. Seperti Mike Evans, pendiri Jerusalem Prayer Team. Bahkan Evans disebut sebagai ‘pemimpin Zionis Amerika-Kristen yang taat.’

Dilaporkan Reuters, Jumat (2/11), pertemuan Muhammad bin Salman dengan para tokoh Kristen evangelis AS tersebut berlangsung sekitar dua jam. Para tokoh Kristen tersebut juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir, Dubes Saudi untuk AS Khalid bin Salman, dan Sekjen Liga Dunia Muslim Muhammad al-Issa.

Arab Saudi memang menyatakan bahwa normalisasi hubungannya dengan Israel bergantung pada penarikan Israel dari ‘tanah Palestina’ yang direbut dalam perang 1967 silam. Namun demikian seiring dengan meningkatnya ketegangan Riyadh dan Teheran, sikap lunak Saudi kepada Israel beberapa tahun terakhir ini menjadi indikasi keduanya bekerja sama untuk melawan Iran. 

Pada April lalu, Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman mengatakan bahwa Israel berhak untuk hidup damai di tanah mereka sendiri. Sebulan sebelumnya, untuk pertama kalinya Arab Saudi membuka ruang udaranya untuk sebuah penerbangan komersial ke Israel.  

Tidak hanya itu, Muhammad bin Salman dalam beberapa tahun terakhir juga telah melonggarkan aturan sosial yang ketat. Ia juga menangkap ulama Saudi yang dianggap ekstrimis guna mensukseskan Visi 2030 yang dicanangkannya. (Red: Muchlishon)
Jumat 2 November 2018 14:0 WIB
Parah! 7 Juta Anak-anak Yaman Alami Kelaparan
Parah! 7 Juta Anak-anak Yaman Alami Kelaparan
Foto: Khaled Abdullah/Reuters
Sana’a, NU Online
UNICEF, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani masalah anak-anak, mencatat bahwa  lebih dari tujuh juta anak-anak Yaman tengah menghadapi rawan pangan, dibandingkan dengan ancaman langsung kelaparan. 

Direktur regional UNICEF Geert Cappelaere berpendapat, untuk mengatasi persoalan tersebut maka dibutuhkan komitmen bersama untuk mengakhiri perang dan membangun pemerintahan Yaman yang memberikan perhatian lebih kepada anak-anak. 

“Yang kita butuhkan adalah menghentikan perang dan (untuk menciptakan) mekanisme pemerintah yang menempatkan pusat rakyat dan anak-anak,” kata Cappelaere, dikutip dari laman AFP, Jumat (2/11).

Tidak hanya itu, Cappelaere juga melaporkan beberapa fakta yang memprihatinkan terkait dengan kondisi anak-anak yang ada di Yaman. Sejak perang saudara meletus empat tahun lalu hingga hari ini, lebih dari 1,8 juta anak-anak Yaman mengalami kekurangan gizi akut. 

“Hari ini, 1,8 juta anak-anak di bawah usia lima tahun menghadapi kekurangan gizi akut, dan 400.000 dipengaruhi oleh gizi buruk akut,” urainya. 

Sebelumnya PBB melalui World Food Program (WFP) melaporkan bahwa sekitar 12 juta penduduk Yaman tengah menghadapi bencana kelaparan. Bahkan, juru bicara WFP Herve Verhoose mengungkapkan, jika Perang Yaman dibiarkan berlarut-larut maka 3,5 penduduk Yaman lainnya akan mengalami hal yang sama.

“Saat ini Yaman tengah menghadapi krisis kelaparan terparah di dunia, di mana hampir 18 juta orang di seluruh penjuru negeri bahkan tak tahu-menahu bagaimana mereka akan mendapatkan makanan selanjutnya," kata Verhoosel, dilansir kantor berita Anadolu, Rabu (17/10). 

Yaman didera perang saudara sejak 2014 silam, saat kelompok Houthi yang disokong Iran merebut beberapa wilayah Yaman dan menguasainya. Yaman di bawah pemerintahan Abd Rabbu Mansour Hadi berupaya menghalau Houthi dengan berbagai cara. Salah satunya dengan meminta bantuan pasukan koalisi Arab Saudi. Hingga hari ini, perang saudara masih terus berkecamuk di Yaman. Belum ada tanda-tanda kapan akan berakhir. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG