IMG-LOGO
Esai

Crypto di Aksi NU Peduli

Sabtu 3 November 2018 17:30 WIB
Bagikan:
Crypto di Aksi NU Peduli
Penggalangan donasi untuk NU Peduli melalui Crypto.
Oleh Muhammad Sulton Fatoni

Hari ini Sabtu, 3 November 2018, di Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta Pust, berlangsung "Halaqah Blockchain" yang diinisiasi oleh Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN). Halaqah ini disambut sangat antusias oleh Nahdliyyin. Saya menyesal tidak bisa hadir karena pada waktu bersamaan sedang berada di Solo, Jawa Tenga. Namun, saya masih bisa mengikuti halaqah tersebut melalui saluran 164 Channel.

Saya teringat, beberapa pekan lalu seorang ahli financial technology menghubungi saya. Namanya Konstantine Papadimitriou. Dia tertarik membaca publikasi Nahdlatul Ulama yang aktif dalam aksi kemanusiaan di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Tengah. Hasrat pun ia ungkapkan untuk ikut menggalang dana sosial dalam bentuk donasi Crypto. 

Melalui media sosial, penggalangan donasi Crypto pun tersebar di jaringannya yang lintas negara. Hanya butuh kurang dari sepekan, donasi berbentuk Crypto masuk ke rekening NU Peduli yang setelah dikonversi menjadi seratus juta rupiah. Tahap kedua kembali terkumpul donasi Crypto senilai seratus empat puluh tujuh juta rupiah.

Saat ini memasuki pekan ketiga donasi untuk NU Peduli melalui Crypto masuk tahap ketiga. Dalam sejarah penggalangan dana berbasis teknologi digital yang pernah dilakukan NU Care-LAZISNU, donasi Crypto inilah yang tercepat.

Apa sih Crypto atau Cryptocurrency itu? Crypto itu aset yang berbentuk digital, dirancang sebagai media tukar-menukar. Praktisnya, Cryptocurrency sejenis mata uang alternatif, mata uang digital. Crypto pertama dirilis pada tahun 2009 bernama Bitcoin. Stephanie Yang dalam The Wall Street Journal menyebut bitcoin dan sejenisnya sebagai mata uang alternatif yang berbentuk digital (2018).

Transaksi Crypto ini tercatat dalam buku digital yang populer disebut teknologi Blockchain. Menurut Konstantin (2018), Blockchain menerapkan prinsip keterbukaan dan independensi. Tekanan politik dan gangguan regulasi diatasi dengan infrastruktur jaringan Blockchain yang terdesentralisasi sehingga ia tidak dapat dikontrol oleh siapa pun. 

Teknologi digital telah mendorong dunia mengalami percepatan dinamika yang tidak beriringan dengan regulasi formal. Blockchain seakan membuktikan bahwa moralitas itu bisa mewujud dalam bingkai teknologi. Pada konteks ini moralitas tidak selalu memerlukan regulasi. Tujuan Blockchain bukan untuk dikontrol oleh suatu lembaga tertentu. Blockchain justru berdasarkan konsensus dan kesepakatan bersama, yang bisa dimonitor secara transparan.

Blockchain telah memberikan secercah harapan masyarakat tentang perlunya kehadiran sebuah era yang didominasi oleh kultur masyarakat yang berperadaban luhur. Slank menyebutnya dengan era 'pulau biru', atau al-Madinatul fadhilah dalam versi al-Farabi.

Suatu sore saya melanjutkan perbincangan dengan Konstantin, Zac Cheah dan Muhammad Said. Meeting kali ini membincang urgensi menghadirkan Cryptocurrency di tengah masyarakat Nahdliyyin. Termasuk lebih mengakrabkan Blockchain yang terbukti telah memberikan alternatif baru budaya internet yang berbasis moralitas.

Cryptocurrency ini kami beri nama nucoins yang sistem kerjanya bermazhab stablecoin, yaitu cryptocurrency yang dirancang untuk meminimalkan gejolak harga. Tema besar pilihan ini untuk merancang pasar uang yang lebih menjamin ketertiban dan stabilitas sosial. Kehadiran 'nucoins' tadi melengkapi fitur zakat, wakaf uang, iuran anggota, donasi yang telah tersedia di aplikasi NU Cash.

Penulis adalah Ketua PBNU.


Bagikan:
Sabtu 3 November 2018 0:0 WIB
Kaca Mata
Kaca Mata
(ilustrasi: pixabay)
Oleh Abdul Basyid 

Siapa yang tidak tahu kaca mata? Kaca mata adalah alat bantu penglihatan. Bagi mereka yang bermasalah penglihatannya karena usia, seperti plus atau minus, kaca mata menjadi solusinya. Namun, ada pula kaca mata hanya sebagai pemanis belaka, penunjang penampilan atau live style. 

Kaca mata memang bukan barang istimewa, karena selain mudah mendapatkannya, harga kaca mata pun sangat variatif tergantung kekuatan financial masing-masing pembeli. Jika uang terbatas kaca mata dapat dibeli di kaki lima.  Namun, jika uang  cukup berlebih, silahkan membeli kaca mata di optic dengan menggunakan resep dokter. 

Hal ini berbeda ceritanya jika kaca mata hanya sekedar pemanis penampilan. Mereka rela merogoh koceknya hingga ratusan ribu atau bahkan jutaan rupiah. Bahkan ke luar negeri pun mereka lakukan guna memenuhi kesempurnanaan penampilan sebagaimana yang sering dipertontonkan oleh selebritis kondang negeri ini.
    
Apabila kaca mata merupakan satu kebutuhan agar sesuatu yang dilakukan dapat berhasil maksimal,  tidak bisa tidak kacamata harus dipenuhi, agar sang pemakai kaca mata tidak menemukan hambatan dalam beraktivitas seperti mengaji, atau mengerjakan yang lainnya. 

Tetapi, akhir-akhir ini, banyak kegaduhan disebabkan kurang obyektifnya penglihatan mereka dalam memandang persoalan bangsa.  Semua tidak lepas dari pilihan kaca mata yang dipakainya. Maka tidaklah mengherankan jika produksi hoaks dari hari ke hari kian merajarela. 

Di zaman seperti ini, betapa pentingnya memakai kaca mata bening (transparan) dalam memahami persoalan kebangsaan atau masalah-masalah lainnya yang berhubungan dengan keumatan. Dengan berkaca mata bening diharapkan dapat bertindak dan berargumen sesuai fakta yang ditemukan. Bahkan di dalam diriya pun, tidak terbersit rasa untuk memfitnah atau mem-bully siapa pun. Jika hal ini disadari semua pihak, maka betapa eloknya negeri ini, suasana  damai dan kondusif akan terjaga sepanjang masa.

Fakta berbicara lain, riuh rendah, hiruk pikuk di media sosial yang sekarang menjadi ujung tombak propaganda sering mempertontonkan sesuatu yang tidak sehat. Cacian dan umpatan hingga berujung debat kusir di medsos  terus terjadi setiap hari. Semua juga tidak lepas dari pilihan kaca matanya. Bila dia memakai kaca mata merah, apapun yang dilakukan si merah akan sikapinya dengan baik. Begitu pula ketika dia memakai kaca mata hijau, kuning, biru atau hitam.

Parahnya ketika dia memakai kaca mata biru semua aktivitas atau karya bakti yang dilakukan oleh si merah, hijau, atau kuning selalu disikapi dengan sinis dan apatis oleh mereka yang berbeda kaca matanya, dengan dalih  tebar pesonalah, mencuri starlah , atau yang lainnya. Inikah yang dinamakan pendidikan politik di jaman milineal? Ataukah ini bagian dari cara berpolitik di era globalisasi ? Entahlah.

Fenomena tersebut bak gunung es ketika memasuki tahun politik. Para selebritis negeri, membuang jauh-jauh  kaca mata bening dalam bersikap. Ini sudah banyak dipertontonkan oleh selebritis Senayan. Bahkan, tempat  yang seharusnya untuk mendekatkan diri kepada Yang Kuasa juga dikotori dengan umpatan dan cacian yang kasar dari mereka yang memantapkan dirinya sebagai tokoh umat. Belum lagi mereka yang selama ini mengaku dirinya  penerus para nabi atau kekasih Tuhan juga ramai-ramai berteriak lantang membuat  opini pedas, menyakitkan bahkan provakatif padahal  tugas beliau untuk bermauidloh khasanah rakyat atau umat.  

Ironis memang! Tapi mau apalagi jika hal tersebut sudah menjadi mind set-nya dalam rangka membangun popularitas di tengah kegaduhan politik dalam negeri.

Namun demikain,  kita tidak boleh hanyut dalam carut marutnya keadaan. Kewaspadaan dan tabayun harus tetap terjaga agar kebeningan kaca mata tidak tenodai oleh intrik-intrik semu sebagaimana yang sering dipertontonkan oleh pengguna kaca mata hitam. Aktivitas pemakai  kaca mata hitam patut  diwaspadai, karena mereka sering menampilakan intrik-intrik yang dibalut agama. Agama dijadikan sarana berlindung guna memuluskan niat jangka panjangnya, sehingga orang menjadi terlena. 

Kaca mata hitam adalah tempat bersembunyi yang paling aman untuk  melakukan gerakan kemunafikan, atau  kebohongan kepada masyarakat.  Dia mau melirik, memandang, menatap, atau bahkan tertidurpun orang di sekitarnya tidak tahu. Maka tidaklah mengherankan bila mereka yang jiwanya  labil atau terbatas pengetahuan agamanya sering menjadi sasaran gerakannya. Sensifitas agama, golongan, dan semangat jihat  merupakan alat propaganda  paling banter dikampayekan di kampus-kampus atau di instansi pemerintah.

Oleh sebab itu, penting adanya pondasi akidah dan nasionalisme ditanamkan sejak dini. Jangan sampai kealpaan kita terhadap lingkungan berdampak runtuhnya pondasi yang sudah dibangun selama ini terutama ketika anak-anak memasuki usia emas. Bagi orang tua, pilihlah sekolah untuk anak-anaknya yang betul-betul diketahui latar belakangnya. Jangan sampai tergiur megahnya bangunan, jaminan hafal Al-Qur'an dan beasiswa, akidah dan jiwa nasiolisme anak-anak kita terbang melayang.     

Penulis adalah Mantan Pengurus IPNU PC Kendal, saat ini Pengurus Harian MWCNU Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal. 

Kamis 1 November 2018 2:0 WIB
Memahami Agama ala Don Quixote
Memahami Agama ala Don Quixote
ilustrasi: emaze.com
Oleh Miftakhul Ainun Arif

Ini merupakan pertama kalinya saya perasaan saya benar-benar kontras ketika membaca cerita Don Quixote. Sedih sekaligus senang di waktu yang bersamaan. Bahkan saya bingung harus memilih antara ingin tertawa atau terharu. Sungguh karya yang sangat fenomenal.

Don Quixote, Don Kisot, atau El Ingenioso Hidalgo Don Quijote de la Mancha versi asli spanyolnya, merupakan novel klasik awal abad ke 17 karangan Miguel de Cervantes yang mengisahkan tentang seorang lelaki paruh baya bernama Alonso Quixano yang terobsesi pada kisah fiksi ksatria pengelana dalam buku-buku yang dibacanya. Dengan mengenakan baju zirah dan pedang tinggalan kakek buyutnya. Dia lantas menyebut dirinya sebagai Don Quixote, ksatria dari La Mancha.

Sebagai orang tua yang dianggap gila (dan memang agak gila), Don Quixote mengalami berbagai macam tantangan. Salah satunya kala menemukan suatu penginapan di suatu tempat. Dengan spontan Don Quixote menyebutnya sebagai sebuah kastil. Ia pun memasukinya. Dengan sedikit terkejut, sang pemilik penginapan pun menjamunya seperti halnya pengunjung lainnya. Dan anehnya Don Quixote menyebut pemilik penginapan sebagai seorang raja dan meminta si ‘raja’ untuk menahbiskannya sebagai seorang ksatria kerajaan. 

Sang ‘raja’ pun mengabulkan permintaannya. Setelah penjamuan selesai, sebagai pemilik penginapan, dia menyodorkan tagihan kepada Don Quixote. Dengan jumawanya, Don Quixote menjawab bahwa ksatria kerajaan tidak diperkenankan membawa uang. Mendengar perkataan Don Quixote, tanpa babibu dia langsung mengusir Don Quixote dari penginapannya. “Dasar tua gila” umpatnya kepada Don Quixote.

Di lain kisah kala Don Quixote bertemu pasukan kerajaan yang sedang mengawal para tawanan kriminal, tiba-tiba Don Quixote menghadangnya. Dengan sedikit terhuyung-huyung, Don Quixote mengarahkan tombaknya ke arah pimpinan pasukan dan lantas memerintahkan untuk membebaskan tawanan yang ia anggap sebagai budak-budak. 

Sontak seluruh pasukan kaget. Momen tersebut kemudian dimanfaatkan para tawanan untuk menyerang dan berhasil melepaskan diri. Bukannya berterima kasih, tawanan tersebut malah menyerang Don Quixote dan mencambuk Rosinante, kuda Don Quixote, sehingga lepas kendali. Don Quixote yang sebelumya bak pahlawan, ia lalu nampak seperti orang tolol berbaju zirah yang tersungkur di atas tanah.

Sungguh saya ingin menangis dan tertawa di waktu yang sama.

Obsesi yang besar akan kegagahan ksatria dalam bukunya menyebabkan seorang Alonso Quixano lupa akan realita yang ada. Saking terobsesinya, dia bahkan mempraktikkan secara ‘utuh’ kisah-kisah yang telah dibacanya.

Seperti halnya sastra-sastra klasik yang dianggap abadi, ‘keabadian’ kisah Don Quixote pun masih terbukti hingga saat ini. Sayangnya bukan dari kisah ksatria pengelana, namun berasal dari kisah mereka yang mengaku paling beragama. Yakni orang-orang yang mempraktikkan secara ‘utuh’ apa yang ada dalam kitab suci mereka. Khususon bagi yang merasa paling ‘islam’.

Sejatinya dalam agama islam, semua aspek yang berhubungan dengan kegiatan peribadatan berdasar pada Al-Qur’an  dan hadits. Itu mutlak. Tidak boleh diganggu gugat.  

ذلِكَ اْلكِتَبَ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (Al-Baqarah; 2)

Namun dikarenakan Al-Qur’an  yang sudah pakem dan hadits yang jumlahnya terbatas sedangkan masalah-masalah yang dialami manusia semakin banyak dan dinamis. Oleh karena itu, selain pemahaman tekstual, diperlukan pula pemahaman kontekstual.

Pemahaman tekstual biasanya digunakan untuk membahas mengenai tata gramatikal suatu ayat atau hadits secara harfiah. Sedangkan pemahaman kontekstual lebih pada memahami keduanya terkait situasi, kondisi, serta maksud penggunaan kala kemunculan suatu ayat atau hadits. Pengkajian secara teks maupun konteks ditujukan agar mendapatkan pemahaman yang benar-benar lengkap, baik mengenai makna harfiah maupun inti sari dari suatu ayat atau hadits. Hal ini yang akan membuktikan universalitas islam.

Perintah Nabi, “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat”, maka pertanyaanya, seandainya ada sahabat Nabi yang shalat dibelakang Nabi lantas mendengar setelah takbir Nabi batuk 3 kali, apakah batuknya Nabi ini merupakan hal yang harus diikuti atau ini hanya sisi kemanusiaan Nabi yang kebetulan sedang batuk?” (Nadirsyah Hosen – Rais Syuriah PCI NU Australia)

Dan akan menjadi suatu kelucuan sekaligus kemirisan jika memahami dan mengamalkan suatu ayat ataupun hadits secara tekstual saja. 

Boro-boro mau pake smartphone, mau kemana-mana aja masih bingung. Kan, Nabi kemana-mananya pake onta,  bukan pake gojek, eh motor ding. 

Kalo masih aja ngotot, bisa jadi si doi itu Don Quixote jaman now.


Penulis adalah mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur.

Rabu 31 Oktober 2018 10:0 WIB
Keistimewaan Malam dan Seni Menghadapinya
Keistimewaan Malam dan Seni Menghadapinya
Usman Arrumy (istimewa)
Oleh Usman Arrumy

Pada suatu subuh ibu saya bercerita tentang salah satu kiai yang dikaguminya. Kiai tersebut sejak kecil begadang dan baru tidur ketika matahari sudah terbit. Ibu berkata, kalau bisa kamu seperti itu. Saya yang sudah ngantuk berat dan beranjak tidur asal mendengarkan, tapi anehnya sejak subuh itu, entah kenapa saya mendadak mendapat karunia dalam bentuk keberanian melawan kantuk.

Saya masih berusia sekitar antara 11 sampai 12-an tahun, dan saya tak meminta alasannya mengapa harus demikian—hal yang sejauh ini memang saya hindari begitu ibu saya sudah dawuh.
 
Baru belakangan saya mengadakan ijtihad apa sebenarnya yang ingin dicapai oleh ibu saya dengan cerita itu. Apa ibu saya hanya sekadar cerita kalau kiai dalam cerita itu tidak pernah tidur malam, atau ada pesan tersembunyi di balik cerita tersebut—mengingat bahwa ending dalam cerita berbunyi kalau bisa kamu seperti itu.

Karena yang bercerita adalah ibu dengan didasari ending semacam imbauan, itu sebabnya saya selalu terbayang bahwa ibu saya sedang menjalankan misi penempaan bagi anaknya. Apalagi saya berkeyakinan bahwa apapun yang terucap dari ibu mengandung kalimat Tuhan. Lagian, bukankah ibu, seperti kata WS Rendra, adalah kiblat nurani dari kehidupan kita?

Studi sederhana berikut bukan dalam rangka meragukan dawuh ibu saya yang di luar mainstream ini. Namun apa salahnya mensyukuri karunia dengan cara mencari penjelasan dari sesuatu yang tak konvensional dalam pola kehidupan banyak orang?

Saya juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin sekali menelaah anjuran ibu itu, minimal dengan penelusuran ini saya bisa sejenak terhindar dari kegiatan tak berguna, memotong resonansi mata rantai dari sesuatu yang berujung muspra-ngerasani teman, misalnya. Atau setidaknya dengan kerja telaah ini saya bisa sekaligus belajar mengolah wacana menjadi sebuah senandung dialektika.
 
Baiklah, kita mulai.
 
Pertama, yang langsung terlintas dalam pikiran saya adalah takjub kenapa malam kok bisa sampai dipakai Tuhan untuk menyatakan Sumpah—Surah Allail. Apa luar biasanya malam? Saya sempat agak jengkel karena tak kunjung menemukan alasannya. Maka sebagai dasar untuk memahaminya secara utuh, saya agaknya perlu mengadakan eksplorasi singkat. Karena itu, saya mesti lebih dulu mengekstrak definisi sumpah dari sudut pandang KBBI bahwa sumpah ialah:
 
-Pernyataan secara resmi dengan bersaksi terhadap sesuatu yang dianggap suci.
-Pernyataan yang disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya.
-Janji atau ikrar yang teguh.
 
Maka bila merujuk pada definisi di atas, tentu saja malam menempati posisi dari salah satu yang tak terjangkau oleh kesederhanaan tafsir. Maksudnya, malam adalah sesuatu yang sakral dan suci sehingga Tuhan secara resmi memakainya sebagai pernyataan sumpah. Artinya ada sesuatu yang agung yang tak dapat dicapai selain di dalam waktu malam. 

Maka satu-satunya cara untuk bisa menyaksikan keagungan itu, saya perlu menghadapi malam dalam keadaan sepenuhnya sadar. Terlebih jika menyertakan hal-hal yang senantiasa dipelihara malam; bintang dan bulan. Keduanya juga dipakai Tuhan untuk menyatakan sumpah secara resmi.

Urutannya seperti ini, malam adalah sesuatu yang sakral, dan kesakralan malam ditunjukkan dengan Tuhan memakainya sebagai alat sumpah. Bulan dan bintang adalah dua makhluk yang eksistensinya berada di dalam malam—juga dibuat Tuhan untuk bersumpah.

Kita, manusia, bersumpah dengan atas nama Tuhan, tapi Tuhan justru bersumpah dengan atas nama malam—bersumpah atas nama sesuatu yang diciptakan-Nya sendiri

Salah satu cirinya, shalat paling baik setelah fardhu adalah shalat allail, yaitu tahajud. Dan tahajud hanya bisa dilaksanakan pada waktu malam. Paling baik itu posisinya sudah tak ada yang melampaui. Apalagi kalau menyertakan dalil bahwa shalat adalah tiang dari agama. Artinya, tak ada aktivitas apapun yang kebaikannya melebihi ritual tahajud di waktu malam. 

Maka jika itu yang ingin dicapai oleh ibu saya, artinya betapa halus sindiran ibu; menyuruh tahajud tapi tidak memakai kalimat yang mengandung kata perintah untuk tahajud. Namun hanya disuruh melek wengi (bangun malam). Dan bila itu benar, alangkah ndableknya saya yang sudah tahu itu perintah-dalam garis bawah dan sekaligus distabilo, dan meski disampaikan dengan carasanepo, namun saya bersikeras pura-pura tidak tahu-menolak kesimpulan yang saya susun sendiri. 

Ataukah dengan dianjurkannya saya berjaga itu supaya untuk menghindari malas-malasan menjumpai subuh? Barangkali... Dan mengapa pula baru boleh tidur harus setelah matahari terbit? Ataukah ibu ingin mengasah anaknya ini agar punya daya tersinggung untuk malu tidur pagi? Sebab konon, kata orang-orang tua; sopo wonge turu lebar subuh, rizqine ditotol pitik rezekinya dipatok ayam). 
 
Oh, iya... Saya baru ingat, saya pernah sekali bertanya—dan selanjutnya tidak pernah, tentang manfaat melek wengi, dan beliau cuma jawab; Sing penting melek. Terserah meh lapo. (Yang penting berjaga, terserah mau ngapain). Heuheuheuheuheu
 
Kedua, saya jadi teringat di dalam kitab Kifayatul Adzkiya, bahwa sahrul layali—melek wengi, adalah salah satu dari empat syarat untuk mencapai maqom Wali Abdal. Sedikit keterangan, wali abdal menurut kebanyakan pendapat ulama jumlahnya hanya tujuh di dunia ini pada setiap zamannya. 

Mungkinkah ibu saya punya cita-cita terselubung agar saya menjadi wali abdal dengan potongan mbelgedhes seperti saya ini? Saya berupaya meyakin-yakinkan diri bahwa sesungguhnya tidak demikian yang dikehendaki beliau.

Atau jika benar tidak, bukankah seseorang yang menyerupai salah satu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut? Artinya, yang hendak dicapai oleh ibu saya, meski tidak menjadi wali abdal, paling tidak sudah menyerupai tirakatnya wali abdal. Oh tidak!
 
Ketiga, dalam salah satu hadis ada redaksi ini “عليكم بالدلجة فإن الأرض تطوى بالليل”—Hendaklah kalian mengadakan perjalanan di malam hari, karena bumi dilipat di waktu malam. Dalam redaksi tersebut Malam diucapkan dua kali, satu sebagai derivasi---الدلجة  dan lafal  الليل sendiri— Artinya, yang hendak dicapai dari redaksi itu adalah upaya menegaskan Malam sebagai waktu terbaik untuk mengadakan perjalanan.

Toh, perjalanan malam selalu lebih lancar ketimbang siang, kita tahu kalau waktu malam jalan raya sepi. Iya toh? Makanya, Isra’ Mi’raj juga dilakukan pada waktu malam. Lailatul Qadar juga itu berlangsung di malam hari. Al-Qur’an—menurut beberapa ulama’, juga diturunkan pada waktu malam. Dari sini, saya nyaris menemukan apa yang sejauh ini saya ingin simpulkan, bahwa saya disuruh ibu untuk keluyuran pada waktu malam. 

Tentu saja, yang dimaksud keluyuran dalam pengertiannya itu bukan hanya mengandung makna tunggal. Dengan kata lain, perjalanan malam itu punya makna ‘polisemi’-artinya bukan perjalanan fisik semata. Namun juga keluyuran secara ruhaniah. Mengadakan Outbound dengan misi mencari jatidiri. Sederhananya, bahwa perjalanan di situ sinonim dengan proses.

Sebuah proses bisa saja terjadi di alam pikiran, bisa saja berlangsung dalam imajinasi, bisa saja dalam bentuk bekerja via batin--- Bukankah doa adalah pekerjaan batin, perjalanan dari harapan ke pasrah? Dan seterusnya. Tentu saja, malam bukan satu-satunya medium bagi pejalan untuk mengadakan perjalanan. 

Hadis tersebut hanya menawarkan kemungkinan terbaik dari semua waktu yang ada, yaitu waktu malam sebagai rekomendasi bagi pejalan untuk mencapai tujuan secara lebih dinamis. Tentu saja pejalan di sini bukan sekadar pejalan kaki, kita bisa menafsirkannya sebagai pejalan apapun, termasuk pejalan cinta. Heuheuheuheu
  
Pendeknya, saya jadi menduga-duga bahwa Tuhan menciptakan malam semata agar ketenangan menemukan maknanya. Saya bersyukur untuk telah diberi karunia dalam bentuk keberanian menghadapi malam selama lebih dari lima belas tahun belakangan ini dengan keadaan sepenuhnya sadar. Sebab pada praktiknya, hanya sedikit orang yang bersedia dhohir-batin menerima karunia itu, bahwa sesungguhnya hanya sedikit orang yang ternyata siap menerima malam sebagai karunia.
 
Maka sejak saat itu sampai ketika saya tulis catatan ini, saya masih menjadi makhluk nokturno; yaitu menjadi manusia yang aktif pada saat keheningan mencapai tahap paling sublim. Malam adalah keheningan dalam bentuk lain, seperti kata Sapardi Djoko Damono bahwa malam sibuk di luar suara. Artinya jauh dari keramaian, kalau toh ada keramaian di waktu malam paling-paling itu cuma seorang jomblo yang sedang berurusan dengan kesepiannya. 

Akhir kalam, bila ada istilah begadang, bagi saya itu berlaku tidak pada waktu malam. Tapi antara jam 8 pagi sampai dhuhur dan kadang-kadang sampai ashar atau bahkan sampai maghrib. Atau bila saya ternyata kedapatan tidur malam, itu semata karena sedang khilaf. Sekian dan mohon dimaklumi adanya.
 
Kairo. 


Penulis adalah penyair, pegiat sastra
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG