IMG-LOGO
Nasional

Melawan Hoaks Tanggung Jawab Bersama

Ahad 4 November 2018 1:50 WIB
Bagikan:
Melawan Hoaks Tanggung Jawab Bersama
Jakarta, NU Online
Bahaya berita bohong atau hoaks bukan hanya tanggung jawab dari pemerintah semata, tapi merupakan tanggung jawab dari semua kalangan. Apalagi di era media sosial, di mana berita bohong dapat dengan mudah disebarluaskan melalui jejaring media sosial. 

“Tidak bisa hanya pemerintah saja yang memerangi berita hoaks. Para guru harus menyampaikan kepada murid-muridnya, tokoh agama atau tokoh masyarakat menyampaikan kepada umatnya atau masyarakatnya,” kata Ketua Umum Yayasan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Prof Siti Musdah Mulia di Jakarta, Sabtu (3/11).

Prinsipnya, cara terbaik memerangi berita hoaks adalah dengan berpikir kritis. Kebiasaan untuk berpikir kritis, menelaah dan mendalami informasi yang diterima melalui media sosial, akan membantu membedakan berita hoaks mana yang tidak. 

Namun begitu, kebiasaan berpikir kritis, menurut dia mulai menipis. “Yang hilang dari masyarakat kita ini adalah pemikiran kristis dan kehati-hatian serta pemahaman mengenai pentingnya menjaga perdamaian,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia mengingatkan agar tidak buru-buru membagikan konten media sosial, dalam berbagai bentuk baik artikel, gambar atau video yang belum tentu kebenarannya. Jikalaupun sudah dipastikan kebenarannya, ia juga mengingatkan apakah dengan membagikannya akan bermanfaat atau tidak.
 
“Kita  lihat dulu apakah ada manfaatnya apa tidak kalau kita share. Jadi kita bisa tahu, kalau di share ini bisa bahaya atau tidak,” lanjutnya.
 
Kecepatan penyebaran informasi saat ini juga tak lepas dari berkembangnya teknologi informasi. Namun ia mengingatkan bahwa di saat yang bersamaan kecanggihan  teknologi dapat membawa kebaikan sekaligus kemudaratan. 
 
“Semua itu juga tergantung kepada kedewasaan kita. Kita harus belajar menjadi dewasa, karena itu bagian dari  kita sebagai manusia yang dianugerahi akal sehat oleh Tuhan,” ujarnya.
 
Perilaku penyebaran hoaks sendiri tidak melulu berasal dari mereka yang level pendidikannya rendah. Sebagian penyebar infromasi ini juga berasal dari kalangan terdirik. 

“Saya sungguh-sungguh heran bahwa penyebaran hoax itu juga terjadi pada grup-grup media sosial yang didalamnya terdapat orang berpendidikan tinggi, profesor, doktor atau kelompok-kelompok orang terdidik. Saya juga heran hal ini bisa terjadi pada kelompok-kelompok terdidik. Pada urusan hoaks tidak ada bedanya, seolah-olah mereka bukan orang yang berpendidikan,” ujarnya.

Apa yang dikhawatirkan Prof Musdah Mulia pada dasarnya terkonfirmasi oleh temuan Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) dalam rilisnya beberapa waktu lalu. Dalam temuannya, Mafindo melakukan pemetaan konten hoaks di media sosial di Indonesia. Ada empat hal yang dihasilkan:  

Pertama, terdapat berbagai modus yang digunakan untuk membuat hoaks dan misleading Information yang bertujuan menyembunyikan kebenaran dan memicu kesalah pahaman. Di antara keduanya yang paling banyak adalah disinformasi yang mencapai 66.96 persen.

Disinformasi sendiri didefinisikan sebagai: penyampaian informasi yang salah (dengan sengaja) untuk membingungkan orang lain. Hal ini berbeda dengan Hoaks atau hoax (pemberitaan palsu), yang merupakan informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat-buat seolah-olah benar.

Kedua, konten baik yang bersifat hoaks (fakta palsu atau disinformasi) didominasi oleh konten politik dengan prosentase sebesar 58.70 persen. Ketiga sebagian besar hoaks tersusun dari gabungan narasi dan foto 50.43 persen. Keempat facebook menjadi media sosial yang sangat dominan dalam menyebarluaskan hoaks 47.83 persen, disusul Twitter 12.17 persen dan WA 11.74 persen.

Secara berurutan jenis konten hoaks didominasi oleh konten isu keagamaan, politik, etnis, kesehatan, bisnis, penipuan, bencana alam, kriminalitas, lalu lintas, dan peristiwa ajaib. (Ahmad Rozali)
Tags:
Bagikan:
Ahad 4 November 2018 22:0 WIB
HARI SANTRI 2018
Menjaga Indonesia Berarti Menjaga Agama
Menjaga Indonesia Berarti Menjaga Agama
Ketua PCNU Kabupaten Bekasi, KH Bagus Lukito (berdiri)
Bekasi, NU Online
Bagi Nahdlatul Ulama (NU) mencintai dan menjaga Indonesia sama halnya dengan mencintai dan menjaga agama Islam.

Demikian diungkapkan Ketua Pengurus Cabang (PC) NU Kabupaten Bekasi KH Bagus Lukito, dalam perayaan puncak Hari Santri 2018 di OSO Sport Centre, Grand Wisata, Tambun Selatan, pada Ahad (4/11) pagi.

"Indonesia memiliki potensi aset yang kaya, masjid ada sekitar 800 ribu, bahkan menurut NU ada sejuta lebih. Madrasah dan pesantren, hafidh qur'an, jamaah haji dan umroh, bahkan makam para wali, Indonesia ini gudangnya," kata disambut gemuruh hadirin.

Ia mengajak agar nahdliyin, khususnya di Kabupaten Bekasi untuk mengintrospeksi diri. Sebab lahir, besar, mencari nafkah, nikah, dan memiliki banyak keturunan di Indonesia. "Bahkan, kita akan mati dan dikubur di tanah Indonesia. Makanya, mencintai Indonesia sama dengan mencintai agama Islam itu sendiri," tambahnya.

Lebih lanjut dikatakan, sebagian besar warga negara Indonesia, beragama Islam. Tapi apa alasannya bendera yang digunakan adalah berwarna merah-putih, bukan bendera berkalimat tauhid ? "Sebab keimanan, ketauhidan, dan keislaman itu ada di hati," tandasnya. 

Sekalipun benderanya merah-putih, tapi jika beriman dan menjalankan syari'at agama, lanjut Kiai Bagus, maka orang Islam di Indonesia sudah bertauhid. "Ukuran keimanan dan ketauhidan itu bukan karena mengibarkan bendera berkalimat laa ilaaha illallah saja. Dalam perayaan Hari Santri di Bekasi, Alhamdulillah bendera itu tidak ada," tegas Kiai Bagus.

Menurutnya, hubbul wathon minal iman sudah cukup bagi warga NU. "Maka, jika kita mencintai Indonesia sudah pasti mencintai agama kita yaitu Islam," pungkasnya.

Acara yang dihadiri oleh seluruh pengurus PCNU Kabupaten Bekasi dan unsur badan otonom serta lembaga, juga dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Rais PCNU Kabupaten Bekasi KH Mohammad Dahim. (Aru Elgete/Muiz)
Ahad 4 November 2018 12:15 WIB
Indonesia Salah Satu Eksportir Kopi Terbesar di Dunia
Indonesia Salah Satu Eksportir Kopi Terbesar di Dunia
Source: Sadacoffee
Jakakrta, NU Online
Indonesia merupakan salah satu negara dengan pernghasil kopi terbesar di dunia. Dalam catatan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) mencatat, Indonesia masih menjadi salah satu negara eksportir kopi terbesar di dunia. Total nilai ekspor Indonesia cukup fantastis. Pertahunnya, total ekspor yang berasal dari industri kopi sebesar USD 1,2 miliar atau sekitar Rp16,8 triliun (mengacu kurs Rp14 ribu per USD). Total nilai ekspor tersebut tidak selalu sama dan bisa berubah ubah, tergantung bagaimana harga kopi di pasar dunia.

"Per tahun itu (produksi kopi Indonesia) sekitar 630 ribu ton. Pokoknya itu kopi secara keseluruhan. Belum yang eksportable. Biasanya yang eksportable itu 430 ribu atau 450 ribu ton. Sisanya sekitar 160 ribu-170 ribu ton lah untuk konsumsi dalam negeri," ujar Wakil Ketua AEKI Pranoto Soenarto baru baru ini. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor kopi nasional pada 2017 tumbuh 12,56 persen menjadi 464 ribu ton dari tahun sebelumnya. 
 
Amerika Serikat (AS) menjadi pasar kopi terbesar bagi Indonesia. Tidak kurang dari 63 ribu ton atau sebesar 13 persen dari total ekspor kopi nasional dikirim ke AS dengan nilai mencapai US$ 256 juta. Negara tujuan ekspor utama kopi Indonesia lainnya adalah Malaysia, Jerman, Italia, Rusia dan Jepang.

Kualitas kopi Indonesia juga sudah banyak mendapat pengakuan dunia. Yang terbaru, Agency for the Valorization of the Agricultural Products (AVPA) Gourment yang berkantor di Paris, Prancis, Jumat akhir pekan lalu memberikan pengakuan atas itu.
 
Country Manager AVPA untuk Indonesia, Annelis Putri dalam keterangan persnya menyebut Presiden Juri AVPA André Rocher mengaku terkejut dengan kualitas kopi Indonesia yang sangat bervariasi. Ahli organoleptik yang sangat mengenal dunia kopi sejak menjadi penanggung jawab kualitas kopi di Douwe Egberts (1971) serta Jacobs dan Kraft Foods/Mondelez International (sampai 2009) itu juga mengatakan, kopi Indonesia mengalami banyak kemajuan.

Apresiasi senada diberikan juri Serge Edmond, yang menyebut kopi Indonesia memiliki kualitas roasting yang baik. Penikmat kopi di Perancis menyukai light sampai medium roast. 
 
Dengan keunggulan ini, 23 kopi Indonesia dari 11 produsen berhasil memenangkan penghargaan yang diserahkan di arena pameran The Salon Internasional de l’Agroalimentaire (SIAL) Agrofood di Paris. SIAL Agrofood merupakan salah satu pameran agrofood terbesar di dunia. (Red: Ahmad Rozali)
Ahad 4 November 2018 12:10 WIB
Mentan Amran: Kualitas Kopi Indonesia Makin Diminati Dunia
Mentan Amran: Kualitas Kopi Indonesia Makin Diminati Dunia
Jakarta, NU Online
Peluang ekspor produk kopi Indonesia semakin terbuka lebar, menyusul keberhasilan sejumlah produsen kopi yang menyabet penghargaan Agency for the Valorization of the Agricultural Products (AVPA) Gourment di Paris, Prancis, Jumat akhir pekan lalu.
 
“Ini mengindikasikan kualitas produk kopi Indonesia sudah semakin diakui pasar global,” kata Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Pengakuan pasar Internasional ini merupakan harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan petani kopi.

Menurutnya, pengakuan pasar global ini tidak lepas dari semakin banyaknya Kopi Indonesia yang sudah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis (IG), sebagai salah satu persyaratan untuk menembus pasar Internasional selain sertifikat organik.
 
“Kementan mendukung upaya-upaya pemangku kepentingan industri perkebunan kopi Indonesia, agar bisa lebih  bersaing mengacu pada selera pasar Internasional yang berbeda-beda”, katanya.   

Country Manager AVPA untuk Indonesia, Annelis Putri dalam keterangan persnya menyebut Presiden Juri AVPA André Rocher mengaku terkejut dengan kualitas kopi Indonesia yang sangat bervariasi. Ahli organoleptik yang sangat mengenal dunia kopi sejak menjadi penanggung jawab kualitas kopi di Douwe Egberts (1971) serta Jacobs dan Kraft Foods/Mondelez International (sampai 2009) itu juga mengatakan, kopi Indonesia mengalami banyak kemajuan.

Apresiasi senada diberikan juri Serge Edmond, yang menyebut kopi Indonesia memiliki kualitas roasting yang baik. Penikmat kopi di Perancis menyukai light sampai medium roast. 
 
Dengan keunggulan ini, 23 kopi Indonesia dari 11 produsen berhasil memenangkan penghargaan yang diserahkan di arena pameran The Salon Internasional de l’Agroalimentaire (SIAL) Agrofood di Paris. SIAL Agrofood merupakan salah satu pameran agrofood terbesar di dunia. 
 
Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan langsung oleh Presiden AVPA Philippe Juglar kepada Deputy Chief of Mission dari KBRI Paris Agung Kurniadi, dan Annelis Putri selaku country manager AVPA Indonesia. Keduanya mewakili para produsen kopi Indonesia yang berhalangan hadir.
 
Kompetisi yang diselenggarakan AVPA sepanjang bulan Oktober itu diikuti lebih dari 170 produsen kopi dari seluruh dunia. Selain Indonesia, peserta kompetisi juga datang dari Brasil, Kamerun, Kolombia, Kongo, Amerika Serikat (Hawaii), Gabon, El Salvador, Honduras, Kenya, Laos, Meksiko, Peru, Puerto Rico, Tanzania, Togo, dan lain-lain.
 
AVPA adalah organisasi di Prancis yang memiliki kepedulian membantu produsen produk pertanian dari seluruh dunia, utamanya untuk memasarkan produk mereka di Eropa. Tiap tahun, AVPA menggelar kompetisi “Coffee roasted in their country of origin” untuk membantu pemasaran roasted coffee (kopi yang sudah disangrai) negara produsen di Eropa.
 
Dalam kompetisi AVPA, Indonesia adalah negara kedua yang mendapatkan penghargaan terbanyak, setelah Kolombia (25 penghargaan untuk 14 produsen). Penghargaan Gourmet dibagi menjadi empat kategori: Gold Gourmet, Silver Gourmet, Bronze Gourmet, dan Simple Gourmet.
 
Dari 23 penghargaan untuk produk kopi Indonesia itu, tiga di antaranya memenangi kategori Gold Gourmet, yakni Kopiku Tanah Air Kita - Papaku Manggarai (produsen dan roastery), Le Plein d'Sens - Kopi Luwak France, dan Kawi Mengani Bali - Sweet Honeydew. (Red: Ahmad Rozali)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG