IMG-LOGO
Daerah

Akhlakul Karimah; Wujud Nyata Kualitas Keberagamaan Manusia

Senin 5 November 2018 21:45 WIB
Bagikan:
Akhlakul Karimah; Wujud Nyata Kualitas Keberagamaan Manusia
KH Imam Taufiq ketika mengisi pengajian di Masjid Agung Jawa Tengah.
Semarang, NU Online
Akhlak adalah sesuatu yang menggerakkan jiwa dan hati seseorang untuk berbuat dan berperilaku dengan kesadaran penuh tanpa adanya rekayasa maupun dorongan dari pihak manapun. 

Sepenggal kalimat itulah yang disampaikan KH Imam Taufiq ketika mengisi pengajian rutinan yang diselenggarakan di MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah), Semarang, Ahad (4/11). 

Kajian kali ini membahas tentang urgensi akhlak relevan dengan kondisi negara Indonesia maupun umat Islam dalam menghadapi problematika yang tak kunjung ada habisnya. Peran akhlak di sini sangat penting untuk menjaga silaturahim dengan tujuan meminimalisir tersebarnya fitnah yang kian merajalela.

“Selain itu, banyaknya berita hoaks yang tersebar, apabila tidak disikapi dengan bijak, akan memberikan dampak tidak baik,” ungkapnya.

Pentingnya akhlakul karimah dalam diri seseorang menjadi bukti bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kebaikan umatnya agar senantiasa berperilaku dan bertindak sesuai syariat. “Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW turun ke bumi tak lain untuk menyempurnakan akhlak umatnya,” tegasnya. 

Akhlak menjadi cita-cita Nabi ketika beliau diturunkan pertama kali dari langit. “Mengingat kembali pada saat Nabi lahir zaman tersebut dinamakan dengan zaman jahiliyah. Disebut demikian karena mayoritas umat pada saat itu kualitas akhlaknya sangat rendah,” urainya. 

Salah satu contohnya tentang kasus anak perempuan yang lahir harus dibunuh dengan alasan akan mempermalukan. “Padahal di sisi lain ketika sudah beranjak dewasa, justru menjadi hal yang diperebutkan untuk dijadikan istri atau budak,” terangnya. Tidak ada lagi unsur memanusiakan manusia. Kondisi saat itu sangat parah hingga diutuslah Nabi Muhammad untuk memulihkan ke jalan yang benar, lanjutnya.

“Akhlak itu bersifat spontan, datang secara tiba-tiba dan sudah tersirat di dalam hati tanpa ada pemikiran sebelumnya,” jelasnya. Akhlak menjadi karakteristik bagi seseorang. Bagaimana ia berbuat, demikianlah akhlak yang dimiliki, lanjut Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo ini.

Paparan yang disajikan kali ini menjadi tuntutan bagi seseorang agar mulai terbiasa menerapkan akhlak sebagai sesuatu yang melekat. “Menjadikannya sebagai bagian intirn dengan cara meneguhkan iman dan memegang teguh nilai tauhid secara murni tanpa ada perkara yang menjadikan kita meragukan Allah, seperti halnya takut pada masalah harta atau jabatan,” ungkapnya.

Orang yang memegang teguh nilai tauhid berarti menjadikan Allah sebagai sumber kasih dan sayang. “Sifat rahman dan rahim Allah inilah yang harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan ditanamkan sebagai salah satu ciri akhlakul karimah,” pungkas guru besar ilmu tafsir yang sering disapa Abah Imam oleh para santrinya mengakhiri kajian.

Jamaah dari berbagai tempat terlihat memenuhi area MAJT untuk mendengarkan siraman rohani yang sebelumnya diisi dengan kegiatan berjanjenan terlebih dahulu. (Rizal/Ziya/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Senin 5 November 2018 23:30 WIB
Alumni Aura Nusantara Gagas Pertemuan dan Aneka Kegiatan
Alumni Aura Nusantara Gagas Pertemuan dan Aneka Kegiatan

Semarang, NU Online

Alumni Aura Nusantara Semarang telah mengadakan pertemuan atau Kopdar di kediaman Gus Prabowo Edhi Kuncoro selaku Pengasuh Yayasan Aura Nusantara Perum BCL (Bawen City Land) Kecamatan Bawen, Semarang, Jawa tengah. Forum ini dihadiri sejumlah perwakilan dari berbagai wilayah di Semarang.


Acara dikemas dalam perbincangan ringan dan tukar pikiran antar alumni lalu disambung dengan diskusi betema rapat agenda Kopdar akbar dan ziarah para wali.


"Saya berharap kopdar akbar alumni Aura Nusantara beda dengan sebelumnya,” kata Budi Popo, Ahad (4/11). Karena itu dirinya mengajak para alumni Aura Nusantara Semarang berpartisipasi dalam membentuk kepanitian agar kopdar pekan depan sukses tanpa halangan, lanjut admin dan pemimpin rapat tersebut.


Agenda tersebut akan dihadiri alumni dari berbagai daerah luar kota. Jadwal yang akan datang di awali dengan Kopdar dan pengajian dengan diiringi Robana sampai selesai. 


Kemudian lanjut ke tujuan tempat ziarah, terdiri dari beberapa tempat antara lain Sunan Drajat (Raden Qosim), Sunan Giri (Raden Paku), Syeikh Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Syeikh Cholil Bangkalan, dan terakhir Batu Ampar. 


Forum pertemuan yang berlangsung hingga mau menjelang Dhuhur ini berhasil membentuk kepengurusan dan di akhir dengan doa penutup dari Pengasuh Yayasan Aura Nusantara. (Rozi/Budi/Ibnu Nawawi)


Senin 5 November 2018 22:0 WIB
MI Ma’arif NU 1 Pasir Wetan Banyumas Undang Guru Asing
MI Ma’arif NU 1 Pasir Wetan Banyumas Undang Guru Asing
Banyumas, NU Online
Berbagai cara dapat dilakukan satuan pendidikan untuk menciptakan pembelajaran yang menarik. Satu di antaranya yang dilakukan Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif NU 1 Pasir Wetan, Karanglewas, Banyumas, Jawa Tengah dengan mengundang guru dari Cologne, Jerman untuk mengajar bahasa Inggris. 

Awalnya MI Ma’arif NU 1 Pasir Wetan mendapatkan bantuan fisik sarana pendidikan dari lembaga Kinderhilfe, Jerman. Untuk mengembangkan pembelajaran, madrasah ini juga mengundang guru dari lembaga ini untuk mengajar bahasa Inggris. 

Guru MI Ma’arif NU 1 Pasir Wetan, Hendra Yulianto, mengatakan tujuan pembelajaran ini untuk melatih siswa kreatif dalam berbahasa asing. Siswa dapat berinteraksi langsung dengan warga asing secara aktif menggunakan bahasa Inggris.

“Melalui interaksi secara langsung akan memberikan motivasi belajar yang menarik. Meski hanya beberapa hari, namun upaya ini diharapkan mampu menambah minat belajar bahasa Inggris siswa,” terang pria yang juga alumnus Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Purwokerto itu, Senin (5/11).

Dia menjelaskan kehadiran Anna Doss, guru dari Cologne, Jerman dapat memberikan suasana baru pembelajaran bahasa Inggris. Siswa akan semakin tertarik dan penasaran dalam setiap pembelajaran. :Sehingga dapat meningkatkan kemampuan dasar menulis dan membaca dalam mata pelajaran bahasa Inggris,” ungkapnya.

Terpisah, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Kabupaten Banyumas, Fauzi menyampaikan cara pembelajaran ini perlu dikembangkan untuk motivasi peningkatan kemampuan bahasa Inggris siswa. 

“Suasana interaksi belajar semakin menyenangkan dengan guru sebagai model secara langsung dari ahli bahasa dan warga asing,” papar pria yang juga Wakil Dekan I FTIK IAIN Purwokerto ini.

Fauzi menambahkan, mendatangkan guru model dalam pembelajaran bahasa Inggris dapat diintegrasikan dengan pelajaran seni, budaya dan keterampilan. Guru dan siswa dapat studi banding dengan warga asing tersebut. 

“Kami harap ke depan terjalin kerjasama bidang pertukaran pelajar dan beasiswa studi di luar negeri. Sehingga belajar di lembaga pendidikan Ma’arif semakin membanggakan,” pungkasnya. (Musmuallim Ma’arif/Ibnu Nawawi)

Senin 5 November 2018 21:15 WIB
Tanggung Jawab NU Tak Semata Diniyah, Juga Wathaniyah
Tanggung Jawab NU Tak Semata Diniyah, Juga Wathaniyah
Peresmian kantor MWCNU Kroya, Cilacap, Jateng.
Cilacap, NU Online
Pada hari Ahad (4/11) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kroya Cilacap, Jawa Tengah menggelar peresmian gedung baru. Acara yang dirangkai dengan peringatan Hari Santri ini dihadiri Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap, KH Su'ada Adzkiya, Ketua PCNU Cilacap, dan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, KH Muhammad Muzamil.

Dalam sambutannya, Rais PCNU Cilacap mendorong agar gedung baru ini difungsikan semaksimal mungkin. 

Selain itu, KH Su’ada Adzkiya juga mengamanatkan warga NU meningkatkan ikhtiar ruhaniah dalam menghadapi kondisi akhir ini agar keadaan segera menjadi tenang. “Nahdliyin hendaknya bertindak hati-hati dan penuh perhitungan,” katanya.

Sementara KH Muhammad Muzamil menyatakan bahwa sejak dulu aktivitas  NU telah berjalan meski tanpa kantor. “Kami harapkan gedung MWC NU Kroya bisa menjadikan gerak organisasi NU khususnya di Kroya semakin maju,” ungkapnya. 

Dirinya mengingatkan jangan sampai keberadaan gedung hanya menjadi gudang debu. “Karena hanya dikunci dan jarang digunakan,” katanya.

KH Sya'roni Sam'ani pada ceramahnya mengingatkan tanggung jawab NU bukan hanya dalam persoalan diniyah, namun juga wathaniyah.

“Oleh karena itu, warga NU harus senantiasa meningkatkan wawasannya agar bisa mengemban dua amanat ini,” kata Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Tengah ini. 

Dalam hal amanat wathaniyah, ia menyatakan bahwa Nahdliyin harus bisa berada di garis depan dalam membela negara dan mengayomi seluruh warga negara. “Semangat menganyomi siapa saja inilah yang menjadi spirit rahmatan lil alamin,” tandasnya. (Irfan Ibrahim/Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG