IMG-LOGO
Daerah

Ini Dua Hal yang Sering Dilupakan Generasi Bangsa

Selasa 6 November 2018 1:0 WIB
Bagikan:
Ini Dua Hal yang Sering Dilupakan Generasi Bangsa
Wakil Katib PWNU Jateng, KH Nasrulloh Afandi (kanan)
Jepara, NU Online
Untuk menjadi generasi cinta NKRI yang berkualitas, khususnya generasi NU dan generasi bangsa pada umumnya, agar tidak sering lupa, perlu melihat kembali sejarah awal sebelum berdirinya NU, yang mendahulukan cinta tanah air dan intelektualitas. 

Demikian disampaikan oleh Wakil Katib Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng KH Nasrulloh Afandi, dalam acara pelatihan untuk pelatih yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Jepara, 1-4 November di Bangsri Jepara.

“Mbah KH Wahab Hasbullah, tutur Gus Nasrul, sapaan akrabnya, sebagai sang inisiator berdirinya NU, ketika beliau baru kembali ke tanah Air usai menimba Ilmu dari Makkah, pertama kali yang di didirikan oleh beliau tahun 1916 adalah gerakan bernama 'Nahdlatul Wathon' (Kebangkitan Tanah Air)," ungkapnya.

Dikatakan, sebagai upaya menanamkan cinta tanah air kepada publik, lanjut Doktor Maqashid Syariah Alumnus Universitas al-Qurawiyin Maroko itu adalah bentuk ekspresi mbah Kiyai Wahab bahwa dalam membangun generasi bangsa harus mendahulukan cinta tanah Air.

Seiring waktu, kemudian Mbah Kiai Wahab Hasbullah, mendirikan forum bernama 'Tasywirul Afkar', sebagai media pengembangan intelektualitas (1919).

Menurut Nasrulloh, dua gerakan di atas merupakan cikal-bakal berdirinya NU organisasi terbesar di dunia. “Dapat disimpulkan bahwa cinta tanah air dan intelektualitas adalah dua pilar utama yang tidak bisa dipisahkan untuk membangun suatu bangsa dan negara, karena generasi yang punya rasa cinta tanah Air, tapi jika tanpa intelektualitas, tentu kurang berperan," jelas kiai yag juga aktif di ISNU Jateng itu.

Nasrullah mengatakan, di antara resikonya generasi tanpa intelektualitas memadai, adalah mudah saling caci-maki, saling hujat, saling fitnah di medsos. "Bahkan mungkin bisa terjebak oleh gerakan fundamentalis politisasi simbol-simbol agama atas nama bela negara.

"Begitu juga generasi muda yang punya bekal intelektualitas, tanpa didahului dengan cinta tanah air, maka akan mudah bergabung dengan terorisme,” pungkas kiai muda yang juga menantu Pengasuh Pesantren Balekambang Jepara itu. (Red: Muiz)
Bagikan:
Selasa 6 November 2018 21:30 WIB
Tantangan Dakwah di Kawasan Pedalaman Semakin Berat
Tantangan Dakwah di Kawasan Pedalaman Semakin Berat
Surabaya, NU Online
Dengan menggandeng sejumlah kalangan, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jawa Timur mengirimkan sejumlah dai dan daiyah di beberapa daerah. Setiap saat dilakukan koordinasi demi memastikan kehadiran mereka dapat diterima baik masyarakat.

“Pengiriman dai dan daiyah kalau di Baznas Jatim masuk program Jatim Taqwa,” kata KH Abdurrahman Navis, Senin (5/11). 

Dalam pandangan Wakil Ketua II bidang pendistribusian Baznas Jatim tersebut, keberadaan para dai serta daiyah dalam kapasitas untuk meningkatkan keimanan warga. “Bukan untuk tujuan lain,” kata Kiai Navis, sapaan akrabnya.

Karena selama ini ada sejumlah kawasan di Jatim yang ternyata masih sangat membutuhkan para ustadz dan ustadzah. “Tujuannya, itu tadi yakni memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait keimanan dan keislamannya,” jelasnya. 

Menurut kiai yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya ini, kegiatan juga akan melibatkan sejumlah pesantren. “Lantaran lokasi minus yang ada catatan kami, ternyata juga berada di kota yang di sana ada pesantren besar,” ungkapnya.

Dalam perjalanannya, para dai dan daiyah ini akan melakukan pendampingan agama kepada masyarakat. “Bisa dengan menyapa masjid dan mushalla maupun mendatangi rumah warga untuk memberikan penjelasan dan pendampingan akidah,” jelas dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel tersebut.

Demikian pula, telah dilakukan koordinasi dan kerja sama dengan Baznas tingkat kabupaten dan kota. “Skemanya sudah diatur dan disepakati, sehingga saling melengkapi,” ungkapnya.

Kiai Navis mengingatkan bahwa ada banyak program di Baznas Jatim yang bisa diikutkan dalam pengiriman dai dan daiyah tersebut. “Telah ada lima program unggulan dari Baznas yaitu Jatim Sehat, Jatim Cerdas, Jatim Makmur, Jatim Peduli, dan Jatim Sejahtera," katanya di ruang rapat Baznas Jatim. 

Dengan demikian, para dai dan daiyah tidak semata menyapa kaum Muslimin di tempatnya bertugas. “Juga bisa menyelaraskan dengan lima program Baznas Jatim yang lain,” urainya.

Pada pertemuan tersebut juga diberikan sejumlah isian yang akan dilakukan para dai dan daiyah selama bertugas. “Berdakwah dan menyapa warga, juga melaporkan perkembangan yang ada di lapangan,” tandasnya.

Para dai dan daiyah yang diundang adalah dari daerah Bondowoso, Tulungagung, Gresik, serta Lumajang. (Ibnu Nawawi)


Selasa 6 November 2018 20:30 WIB
Keberadaan PAUD Dorong Semangat Pendidikan Warga
Keberadaan PAUD Dorong Semangat Pendidikan Warga
Bogor, NU Online
Staf Khusus Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Tommy Kurniawan mengunjungi PAUD As-Syifa. Lokasinya berada di desa lingkar kampus Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), yakni di Jalan Gardu, Jampang, RT 3, RW 2, Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kepada wartawan di Bogor, Tommy Kurniawan mengemukakan, kunjungan tersebut dimaksudkan sebagai upaya memperkuat keberadaan PAUD di lingkar kampus Unusia Kemang dan wilayah Bogor lainnya. “Dalam upaya mencerdaskan anak usia dini,” katanya, Selasa (6/11).

Kunjungan mendapatkan sambutan hangat dari warga setempat. Ratusan warga yang didominasi kaum ibu, tumpah ruah di komplek PAUD As-Syifa, yang berjarak 1 KM dari kampus Unusia, Kemang.

Pria yang akrab disapa Tomkur ini hadir didampingi aktivis muda Nahdlatul Ulama Kabupaten Bogor yang juga warga Kemang, Ahmad Fahir, dan diterima Kepala PAUD As-Syifa, Rida dan jajaran guru.

“PAUD As-Syifa semoga dapat terus tumbuh dengan baik, sehingga manfaat keberadaannya semakin dirasakan oleh warga sekitar,” harapnya.

Menurutnya, kehadiran lembaga pendidikan seperti PAUD As-Syifa sangat penting. “Karena dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengakses pendidikan anak sejak usia dini," ujarnya.

Ahmad Fahir selaku aktivis muda NU, menambahkan, pengembangan PAUD sebagai upaya nyata warga Kabupaten Bogor dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Indeks Pembangunan Manusia atau IPM maupun angka rata-rata lulus sekolah di Kabupaten Bogor terbilang masih rendah, karena belum menyentuh 9 tahun atau lulus SMP. “Keberadaan PAUD yang nyaris merata di setiap desa diharapkan dapat mendorong gairah pendidikan di Bogor," tegas Fahir.

Kepala PAUD As-Syifa, Rida, menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas kunjungan staf khusus Menpora RI dan aktivis NU, Ahmad Fahir, ke lembaga yang ia kelola.

“Kehadiran ini diharapkan dapat memacu semangat siswa dalam belajar dan memberi semangat orang tua dalam menyekolahkan putra putrinya hingga jenjang tertinggi,” tandasnya. (Ibnu Nawawi)

Selasa 6 November 2018 20:0 WIB
Kaderisasi dan Militansi Jadi Program Prioritas IPNU Mesuji
Kaderisasi dan Militansi Jadi Program Prioritas IPNU Mesuji
Pengurus IPNU Mesuji
Mesuji, NU Online
Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Mesuji, Lampung Winarso mengatakan, program kerja organisasi pelajar NU yang dinahkodainya selama dua tahun ke depan akan difokuskan pada pengkaderan. Ini ditujukan untuk meningkatan kuantitas dan kualitas kader sekaligus meningkatkan jiwa militansi anggota.

"Arah kompas pergerakan IPNU bersama IPPNU dua tahun ke depan itu bagaimana langkah-langkah kaderisasi, meningkatkan jiwa militansi kader, membentengi para pelajar dengan semangat Ahlussunnah wal Jama'ah, membendung paham-paham wahabi, radikal transnasional yang akhir-akhir ini menjadi isu penting di bumi Nusantara ini," ungkap Winarso kepada NU Online, Selasa (6/11).

Hal tersebut penting karena saat ini paham Islam transnasional dan pengusung wahabi, khilafah dan paham-paham lainnya terus bergerak menggerogoti paham Islam Aswaja An Nahdliyah dari berbagai lini khususnya di sekolah-sekolah. Dengan menyusup ke dalam organisasi-organisasi pelajar, paham ini dengan terstruktur mendoktrin para pelajar dan pemuda sehingga terpengaruh paham mereka.

"Ini sangat mengkhawatirkan jika tidak dibendung. Kader-kader NU bisa salah jalan dan terkontaminasi paham-paham lain di luar NU," ujarnya.

Program kerja strategis ini lanjutnya sudah dirumuskan dalam Rapat Kerja Cabang (Rakercab) IPNU Mesuji yang dilaksanakan pada pertengahan Oktober 2018 lalu. Untuk sosialisasi program ini, pihaknya akan melakukan kunjungan ke tujuh kecamatan di Mesuji.

"Kita akan Kopdar di tujuh kecamatan di Kabupaten Mesuji sekaligus upaya pelebaran sayap kaderisasi sehingga IPNU dan IPPNU dapat dikenal di pelosok Mesuji. Kita awali di Kecamatan Rawajitu Utara," jelas Winarso yang bersama kepengurusan IPNU lainnya dilantik pada 3 Oktober 2018 lalu.

Memaksimalkan program ini, IPNU dan IPPNU sudah berkoordinasi dengan Pengurus Cabang NU Kabupaten Mesuji. Menurut Winarso, Ketua PCNU Mesuji sangat mendukung langkah strategis organisasinya demi terwujudnya jamiyyah NU yang kuat di Mesuji.

"Nadlatul Ulama merupakan ormas terbesar di Indonesia dengan komposisi badan otonom, salah satunya IPNU dan IPPNU. Jika semua banom maksimal dalam kaderisasi dan saling bersinergi maka NU khususnya di Mesuji akan lebih kuat," katanya mengungkapkan optimisme ketua PCNU Mesuji. (Red: Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG