IMG-LOGO
Humor

Peci Santri

Selasa 6 November 2018 3:0 WIB
Bagikan:
Peci Santri
foto ilustrasi
Dalam kehidupan pesantren,  guyonan sesama santri menjadi hal biasa. Bahkan tak jarang pula, diantara santri saling 'ngerjain' temannya dengan maksud bercanda.

Suatu hari di sebuah warung kopi sebelah pesantren, beberapa santri menikmati kopi dan sarapan pagi. Kang Mamat, seorang santri yang lama tidak ke warung, datang dengan penampilan memakai sarung dan peci butut agak kusam.

Setelah pesan wedang kopi dan nasi pecel, kang Mamat duduk bersama santri lainnya. Mereka saling ngobrol dan menikmati sajiannya. Obrolannya pun ringan mulai dari soal kegiatan santri sehari-hari sampai guyonan yang menyegarkan.

"Kang Mamat, pecimu kok antik," tiba-tiba Agus nyeletuk.

"Iya tho, meskipun terlihat kusam, peci ini sangat berharga bagiku," Sahut Mamat.

"Peci kumut-kumut begitu, emange kenapa kang?," ucap santri lainnya.

"Ya gak kenapa-kenapa sih, kalau kamu minat silakan beli 200 rbu,!" jawab mamat berkelakar.

"Walah, peci begitu 200 ribu, siapa yang mau," tanya Agus agak jengkel.

Tanpa menjawab, kang Mamat mengeluarkan uang yang terselip dalam pecinya untuk membayar kopi dan nasi uduk.

"Seandainya kamu tadi mau bayar 200 ribu, kamu masih untung 100 ribu. Karena ini ada 300 ribu hehehehe," kata kang mamat sambil menunjukkan uang dalam lipatan pecinya.

Agus dan santri lain yang sedang jajan di warung, hanya tersenyum sambil melongo melihat 'ulah' Mamat.

Memang, santri seringkali menjadikan peci sebagai dompet untuk menyimpan uang. Karena, Santri suka memakai sarung yang tidak ada sakunya. Dibalik lipatan peci tersimpan uang secara rapi dan aman. (Qomarul Adib/Muiz)
Tags:
Bagikan:
Ahad 30 September 2018 15:15 WIB
Inayah Wahid: Saya Alumni 212 yang Sah
Inayah Wahid: Saya Alumni 212 yang Sah
Inayah Wahid (kanan)
Saat hadir di Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara dalam rangka Bedah Buku 'Merindu Gus Dur', Jumat (28/9) kemarin, putri Gus Dur, Inayah Wahid menerima pertanyaan dari salah satu peserta.

"Mbak, jika hari ini Gus Dur masih hidup kira-kiranya bagaimana komennya dengan aksi 212," tanya Arif, peserta dari Jepara.

Menanggapi pertanyaan itu, perempuan bernama asli Inayah Wulandari ini menjawab dengan enteng. "Ta' kasih tau ya, sebenarnya alumni 212 yang sah, ya saya," jawabnya disambut tawa hadirin.

Kenapa?

"Karena saya dan kakak saya Anita, dulu sekolahnya di SMPN 212 (Jakarta)."

Meskipun sebagai alumni yang sah, katanya, saat ada reuni di Monas dirinya merasa tidak diundang.

Lalu bagaimana sikap Gus Dur jika saat ini masih hidup? 

"Paling-paling Bapak enggak komen. Atau jangan-jangan beliau malah hadir di situ (Monas)," jawabnya lagi. Tawa pun membahana di Auditorium Pascasarjana Unisnu Jepara. (Syaiful Mustaqim)
Jumat 28 September 2018 14:0 WIB
Peristiwa Menggelikan di Tengah Pembebasan Kota Makkah
Peristiwa Menggelikan di Tengah Pembebasan Kota Makkah
Ilustrasi Makkah (via Pinterest)
Di tengah kemenangan Nabi dan kaum Muslimin dalam perjuangan membebaskan Kota Makkah (Fathu Makkah), ada satu peristiwa ketika Abu Sufyan dan para pembesar Quraisy akhirnya menyerah dan bersedia mengikuti petunjuk Nabi Muhammad SAW.

Kemudian Nabi meminta kepada para pimpinan pasukannya, baik pasukan dari jalur normal, pasukan lembah, dan pasukan bukit untuk menyatakan, al-yaum yaumal marhamah (hari ini hari kasih sayang).

Namun, salah seorang sahabat Nabi berteriak: al-yaum yaumal malhamah (hari ini adalah hari pertumpahan darah). Atas pernyataan dari sahabat Nabi tersebut, penduduk Makkah kembali diselimuti ketakutan.

Abu Sufyan gentar kemudian melayangkan protes, kenapa menjadi hari pertumpahan darah padahal sebelumnya diumumkan hari kasih sayang dan hari pengampunan.

Rasulullah lalu menjawab, tidak begitu maksudnya. Sahabat itu lidahnya cadel, tidak bisa menyebut huruf ra, sehingga huruf ra terucap la.

Hal itu yang menyebabkan kalimat al-yaum yaumal marhamah berubah menjadi al-yaum yaumal malhamah sehingga menimbulkan kesalapahaman. (Fathoni)


*) Kisah ini disarikan dari buku "Khutbah-khutbah Imam Besar" karya KH Nasaruddin Umar (2018)
Jumat 21 September 2018 8:30 WIB
Ingin Gelar ‘Gus’ Biar Jadi Presiden
Ingin Gelar ‘Gus’ Biar Jadi Presiden
Gus Dur dikenal sebagai sosok yang dekat dengan siapa saja dan dari kalangan mana pun. Suatu sore ia didatangi seorang tamu, pemuda non-Muslim.

Setelah mengaji kebangsaan kepada Gus Dur, pemuda tersebut bertanya tentang sebutan yang melekat pada diri Gus Dur. Pemuda itu merasa, panggilan ‘Gus’ begitu istimewa.

"Gus, kuliah di mana biar saya dapat gelar ‘Gus’ seperti Gus Dur?" tanya si pemuda.

"Enggak ada kuliah dan wisudanya," kata Gus Dur menimpali.

"Kalau gelar kiai dan ulama?" tanya si pemuda lagi ingin paham lebih jauh.

"Sama juga. Hehehe. Kenapa kamu bertanya begitu?" ucap Gus Dur.

"Saya pengin dapat gelar Gus supaya jadi Presiden kayak panjenengan,” selorohnya. (Ahmad)


Kisah ini disampaikan oleh KH M. Luqman Hakim, Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG