IMG-LOGO
Opini

Belajar Kebijaksanaan Hidup dari Sunan Kalijaga

Selasa 6 November 2018 7:0 WIB
Bagikan:
Belajar Kebijaksanaan Hidup dari Sunan Kalijaga
Ilustrasi (ist)
Oleh M. Naufal Waliyuddin

Seorang tokoh yang dulunya terkenal sebagai “Berandal Lokajaya”, dan kelak dipanggil Sunan Kalijaga, adalah salah satu dari sembilan wali (Wali Songo) yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa secara pesat—bahkan meluas hingga ke penjuru Nusantara. Beliau lahir pada tahun 1450 M sebagai putera dari seorang Bupati Tuban, Tumenggung Wilatikta, dengan nama asli Raden Sahid. 

Namun seiring perjalanan hidup, banyak masyarakat dari daerah yang berbeda yang mengenal Sunan Kalijaga dengan julukan-julukan tertentu. Beberapa di antaranya; Syeikh Melaya, Lokajaya (ketika di Hutan Jatisari), Raden Abdurrahman, Pangeran Tuban, Ki Dalang Sida Brangti (di Pajajaran), Ki Dalang Kumendung (di daerah Purbalingga), Ki Dalang Bengkok (Tegal), dan Ki Unehan (di Majapahit).

Pada mulanya, di usia remaja, Raden Sahid tumbuh menjadi jagoan ilmu silat tetapi semakin nakal. Raden Sahid muda suka melakukan tindak kekerasan semena-mena, bertarung, dan merampok. 

Karena itulah Raden Sahid diusir oleh keluarga, sehingga melanjutkan bertempat tinggal di Hutan Jatisari dan masih merampok kalangan ningrat yang melewati jalur tersebut untuk dibagikan kepada kalangan rakyat jelata. Dari situlah julukan Lokajaya tenar (Yudi Hadinata, Sunan Kalijaga, 2015).

Sampai suatu ketika, Raden Sahid bertemu dengan Sunan Bonang, dan merampas tongkatnya yang berdaun emas. Sunan Bonang justru terharu, sambil menasehati Raden Sahid yang masih muda, tentang tindakannya yang seakan berniat suci, tetapi dilakukan dengan cara yang kotor. “Bagai wudlu’ menggunakan air kencing”, ungkap Sunan Bonang.

Maka sebelum meninggalkan Raden Sahid, dengan sedikit rasa iba Sunan Bonang pun mengubah buah kolang-kaling, yang masih di pohonnya, menjadi emas seluruhnya. Seketika itu juga Raden Sahid mengikuti sosok yang baru dijumpainya tersebut, karena ingin berguru ilmu kesejatian kepadanya.

Dengan bekal ilmu silat dan jiwa yang tangguh, Raden Sahid akhirnya mempelajari banyak ilmu dari Sunan Bonang. Seperti kesenian, kebudayaan masyarakat lokal, yang membuatnya memahami dan menguasai kesusastraan Jawa, pengetahuan falak, serta ilmu pranatamangsa (pembacaan cuaca). Bahkan ilmu-ilmu ruhaniah dalam ajaran Islam juga beliau selami sampai diangkat menjadi wali di Tanah Jawa.

Setelah mendapatkan gelar Sunan Kalijaga, beliau disarankan oleh Sunan Bonang agar pergi haji, mengunjungi Ka’bah di Mekkah. Namun pada perjalanannya, saat tiba di wilayah Malaka, beliau bertemu dengan guru-guru lainnya, yakni Maulana Maghribi dan Nabi Khidir. 

Kemudian Sunan Kalijaga disarankan untuk kembali ke Jawa dan berdakwah di sana. Daripada sekadar melihat Ka’bah bikinan Nabi Ibrahim secara zhahir, yang justru akan rentan menjadi berhala di hati jika terus terbayang-bayang, alangkah baiknya engkau ajarkan ilmumu kepada masyarakat di Tanah Jawa, begitu nasehat dari guru barunya.

Sunan Kalijaga menuruti kembali ke Jawa dan memutuskan untuk mengawali dakwah di daerah Cirebon, tepatnya di desa Kalijaga, untuk mengislamkan penduduk sekitar, termasuk Indramayu dan Pamanukan.

Model dakwah beliau dalam menumbuh-kembangkan nilai-nilai keislaman di Jawa, lebih banyak dilakukan melalui pendekatan seni dan kearifan budaya lokal (local wisdom). Meski tidak hanya itu saja yang dijadikan oleh beliau sebagai media dakwah.

Sunan Kalijaga juga diketahui menyumbangkan banyak ide; seperti perancangan alat-alat pertanian di masyarakat, design corak pakaian, permainan-permainan tradisional untuk anak-anak, pendidikan politik dan sumbangsih bentuk ketatanegaraan yang baik di kalangan elit kerajaan pada masa itu (Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, 2016).

Berbagai kisah dan peninggalan sejarah, baik yang berupa manuskrip naskah (serat), tembang-tembang, gubahan puitis, falsafah, rancangan beserta lakon wayang kulit, formasi alat-alat gamelan, sampai tutur cerita lisan mengenai Sunan Kalijaga, telah tersebar luas dan tidak lekang oleh waktu dari masa ke masa.

Kelanggengan ajaran dan jasa beliau tersebut tidak lain adalah karena ketekunan, keistiqamahan, dan kebijaksanaan Sunan Kalijaga dalam berdakwah dengan cara yang halus, santun, toleran dan tanpa paksaan sama sekali.

Suro Diro Jayaningrat
Lebur Dening Pangastuti

“Segala sifat keras hati, picik, sok kuasa dan angkara murka, 
hanya bisa dileburkan oleh sikap bijak, lembut hati, dan sabar.”

-Falsafah Sunan Kalijaga-

Mengenang masa mudanya sendiri yang berontak terhadap kekuasaan kalangan elit dan kemelaratan suatu kaum, Sunan Kalijaga menyadari sesuatu, bahwa untuk menyebarkan nilai-nilai budi pekerti luhur (akhlaqul karimah) kepada masyarakat Jawa, tidak bisa dilakukan dengan cara kekuatan, apalagi paksaan.

Beliau mempelajari watak dan budaya penduduk sekitar, kalau mereka adalah tatanan masyarakat yang mudah lari jika dipaksa untuk mengikuti sesuatu yang baru bagi mereka. Tetapi mereka suka dengan kesenian, keramahan, dan nilai-nila luhur yang serupa. 

Sunan Kalijaga pun merancang pendekatan yang sesuai dengan penduduk Jawa, yaitu akulturasi budaya. Dengan menyisipkan nilai-nilai Islam ke dalam segi-segi budaya lokal, Sunan Kalijaga berharap mutiara agama Islam dapat hidup menyala terang secara abadi di hati masyarakat selama-lamanya.

Urip Iku Urup: 

“Hidup itu nyala. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. semakin besar manfaat yang bisa kita berikan, tentu akan lebih baik.”

-Falsafah Sunan Kalijaga-

Sepanjang usianya yang diperkirakan 131 tahun, beliau tidak habis-habisnya berjuang dengan berkeliling ke berbagai daerah demi pengajaran nilai-nilai kemanusiaan—dengan berbagai kelengkapan dimensinya—kepada masyarakat. Dapat kita saksikan betapa cerdas dan bijaknya beliau dalam melakukan pertunjukan wayang keliling yang digemari masyarakat desa, dan tiketnya bukanlah memakai uang atau barter, melainkan dua kalimat syadahat.

Kebijaksanaan, keluhuran budi-pekerti, tawakkal dan kewaskitaan ilmu batin beliau tanamkan melalui hal-hal yang seakan dipandang sepele, tetapi mampu bertahan lama melintasi berbagai zaman. Mulai dari fase akhir kerajaan Majapahit, Demak, Pajang, hingga masa awal Mataram.

Beliau juga merupakan salah satu wali yang memiliki banyak karomah dan keistimewaan. Keistimewaan beliau yang utama adalah keluasan jiwa, toleransi dan tenggang rasa yang tinggi. Dan dengan keistimewaan dan sosok beliau yang multitalenta itulah yang menjadikan Islam hidup dan mengakar di Bumi Nusantara.

Dakwah beliau tidak hanya menyentuh kalangan elit saja, melainkan juga menjangkau masyarakat yang terpinggirkan di pelosok-pelosok. Dari kalangang ningrat hingga rakyat yang melarat. Dewasa maupun kanak-kanak. Tidak pandang mulai dari para bromocorah, preman, berandalan, hingga para bangsawan dan pejabat tinggi pemerintahan. 

Kepada semuanya beliau tetap berlaku sama, egaliter dan toleran. Penuh kasih sayang dan mengayomi. Mendidik dan membimbing secara lemah lembut. Tetap perlahan dan penuh kesabaran. Sunan Kalijaga meneladani itu semua dari sang junjungan, Nabi Muhammad SAW.

Memayu Hayuning Bawono
Ambrasto Dur Hangkoro

“Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan di muka bumi (rahmatan lil-‘alamin). 

Serta memberantas angkara murka, serakah, dan tamak dalam dirinya.”

-Falsafah Sunan Kalijaga-


Penulis adalah pemuda asal Mojokerto, alumni CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati prodi Tasawuf Psikoterapi angkatan 2013. Aktif menulis esai dan sastra dengan nama pena “Madno Wanakuncoro”
Tags:
Bagikan:
Senin 5 November 2018 17:45 WIB
Islam Marah-marah?
Islam Marah-marah?
Ilustrasi (ist)
Oleh Zastrouw Al-Ngatawi

Judul di atas bukan bermaksud membuat ajaran atau sekte baru dalam Islam. Bukan pula memecah belah Islam yang satu dan tidak bisa pecah-pecah lagi. Atau merusak ajaran Islam yang sudah final dan sempurna sehingga tidak perlu lagi tambahan apapun, sebagaimana tudingan yang dilakukan oleh beberapa orang terhadap Islam Nusantara. Judul di atas hanya refleksi  atas tampilan wajah Islam yang diekspesikan oleh sekelompok orang yang mengaku Islam dan menggunakan simbol-simbol Islam dalam perilaku sosial dan gerakan politik akhir-akhir ini

Secara fatual kita menyaksikan wajah Islam saat ini lebih banyak dipenuhi oleh ekspresi kemarahan dan kebencian. Ekspresi ini tidak hanya terjadi di ranah wacana yang ada di media sosial tapi sudah merambah ke dunia nyata. Seperti terlihat dalam demo atas nama Islam yang isinya hujatan dan kata-kata kebencian. Bahkan masjid dan majelis taklim yang mestinya menjadi tempat beribadah untuk membersihkan hati dan mencari ketenangan sudah teralih fungsi menjadi tempat provokasi, menyebar fitnah dan menyemai kebencian atas nama Tuhan dan Islam.

Banyak orang yang merasa harus marah dan benci pada kompok lain supaya menjadi muslim yang kaffah. Semakin garang, semakin marah dan semakin membenci seolah mereka menjadi muslim yang baik dan shaleh. Perasaan ini kelihatannya bersumber dari ayat: "..... asyiddau alal kuffar wa ruhamau bainahum" (bersikap tegas/keras pada orang kafir dan lemah lembut pada sesama muslim, QS al-Fath: 29).

Yang dipahami secara tekstual kemudian diajarkan secara massif dan provokatif. Dan celakanya, pemahaman kafir pun mengalam pendangkalan dan penyempitan makna. Orang-orang yang berbeda tafsir dan pemahaman terhadap Islam bahkan berbeda pilihan politik dianggap kafir sehingga perlu diperangi dan disikapi secara tegas. Inilah yang menyebabkan mereka mudah marah dan membenci.

Dalam Islam, marah (ghadab) itu diperbolehkan untuk membela diri ketika diserang, membela kehormatan, harta benda, kepentingan umum, menolong orang yang terdzolimi dan mempertahankan agama. Inilah yang disebut dengan marah yang terpuji. 

Meski dalam Islam memperbolehkan marah namun harus dilakukan dengan persyaratan yang ketat dan kendali yang kuat. Ini untuk menjaga agar kemarahan tidak sampai menimbulkan kerusakan dan membuat pelakunya tergelincir dalam dendam dan emosi yang justru bisa menodai niat dan merusak cintra Islam. 

Sikap menjaga niat dalam kemarahan agar tidak terkotori oleh dendam pernah dicontohkan oleh Sayyidina Ali. Ketika beliau berhasil meringkus lawan dan tinggal membunuhnya tiba-tiba lawan tersebut meludahi Sayyidina Ali. Seketika beliau melepas lawan tersebut dan tidak jadi membunuhnya. Orang tersebut terkejut dan heran, kemudian berkata: "Kenapa kau lapas aku dan tidak jadi membunuhku?".

Dengan tegas Sayyidina Ali menjawab: "Aku khawatir membunuhmu bukan karena Allah tapi karena dendam dan kebencianku padamu akibat ulahmu yang telah meludahiku". Kisah Sayyidina Ali ini bisa menjadi cermin bagaimana menjaga hati dan niat dalam kemarahan, lebih-lebih jika kemarahan itu dilakukan demi agama.

Mengendalikan diri dan menjaga niat dalam kondisi marah bukanlah perkara mudah. Karena sulitnya mengendalikan amarah dari jebakan dendam dan tindakan destruktif, maka ketika ada seorang sahabat yang minta nasihat pada Nabi, beliau menjawab agar jangan mudah marah. Dan jawaban itu dilakukan sampai tiga kali.

Para sufi mengajarkan ilmu tasawuf melalui dzikir dan laku suluk untuk menjaga kelembutan hati dan mengolah kepekaan batin agar tidak mudah marah. Melalui laku tasawuf seseorang dilatih menaklukkan diri sendiri, mengendalikan nafsu amarah sehingga mampu bersikap tegas tanpa kekerasan, menaklukkan tanpa kebencian.

Selain itu, para sufi juga menggunakan cara humor untuk menjaga hati agar tidak mudah larut dalam kemarahan. Di dunia sufi, humor tidak saja berfungsi sebagai sarana mentertawakan diri sendiri untuk mengikis kesombongan diri, tetapi juga sarana bercermin dan menanamkan nilai kearifan. Dalam hal ini kita bisa melihat kisah-kisah Nasrudin Hoja, Abu Nawas yang bernuansa humor tapi sarat makna. 

Melalui laku dan nilai-nilai tasawuf ini ajaran Islam bisa diekspresikan secara arif dan penuh kesejukan tanpa kehilangan ketegasan. Tasawuf juga bisa menjaga muatan spritual dalam beragama sehingga tidak mudah terjebak dalam penjara  teks dan berhala simbol. Beragama tanpa spiritual inilah yang memunculkan sikap kering, keras dan kaku yang membuat pemeluk agama menjadi mudah marah, mudah memusuhi dan suka membenci. 

Jika agama diekspresikan dengan kemarahan dan kebencian maka agama akan mengalami distorsi dan disfungsi. Dan inilah pelecehan agama yang nyata. Bisa dikatakan orang-orang yang mengekspresikan agama dengan sikap marah dan membenci, menebar rasa permusuhan terus menerus dan selalu membuat keresahan itulah yang justru menista agama.

Tak ada agama yang baik kecuali yang dijalankan, diekspresikan secara baik oleh pemeluknya sehingga membawa kemaslahatan dalam kehidupan nyata. Sebaik apapun agama jika dijalankan secara culas, jahat, penuh amarah, dan kebencian, maka agama tersebut akan terlihat jahat dan culas. Orang-orang yang mengekspresikan Islam dengan penuh kebencian dan selalu marah inilah yang bisa disebut sebagai Islam marah-marah. 


Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta
Senin 5 November 2018 12:0 WIB
Ketika Media di Negeri Ini Kehilangan Daya Tabayun
Ketika Media di Negeri Ini Kehilangan Daya Tabayun
Ilustrasi (ist.)

Oleh: Gatot Arifianto

Rentang waktu antara Sabtu, 9 September 2017 hingga Ahad, 4 November 2018 cukup panjang. Bagi suatu berita sudah jelas basi. Tapi dalam kondisi politik bangsa bergejolak plus masyarakat kehilangan daya kritis dan tabayun, apapun bisa mendadak hangat, bahkan panas.

Salah satu media Online, pada September 2017 menurunkan berita berjudul: Segini Jumlah Pasukan Banser di Indonesia-Saat Ini, Lebih Banyak dari TNI.

Ketika itu, Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) membuka Konferensi Wilayah XIV GP Ansor Wilayah Sulawesi Selatan, di pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al Imam Ashim, Tammangapa Bangkal, Manggala, Makassar.

"Kalau kita mau bicara soal TNI, jumlah kader banser di Indonesia itu jauh lebih banyak dari TNI," katanya saat menyapa Kasdim Tabes 1408/BS Makassar, Letkol Nur Subekhi yang hadir mewakili Pangdam Hasanuddin, Mayjen Agus SB.

Jumlah Banser seluruh Indonesia saat ini kurang lebih lima juta, sedangkan TNI  sekitar 600 ribu. Wajar saja, setiap bulan sekali, kaderisasi Ansor dan Banser di seluruh Indonesia berjalan. Bertambah antara 1.000 hingga 4.000 kader.

"Tawur tangan kosong menang kita, asalkan jangan pakai senjata, pastinya prajurit TNI menang. Ini untuk latihan dan olahraga," canda Gus Yaqut.

Panglima Tertinggi Banser itu menegaskan, tidak bermaksud membandingkan pasukan yang dimiliki NU dan pasukan TNI untuk berkelahi, tapi untuk latihan dari prajurit TNI ke pasukan Banser.

Paska kegaduhan pembakaran bendera HTI (organisasi yang dibubarkan pemerintah) yang biasanya dikibarkan para pembesar hingga simpatisannya dengan pekikan Takbir, di Garut, Jawa Barat, berita tersebut didaur ulang lagi.

Dipublikasikan pada Ahad, 4 November 2018, dengan isi berita masih sama, namun beda judul: Ketum GP Ansor: Tawur Tangan Kosong, Banser Menang Lawan TNI, dan beberapa judul senada.

Tangkapan layar (capture) berita daur ulang itu mendadak viral lantaran hanya judulnya disebarluaskan tanpa isi berita.

Bagi masyarakat Indonesia yang belakangan kehilangan daya tabayun, hal tersebut berdampak fatal, percaya begitu saja dan melanjutkan share ke media sosial, barangkali sambil menggerutu dalam hati terhadap Banser.

Kenapa berita tersebut didaur ulang dengan judul provokatif semacam? Ada banyak jawaban. Seperti untuk tujuan membenturkan Banser dengan TNI untuk menambah gaduh kondisi bangsa.

Kita yang waras dan terutama muslim semestinya merujuk Al Hujurat Ayat 6: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu".

Kapan kita percaya, dewasa, belajar bernas, jika hoaks agawe bubrah (membuat kerusakan), seperti tangan-tangan yang tak lelah membuang sampah sembarangan, merusak lingkungan tanpa mau sadar jika menistakan Ar-Ruum 41?

Indonesia ialah kebangsaan dan kebanggaan kita. Sudahkah yang kita lakukan memberi dampak membanggakan dan bermanfaat bagi bangsa?

Mana lebih maslahat? Membuat kreativitas yang berdampak pada tersambungnya silaturahim untuk memperkuat dan memajukan bangsa atau mencipta suara-suara sumbang untuk memecah belah bangsa?

Penulis adalah Asinfokom Satkornas Banser

Ahad 4 November 2018 22:45 WIB
Menelaah Kembali Makna Ukhuwah
Menelaah Kembali Makna Ukhuwah


Ahmad Zainul Hamdi*

Umat Islam sedang diadu. Di Timur Tengah antarsesama negara Islam saling berperang. Bahkan, di dalam satu negara, antarsesama umat Islam saling membunuh. Di Indonesia, antarsesama umat Islam saling mengolok, bahkan saling serang. NU dan FPI saling berhadapan, Banser dan HTI saling mengancam. Intinya, umat Islam Indonesia tidak bisa menjaga ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam). Pedihnya lagi, saat umat Islam sedang bertengkar, umat non-Muslim sorak-sorak bergembira. Mereka melakukan pemurtadan massif saat umat Islam saling berperang dengan sesama saudaranya.

 

Kita mungkin sangat sering mendapatkan kiriman pesan seperti itu. Saking banjirnya pesan-pesan seperti itu yang masuk ke gadget kita melalui berbagai layanan lini massa, nyaris setiap hari saat kita membuka gadget, kita akan menemukannya, terutama jika kita berada dalam grup pertemuan di media sosial.

 

Narasinya yang sangat halus dan persuasif itu mengakibatkan nyaris tidak ada orang Islam yang memiliki kesetiaan atas agamanya yang tak terpengaruh olehnya. Apalagi,kalau pesan-pesan semacam itu dikemas dalam naras-narasi dakwah keislaman yang dibumbui dengan dalil-dalil, sentimen keislaman siapa yang tidak cepat bangkit.

 

Yang terbangkitkan dari sentimen keislaman kita adalah perasaan bahwa Islam sedang berada dalam ancaman kehancuran. Ancaman kehancuran Islam ini tidak lain karena ada skenario pemusnahan Islam yang dikembangkan oleh umat non-Muslim. Intinya, kita sedang berada dalam perang global antara Islam dengan non-Islam. Karena ini perang agama, maka taruhannya tidak hanya harta, tapi juga nyawa. Dalam situasi ini, maka setiap Muslim harus dipanggil untuk memperkuat barisan Islam dalam menghadapi non-Muslim yang menjadi musuh Islam, yang setiap saat siap untuk menghancurkan Islam, yang setiap detik mengembangkan strategi untuk meluluhlantakkan Islam dan umat Islam. Di titik ini, ukhuwah Islamiyah harus diperkuat. Tidak boleh ada pertentangan di antara sesama Muslim. Perpecahan sesama Muslim hanya akan memberi jalan kemenangan bagi non-Muslim dalam pertempuran hidup-mati ini.

 

Pernahkah Anda teraduk sentimen keislaman Anda seperti itu karena broadcasting via media sosial yang bertemakan ukhuwah Islamiyah? Saya sendiri mungkin ratusan kali mendapat kiriman pesan dengan konten yang kurang lebih sama. Saya hafal logikanya, termasuk apa target hasil yang diinginkan dari pesan-pesan seperti itu. Biasanya, pesan-pesan seperti itu dengan sangat halus memojokkan NU sebagai kelompok Islam yang mengkhianati ukhuwah Islamiyah karena NU getolnya NU menjaga keragaman Indonesia (termasuk keragaman agama dan keyakinan), sambil menghadapi siapa saja (termasuk kelompkm Islam tertentu) yang ingin melenyapkan kebhinnekaan Indonesia.

 

Ada tiga jenis ukhuwah: ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama bangsa [Indonesia]), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan-universal).Tiga jenis ukhuwah ini merupakan rumusan KH. Achmad Sidiq, mantan Rais Am Syuriah NU (1984-1991), seorang kiai kharismatik dari Jember Jawa Timur yang sangat mumpuni dalam keilmuan Islam, dengan wawasan pemikiran yang sangat luas.

 

Pertanyaannya adalah apakah ukhuwah Islamiyah boleh menghancurkan ukhuwah wathaniyah, ataukah sebaliknya? Penjelasan dari pertanyaan ini harus menyertakan faktor lain, yaitu tindakan adil. Marilah kita mengandaikan ukhuwah Islamiyah dengan persaudaraan dalam keluarga, sedang ukhuwah wathaniyah dengan persaudaraan dalam sebuah desa. Tidak ada seorang pun yang akan setuju jika ada pertengkaran dengan sesama saudara di dalam satu keluarga. Setiap orang tua pasti menasihati anak-anaknya untuk rukun dan saling membantu. Jika ada dua orang saudara yang bertengkar, orang tualah pihak pertama yang hatinya akan terluka.

 

Sekalipun demikian, bayangkan jika kita memiliki seorang saudara yang melakukan kejahatan (misalnya, membunuh atau mencuri harta tetangga), apa yang akan kita lakukan? Apakah atas nama kerukunan sesama saudara kita akan turut membantunya? Bersama-sama membunuh orang dan kompak dalam melakukan pencurian? Sebagai orang yang memiliki aturan moral, memahami mana tindakan baik dan buruk, menaati orang tua yang tak pernah henti menasihati agar kita tidak melakukan tindakan kejahatan kepada orang lain, serta terikat dalam tata aturan desa di mana kita hidup, kita tentu akan menasihati dan menghalangi saudara kita sendiri agar tidak melakukan kejahtan. Bahkan, tindakan kita bisa lebih jauh, jika kita tidak sanggup menghalangi saudara kita sendiri dari tindakan kejahatan yang dilakukannya, kita akan melaporkannya ke aparat keamanan agar dia mendapatkan hukuman.

 

Dalam titik ini, kita berhadap-hadapan dengan saudara sendiri dan menjadi bagian masyarakat desa untuk memastikan bahwa desa di mana kita tinggal aman dari seluruh tindakan kejahatan. Jika ini yang kita lakukan, apakah kita sedang mengkhianati ikatan persaudaran dengan saudara kita? Mungkin orang tua kita akan sedih, namun bahkan terhadap saudara sendiri pun kita harus bertindak adil. Jika pembunuhan dan pencurian adalah sebuah tindakan kejahatan, maka ia tetap sebuah tindakan kejahatan sekalipun yang melakukan adalah saudara sendiri. Kita akan jatuh ke dalam tindakan kejahatan yang sama jika kita membiarkan saudara sendiri melakukan kejahatan, apalagi jika sampai turut terlibat di dalamnya. Ada satu prinsip moral penting, “Orang yang membiarkan terjadinya sebuah tindakan kejahatan, pada dasarnya dia adalah pelaku kejahatan”.

 

Begitu juga dengan pesaudaraan sesama warga desa, ia tidak boleh menjadi alasan untuk menghancurkan persaudaraan dalam keluarga. Desa di mana kita hidup adalah sebuah lingkungan sosial yang lebih luas dari ikatan keluarga. Di dalamnya ada sekian banyak keluarga yang memiliki cara pandang dan keyakinan yang beragam. Setiap cara pandang dan keyakinan di dalam masing-masing keluarga tidak boleh memberi dampak destruktif bagi tatanan sosial di tingkat desa. Desa juga harus dijalankan berdasarkan prinsip non-intenvensionis terhadap setiap cara pandang dan keyakinan yang ada di masing-masing keluarga.

 

Pada dasarnya, desa dibangun untuk memastikan agar setiap keluarga mendapatkan jaminan keamanan dan kedamaian dalam menjalani hidup. Aparat desa boleh dan harus bertindak tegas berdasarkan aturan jika ada warganya yang melakukan pelanggaran hukum yang mengancam kelangsungan kehidupan sosial desa, tak peduli siapa dia dan dari dari keluarga mana. Keadilan harus ditegakkan karena di atas prinsip inilah relasi antara persaudaran-keluarga dengan persaudaran-warga-desa terbangun dengan sehat.

 

Jika ada pihak yang mengingkari prinsip ini, maka sebetulnya diam-diam orang itu tidak menginginkan kedamaian kehidupan sosial di desanya. Atau, diam-diam ia ingin menguasai desanya, di mana yang lain harus tunduk di bawah kekuasaan keluarganya. Jika ini motifnya, maka persaudaraan keluarga telah kehilangan maknanya, karena ia tidak lebih hanya menjadi dalih dari tindakan ketidakadilan yang hendak dilakukannya.

 

Apakah kalau kita berantem dengan saudara sendiri, tetangga pasti sorak-sorak bergembira? Jika Anda sedang bermusuhan dengan tetangga, bisa dipastikan tetangga Anda akan bahagia melihat Anda bertengkar dengan saudara. Tapi masalahnya adalah apakah Anda sedang bermusuhan dengan tetanggap atau tidak. Kalapun ada tetangga yang memushi Anda, apakah dengan sendirinya Anda bisa menyimpulkan bahwa semua orang di desa memusuhi Anda sehingga mereka merasa gembira melihat Anda yang sedang ribut bertengkar dengan sesama saudara.

 

Ada dua kemungkinan. Pertama, asumsi Anda benar bahwa setiap ada petengkaran di internal keluarga, orang sedesa berbahagia. Jika semua orang di desa saling merasa gembira melihat tetangganya yang tengah berduka, maka desa itu pada dasarnya sudah tidak lagi layak menjadi tempat tinggal. Semua orang sudah tidak lagi terikat dalam ikatan persaudaraan warga desa. Jika ini yang terjadi, betapa malangnya tinggal di desa sepeti itu. Kedua, Anda sendiri yang paranoid, menganggap semua orang memusuhi Anda. Anda selalu merasa dalam situasi perang dengan semua orang di desa Anda. Keberadaan satu-dua orang yang memusuhi Anda membuat Anda berkesimpulan bahwa semua tetangga sekampung sedang diam-diam berkonspirasi untuk mencelakai Anda. Jika ini yang terjadi, selesaikan diri Anda sendiri karena sesungguhnya diam kebencian telah menguasai hati Anda. Akan lebih parah jika kebencian di hati Anda itu dibalut dengan sentimen keagamaan seakan-akan Anda adalah wakil Tuhan, dan semua orang adalah tentara setan.

 

Itulah analogi relasi antara ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Lalu, di mana urgensinya ukhuwah basyariah (persaudaraan kemanusiaan universal)? Setiap persaudaraan yang berbasis kelompok (agama maupun negara) bisa jatuh ke dalam sikap chauvinistik. Chauvinisme adalah bentuk kesetiaan ekstrem terhadap superioritas dan keagungan kelompok. Sikap chauvinistik meletakkan kelompok sebagai pemegang kebenaran mutlak, dan karenanya berhak untuk menguasai dan melenyapkan siapa saja. Nasionalisme-chauvinistik akan jatuh pada sikap “right or wrong is my country” (“benar atau salah, itu adalah negaraku”). Dalam sejarahnya, nasionalisme chauvinistik telah menghasilkan kejahatan kemanusiaan yang tak teperikan melalui orang-orang seperti Mussolini atau Hitler.

 

Sikap chauvinistik juga bisa menimpa pada kelompok agama. Persaudaraan keagamaan chauvinistik akan jatuh pada keangkaramurkaan dengan mengatasnamakan Tuhan. Meneriakkan slogan kebesaran Tuhan sambil membunuh orang, menghancurkan peradaan, dan merusak apa saja yang dianggap berbeda. Agama menjadi tipu daya untuk meluapkan nafsu keangkaramurkaan. Berdalih membela Tuhan, tapi menista ciptaan-Nya. Berdalih membela tauhid, tapi mengobarkan kebencian dan kerusakan di mana-mana.

 

Di sinilah pentingnya ukhuwah basyariah. Karena pada akhirnya, di atas seluruh kesetiaan pada agama dan negara, ada nilai tertinggi yang harus tetap dijaga: kemanusiaan. Ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah akan jatuh ke dalam tindakan immoral yang tidak manusiawi jika kehilangan dasar kemanusiaannya.

 

Itulah mengapa dalam maqashid al-tasyri’ (tujuan dari diturunkannya syariat oleh Allah), mashlahah ‘ammah (kebaikan bersama/bonum commune) menjadi prinsip paling utama. Kebaikan bersama ini tidak mungkin akan tercapai jika di sana tidak ada mekanisme yang memungkinkan untuk memblokade tindakan-tindakan destruktif, sebagamana yang ada dalam kaidah fiqh “dar’ul mafsid muqaddamun ala jalbil mashalih” (menolak tindakan destruktif didahulukan sebelum menindakkan kebaikan).

 

Seluruh uraian saya di atas, sama sekali tidak hendak membenarkan tindakan main hakim sendiri. Tidak boleh ada satu kelompok pun yang boleh melakukan tindakan di luar sistem hukum yang berlaku. Tidak ada satu pun alasan pembenar perilaku main hakim sendiri, sekalipun dengan mengatasnakan amar makruf nahi munkar maupun dar’ul mafasid.[]

 

* Dosen pada Departemen Studi Agama-agama, Fakultas Ushulkuddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya; Wakil Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG