IMG-LOGO
Nasional

Selamat Datang Bulan Maulid 1440 H!

Rabu 7 November 2018 12:30 WIB
Bagikan:
Selamat Datang Bulan Maulid 1440 H!
Rabiul Awal (Ilustrasi)
Jakarta, NU Online
Bulan Safar 1440 H tak lama lagi menemui ujungnya. Rabu (7/11) sudah menginjak tanggal 29. Rabiul Awal pun sebentar lagi tiba.

Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mencatat ijtimak atau konjungsi terjadi pada Rabu (7/11) malam, pukul 23.01.09. Hisab ini untuk daerah markaz Jakarta.

Adapun tinggi hilal berada pada titik -2 derajat 59 menit 47 detik di bawah ufuk. Hal ini menandai bahwa awal bulan yang merupakan bulan kelahiran Nabi tahun 1440 H ini kemungkinan jatuh pada Jumat Pon (9/11).

Pasalnya, kegiatan rukyatul hilal yang dilaksanakan esok hari hampir bisa dipastikan tidak akan terlihat mengingat dua hal, yakni konjungsi yang terjadi setelah terbenamnya matahari dan letak hilal yang masih di bawah ufuk. Oleh karena itu, bulan Safar disempurnakan menjadi 30 hari.

Namun, Lembaga Falakiyah PBNU tetap meminta Lembaga Falakiyah di wilayah dan cabang untuk menyelenggarakan rukyatul hilal untuk awal bulan Rabiul Awwal 1440 H pada Rabu (7/11). "Hal demikian tetap dilakukan karena bagian dari ibadah," kata KH A Ghazalie Masroeri, Ketua Lembaga Falakiyah PBNU, beberapa waktu lalu saat menemui hal serupa.

"Mohon penyelenggaraan rukyah untuk awal Rabiul Awwal 1440 H pada hari Rabu Legi,  7 November 2018," tulis pengumuman yang disampaikan oleh Kiai Ghazalie kepada pengurus Lembaga Falakiyah di daerah-daerah. (Syakir NF/Muhammad Faizin)
Bagikan:
Rabu 7 November 2018 22:30 WIB
Kemah Rohis Harus Jadi Gerakan, Bukan Sekedar Program
Kemah Rohis Harus Jadi Gerakan, Bukan Sekedar Program
Sarasehan nasional perkemahan rohis di Belitung
Belitung, NU Online
Perkemahan Kerohanian Islam (Kemah Rohis) tingkat nasional telah tiga kali diselenggarakan. Sudah saatnya kegiatan dua tahunan ini bukan sekedar program, melainkan harus menjadi sebuah gerakan (movement).

Pernyataan tersebut disampaikan Amin Haedari ketika didaulat menjadi narasumber pada Sarasehan Nasional bertajuk Moderasi Pendidikan Agama Islam. Ia berbicara selaku mantan Direktur PAI yang merintis Kemah Rohis Nasional.

“Kalau program itu monoton. Nah, kalau gerakan itu merupakan kebutuhan,” kata Amin memulai paparan di hadapan peserta sarasehan yang digelar di Ballroom Hotel Grand Hatika Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rabu (7/11).

Direktur PAI masa bakti 2011-2016 ini mengaku bangga Perkemahan Rohis masih terus dilaksanakan. Secara khusus, ia mengapresiasi Provinsi Bangka Belitung sebagai provinsi pertama di luar Jakarta yang menyelenggarakan Kemah Rohis. “Cukup memberi warna tersendiri dalam penampilan tari kolosal. Meski sebenarnya lebih menarik lagi jika pembukaan di malam hari dengan memainkan lampu seperti Asian Games tempo hari,” kata Amin Haedari.

Menurut dia, berubahnya program menjadi sebuah gerakan merupakan capaian yang patut dijadikan cita-cita Bersama. Sebuah gerakan yang bermula dari program misalnya Program Keluarga Berencana (KB).

“Awalnya memang program, lalu berubah menjadi gerakan. Berubah karena menjadi satu kebutuhan. Ini yang harus kita lakukan untuk pengembangan Rohis,” tandas mantan Direktur PD Pontren ini.

Ciri-ciri gerakan itu, lanjut Amin, bersifat masif. Oleh karenanya, posisi sekolah di daerah menjadi penting. Artinya, Kankemenag dan Kanwil Kemenag daerah harus menjadikan prioritas untuk pembinaan Rohis.

“Ciri kedua, dinamis. Sekarang kita menghadapi persoalan-persoalan seperti radikalisme. Persoalan yang ada di Rohis bukan hanya sekedar persoalan bangsa. Saya sudah ramalkan bahwa isu ini akan terus berkembang. Sekarang mulai nampak muncul ke permukaan,” jelasnya.

Ciri ketiga, lanjut dia, sebuah gerakan itu aktif. Jadi, tidak lagi menunggu arahan dari pusat. “Waktu saya di PD Pontren ada program PBSB. Saya bukan lagi aktif, tapi ofensif. Saking ofensifnya, madrasah pun agak tersisih. Yang punya siswa itu madrasah. Tapi yang punya nama adalah pesantren,” selorohnya.

Ia mengaku menggunakan dana sektor perguruan tinggi untuk pemberdayaan pesantren. “Jadi, itu bukan dari dana Direktorat PD Pontren. Ketika bicara Pospenas, bukan uang Pontren. Tapi lebih banyak dari luar. Dari Kemenpora dan Kemenko Kesra. Saya aktif sekali, tapi ada ofensifnya sedikit,” kata Amin berkelakar.

Pria kelahiran Ciamis, Jawa Barat, ini teringat kisah menggelitik saat dirinya awal-awal menjadi Direktur PAI. “Waktu itu saya ditanya, Pak Amin mau ngapain bikin Kemah Rohis? Saya mau mengislamkan sekolah. Ini kekuatan luar biasa,” kenangnya.

Amin menambahkan, meski Rohis merupakan organisasi nonformal, namun sepanjang sejarah republik ini kekuatan lembaga pendidikan sejatinya ada di nonformal. “Sekalipun Rohis ini nonformal, tapi kekuatannya dahsyat,” tandasnya.

Direktur PAI Rohmat Mulyana Sapdi mengamini pemikiran Amin Haedari. Apa yang sudah dirintis pendahulunya itu patut dilanjutkan. “Saya sudah lama mengenal Pak Amin. Beliau ini senior saya di PAI,” ujarnya seraya tersenyum.

Rohmat yang sebelumnya menjabat Sekretaris Balitbang Diklat ini mengaku terbantu oleh pemikiran Amin Haedari. “Sekarang PR saya di PAI tinggal entengnya saja. Saya tidak perlu mikir berat-berat. Semua sudah dipikir beliau. Saya tinggal eksekusi,” ujarnya jenaka.

Sebagai pendatang baru di PAI, pria kelahiran Tasikmalaya ini hanya butuh kerjasama yang kuat dari para Kasubdit, Kasi, dan Staf di Direktorat PAI. “Saya harap kawan-kawan langsung bergerak. Saya sudah siapkan program baru untuk 2019,” kata Rohmat.(Musthofa Asrori/Muiz)
Rabu 7 November 2018 22:0 WIB
Regu Pramuka di Pesantren Ini Raih Juara Pertama Nasional
Regu Pramuka di Pesantren Ini Raih Juara Pertama Nasional
Regu Pramuka Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan
Padang Pariaman, NU Online
Santri Pondok Pesantren Nurul Yaqin (PPNY) Ringan Ringan, Pakandangan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera  Barat tidak hanya mampu berprestasi dalam lomba kitab kuning, juga pramuka tingkat nasional. 

Regu Pramuka PPNY berhasil meraih juara I cabang Tapak Perkemahan pada Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) di Jambi, akhir Oktober lalu.

Kepala Aliyah Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan Ringan M Asyraful Anam Tuanku Bagindo menyebutkan, prestasi ini menunjukkan bahwa santri PPNY juga mampu berprestasi tidak hanya di bidang MTQ, MKQ, tapi juga bidang lain seperti kegiatan kepramukaan.

"Kita sangat apresiasi prestasi santri tersebut,” katanya saat ditemui di kantor pesantren, Rabu (7/11). 
Sebelum meraih juara tingkat nasional, regu pramuka Nurul Yaqin tiga bulan sebelumnya berhasil meraih juara I PPSN tingkat Provinsi Sumatera Barat di Kayutanam, Padang Pariaman. 

Prestasi tersebut diraih karena memang rutin latihan. “Sayangnya reward perhatian dari pemerintah daerah masih minim," kata Anam yang juga mantan Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Padang Pariaman ini.

Ketua regu Pramuka Santri Nurul Yaqin Agi Sumardi menambahkan, PPSN berlangsung 23 hingga 29 Oktober di Jambi. Rombongan dari Nurul Yaqin terdiri dari 12 orang. Dua orang pendamping, Nofri Rianto dan Firmansyah. Delapan orang regu pramuka masing-maisng Agi Sumardi, dengan anggota M Emran, Munir M, Zulpahri, Alfiadi, Fadil Surya P, Awisil Qarni dan Jepriantoni. Dua orang cadangan, yakni Dedi Candra dan M Asyarafal Anam.

Menurut Agi Sumardi, penilaian dalam tapak perkemahan adalah kerapian, keindahan dan kebersihan. Bahan-bahan yang digunakan regu pramuka Nurul Yaqin seperti sekam padi, ampas kayu, bambu, ban dan bahan yang dibutuhkan dekorasi kemah dibawa langsung dari Padang Pariaman. “Alhamdulillah, meraih juara tingkat nasional,” katanya.

Kegiatan PPSN ada 12 cabang yang dilombakan. “Di antaranya, tapak perkemahan yang jadi unggulan dalam kegiatan PPSN, teknologi tepat guna, pionering, masakan nusantara, drama, film pendek," kata Agi.

Peserta PPSN yang berasal dari 34 propinsi, kata Agi, sangat bermanfaat bagi santri. Selama PPSN, pengalaman yang dirasakan adalah waktu yang selalu dipenuhi dengan kegiatan. “Tiada waktu berlalu tanpa kegiatan,” katanya.

Menurutnya, PPSN mengajarkan santri lebih disiplin, menumbuhkan kerja sama, bertanggung jawab dan memupuk jiwa kepemimpinan. Juga menumbuhkan semangat saling menghargai dan tolong menolong terhadap sesama.  

“Di arena PPSN, juga ada peserta ditunjuk sebagai camat, rukun tetangga dan lurah. Saya sendiri sempat ditunjuk sebagai ketua RT," tandas Agi Sumardi. (Armaidi Tanjung/Ibnu Nawawi)

Rabu 7 November 2018 21:10 WIB
Impor Jagung di Tengah Produksi yang Surplus, Ini Penjelasan Kementan
Impor Jagung di Tengah Produksi yang Surplus, Ini Penjelasan Kementan
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman
Jakarta, NU Online
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution memerintahkan Menteri Pertanian untuk mengeluarkan rekomendasi impor jagung jenis pakan ternak sebanyak 100 ribu ton. Darmin juga menugaskan kepada Perum Bulog untuk melakukan impor tersebut. Hal ini dilakukan untuk menjaga kebutuhan para peternak mandiri.

Walau begitu, Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan bahwa produksi jagung nasional 2018 surplus, dan bahkan telah melakukan ekspor ke Filipina dan Malaysia. Kelebihan produksi tersebut diperoleh setelah menghitung perkiraan produksi 2018 dikurangi dengan proyeksi kebutuhan jagung nasional. 

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP) Kementan, produksi jagung dalam 5 tahun terakhir meningkat rata-rata 12,49 persen per tahun. Itu artinya, pada penghujung tahun 2018 produksi jagung diperkirakan mencapai 30 juta ton pipilan kering (PK). Perkiraan ini juga didukung oleh data luas panen per tahun yang rata-rata meningkat 11,06 persen, dan produktivitas rata-rata meningkat 1,42 persen (BPS,2018).

Prakiraan ketersediaan produksi jagung bulan November sebesar 1,51 juta ton, dengan luas panen 282.381 hektare. Sementara produksi jagung bulan Desember diperkirakan tembus 1,53 juta ton, dengan luas lahan panen 285.993 hektare yang tersebar di sentra produksi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontolo, Lampung dan provinsi lainnya. 

Sementara dari sisi kebutuhan, berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, kebutuhan jagung tahun ini diperkirakan sebesar 15, 5 juta ton PK, terdiri dari: pakan ternak sebesar 7,76 juta ton PK, peternak mandiri 2,52 juta ton PK, untuk benih 120 ribu ton PK, dan industri pangan 4,76 juta ton PK.

Artinya Indonesia masih surplus sebesar 12,98 juta ton PK, dan bahkan Indonesia telah ekspor jagung ke Philipina dan Malaysia sebanyak 372.990 ton. 

Kementan menilai, secara umum produksi jagung nasional saat ini berlangsung baik. Di wilayah Indonesia Barat panen terjadi pada Januari-Maret, mencakup 37 persen dari produksi nasional. Sedang di wilayah Indonesia Timur, panen biasanya berkisar antara bulan April-Mei. 

Sementara itu, sentra produksi jagung tersebar yang di 10 Provinsi yakni, Jatim, Jateng, Sulsel, Lampung, Sumut, NTB Jabar, Gorontalo, Sulut, Sumbar total produksinya sudah mencapai 24,24 juta ton PK. Artinya 83,8 persen produksi jagung berada di provinsi sentra tersebut berjalan dengan baik. (Red: Ahmad Rozali)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG