IMG-LOGO
Daerah

Unisnu Jepara Mulai Terima Mahasiswa Manca Negara

Rabu 7 November 2018 20:40 WIB
Bagikan:
Unisnu Jepara Mulai Terima Mahasiswa Manca Negara
Wisuda sarjana mahasiswa Unisnu Jepara, Jateng
Jepara, NU Online
Rektor Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, Sa’dullah Assa’idi menyampaikan bahwa di tahun akademik 2018-2019 ini, Unisnu semakin giat meningkatkan programs of international affairs (urusan internasional). 

Di bidang pembelajaran, mulai tahun 2018 terdapat delapan mahasiswa asal Thailand yang menempuh studi jenjang Strata 1 di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, dan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. 

Hal tersebut diungkapkan saat dirinya mewisuda 442 mahasiswa Unisnu Jepara di Gedung Wanita RA Kartini Jepara, Selasa (6/11).

"Selain mahasiswa asing yang menempuh studi di Unisnu Jepara, juga terdapat satu mahasiswa Unisnu dari Fakultas Sains dan Teknologi yang menempuh kuliah di Universiti Brunei Darussalam, dan dua mahasiwa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis menempuh kuliah di Prince of Songkla University Thailand," terangnya. 

Dikatakan, pada wisuda ke-11 ini, terdapat satu mahasiswa yang pernah mengikuti program pertukaran mahasiswa dengan Universiti Brunei Darussalam, yaitu Ekky Puput Johandita dari program studi Akuntansi. Ekky menempuh studi di Brunei selama 6 bulan bersama dengan 4 mahasiswa lainnya dari Unisnu Jepara. 

Dijelaskan rektor, pada wisuda kali ini, terdapat 3 mahasiswa penerima Bidikmisi yang lulus tepat waktu dan puluhan wisudawan penerima beasiswa lainnya, seperti beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA), Beasiswa Internal Unisnu Jepara, dan lain sebagainya.  

"Hingga November 2018, Unisnu Jepara telah mewisuda 8.365 mahasiswa, terdiri dari 622 wisudawan Fakultas Syariah dan Hukum, 4.150 wisudawan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Kegruan, 248 wisudawan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, 2.486 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, 652 Fakultas Sains & Teknologi, dan 207 Program Pascasarjana," pungkasnya. 

Hadir dalam Wisuda Koordinator Kopertais H Muhibbin yang juga Rektor UIN Walisongo Semarang, Kepala bagian kelembagaan dan sistem informasi LLDIKTI Hendradi Sulistyawan dan H Fatkhur Rozi mewakili Bupati Jepara. (Syaiful Mustaqim/Muiz)
Bagikan:
Rabu 7 November 2018 23:30 WIB
JKFB Luncurkan Dokumenter 'Mencari Soetedja'
JKFB Luncurkan Dokumenter 'Mencari Soetedja'
Purbalingga, NU Online
Jaringan Kerja Film Banyumas Raya (JKFB) dan Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga bekerjasama dengan Direktorat Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan meluncurkan film dokumenter bertajuk Mencari Soetedja, di Rajawali Cinema Purwokerto, Kamis, 15 November 2018, jam 10.00 WIB. Film tersebut mengangkat sosok komponis kenamaan Raden Soetedja Purwodibroto, yang lebih dikenal lewat lagu berjudul "Di Tepinya Sungai Serayu".

Sutradara Mencari Soetedja, Bowo Leksono mengaku, proses riset film dokumenter memakan waktu sekitar 8 tahun. Berbekal sebuah kliping fotokopian koleksi keluarga pengumpulan data primer dan sekunder dimulai. 

"Proses pencarian narasi tentang Soetedja ini cukup sulit. Bahan artikel dari media massa, blog, tulisan salah satu narasumber film -Sugeng Wijono-, hingga wawancara dengan putra-putri R Soetedja," katanya, Rabu (7/11).

Bowo menuturkan, dokumenter berdurasi 24 menit ini bertutur mengalir dari putra-putri dan keponakan Raden Soetedja, serta beberapa orang yang merasa bersinggungan secara kesejarahan. Proses pengambilan gambar dilakukan di beberapa tempat yaitu sekitar Banyumas, komplek Pasar Purwareja Klampok, Banjarnegara, Jakarta Pusat, Bekasi, Depok, Tangerang dan Bandung. 

Proses riset, katanya, sempat menemui kendala. Sebab, tokoh-tokoh yang hidup sezaman atau masuk dalam perlintasan proses berkarya bersama Soetedja telah tiada, mulai dari S Bachri, Bing Slamet hingga Suyoso Karsono, perwira tinggi Angkatan Udara Republik Indonesia sekaligus pendiri Irama Record. Terakhir, Nien Lesmana, istri mendiang Jack Lesmana, orang tua musisi jazz Indra Lesmana, yang banyak menyanyikan lagu-lagu Soetedja meninggal di tahun 2017 lalu. Pun demikian dengan seniman-seniman Purwokerto yang pernah mengisi kesenian di RRI Purwokerto. 

"Bagi kami pencarian R Soetedja ini tak akan pernah selesai, hingga tak berbatas. Harapan kami, film ini menjadi pemancing riset, bahkan kepedulian pemerintah untuk menempatkan sosok Soetedja sebagai tokoh musik modern dan panutan para musikus. Setidaknya, bukan sekadar menjadi nama Gedung Kesenian yang tak kunjung selesai dibangun," ujarnya. 

Produser Mencari Soetedja, Nanki Nirmanto mengatakan, film ini rencananya akan diputar berkeliling di ruang-ruang diskusi publik serta diapresiasi oleh komunitas film, musik maupun komunitas lainnya. 

"Kami ingin seluruh masyarakat, dari Banyumas terutama, bangga dengan Raden Soetedja. Ia sebenarnya tidak hanya komponis keroncong seperti yang diketahui orang. Ia juga menguasai aliran musik lainnya, seperti hawaian, jazz dan klasik," kata dia. (Red: Abdullah Alawi)

Rabu 7 November 2018 21:30 WIB
Donor Darah Awali Haul KH Ngali Hasyim Ke-9
Donor Darah Awali Haul KH Ngali Hasyim Ke-9
Haul KH Ngali Hasyim tahun 2018
Lampung Tengah, NU Online
Dimulai Rabu (7/11) malam rangkaian Haul Almaghfurlah KH Ngali Hasyim ke 9 di komplek pondok pesantren Baitul Mustaqim, Sidomulyo, Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, yakni diawali dengan donor darah. 

Demikian disampaikan Ketua panitia pelaksana, Kiai Anis Mudzakir dikomplek pesantren tersebut, Rabu (7/11) pagi. 

“Mulai hari ini telah berdatangan santri–santri thariqah simbah KH Ngali Hasyim dari berbagai daerah, seperti dari Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi dan lain-lain”, tambahnya. 

Dikatakan, Simbah KH Ngali Hasyim adalah salah satu Kiai kharismatik asal Kabupaten Lampung Tengah dan sekaligus Mursyid Thariqah An-Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah di provinsi Lampung. “Puncak acara Haul beliau nanti pada hari Ahad (11/11) bertepatan 3 Rabi’ul Awal 1440 H, dengan pelaksanaan pengajian umum yang akan disampaikan oleh Romo KH Chusain Ilyas pengasuh Pesantren Al Mishbar Mojokerto Jawa Timur,” pungkasnya.  

Haul Almaghfurlah KH Ngali Hasyim ke-9 dirangkai dengan Haul Syaikh Muhammad Bahaudin Annaqsabandy, berikut rangkaian acaranya: 

  1. Rabu, 7 Nopember 2018, Donor Darah, bertempat Aula pesantren Baitul Mustaqim.
  2. Kamis, 8 Nopember 2018, Istighotsah, bertempat Maqbaroh KH Ngali Hasyim.
  3. Sabtu, 10 Nopember 2018, Musyawarah Mursyid, Badal, dan pengurus thariqah, bertempat di Aula pesantren Baitul Mustaqim; 
  4. Sabtu, 10 Nopember 2018, Semaan Al-Qur'an, bertempat di pesantren Baitul Mustaqim; 
  5. Ahad, 11 Nopember 2018, Dzikrul Maulid dan Haul Almaghfurlah KH Ngali Hasyim ke 9 dan Syaikh Muhammad Bahaudin Annaqsabandy bertempat di Halaman pesantren Baitul Mustaqim;
  6. Ahad, 11 Nopember 2018, Pentas Wayang Kulit, dengan Dalang Ki Hamdani dari Lodoyo Blitar Jawa Timur, bertempat di Halaman pesantren Baitul Mustaqim.  

Haul Almaghfurlah KH Ngali Hasyim ke-9 dan Haul Syaikh Muhammad Bahaudin Annaqsabandy akan dihadiri PWNU Provinsi Lampung, Pengurus PCNU Kabupaten Lampung Tengah, Pengurus JATMAN Provinsi Lampung, Pengurus JATMAN Kabupaten Lampung Tengah, Bupati Lampung Tengah, dan ribuan santri – santri Almaghfurlah KH Ngali Hasyim yang ada di Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi dan lain-lain. (Akhmad Syarief Kurniawan/Muiz

Rabu 7 November 2018 21:0 WIB
Maknai Hari Pahlawan, Pemuda Harus Kerja Sama Bangun Indonesia
Maknai Hari Pahlawan, Pemuda Harus Kerja Sama Bangun Indonesia
Jakarta, NU Online
Beberapa hari lagi, masyarakat Indonesia merayakan Hari Pahlawan. Sebuah peringatan untuk mengenang jasa para pahlawan yang berhasil memerdekakan negara Indonesia dan mempertahankannya dari penjajah.

Setelah puluhan tahun berjalan, yakni dari 1945 hingga 2018, bagaimana pemuda di era sekarang ini dalam memaknai hari pahlawan?

Penasihat Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara Romzi Ahmad kepada NU Online mengatakan, para pemuda harus bekerja sama dalam melanjutkan perjuangan para pahlawan. Sebab, dikatakan Romzi, para pahlawan pun dalam merebut kemerdekaan tidak melakukannya secara individu.

"Sejak dulu tidak ada pahlawan yang berjuang sendiri-sendiri. Perjuangan sesungguhnya itu dilakukan dengan gerilya, yaitu dari basis ke basis, dari akar rumput ke akar rumput yang lain," kata Romzi melalui sambungan telepon, Rabu (7/11).

Menurut Romzi, dalam menerjemahkan kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan itu bukan hanya menduduki posisi strategis di pemerintahan atau membangun karinya di suatu perusahaan, melainkan juga perlu perjuangan di tingkat desa atau kecamatan seperti bersama-sama merawat kebinekaan.

"Perjuangan juga harus dilakukan di akar rumput, misalnya kalau anak-anak NU ngurusi mushala kecil di daerah, merawat kebinekaan di akar rumput," ucapnya

Selain itu, lanjutnya, para pemuda juga bisa mengisinya sesuai dengan profesionalisme atau yang menjadi konsentrasinya, baik dalam hal pendidikan, ekonomi, atau kesehatan.

"Pemuda bersama-sama membangun pendidikan, usaha bersama dalam bidang ekonomi, dan memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan. Jadi ada kolaborasi-kolaborasi besar yang dilakukan untuk kepentingan masyarakat banyak," jelasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG