IMG-LOGO
Opini

Tauhid Demokrasi

Jumat 9 November 2018 17:0 WIB
Bagikan:
Tauhid Demokrasi
Oleh Fuad Al-Athor

Demokrasi memang bukan diktum agama, tapi bukan berarti ia barang najis atau seperangkat sistem yang akan menghantar kepada kekufuran jika kita menggunakannya. Ia adalah the way to deal yang sejauh sejarah manusia masih menempati posisi yang terbaik di antara yang sistem negara buruk-buruk yang ada. 

Namun begitu, tidak sulit menautkannya dengan ajaran Islam. Jelas di dalam Islam ada prinsip bermusyawarah dalam memutuskan pengaturan hal-hal yang bersifat maslahat, secara syariat itu sudah cukup. Demokrasi adalah bentuk maju atau sistematika dari cara-cara kita untuk bermusyawarah. Ibarat kalau berkendara dulu naik unta sekarang naik mercedes. Apakah pengendara unta atau mercedes yang kufur? Ya bisa kedua-duanya tergantung ia membangun keyakinannya, bukan tergantung ia naik kendaraan apa.

Tidak perlu mencari-cari dan membikin-bikin teori bahwa yang dimandatkan oleh islam adalah sistem negara khilafah. Baru hipotesisnya Taqiyuddin An-Nabhani saja sudah menganggapnya lebih benar dan lebih penting dari rukun iman, sudah dibela-belain bohong sana-sini seperti memperjuangkan rukun islam saja. Ribuan ulama dari zaman Tabi’in hingga sekarang yang tidak menunjuk sistem negara secara pasti lantas hendak kau salahkan semua? Di mana kepalamu?

Sebagai alat demokrasi tidak memberi pengaruh apa-apa pada kemajuan atau kemunduran manusia secara hakikat (spiritual). Sebab hakikat menuntut kita untuk menjalankan diri (suluk), mendekatkan diri (taqorrub), dan kemudian menautkan diri (whushulillah) dalam kondisi bagaimanapun adanya. Baik kita hidup dalam negara monarki, otoriter ataupun demokrasi tetap tidak pengaruh pada kewajiban untuk selalu mendekat dan sambung pada-Nya.

Sejak zaman Mu’awiyyah, Abbasiyah, Utsmaniyah dan demokrasiiyah sekarang ini pun, yang namanya wali Allah itu ya ada. Mereka eksis seesksisnya, bukan hanya dongeng atau hanya ada di makbarah-makbarah saja. Sebab hanya hati mereka yang layak mendapat pandang kasih sayang-Nya. Hati mereka yang telah bersih dari keinginan-keinginan duniawi (keinginan-keinginan yang selain untuk dan bersumber dari-Nya) telah memenuhi syarat untuk menjadi cermin dari Pandang-Nya yang Maha Mulia. Pandang kasih sayang-Nya inilah yang sejauh ini mencegah pandangan-pandangan murka-Nya yang sudah begitu layak dilayangkan jika melihat kapasitas manusia dalam mengindahkan aturan-aturan dan sopan santunya pada Allah. Mereka yang menggaransi secara spiritual pada keberlangsungan kehidupan ini.

Artinya apa? Ya Islam tegak di segala zaman dan di segala lingkungan sistem kenegaraan apa pun. Hanya saja Allah menegakkan dan memuliakan agamanya tersebut melalui hati para kekasih-Nya ini. Coba dipikir! Salah satu Asma-Nya ‘Al-Hafidz,’ Sang Penjaga. Bagaimana Allah menjaga agama dan kemanusiaan sangat terlihat dari tajalli-Nya di hati para ulama-ulama salihin ini. Allah anugerahkan kejernihan hati pada mereka sehingga mereka tidak dengan mudah menuduh, menyalahkan dan menyakiti umatnya dengan cacian dan provokasi yang membangkitkan amarah. Allah mengaruniai mereka keteduhan dalam memberi putusan hukum dan fatwa keagamaan pada hati mereka. Coba jika kita, anak-anak muda ini, yang hatinya bergetar akibat ulah segelintir pengasong simbol Islam diberi ijin untuk bertindak sembrono? Sudah selesai itu kelompok-kelompok kekanak-kanakan secara adat. Kan rusak jadinya.

Allah juga menguatkan hati mereka dengan hikmah yang tinggi, kebijaksanaan yang par exellent, berbasis ilmu makrifat mereka, sehingga tidak sedikit pun kita dengar geming mereka berubah menjadi perintah untuk memberangus gerakan-gerakan konyol islam politik itu dengan cara yang tidak beradab. Padahal siapa yang tidak geram. Mendidih dada ini. Hanya tinggal menunggu titah para alim ulama saja. Semua sudah siaga. Terbukti para alim ulama tidak pernah memberi aba-aba. Padahal mereka sudah dibunuh berkali-kali. Karakter mereka dihabisi dengan tuduhan dan fitnahan yang kejamnya tak terperi. Itulah penjagaan Allah pada agama-Nya. Melalui hati para kekasih-Nya yang sejuk seperti kulkas. Kepala anak muda ini kerap memerlukan untuk masuk ke wilayahnya agar dingin.

Jadi, mereka yang menawarkan keresahan dan api perpecahan ini tidak secuil pun menyiratkan manifestasi-Nya. Sebenar-benarnya dalil mereka sudah salah sejak dari wadahnya. Tegaknya argumentasi mereka di atas pondasi yang jungkir balik. Artinya upaya kita untuk mendiskusikan ajaran dengan mereka tak lebih dari wujud keadaban kita dalam menjalankan ajaran saja, (bahwa kita wajib amar bil ma’ruf!), Siapa tahu dengan washilah kebaikan ini Allah menurunkan kebaikan bagi kita semua. Kalaupun kita melihat Allah dalam tingkah laku mereka itu tampak dengan cara “kita melihat dosa-dosa kita selama ini telah membuat Allah mengizinkan mereka lahir dan menguji kita.”

Kembali ke demokrasi, wahai jamaah sosmediyah yang terhormat. Ternyata demokrasi bukanlah sistem yang sederhana, ia memuat fitur-fitur canggih yang bisa digunakan untuk kemajuan pencapaian kemaslahatan bersama. Salah satunya, ialah bahwa demokrasi selalu menyertakan visi tertinggi kemanusiaan tentang keadaban. Apa yang dianggap paling beradab dalam pergaulan sosial-politik kemanusiaan, bahkan ketika dalam praktik suksesi kekuasaan sekali pun. Inilah yang kemudian menjadi constrain bagi setiap strategi dan taktik dalam pertempuran merebut kuasa. Semakin beradab kontestan dalam mendekati dan merayu pendukung gagasan kepemimpinannya, semakin mungkin untuk menang. Sebaliknya, jika strateginya semakin mengancam keadaban yang ada, maka akan semakin ditinggalkan oleh calon pemilihnya.

Namun hal ini bagi sebagian ahli strategi (konsultan politik) dipahami kebalikannya. Mereka mengambil keuntungan dengan membangun andaian bahwa sisi konservatif manusia, sisi agresif, rasa tertekan, rasa takut manusia lebih mudah dimobilisasi untuk memenangkan pertarungan. Apalagi jika ini di sebuah negara berkembang dengan masyarakat yang belum well-educated secara politik berjumlah lebih banyak. Ini murah bahkan murahan, sekaligus keji di mana sisi gelap manusia ini dieksploitasi dengan pembanjiran informasi, pembingungan dengan hoax-hoax dan pembangkitan kemarahan dengan hate speech. Tentu saja ini sangat tidak beradab. Keadaban yang sejatinya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem demokrasi yang telah disepakati bersama, kini sedang diuji.

Mana mungkin sistem demokrasi bisa bertahan dengan sendirinya, ia cuma alat. Maka patut diacungi jempol bagi para alim ulama Nusantara ini sekali lagi, yang dengan keluasan hatinya telah membesarkan hati kita untuk turut menjaga dijalankannya sistem demokrasi ini sesuai keadaban yang berstandar tinggi. Sebab pada perjuangan membangun keadaban inilah visi Ketuhanan dan visi kemanusiaan menemukan titik temunya, yakni terwujudnya agama yang rahmatan lil ‘alamin. Lantas, ‘tauhid’ (pengesaan) yang seperti apa lagi yang engkau cari?


Penulis adalah santri Pesantren Kasepuhan Atas Angin, Ciamis
Tags:
Bagikan:
Kamis 8 November 2018 5:0 WIB
Mengejar yang Abstrak Meninggalkan yang Positif
Mengejar yang Abstrak Meninggalkan yang Positif
Ilustrasi Hizbut Tahrir. (Foto: Jakarta Globe)
Oleh Achmad Murtafi Haris 

Pada Oktober ini, salah seorang pengurus dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur melapor kepada polisi tentang adanya oknum guru agama Islam yang memviralkan kebenciannya kepada anasir Nahdlatul Ulama. Hal tersebut terkait pembakaran bendera tauhid yang selalu dikibarkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam setiap aksinya. Pihak kepolisian tidak menindaklanjuti proses litigasi, tapi mengajak NU dan HTI untuk duduk bersama dan berdiskusi isu terkait. 

Nampaknya pihak kepolisian gamang menangani kasus isu agama dan tidak ingin berdebat dengan pihak terlapor sehingga justru sang pelopor dari unsur NU diminta untuk meladeni terlapor. Unik memang, polisi menjadi fasilitator debat terbuka dan mempertaruhkan nasib pelapor pada kemampuannya memenangkan perdebatan pada isu yang sebenarnya terkait langsung dengan Ormas yang telah dicabut badan hukumnya. Seandainya dalam perdebatan dimenangkan oleh pihak unsur Ormas bermasalah, tentu akan berimplikasi negatif terhadap keputusan hukum terkait. 

Sikap polisi tersebut sebenarnya keluar dari delik aduan yang sebenarnya yaitu hate speech atau ujaran kebencian ke kontroversi perkara agama. Jika polisi berpegang pada Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 28 ayat (2) dan Pasal 45 tentang kasus-kasus penyebaran kebencian berbasis SARA, maka tidak perlu ada kegamangan itu. 

Tapi, berhubung polisi memandangnya sebagai isu agama, maka menempuh jalur mediasi yang tidak pada tempatnya. Ketidaktahuan polisi terhadap isu agama, bisa jadi merupakan pemicu langkah tersebut. Polisi seperti tidak punya pegangan hukum dalam hal isu agama dan ingin bebas dari masalah khilafiah dan multi tafsir perkara agama.

Belum lagi jika dikaitkan dengan keputusan Majelis Ulama Indonesia bahwa bendera yang dibakar Banser bukanlah bendera HTI tapi bendera tauhid, maka hal itu semakin menguatkan posisi Ormas bermasalah itu. Dari sini polisi gagal fokus pada delik aduan dan terseret ke perkara kontroversial. 

Pihak terlapor atau pengacara terlapor nampak mampu mengalihkan delik pengaduan ujaran kebencian ke perkara lain yang tidak mudah menemukan kata putus. Apalagi jika memang tidak ada lembaga otoritatif yang menjadi pegangan pihak berwenang. 

Dalam agama Islam Ahlussunnah wal-Jamaah (Sunni) yang merupakan paham aliran mayoritas umat Islam di dunia, hal ini semakin kabur. Berbeda dengan aliran Syiah yang memiliki hirarki kepemimpinan dari tingkat dunia hingga negara, sehingga kontroversi bisa dikendalikan, aliran Sunni tidak demikian halnya. 

Di tingkat dunia, Sunni tidak berpemimpin. Bisa jadi lembaga Islam terbesar di dunia adalah al-Azhar dengan pimpinan Shaikh al-Azhar, tapi ia tidak berwenang apa-apa tentang segala apa yang terjadi kecuali sebatas aset pendidikan dan ulama yang ada di bawahnya. Mufti Saudi, apalagi, dia meski berada dalam rumah besar Sunni tapi berfaham puritan yang justru berseteru dengan faham mayoritas di bawah payung yang sama. Dari sini Islam tidak memiliki pucuk pimpinan spiritual tertinggi. 

Di tingkat nasional pun demikian halnya. Majelis Ulama Indonesia, menurut Sovia Hasanah bahwa merujuk pada jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, maka kedudukan fatwa MUI bukan merupakan suatu jenis peraturan perundang-undangan yang mempunyai kekuatan hukum mengikat. 

Fatwa MUI hanya mengikat dan ditaati oleh umat Islam yang merasa mempunyai ikatan terhadap MUI itu sendiri. Fatwa MUI tidak punya legalitas untuk memaksa harus ditaati oleh seluruh umat Islam. Hal yang sama juga terjadi pada NU dan Ormas Islam lainnya di Indonesia bagi para anggotanya. Hal ini menunjukkan gamangnya posisi pemimpin Islam bagi pemeluknya khususnya di kalangan kaum Sunni yang tidak mengenal hirarki kepemimpinan agama. 

Siapa yang berhak membawa nama Islam pun menjadi bebas dan liar. Tidak heran jika kemudian muncul banyak kelompok yang mengatasnamakan Islam dan mengabaikan para ulama yang duduk di jajaran atas MUI dan Ormas lainnya. 

Posisi fatwa MUI yang sebatas rekomendasi, tidak berlaku untuk perkara pernikahan, pewarisan dan perwakafan. Dalam hal ini berlaku kewajiban melaksanakan apa yang menjadi ketentuan dalam Kompilasi Hukum Islam yang diterapkan dalam peradilan agama. Dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, disebutkan bahwa peradilan agama mempunyai kedudukan yang sederajat dengan peradilan lainnya di Indonesia. Dengan demikian perkara yang masuk dalam peradilan agama akan menghasilkan keputusan yang bersifat mengikat dan wajib dilaksanakan. 

Menarik untuk dikaji di sini, mengapa fatwa MUI dan keputusan hakim agama berkonsekuensi hukum yang berbeda meski keduanya bersumber dari ijtihad ulama. Fatwa MUI bersifat rekomendasi yang tidak mengikat sementara untuk keputusan pengadilan agama mengikat. Jawabannya adalah bahwa wilayah MUI bukanlah wilayah peradilan (yudikatif) atau qada, tapi wilayah pertimbangan keagamaan. MUI adalah otoritas keagamaan tapi bukan otoritas hukum yang memiliki kata putus atas suatu perkara. Untuk menjadi sebuah pertimbangan keagamaan yang berkekuatan hukum, ia harus mengikuti prosedur legislasi (tasyri) terlebih dahulu sebelum akhirnya masuk pada ranah implementasi yang menjadi wewenang yudikatif atau qada. 

Orang barangkali bertanya, tapi yang ada dalam pengadilan agama hanya untuk ketiga perkara di atas, bagaimana dengan yang lain? Yang lainnya mengikuti peradilan umum yang keputusan hukumnya didasarkan pada Undang-undang yang menjadi kewenangan dewan legislatif yang beranggotakan wakil rakyat baik dari kalangan akademisi, profesional, teknokrat, pengusaha dan ulama. Di sini nampak adanya peran ulama dan para ahli dalam perundang-undangan yang menjadi acuan hakim dalam memutuskan perkara di pengadilan. 

Fatwa MUI yang tidak mengikat sejatinya bukanlah masalah otoritas ulama yang 'lemah' tapi masalah prosedur legislasi yang  harus dilalui dan masalah pembagian wewenang yang dalam hal ini merupakan wewenang qada atau yudikatif. 

Dalam kasus aduan unsur PCNU Probolinggo kepada kepolisian setempat yang kemudian mengajak NU dan HTI untuk duduk bersama menyelesaikan masalah, sebenarnya menyeret masalah hukum ke masalah agama yang justru tidak menghasilkan kata putus. Ia akan menghasilkan perdebatan pandangan keagamaan yang kontradiktif satu sama lain. Akan lebih tepat jika hal itu disikapi secara hukum dan fokus pada delik aduan. Perbedaan pandangan keagamaan antara kedua pihak yang berperkara, bukanlah urusan polisi untuk mencari titik temu antara keduanya. Sebab hal ini justru kontra produktif bagi penyelesaian masalah. 

Pandangan ulama yang muncul dalam perdebatan antara kedua kubu paling banter hanya menghasilkan rekomendasi. Sementara pasal hukum yang bisa menjerat delik aduan bersifat mengikat, terus mengapa harus mengejar sesuatu yang abstrak sementara yang positif di depan mata. 


Penulis adalah dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. 
Selasa 6 November 2018 7:0 WIB
Belajar Kebijaksanaan Hidup dari Sunan Kalijaga
Belajar Kebijaksanaan Hidup dari Sunan Kalijaga
Ilustrasi (ist)
Oleh M. Naufal Waliyuddin

Seorang tokoh yang dulunya terkenal sebagai “Berandal Lokajaya”, dan kelak dipanggil Sunan Kalijaga, adalah salah satu dari sembilan wali (Wali Songo) yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa secara pesat—bahkan meluas hingga ke penjuru Nusantara. Beliau lahir pada tahun 1450 M sebagai putera dari seorang Bupati Tuban, Tumenggung Wilatikta, dengan nama asli Raden Sahid. 

Namun seiring perjalanan hidup, banyak masyarakat dari daerah yang berbeda yang mengenal Sunan Kalijaga dengan julukan-julukan tertentu. Beberapa di antaranya; Syeikh Melaya, Lokajaya (ketika di Hutan Jatisari), Raden Abdurrahman, Pangeran Tuban, Ki Dalang Sida Brangti (di Pajajaran), Ki Dalang Kumendung (di daerah Purbalingga), Ki Dalang Bengkok (Tegal), dan Ki Unehan (di Majapahit).

Pada mulanya, di usia remaja, Raden Sahid tumbuh menjadi jagoan ilmu silat tetapi semakin nakal. Raden Sahid muda suka melakukan tindak kekerasan semena-mena, bertarung, dan merampok. 

Karena itulah Raden Sahid diusir oleh keluarga, sehingga melanjutkan bertempat tinggal di Hutan Jatisari dan masih merampok kalangan ningrat yang melewati jalur tersebut untuk dibagikan kepada kalangan rakyat jelata. Dari situlah julukan Lokajaya tenar (Yudi Hadinata, Sunan Kalijaga, 2015).

Sampai suatu ketika, Raden Sahid bertemu dengan Sunan Bonang, dan merampas tongkatnya yang berdaun emas. Sunan Bonang justru terharu, sambil menasehati Raden Sahid yang masih muda, tentang tindakannya yang seakan berniat suci, tetapi dilakukan dengan cara yang kotor. “Bagai wudlu’ menggunakan air kencing”, ungkap Sunan Bonang.

Maka sebelum meninggalkan Raden Sahid, dengan sedikit rasa iba Sunan Bonang pun mengubah buah kolang-kaling, yang masih di pohonnya, menjadi emas seluruhnya. Seketika itu juga Raden Sahid mengikuti sosok yang baru dijumpainya tersebut, karena ingin berguru ilmu kesejatian kepadanya.

Dengan bekal ilmu silat dan jiwa yang tangguh, Raden Sahid akhirnya mempelajari banyak ilmu dari Sunan Bonang. Seperti kesenian, kebudayaan masyarakat lokal, yang membuatnya memahami dan menguasai kesusastraan Jawa, pengetahuan falak, serta ilmu pranatamangsa (pembacaan cuaca). Bahkan ilmu-ilmu ruhaniah dalam ajaran Islam juga beliau selami sampai diangkat menjadi wali di Tanah Jawa.

Setelah mendapatkan gelar Sunan Kalijaga, beliau disarankan oleh Sunan Bonang agar pergi haji, mengunjungi Ka’bah di Mekkah. Namun pada perjalanannya, saat tiba di wilayah Malaka, beliau bertemu dengan guru-guru lainnya, yakni Maulana Maghribi dan Nabi Khidir. 

Kemudian Sunan Kalijaga disarankan untuk kembali ke Jawa dan berdakwah di sana. Daripada sekadar melihat Ka’bah bikinan Nabi Ibrahim secara zhahir, yang justru akan rentan menjadi berhala di hati jika terus terbayang-bayang, alangkah baiknya engkau ajarkan ilmumu kepada masyarakat di Tanah Jawa, begitu nasehat dari guru barunya.

Sunan Kalijaga menuruti kembali ke Jawa dan memutuskan untuk mengawali dakwah di daerah Cirebon, tepatnya di desa Kalijaga, untuk mengislamkan penduduk sekitar, termasuk Indramayu dan Pamanukan.

Model dakwah beliau dalam menumbuh-kembangkan nilai-nilai keislaman di Jawa, lebih banyak dilakukan melalui pendekatan seni dan kearifan budaya lokal (local wisdom). Meski tidak hanya itu saja yang dijadikan oleh beliau sebagai media dakwah.

Sunan Kalijaga juga diketahui menyumbangkan banyak ide; seperti perancangan alat-alat pertanian di masyarakat, design corak pakaian, permainan-permainan tradisional untuk anak-anak, pendidikan politik dan sumbangsih bentuk ketatanegaraan yang baik di kalangan elit kerajaan pada masa itu (Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, 2016).

Berbagai kisah dan peninggalan sejarah, baik yang berupa manuskrip naskah (serat), tembang-tembang, gubahan puitis, falsafah, rancangan beserta lakon wayang kulit, formasi alat-alat gamelan, sampai tutur cerita lisan mengenai Sunan Kalijaga, telah tersebar luas dan tidak lekang oleh waktu dari masa ke masa.

Kelanggengan ajaran dan jasa beliau tersebut tidak lain adalah karena ketekunan, keistiqamahan, dan kebijaksanaan Sunan Kalijaga dalam berdakwah dengan cara yang halus, santun, toleran dan tanpa paksaan sama sekali.

Suro Diro Jayaningrat
Lebur Dening Pangastuti

“Segala sifat keras hati, picik, sok kuasa dan angkara murka, 
hanya bisa dileburkan oleh sikap bijak, lembut hati, dan sabar.”

-Falsafah Sunan Kalijaga-

Mengenang masa mudanya sendiri yang berontak terhadap kekuasaan kalangan elit dan kemelaratan suatu kaum, Sunan Kalijaga menyadari sesuatu, bahwa untuk menyebarkan nilai-nilai budi pekerti luhur (akhlaqul karimah) kepada masyarakat Jawa, tidak bisa dilakukan dengan cara kekuatan, apalagi paksaan.

Beliau mempelajari watak dan budaya penduduk sekitar, kalau mereka adalah tatanan masyarakat yang mudah lari jika dipaksa untuk mengikuti sesuatu yang baru bagi mereka. Tetapi mereka suka dengan kesenian, keramahan, dan nilai-nila luhur yang serupa. 

Sunan Kalijaga pun merancang pendekatan yang sesuai dengan penduduk Jawa, yaitu akulturasi budaya. Dengan menyisipkan nilai-nilai Islam ke dalam segi-segi budaya lokal, Sunan Kalijaga berharap mutiara agama Islam dapat hidup menyala terang secara abadi di hati masyarakat selama-lamanya.

Urip Iku Urup: 

“Hidup itu nyala. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. semakin besar manfaat yang bisa kita berikan, tentu akan lebih baik.”

-Falsafah Sunan Kalijaga-

Sepanjang usianya yang diperkirakan 131 tahun, beliau tidak habis-habisnya berjuang dengan berkeliling ke berbagai daerah demi pengajaran nilai-nilai kemanusiaan—dengan berbagai kelengkapan dimensinya—kepada masyarakat. Dapat kita saksikan betapa cerdas dan bijaknya beliau dalam melakukan pertunjukan wayang keliling yang digemari masyarakat desa, dan tiketnya bukanlah memakai uang atau barter, melainkan dua kalimat syadahat.

Kebijaksanaan, keluhuran budi-pekerti, tawakkal dan kewaskitaan ilmu batin beliau tanamkan melalui hal-hal yang seakan dipandang sepele, tetapi mampu bertahan lama melintasi berbagai zaman. Mulai dari fase akhir kerajaan Majapahit, Demak, Pajang, hingga masa awal Mataram.

Beliau juga merupakan salah satu wali yang memiliki banyak karomah dan keistimewaan. Keistimewaan beliau yang utama adalah keluasan jiwa, toleransi dan tenggang rasa yang tinggi. Dan dengan keistimewaan dan sosok beliau yang multitalenta itulah yang menjadikan Islam hidup dan mengakar di Bumi Nusantara.

Dakwah beliau tidak hanya menyentuh kalangan elit saja, melainkan juga menjangkau masyarakat yang terpinggirkan di pelosok-pelosok. Dari kalangang ningrat hingga rakyat yang melarat. Dewasa maupun kanak-kanak. Tidak pandang mulai dari para bromocorah, preman, berandalan, hingga para bangsawan dan pejabat tinggi pemerintahan. 

Kepada semuanya beliau tetap berlaku sama, egaliter dan toleran. Penuh kasih sayang dan mengayomi. Mendidik dan membimbing secara lemah lembut. Tetap perlahan dan penuh kesabaran. Sunan Kalijaga meneladani itu semua dari sang junjungan, Nabi Muhammad SAW.

Memayu Hayuning Bawono
Ambrasto Dur Hangkoro

“Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan di muka bumi (rahmatan lil-‘alamin). 

Serta memberantas angkara murka, serakah, dan tamak dalam dirinya.”

-Falsafah Sunan Kalijaga-


Penulis adalah pemuda asal Mojokerto, alumni CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati prodi Tasawuf Psikoterapi angkatan 2013. Aktif menulis esai dan sastra dengan nama pena “Madno Wanakuncoro”
Senin 5 November 2018 17:45 WIB
Islam Marah-marah?
Islam Marah-marah?
Ilustrasi (ist)
Oleh Zastrouw Al-Ngatawi

Judul di atas bukan bermaksud membuat ajaran atau sekte baru dalam Islam. Bukan pula memecah belah Islam yang satu dan tidak bisa pecah-pecah lagi. Atau merusak ajaran Islam yang sudah final dan sempurna sehingga tidak perlu lagi tambahan apapun, sebagaimana tudingan yang dilakukan oleh beberapa orang terhadap Islam Nusantara. Judul di atas hanya refleksi  atas tampilan wajah Islam yang diekspesikan oleh sekelompok orang yang mengaku Islam dan menggunakan simbol-simbol Islam dalam perilaku sosial dan gerakan politik akhir-akhir ini

Secara fatual kita menyaksikan wajah Islam saat ini lebih banyak dipenuhi oleh ekspresi kemarahan dan kebencian. Ekspresi ini tidak hanya terjadi di ranah wacana yang ada di media sosial tapi sudah merambah ke dunia nyata. Seperti terlihat dalam demo atas nama Islam yang isinya hujatan dan kata-kata kebencian. Bahkan masjid dan majelis taklim yang mestinya menjadi tempat beribadah untuk membersihkan hati dan mencari ketenangan sudah teralih fungsi menjadi tempat provokasi, menyebar fitnah dan menyemai kebencian atas nama Tuhan dan Islam.

Banyak orang yang merasa harus marah dan benci pada kompok lain supaya menjadi muslim yang kaffah. Semakin garang, semakin marah dan semakin membenci seolah mereka menjadi muslim yang baik dan shaleh. Perasaan ini kelihatannya bersumber dari ayat: "..... asyiddau alal kuffar wa ruhamau bainahum" (bersikap tegas/keras pada orang kafir dan lemah lembut pada sesama muslim, QS al-Fath: 29).

Yang dipahami secara tekstual kemudian diajarkan secara massif dan provokatif. Dan celakanya, pemahaman kafir pun mengalam pendangkalan dan penyempitan makna. Orang-orang yang berbeda tafsir dan pemahaman terhadap Islam bahkan berbeda pilihan politik dianggap kafir sehingga perlu diperangi dan disikapi secara tegas. Inilah yang menyebabkan mereka mudah marah dan membenci.

Dalam Islam, marah (ghadab) itu diperbolehkan untuk membela diri ketika diserang, membela kehormatan, harta benda, kepentingan umum, menolong orang yang terdzolimi dan mempertahankan agama. Inilah yang disebut dengan marah yang terpuji. 

Meski dalam Islam memperbolehkan marah namun harus dilakukan dengan persyaratan yang ketat dan kendali yang kuat. Ini untuk menjaga agar kemarahan tidak sampai menimbulkan kerusakan dan membuat pelakunya tergelincir dalam dendam dan emosi yang justru bisa menodai niat dan merusak cintra Islam. 

Sikap menjaga niat dalam kemarahan agar tidak terkotori oleh dendam pernah dicontohkan oleh Sayyidina Ali. Ketika beliau berhasil meringkus lawan dan tinggal membunuhnya tiba-tiba lawan tersebut meludahi Sayyidina Ali. Seketika beliau melepas lawan tersebut dan tidak jadi membunuhnya. Orang tersebut terkejut dan heran, kemudian berkata: "Kenapa kau lapas aku dan tidak jadi membunuhku?".

Dengan tegas Sayyidina Ali menjawab: "Aku khawatir membunuhmu bukan karena Allah tapi karena dendam dan kebencianku padamu akibat ulahmu yang telah meludahiku". Kisah Sayyidina Ali ini bisa menjadi cermin bagaimana menjaga hati dan niat dalam kemarahan, lebih-lebih jika kemarahan itu dilakukan demi agama.

Mengendalikan diri dan menjaga niat dalam kondisi marah bukanlah perkara mudah. Karena sulitnya mengendalikan amarah dari jebakan dendam dan tindakan destruktif, maka ketika ada seorang sahabat yang minta nasihat pada Nabi, beliau menjawab agar jangan mudah marah. Dan jawaban itu dilakukan sampai tiga kali.

Para sufi mengajarkan ilmu tasawuf melalui dzikir dan laku suluk untuk menjaga kelembutan hati dan mengolah kepekaan batin agar tidak mudah marah. Melalui laku tasawuf seseorang dilatih menaklukkan diri sendiri, mengendalikan nafsu amarah sehingga mampu bersikap tegas tanpa kekerasan, menaklukkan tanpa kebencian.

Selain itu, para sufi juga menggunakan cara humor untuk menjaga hati agar tidak mudah larut dalam kemarahan. Di dunia sufi, humor tidak saja berfungsi sebagai sarana mentertawakan diri sendiri untuk mengikis kesombongan diri, tetapi juga sarana bercermin dan menanamkan nilai kearifan. Dalam hal ini kita bisa melihat kisah-kisah Nasrudin Hoja, Abu Nawas yang bernuansa humor tapi sarat makna. 

Melalui laku dan nilai-nilai tasawuf ini ajaran Islam bisa diekspresikan secara arif dan penuh kesejukan tanpa kehilangan ketegasan. Tasawuf juga bisa menjaga muatan spritual dalam beragama sehingga tidak mudah terjebak dalam penjara  teks dan berhala simbol. Beragama tanpa spiritual inilah yang memunculkan sikap kering, keras dan kaku yang membuat pemeluk agama menjadi mudah marah, mudah memusuhi dan suka membenci. 

Jika agama diekspresikan dengan kemarahan dan kebencian maka agama akan mengalami distorsi dan disfungsi. Dan inilah pelecehan agama yang nyata. Bisa dikatakan orang-orang yang mengekspresikan agama dengan sikap marah dan membenci, menebar rasa permusuhan terus menerus dan selalu membuat keresahan itulah yang justru menista agama.

Tak ada agama yang baik kecuali yang dijalankan, diekspresikan secara baik oleh pemeluknya sehingga membawa kemaslahatan dalam kehidupan nyata. Sebaik apapun agama jika dijalankan secara culas, jahat, penuh amarah, dan kebencian, maka agama tersebut akan terlihat jahat dan culas. Orang-orang yang mengekspresikan Islam dengan penuh kebencian dan selalu marah inilah yang bisa disebut sebagai Islam marah-marah. 


Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG