::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tiga Siasat Nabi Ibrahim AS dalam Bela Tauhid

Sabtu, 10 November 2018 07:00 Ilmu Tauhid

Bagikan

Tiga Siasat Nabi Ibrahim AS dalam Bela Tauhid
Perjalanan dan perjuangan dakwah para nabi selalu menarik untuk disimak dan dijadikan pelajaran. Begitu pun dengan perjalanan dakwah Nabi Ibrahim AS. Setiap langkah perjuangannya selalu meninggalkan cerita unik dan pesan mendalam yang tak lekang dimakan zaman. Salah satunya adalah cerita tentang tiga siasat yang pernah dilakukannya demi membela agama Allah yang didakwahkannya.

Pertama, siasatnya saat hendak menghancurkan berhala kaumnya, sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Quran, “Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya,” (Surat Al-Anbiya ayat 57). Dalam menjalankan siasat itu, ia memilih berada di rumah dan mengaku sakit begitu diajak kaumnya keluar ke tempat peribadatan mereka yang penuh dengan berhala. Pengakuan itu pun diabadikan Al-Quran, “Kemudian ia berkata, ‘Sesungguhnya aku sakit,’” (Surat As-Shaffat ayat 89).

Menurut Al-Qusthulani dalam Irsyâdus Sârî Syarh Shahîhil Bukhari ([Mesir, Al-Mathba‘ah Al-Kubra Al-Amiriyyah: 1324 H],  jilid V, halaman 347), yang dimaksud “Aku sakit” dalam pernyataan Nabi Ibrahim AS di atas bukan sakit secara fisik, melainkan sakit batin karena melihat kaumnya yang terus bercokol dalam kekufuran dan kesyirikan.

Mungkin pula pernyataannya itu memiliki makna waktu mendatang sehingga bisa dimaknai “Aku akan sakit” sesuai dengan bentuk ungkapan Arabnya, innî saqîm, yang menggunakan bentuk ism fail. Sama halnya dengan makna hadits, “Annaka mayyitun” maksudnya adalah, “Engkau akan mati.”

Berbeda dengan itu, Sufyan menafsirkan istilah saqim dengan ‘tha‘un’ sehingga mengetahui ada orang yang terkena tha‘un, mereka langsung pergi karena takut menular. Ulama lain menegaskan, kendati memang berbeda dengan situasi yang sebenarnya, namun sebagai sebuah siasat, pernyataan itu tetap dibenarkan, bahkan diperlukan untuk menolak fitnah yang besar.

Bagaimana tak menjadi fitnah? Jika keluar bersama mereka, bukan mustahil Nabi dianggap mendukung aktivitas penyembahan berhala. Namun yang jelas, Nabi Ibrahim AS sebelumnya telah memiliki rencana untuk menghabiskan berhala mereka. Hanya saja ia memerlukan waktu yang tepat untuk mengeksekusinya.

Kedua, siasatnya menjawab pertanyaan kaumnya yang menuding dirinya telah menghancurkan berhala. Alih-alih menjawab sesuai keinginan mereka, ia malah menuduh bahwa yang menghancurkan berhala-berhala itu adalah berhala paling besar.

Konon, berhala mereka saat itu berjumlah sebanyak 72 berhala. Sebagian ada yang terbuat dari emas, ada yang terbuat dari perak, ada pula yang terbuat dari besi, timah, batu, dan kayu. Semuanya dihancurkan oleh Nabi Ibrahim AS kecuali yang paling besar yang terbuat dari emas dicampur batu permata dan matanya terbuat dari batu yaqut.

Setelah menghancurkan berhala-berhala kecil, ia lantas meletakkan kapak di leher berhala paling besar tersebut. Harapannya, agar di saat kembali, mereka bertanya-tanya, “Siapa sebenarnya yang menghancurkan berhala-berhala ini. Mengapa engkau (berhala besar) tidak apa-apa dengan kapak bergantung di lehermu.”

Benar, begitu kembali ke tempat berhala mereka melihat semua berhala itu telah porak-poranda kecuali satu berhala besar. Akhirnya, mereka curiga bahwa Nabi Ibrahim itu yang menghancurkannya. Sebab, hanya Nabi Ibrahim satu-satunya orang yang membenci aktivitas mereka saat itu.

Perbincangan itu dicatat dalam Al-Quran, “Mereka bertanya, ‘Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?’ Ibrahim menjawab, ‘Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara,’ (Surat Al-Anbiya ayat 62-63).

Kendati, apa yang dikatakan Nabi berbeda dengan yang diinginkan para penanya, tetapi sesungguhnya ia ingin menunjukkan kepada mereka bahwa berhala yang selama ini disembah tak bisa apa-apa. Buktinya, begitu berhala besar dituding sebagai penghancur berhala kecil di sekitarnya, mereka pun tak percaya. Di situlah Nabi Ibrahim ingin menunjukkan kebodohan mereka.

Al-Qusthulani menjelaskan, meski Nabi Ibrahim mengaku sebenarnya bahwa pada hakikatnya yang menghancurkan berhala itu adalah Allah, mereka juga tak mungkin percaya, sebab mereka adalah kaum yang kufur. Oleh karenanya, ketika tindak penghancuran itu disandarkan kepada berhala besar, bukanlah sebuah kebohongan, melainkan sebagai ejekan guna memperlihatkan kedangkalan dan kesesatan pikiran mereka. Di sini tampak kekuatan logika dan retorika Nabi Ibrahim AS.

Ketiga, siasatnya kepada utusan Raja Shaduq yang menginginkan istrinya yang cantik Sarah. Nabi Ibrahim AS mengaku, “Dia adalah saudara perempuanku.” Tujuannya agar dirinya selamat dari kekejaman sang raja.

Sebelumnya, Nabi Ibrahim menyampaikan kepada istrinya, “Wahai Sarah, tidak ada lagi yang beriman di muka bumi selain aku dan engkau. Ketika sang raja bertanya kepadaku tentangmu, ‘Siapakah wanita itu?’ Aku menjawab, ‘Dia adalah saudara perempuanku. Aku berharap engkau pun tidak mendustaiku.’”

Walhasil, yang dimaksud saudara di sana adalah saudara seakidah atau saudara seagama karena memang tidak ada orang yang beriman di muka bumi saat itu kecuali mereka berdua.  

Meskipun Nabi Ibrahim memaknai ungkapan “Sarah adalah saudariku” sebagai saudara seiman, kemudian memaknai ungkapan “Aku sakit” sebagai sakit batin melihat kemusyrikan dan kekufuran kaumnya, serta memaknai ungkapan “Sebenarnya patung yang besar itu yang menghancurkannya,” sebagai siasat guna memperlihatkan kebodohan mereka. Tetapi pada hari Kiamat Nabi Ibrahim akan meminta maaf kepada umat manusia karena tidak bisa memberikan syafaat atau bantuan terhadap mereka untuk segera diadili di pengadilan Allah. Ia mengaku ketiganya sebagai siasat dalam bentuk retorika yang pernah diperbuatnya. (Lihat Umar Sulaiman, Shahîh al-Qashash al-Nabawi, [Darun Nafais: 2007], halaman 53).

Namun, perlu ditekankan bahwa pengakuan itu sama sekali tak memberikan pemahaman bahwa beliau berbohong. Sebab, sungguh mustahil seorang nabi berbohong. Apa yang dilakukannya semata strategi demi membela agama Allah, menegakkan agama tauhid, dan memperlihatkan kesesatan kaumnya.

Adapun pengakuannya pada hari Kiamat, “Aku telah berbuat tiga kebohongan,” semata lahir dari kerendahan hati, kepasrahan sebagai hamba, dan ketakutannya yang sangat besar terhadap murka Allah. Sebab, di mata syariat sendiri dan juga di mata Allah, ketiganya bukanlah sebagai kekeliruan. Hal itu telah ditegaskan sendiri oleh Rasulullah saw. dalam hadisnya.  

مَا مِنْهَا كَذِبَةٌ إِلاَّ مَا حَلَّ بِهَا عَنْ دِينِ اللَّهِ

Artinya, Tidak satu pun di antara kebohongan itu kecuali demi membela agama Allah,” (HR At-Tirmidzi, nomor 3148).

Demikianlah strategi menarik dan siasat unik yang dijalankan Nabi Ibrahim demi membela agama Allah, menunjukkan kesesatan kaumnya, dan membela keselamatan dirinya.

Adapun pelajaran penting yang dapat kita petik darinya adalah tatkala tiga siasat yang dibenarkan syariat saja diakui Nabi Ibrahim—dengan kerendahan dan ketakutannya—sebagai kebohongan, lantas bagaimana dengan kebohongan murni yang sengaja diproduksi dan disebarkan demi kepentingan pribadi dan golongan yang sama sekali tak dibenarkan oleh kaca mata apa pun? Wallahu a’lam. (M Tatam Wijaya)