::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

KASUS BENDERA HTI

Kata Forum Kandidat Doktor NU Malaysia soal Klaim Sepihak FPI

Sabtu, 10 November 2018 23:15 Internasional

Bagikan

Kata Forum Kandidat Doktor NU Malaysia soal Klaim Sepihak FPI
Ilustrasi (AFP)
Kuala Lumpur, NU Online
Dalam sebuah video singkat yang telah viral di jagat dunia maya, terdapat klaim sepihak oleh Front Pembela Islam (FPI) bahwa dialog kebangsaan yang difasilitasi oleh Menkopolhukam telah melahirkan sebuah kesepakatan bahwa bendera tauhid bukan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Forum Kandidat Doktor NU Malaysia menilai, klaim ini ditujukan untuk mengaburkan pemahaman masyarakat tentang bendera tauhid dan bendera HTI, dan mencari celah untuk mendeskreditkan oknum Banser yang telah membakar bendera HTI beberapa waktu lalu. 

Muhammad Taufiq, ketua Forum Kandidat Doktor NU Malaysia, menegaskan bahwa yang dibakar oknum Banser beberapa waktu lalu adalah bendera HTI, bukan bendera tauhid, apalagi bendera Rasulullah SAW. 

“Hanya ada satu hadits yang kami temukan bahwa bendera Rasulullah tertuliskan kalimat tauhid, seperti yang diriwayatkan At Thabrani dalam Al-Kabir dan Abu Syekh dalam Majma’ Az Zawaid, dari hadist Ibnu Abbas yang berbunyi bahwa Rayah (Bendera) Rasulullah tertulis atasnya lafadz La ilaha Illa Allah Muhammad Rasulullah. Menurut Ibnu Hajar, sanadnya sangat lemah. Sehingga tidak bisa dijadikan pedoman”.

Ditanya tentang fenomena pengibaran bendera bertuliskan kalimah tauhid di Indonesia, Taufiq menjawab, “Bendera tersebut menjadi simbol organisasi terlarang di Indonesia dan di banyak negara lain, yaitu HTI. Jika mereka tetap ngotot untuk menganggapnya bendera Rasulullah, maka perlu diketahui bahwa dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa bendera Rasul yang berwarna hitam hanya dikibarkan waktu perang, lha Indonesia kan aman, damai dan tenteram, maka tidak perlu ada pengibaran bendera semacam itu.”

Baca juga:
Mengenal Bendera Islam (I): Nama-nama dan Fungsinya
• Mengenal Bendera Islam (II): Siapa yang Berhak Membawanya?
• Mengenal Bendera Islam (III): Warna dan Tulisan di Dalamnya
Ditemui di tempat terpisah, anggota Forum Kandidat Doktor NU Malaysia, Husnul Haq, menyayangkan adanya Aksi Bela Tauhid beberapa waktu lalu yang ia nilai justru merendahkan kalimat tauhid.

“Aksi Bela Tauhid jika dilihat praktiknya yang membawa atribut bendera tauhid justru ada kesan kurang menjaga kesakralan tauhid. Faktanya, telah viral di media, pada aksi tersebut banyak bendera tauhid yang diinjak, diduduki, diletakkan di tanah, dan sebagainya. Bahkan juga viral, aksi tersebut digunakan untuk mendukung salah satu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.” 

”Kalau mau membela tauhid ya, tahlilan dan yasinan, isinya kan mayoritas kalimat tauhid. Tidak dengan menuliskannya di bendera, baju, atau topi. Karena suatu saat kan barang-barang itu bisa saja diletakkan atau dibawa di tempat-tempat yang kurang mulia, seperti kamar mandi dan toilet,” pungkasnya. (Red: Mahbib)