IMG-LOGO
Internasional
KASUS BENDERA HTI

Kata Forum Kandidat Doktor NU Malaysia soal Klaim Sepihak FPI

Sabtu 10 November 2018 23:15 WIB
Bagikan:
Kata Forum Kandidat Doktor NU Malaysia soal Klaim Sepihak FPI
Ilustrasi (AFP)
Kuala Lumpur, NU Online
Dalam sebuah video singkat yang telah viral di jagat dunia maya, terdapat klaim sepihak oleh Front Pembela Islam (FPI) bahwa dialog kebangsaan yang difasilitasi oleh Menkopolhukam telah melahirkan sebuah kesepakatan bahwa bendera tauhid bukan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Forum Kandidat Doktor NU Malaysia menilai, klaim ini ditujukan untuk mengaburkan pemahaman masyarakat tentang bendera tauhid dan bendera HTI, dan mencari celah untuk mendeskreditkan oknum Banser yang telah membakar bendera HTI beberapa waktu lalu. 

Muhammad Taufiq, ketua Forum Kandidat Doktor NU Malaysia, menegaskan bahwa yang dibakar oknum Banser beberapa waktu lalu adalah bendera HTI, bukan bendera tauhid, apalagi bendera Rasulullah SAW. 

“Hanya ada satu hadits yang kami temukan bahwa bendera Rasulullah tertuliskan kalimat tauhid, seperti yang diriwayatkan At Thabrani dalam Al-Kabir dan Abu Syekh dalam Majma’ Az Zawaid, dari hadist Ibnu Abbas yang berbunyi bahwa Rayah (Bendera) Rasulullah tertulis atasnya lafadz La ilaha Illa Allah Muhammad Rasulullah. Menurut Ibnu Hajar, sanadnya sangat lemah. Sehingga tidak bisa dijadikan pedoman”.

Ditanya tentang fenomena pengibaran bendera bertuliskan kalimah tauhid di Indonesia, Taufiq menjawab, “Bendera tersebut menjadi simbol organisasi terlarang di Indonesia dan di banyak negara lain, yaitu HTI. Jika mereka tetap ngotot untuk menganggapnya bendera Rasulullah, maka perlu diketahui bahwa dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa bendera Rasul yang berwarna hitam hanya dikibarkan waktu perang, lha Indonesia kan aman, damai dan tenteram, maka tidak perlu ada pengibaran bendera semacam itu.”

Baca juga:
Mengenal Bendera Islam (I): Nama-nama dan Fungsinya
• Mengenal Bendera Islam (II): Siapa yang Berhak Membawanya?
• Mengenal Bendera Islam (III): Warna dan Tulisan di Dalamnya
Ditemui di tempat terpisah, anggota Forum Kandidat Doktor NU Malaysia, Husnul Haq, menyayangkan adanya Aksi Bela Tauhid beberapa waktu lalu yang ia nilai justru merendahkan kalimat tauhid.

“Aksi Bela Tauhid jika dilihat praktiknya yang membawa atribut bendera tauhid justru ada kesan kurang menjaga kesakralan tauhid. Faktanya, telah viral di media, pada aksi tersebut banyak bendera tauhid yang diinjak, diduduki, diletakkan di tanah, dan sebagainya. Bahkan juga viral, aksi tersebut digunakan untuk mendukung salah satu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.” 

”Kalau mau membela tauhid ya, tahlilan dan yasinan, isinya kan mayoritas kalimat tauhid. Tidak dengan menuliskannya di bendera, baju, atau topi. Karena suatu saat kan barang-barang itu bisa saja diletakkan atau dibawa di tempat-tempat yang kurang mulia, seperti kamar mandi dan toilet,” pungkasnya. (Red: Mahbib)

Tags:
Bagikan:
Jumat 9 November 2018 21:30 WIB
Bukti Cairan Asam Ditemukan, Dugaan Jenazah Khashogi Dilarutkan Menguat
Bukti Cairan Asam Ditemukan, Dugaan Jenazah Khashogi Dilarutkan Menguat
Foto: Getty Images
Istanbul, NU Online
Tim penyelidik Turki yang menangani kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi menemukan bukti baru, yaitu cairan asam dan bahan kimia lainnya. Bahan tersebut ditemukan di kediaman Konsul Jenderal Konsulat Saudi Mohammed al-Otaibi di Istanbul. 

Dikutip dari laman Aljazeera, Kamis (8/11), sebuah sumber dari kantor jaksa Turki mengungkapkan kalau tim penyelidik mendapati hydrofluoric acid dan bahan kimia lainnya di kediaman al-Otaibi selama proses penyelidikan yang digelar 16-17 Oktober.

Pada saat itu, lanjut sumber tersebut, tim penyelidik Turki hendak melanjutkan investigasinya ke kebun dan sumur al-Otaibi. Namun mereka tidak mendapatkan izin untuk melakukan hal itu. 

“Meski demikian, anggota kami berhasil memperoleh sejumlah sampel menggunakan galah dengan pergi ke bagian atas rumah dinas," jelas sumber dari kantor jaksa Turki tersebut. 

Tim penyelidik juga menemukan sisa-sisa cairan asam ketika mengambil sampel dari selokan dan drainase di kediaman al-Otaibi. Dilaporkan sebelumnya bahwa ada tuduhan kalau Jamal Khashoggi dibunuh, kemudian jenazahnya dilarutkan dengan cairan asam. Kamar rumah Konjen Saudi al-Otaibi menjadi salah satu tempat yang dicurigai dimana jenazah Khashoggi dilarutkan hingga menguap.

Kejaksaan Turki merilis sebuah pernyataan resmi tentang pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Dalam pernyataan tersebut disebutkan bahwa Jamal Khashoggi langsung dicekik hingga tewas pada saat ia memasuki gedung Konsulat.

“Sesuai dengan rencana yang dibuat sebelumnya, korban, Jamal Khashoggi, dicekik hingga tewas sesaat setelah memasuki Konsulat Jenderal Arab Saudi,” sebut pernyataan itu, dikutip laman BBC, Kamis (1/11).

Kemudian jenazah Jamal Khashoggi dimutilasi dan dan dimusnahkan "sesuai dengan rencana yang sudah disusun".

Jamal Khashoggi, seorang jurnalis asal Arab Saudi, tiba-tiba saja menghilang ketika berkunjung ke Konsulat Arab Saudi di Istanbul Turki pada Selasa (2/10) lalu. Ia sengaja mendatangi kantor perwakilan Saudi di Turki tersebut untuk mengurus dokumen pernikahannya dengan Hatice, tunangannya asal Turki. 

Sejak awal kehilangannya, Turki menuduh kalau Jamal Khashoggi dibunuh di dalam gedung Konsulat. Pihak Arab Saudi menolak tuduhan tersebut. Namun akhirnya Saudi mengungkapkan kalau Jamal Khashoggi memang terbunuh di dalam Konsulat.

Jamal Khashoggi merupakan jurnalis yang banyak mengkritisi kebijakan Saudi, terutama dalam hal kebebasan berpendapat, hak asasi manusia di Saudi, dan keterlibatan Saudi pada Perang Yaman. (Red: Muchlishon)
Jumat 9 November 2018 20:15 WIB
Pemerintah Jepang Buka Kesempatan Pekerja Asing dan Pemagang di Berbagai Perusahaan
Pemerintah Jepang Buka Kesempatan Pekerja Asing dan Pemagang di Berbagai Perusahaan
Fujisawa, NU Online
Pemerintah Jepang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pekerja asing untuk bekerja dan tinggal di Jepang. Kebijakan ini dilandasi menurunnya angka kelahiran, dan tingginya jumlah pekerja lokal yang memasuki usia lanjut. Hal ini berdampak juga pada program pemagangan yang diselenggarakan berbagai perusahaan di Jepang. Pemagang yang semula hanya diberikan waktu maksimal tiga tahun, sekarang diizinkan selama lima tahun. 

“Pemagang yang telah menyelesaikan pemagangan lima tahun dapat melamar kerja sebagai pekerja setelah mereka memiliki kualifikasi bahasa Jepang yang dipersyaratkan (bahasa Jepang level 2/N2) sehingga mereka bisa tetap di Jepang ataupun dapat kembali ke Indonesia berwirausaha dan membuka lapangan kerja," kata Direktur Bina Pemagangan, Asep Gunawan seusai kunjungan pada perusahaan penerima peserta pemagangan, PT Isuzu Motor ltd, di Fujisawa, Jepang awal pekan ini. Sebelumnya Direktur Asep mengunjungi perusahaan pengirim OS Selnajaya.

“Pemerintah Jepang membutuhkan tenaga kerja asing dan peserta pemagangan dalam jumlah besar di sektor-sektor tertentu karena negara tersebut mengalami defisit jumlah tenaga kerja,” jelas Asep.

Sementara itu Sasaki Ryota, Assistant Manager Labour Relation Departement, PT Isuzu Motor ltd, Pabrik Fujisawa menuturkan nilai positif peserta magang Indonesia, seperti absensi yang baik, jarang telat dan tidak mendadak bolos kerja.

“Selain itu pemagang asal Indonesia lebih prima, ceria, jujur dan mampu berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Jepang (sederhana) dari pada pemagang asal negara lain,” ujar Sasaki.

Namun menurutnya, ada yang harus diperbaiki dari pemagang asal Indonesia, pengetahuan mereka minim mengenai musim di Jepang seperti teriknya cuaca di musim panas.

“Peserta magang Indonesia yang berada disini (Isuzu) ada sebanyak 60 orang dari total jumlah 120. Kami berharap kerjasama ini dapat berlanjut,” terang Sasaki.

Pemagang dan insinyur Indonesia banyak bekerja di prefektur Shizuoka, Aichi dan Fukuoka (sektor industri manufaktur khususnya otomotif), lbaraki (pertanian, perkebunan, peternakan), Miyagi, Hokkaido dan Okinawa (perikanan). 

Pemagang Indonesia yang masih berada di Jepang sekitar 19.000 orang. Selain dari Indonesia, Jepang mendatangkan pemagang dari Bangladesh, India, Kamboja, Laos, Mongolia, Myanmar, Nepal, Sri Langka, Thailand, Tiongkok, Uzbekistan dan Vietnam. (Red: Kendi Setiawan)

Kamis 8 November 2018 22:0 WIB
Belum Aman, PBB Minta Pemulangan Rohingya ke Myanmar Dibatalkan
Belum Aman, PBB Minta Pemulangan Rohingya ke Myanmar Dibatalkan
Yangon, NU Online
Utusan HAM PBB untuk Myanmar Yanghee Lee mendesak Bangladesh dan Myanmar untuk membatalkan rencana pemulangan ratusan ribu pengungsi Rohingya ke kampung halamannya di negara bagian Rakhine. 

Hal ini dimaksudkan untuk menghindari penganiayaan lagi terhadap etnis Rohingya. Lee mengungkapkan, para pengungsi Rohingya di Bangladesh ketakutan dan tertekan saat dikasih tahu kalau mereka masuk daftar pengungsi yang akan dipulangkan ke Myanmar. 

Lee menilai, sampai saat ini Myanmar belum bisa memberikan jaminan keamanan dalam proses repatriasi pengungsi Rohingya. Keadaan di negara bagian Rakhine juga belum kondusif untuk para pengungsi Rohingya. 

“Myanmar telah gagal memberikan jaminan bahwa para etnis Rohingya ini tidak akan mengalami penganiayaan dan kekerasan yang sama sekali lagi,” kata Lee, dilansir dari laman Aljazeera, Rabu (7/11).

Lee juga menyerukan agar Myanmar memberikan hak kewarganegaraan, kebebasan, dan akses layanan umum kepada etnis Rohingya, sebagaimana warga Myanmar lainnya. 

Selama ini, Myanmar tidak mengakui kalau Rohingya adalah etnik pribumi. Bahkan mereka tidak menyebut Rohingya, melainkan Bengalis atau orang-orang dari Bangladesh. 

Bulan lalu, otoritas Myanmar mengatakan kalau mereka telah memverifikasi 5.000 pengungsi Rohingya. Rencananya, grup pertama terdiri 2000 dari mereka akan dipulangkan ke Myanmar pada November ini. Namun demikian, PBB menilai kalau hal itu tetap dilakukan maka pengungsi Rohingya akan menghadapi resiko tinggi penganiayaan.

Pada 25 Agustus 2017 lalu, tentara Myanmar menggelar operasi militer di sejumlah desa yang banyak ditinggali Muslim Rohingya. Peristiwa itu menyebabkan sedikitnya 700 ribu Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Ribuan lainnya dilaporkan meninggal dalam operasi itu. 

Pihak Myanmar membantah tuduhan yang menyebut operasi itu sebagai upaya pembersihan etnis. Mereka berdalih, operasi itu dilakukan untuk memberantas kelompok separatis Muslim Rohingya yang ada di negara bagian Rakhine. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG