IMG-LOGO
Daerah

Alumni Salafiyah Syafi'iyah di Kalbar Ziarah Makam Pahlawan

Ahad 11 November 2018 7:30 WIB
Bagikan:
Alumni Salafiyah Syafi'iyah di Kalbar Ziarah Makam Pahlawan
Ziarah IKSASS Kalimantan Barat, Sabtu (10/11)
Pontianak, NU Online
Pengurus Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo (IKSASS) Rayon Kalimantan Barat melakukan ziarah ke makam para tokoh yang ada di Kalbar. Ziarah dimulai dari makam Sultan Syarif Abdurrahman Al Kadrie di Batulayang Kota Pontianak, makam KH Fathul Bari Ismail Peniraman Mempawah, dan makam Habib Husein Al Kadrie Mempawah.

Menurut Ketua IKSASS Rayon Kalbar, H Dedi Junaidi tujuan utama ziarah ini adalah sebagai bentuk mengenang jasa-jasa para pahlawan bangsa yang gugur dalam peperangan dan banyak dari mereka adalah juga guru bagi masyarakat Kalbar. Para pahlawan mengorbankan diri dalam perjuangan dalam mendidik anak-anak bangsa di Kalbar dengan ikhlas dan tanpa tanda jasa.

"Sultan Hamid II, atau Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak keenam, Sultan Syarif Muhammad Al Kadrie adalah perancang lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. Dan sekarang kita tahu bahwa Pancasila sebagai pemersatu bangsa," kata H Dedi, Sabtu (10/11).

Dedi juga menyebut, KHR As'ad Syamsul Arifin dua tahun yang lalu dikukuhkan oleh pemerintah menjadi Pahlawan Nasional. Hal itu pantas disyukuri oleh para santri.

"Kiai As'ad menganjurkan kepada santri dan alumni Sukorejo ketika momen Hari Pahlawan Nasional untuk mengingat dan mengenang perjuangan dan jasa jasa para pahlawan, menelaah cita cita para kusuma bangsa, dan menghormati para syuhada," tambah Dedi.

Di makam-makam yang dizirahi, mereka membacakan amalan sesuai tuntunan NU. Seperti di makam sultan Syarif Abdurrahman dibacakan Surat Yasin dan Ratibul Haddat; di Makam KH Fathul Bari menghatamkan Al-Qur'an. Sementara di Makam Habib Husen Al Kadrie dibacakan Tahlil.

Sebanyak 60 orang alumni, wali santri dan simpatisan mengikut kegiatan ini. Selain pengurus IKSASS Rayon Kalbar, ziarah ini juga diadakan pengurus SubRayon IKSASS Kabupaten Ketepang di hari yang sama. (Firman Tiro/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Ahad 11 November 2018 22:30 WIB
PMII di Pontianak Semakin Diminati Mahasiswa
PMII di Pontianak Semakin Diminati Mahasiswa
Pontianak, NU Online
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia  (PMII) khususnya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia Pontianak, Kalimantan Barat kian digandrungi mahasiswa. Hal tersebut dibuktikan saat pelaksanaan Masa Penerimaan Anggota Baru atau Mapaba yang diikuti puluhan peserta. Kegiatan dipusatkan di balai NU, jalan Husin Hamzah Pal 3 Sui Jawi, Ahad (11/11).

“Mapaba ini merupakan kegiatan perdana yang dilaksanakan di kampus ini,” kata M Nurdin.  Peserta adalah utusan dari berbagai kampus yaitu Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pontianak dan IKIP-PGRI sendiri, lanjutnya. 

Pria yang juga Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor sekaligus senior PMII IKIP-PGRI Pontianak ini mengatakan mahasiswa adalah agen perubahan dan kontrol. “Maka dari itu harus aktif dalam berbagai kegiatan yang dapat menunjang minat bakat mahasiswa  salah satunya harus aktif di PMII,” katanya.

Dalam pandangannya, Mapaba merupakan itikad awal dalam menapaki PMII. “Kalian mengikuti Mapaba ini merupakan langkah awal menjadi kader PMII yang menjungjung tinggi nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan,” jelasnya.

Wandi yang merupakan Ketua Komisariat IKIP-PGRI berharap peserta yang sudah mendaftar dan mengikuti Mapaba bisa mengikuti dan menyimak semua materi yang disampaikan.

“Semua materi yang disampaikan nantinya sangat penting untuk dipahami oleh peserta karena saat inilah kalian akan memahami secara detil tentang PMII,” terangnya.

Mapaba mengambil tema Renaisans Intelektual Muda NU IKIP-PGRI Pontianak. Dengan  harapan ke depannya peserta menjadi intelek muda NU yang mengedapankan nilai toleransi dalam kehidupan beragama dan dalam sosial masyarakat.

“Sehingga tercipta keharmonisan dan  kedamaian terhadap bangsa dan negara serta tetap menjaga keutuhan NKRI,” harapnya. (Ibnu Nawawi)

Ahad 11 November 2018 22:0 WIB
Tiga Bekal Utama Santri Hadapi Revolusi Industri 4.0
Tiga Bekal Utama Santri Hadapi Revolusi Industri 4.0
Kiai Ma'ruf Khozin (baju putih) dan sejumlah narasumber pada diskusi Cangkir Sembilan.
Surabaya, NU Online
Santri tidak perlu gamang menghadapi perubahan. Bila memiliki tiga bekal ini, akan tetap bisa berkhidmat yang terbaik lantaran telah memiliki pondasi yang kokoh.

“Yang pertama adalah akidah, kemudian ibadah, serta akhlak,” kata Kiai Ma’ruf Khozin, Sabtu (10/11). 

Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah Aswaja NU Center Jawa Timur ini pada diskusi Cangkir Sembilan. Kegiatan juga menghadirkan narasumber yakni Irfan Wahid atau Gus Ipang, Fauzi Priambodo selaku pendiri dan pemilik Teamwork, Hari Usmayadi yakni Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Ta’lif wan Nasyr NU (LTNNU) dan Abdul Rachman dari NUjek.

Menurut Kiai Ma’ruf, ilmu dan teknologi dapat berubah seiring dengan perkembangan zaman. “Namun bila memiliki tiga bekal itu, insyaallah di era kapan pun akan tetap bermanfaat,” jelasnya seraya menyitir ayat al-Qur’an yakni di surat Luqman. 

Lebih lanjut, alumnus Pesantren Ploso Kediri tersebut menyebutkan di tengah berkecamuknya arus media sosial, maka akan ada juga pihak yang diselamatkan. 

Dengan mengutip perkataan Ibnu Bathah dalam al-Ibanah bahwa tanda seseorang dikehendaki menjadi baik oleh Allah memiliki ciri sebagai berikut.

“Yakni menjadi pendiam kecuali berbicara karena untuk memperoleh ridha Allah dan berbicara tentang kebaikan agama,” urainya.

Berikutnya adalah bisa menjaga mulut. “Kalau zaman sekarang menjaga tangan untuk tidak mudah komentar di media sosial atau Medsos,” jelasnya.

Juga tahu keadaan masyarakat di masanya, serta fokus terhadap urusannya. 

Untuk yang terakhir, Kiai Ma’ruf memberikan penjelasan khusus. “Orang yang fokus di satu profesi, maka Allah SWT akan melimpahkan rejeki, kesehatan serta panjang umur penuh berkah,” katanya.

Di era revolusi industri 4.0 dengan berbagai implikasinya, ia mengajak hadirin untuk lebih menahan diri, utamanya di Medsos. “Kita harus memproteksi diri dengan tidak gampang berkomentar di Medsos. Kalau ternyata harus berbicara, maka hendaknya memilah serta memilih hal baik,” pungkasnya.

Cangkir Sembilan adalah forum yang digagas Pimpinan Wilayah (PW) Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur bersama sejumlah lembaga dan badan otonom. (Ibnu Nawawi)




 

Ahad 11 November 2018 21:0 WIB
Makmurkan Masjid, Takmir Didorong Kaya Kreatifitas
Makmurkan Masjid, Takmir Didorong Kaya Kreatifitas

Jombang, NU Online
Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Sambongdukuh, Kecamatan/Kabupaten Jombang, Jawa Timur menyelenggarakan Pelatihan Managerial Takmir dan Imam Masjid/Mushala, Ahad (11/11) di Masjid Nurul Hidayah Sambongdukuh.

Pada kesempatan ini PRNU bermitra dengan Pengurus Cabang (PC) Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Jombang.

Sementara pesertanya adalah mayoritas takmir masjid dan Mushala di desa ini. Mereka didorong memiliki berbagai kreatifitas untuk bisa memakmurkan masing-masing masjid atau mushalanya. Pasalnya, seorang takmir memiliki peran yang sangat penting bahkan penentu dalam memakmurkan masjid atau mushala.

"Takmir masjid harus mampu berkreasi dalam mengembangkan dan membuat masjid bisa ramai. Takmir masjid punya peran penting karena masjid bisa ramai dengan aneka kegiatan atau sepi seperti kuburan tergantung dari takmir," kata Ketua PC LTMNU Jombang Moh Makmun.

Ia juga menyinggung terkait uang kas masjid. Dalam hal ini, seorang takmir tak perlu takut menggunakan uang kas tersebut untuk kepentingan masjid, baik untuk keperluan pembangunan fisik masjid maupun pengembangan sumber daya manusia (SDM) para jamaahnya.

Uang itu pula menurutnya dapat digunakan untuk beragam kegiatan masjid dan mushala. Dengan demikian, masjid dan mushala akan semakin hidup dengan aneka kegiatan bermanfaat.

"Takmir jangan takut menggunakan uang yang masuk ke masjid. Karena uang dari jamaah dapat digunakan untuk pembangunan fisik masjid, pembangunan SDM jamaah dengan berbagai macam kajian islami, serta pemberdayaan jamaah," ucapnya.

Sementara Rais Syuriah PRNU Sambongdukuh Moch Choirul Anwar mengungkapkan, kegiatan tersebut sangat penting dilakukan. Selain sebagai upaya memakmurkan setiap masjid dan mushalanya, melalui kegiatan ini masing-masing takmir ke depan dapat menguatkan sinergitas dalam berbagai kegiatan bermanfaat untuk masjid dan para jamaahnya.

"Acara ini angat penting untuk mensinergikan seluruh takmir masjid atau mushala dalam mengemban amanah memakmurkan masjid dan mushala," ucapnya.

Namun yang tak kalah penting menurutnya, takmir harus dapat mencegah kelompok-kelompok yang hendak membawa paham-paham yang dianggap melenceng kepada para jamaah.

"Para takmir harus bisa membentengi diri dari paham-paham radikal dengan paham Aswaja an-Nahdliyah," jelasnya. (Syamsul Arifin/Muhammad Faizin)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG