IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Menciptakan Pahlawan dari Generasi Kekinian

Ahad 11 November 2018 17:0 WIB
Bagikan:
Menciptakan Pahlawan dari Generasi Kekinian
Para pahlawan selama ini selalu didefinisikan sebagai orang-orang yang berjuang secara fisik untuk merebut kemerdekaan. Dalam kondisi kekinian, ketika dunia sudah relatif damai, kiranya perlu pendefinisian ulang apa yang disebut dengan pahlawan. Membatasi pahlawan hanya pada orang-orang yang hanya berjuang melawan penjajah akan menegasikan kontribusi peran-peran lain yang kini relevan dalam meneruskan perjuangan bangsa.

Soekarno mengatakan, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Ungkapan ini sangat tepat disampaikan sekarang. Setelah Indonesia dan banyak negara-negara lainnya lepas dari kolonialisme, mereka harus berjuang untuk membangun bangsanya. Tantangannya juga dari bangsa sendiri seperti korupsi. Apa yang dilakukan setelah perjuangan fisik tersebut nilainya bisa jadi setara atau bahkan lebih bisa jika dibandingkan dengan kontribusi yang diberikan oleh para pahlawan dalam arti yang ada saat ini.

Siapa saja yang bisa menjadi pahlawan di era kekinian dan di masa mendatang? Para atlet yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempa diri agar bisa mengharumkan nama bangsa dengan prestasi-prestasi gemilang di tingkat internasional secara konsisten, layak di sebut pahlawan. Mereka merekatkan identitas keindonesiaan bagi anak-anak muda. Mereka membuat generasi muda bangga menyebutkan diri sebagai Indonesia.

Para ilmuwan yang menghasilkan temuan-temuan baru untuk perbaikan hidup manusia dan kondisi alam semesta, juga layak disebut sebagai pahlawan. Riset bertahun-tahun dalam kesunyian di laboratorium dan perenungan yang dilakukan untuk mendapatkan pencerahan bukanlah pekerjaan yang mudah. Butuh kegigihan dan kesabaran untuk mencapai hasil yang mampu memberikan kontribusi besar bagi ilmu pengetahuan.

Para pengusaha, yang telah menciptakan inovasi-inovasi baru yang menggerakkan ekonomi, yang mempermudah hidup manusia, yang menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang, yang membayar pajak dengan jujur serta memberikan donasi atas keuntungan yang didapatkannya, juga layak disebut pahlawan. 

Para ulama dan tokoh agama yang telah membimbing masyarakat untuk berperilaku baik sesuai dengan nilai-nilai agama dan menjunjung tinggi norma dan etika, yang menciptakan harmoni dan kedamaian juga bagian dari pahlawan. 

Anak-anak muda yang mampu menginspirasi generasi muda lainnya dengan kreativitasnya sehingga menggerakkan jutaan anak muda lainnya untuk memaksimalkan potensinya adalah bagian penting dari dinamika di usia mereka yang layak diapresiasi. Mereka juga pahlawan.

Tentu saja, pada setiap bidang dan profesi, terdapat orang-orang yang memberi kontribusi besar kepada kepada bangsa dan kepada kemanusiaan secara umum. Mereka juga pahlawan. 

Apresiasi yang diberikan kepada para pahlawan-pahlawan baru ini akan mendorong calon-calon pahlawan baru untuk muncul. Dukungan yang diberikan kepada para pejuang tersebut akan mempermudah kerja-kerja yang selama ini telah mereka lakukan. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian untuk mencapai tujuan besar yang ingin mereka raih. Jangan sampai kita hanya berebutan memberikan apresiasi setelah mereka terkenal saja karena perjuangan terberatnya adalah saat-saat dalam proses pencapaian tujuan.

Saat ini ada banyak sekali bakat terpendam penduduk Indonesia. Dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta, ada beragam bakat dan keunikan. Tinggal bagaimana kita mengasah agar bakat tersebut bisa berkembang maksimal. Di sinilah perlunya sistem atau yang memungkinkan bakat-bakat tersebut memiliki kesempatan untuk muncul dan berkembang. 

Dalam bidang pendidikan, sistem ujian yang jujur memungkinkan calon siswa paling potensial yang bisa lolos, bukan mereka yang memiliki uang untuk masuk ke pendidikan negeri terbaik. Dengan demikian, anak dari keluarga kurang mampu, tetapi memiliki potensi bisa mengembangkan kemampuannya. Dalam bidang olahraga, sudah seharusnya atlet paling berbakat yang masuk tim pelatnas, bukan karena faktor-faktor lainnya.  

Setelah proses seleksi awal berjalan dengan baik, maka langkah selanjutnya adalah memberikan dukungan agar bakat-bakat tersebut bisa terasah dengan baik. Sangat disayangkan jika bakat yang baik tersebut tidak terolah dengan baik. Tim-tim juara, selalu memiliki pelatih yang handal. Siswa-siswa yang berprestasi memiliki guru yang sangat mendukung. Pemerintah memiliki peran besar dalam memberikan dukungan.

Setelah proses pendidikan dan pelatihan berjalan dengan baik, maka tahap selanjutnya adalah memberikan peran yang baik kepada para orang-orang berbakat ini. Inilah lapangan yang sesungguhnya yang mereka jalani dalam kehidupan masyarakat untuk seterusnya. Jangan sampai tenaga, waktu, uang, dan sumber daya lain yang sudah dihabiskan untuk mendidik dan melatih mereka  sia-sia karena orang berbakat tersebut tidak mendapatkan peran yang sesuai dengan kemampuannya. 

Dulu, ujian calon pegawai negeri sipil (CPNS) selalu diwarnai dengan isu suap agar bisa lolos. Jika hal tersebut benar-benar terjadi, maka mereka yang menjadi abdi negara, yang masuk dengan cara menyuap, merupakan orang-orang yang kurang berkualitas. Orang berkualitas, akhirnya tersingkir dari persaingan yang tidak jujur. Yang mengelola birokrasi pemerintah, akhirnya bukan orang-orang terbaik. 

Kemajuan teknologi dapat digunakan untuk membantu membuat sistem atau tata kelola yang baik agar orang-orang terbaik mendapatkan tempat terbaik. Hal-hal yang dahulunya ditangani secara manual dan rawan manipulasi karena minimnya transparansi dan akuntabilitas, kini dengan mudah bisa diatasi dengan teknologi. Seperti saat ini, ujian CPNS yang dilakukan secara langsung dengan komputer telah meningkatkan transparasi. Masing-masing peserta ujian dengan seketika ketika ujian berakhir, langsung mengetahui apakah ia akan lolos atau gagal pada tahap ujian tersebut sesuai dengan batas minimal kelulusan yang sudah ditetapkan. 

Kini saatnya kita mengapresiasi pahlawan-pahlawan baru di dunia kekinian dan memberikan ruang pada calon-calon pahlawan baru untuk tumbuh dan berkembang, mereka bisa memberikan kontribusi yang maksimal di masa mendatang kepada bangsa, kepada alam, dan kepada nilai-nilai kemanusiaan.  (Achmad Mukafi Niam)

Bagikan:
Sabtu 3 November 2018 12:30 WIB
Mempererat Persaudaraan NU dan Muhammadiyah
Mempererat Persaudaraan NU dan Muhammadiyah
Pendiri NU KH Muhammad Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan merupakan dua orang sahabat yang belajar agama pada satu guru, yaitu KH Sholeh Darat di Semarang. Bahkan keduanya tinggal di kamar yang sama saat santri. Kedua karib ini selanjutnya pergi ke Makkah untuk melanjutkan pendidikan agama pada ulama yang sama pula, yaitu Syekh Mahfud Tremas. Setelah pulang, lalu keduanya mendirikan organisasi yang kini menjadi dua organisasi Islam terbesar di Indonesia yang menaungi jutaan umat Islam di Indonesia. Persahabatan tersebut kini sudah selayaknya ditingkatkan pada aksi-aksi lebih nyata bagi umat Islam di Indonesia. 

Pada hari Rabu, 31 Oktober 2018 rombongan PBNU yang dipimpin oleh KH Said Aqil Siroj berkunjung ke kantor PP Muhammadiyah untuk membalas kunjungan yang sudah dilakukan Pengurus Pusat Muhammadiyah pada 23 Maret 2018. Kunjungan tersebut menghasilkan empat kesepakatan bersama dan akan ada tindak lanjut pada kerja-kerja bersama untuk semakin mendekatkan kedua belah pihak. 

Hubungan NU dan Muhammadiyah yang panjang ini berjalan dengan dinamis, seiring dengan usianya yang sudah melebihi seratus tahun bagi Muhammadiyah dan menjelang seratus tahun bagi NU. Ada masa ketika keduanya sangat akrab, tetapi pada saat lainnya berjarak. Tentu ada konteks dan situasi yang mempengaruhinya. Dan hal tersebut wajar-wajar saja sebagaimana hubungan antarmanusia, suami istri, saudara, ataupun sahabat. Semuanya bersifat dinamis. 

Pada satu masa, pembahasan masalah-masalah khilafiyah begitu mengemuka seperti jumlah rakaat Shalat Tarawih, hukum penyelenggaraan Maulid Nabi, Tahlilan, dan masalah-masalah furuiyah lainnya. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, terdapat kesadaran untuk saling menghargai masing-masing pandangan keagamaan. Masalah yang ada tersebut sesungguhnya sudah diperdebatkan oleh para ulama jauh sebelumnya. Lalu ada kesadaran bahwa energi umat Islam seharusnya digunakan untuk hal-hal yang lebih produktif dalam menyelesaikan masalah umat yang lebih mendesak.

Para pendiri NU dan Muhammadiyah bukan hanya berdakwah dalam bidang agama, tetapi mereka termasuk pendiri Indonesia. Pengakuan tersebut terbukti dari gelar pahlawan nasional yang diberikan kepada para tokoh kedua organisasi tersebut atas jasa-jasa mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hingga kini pun, komitmen kedua organisasi ini tetap terjaga saat menghadapi ancaman gerakan-gerakan yang ingin mengubah NKRI sesuai dengan ideologi yang mereka usung. Kesepakatan bersama yang dihasilkan juga meneguhkan apa yang selama ini sudah dijalankan bersama.

Di saat penghargaan terhadap perbedaan dalam masalah-masalah agama semakin tinggi, dinamika naik turunnya hubungan kedua organisasi ini mungkin akan dipengaruhi oleh pilihan politik dari para tokohnya sebagaimana yang terjadi pada dinamika politik antara Gus Dur dengan Amien Rais. Kini saatnya meningkatkan pendidikan politik bagi warga NU dan Muhammadiyah bahwa perbedaan politik tak harus mempengaruhi hubungan kedua organisasi ini. Pengalaman masa lalu dapat menjadi pelajaran.

Kesadaran politik rakyat Indonesia dalam dua puluh tahun reformasi ini sudah meningkat pesat. NU dan Muhammadiyah bukan organisasi politik. Para aktivis organisasi yang ingin bergerak dalam bidang politik dipersilakan memilih politiknya masing-masing, sekalipun terdapat partai politik tertentu yang memiliki kedekatan emosional karena faktor sejarah pendirian, ideologi yang diusung atau kedekatan dengan para tokoh yang terlibat di dalamnya. Perbedaan pilihan politik tidak selayaknya mempengaruhi persaudaraan dan kerja sama.

Hubungan pribadi atau aspek budaya turut mempengaruhi hubungan kedua organisasi ini. Pada era kepemimpinan KH Hasyim Muzadi dan Din Syamsuddin, hubungan keduanya yang intens turut berpengaruh terhadap organisasi yang dipimpinnya. Keduanya pernah nyantri di Pesantren Gontor. Din Syamsuddin yang pada masa mudanya pernah aktif menjadi pengurus IPNU di tempat asalnya membuat dia seringkali diundang dalam acara-acara NU. Hal tersebut membuat kedekatan emosional yang memudahkan komunikasi dalam banyak hal. 

Kini, kesadaran bahwa banyak sekali persoalan umat Islam yang harus diselesaikan bersama semakin meningkat. Umat Islam masihmenghadapi masalah kualitas sumber daya manusia, kesehatan, dan kesejahteraan ekonomi. NU telah mendirikan dan mengembangkan banyak pesantren sementara Muhammadiyah membangun sekolah-sekolah. Layanan kesehatan Muhammadiyah tersebar luas di seluruh Indonesia, hal yang kini juga sedang dikembangkan oleh NU. Sekalipun umat Islam merupakan mayoritas penduduk Indonesia, tetapi terdapat ketimpangan kesejahteraan ketika ekonomi dikuasai oleh sekelompok kecil orang dengan latar belakang etnis dan agama tertentu. Jika dibiarkan, hal ini dapat menjadi ancaman harmoni sosial.

Kerja sama ini akan meningkatkan kapasitas membangun umat Islam di Indonesia terhadap persoalan yang ada. Kedekatan yang muncul karena keterlibatan dalam kerja-kerja bersama tersebut akan memunculkan hubungan pribadi yang lebih dalam. Hal tersebut akan meningkatkan kesalingpahaman dalam memandang sebuah persoalan atau melakukan tabayyun saat ada suatu hal yang perlu diperjelas. Langkah awal dalam kerja sama antara Banser NU dan Kokam Muhammadiyah yang sudah disepakati dalam pertemuan antara pimpinan organisasi ini dapat diperluas pada bidang-bidang lainnya. 

Hubungan kedua organisasi ini sudah selayaknya melalui proses yang terencana dan didesain bukan hanya menciptakan hubungan dalam menyelenggarakan program, tetapi mampu menciptakan kedekatan pribadi. Kita tidak dapat lagi mengandalkan proses alamiah sebagaimana terjadi pada masa sebelumnya ketika para tokohnya secara kebetulan belajar bersama. Kerja sama bisa digagas dari tingkat pusat sampai struktur organisasi paling bawah atau antar badan otonomnya. Jika sebelumnya hanya saling kenal atau sekedar tahu, hubungan tersebut akan meningkat dan menciptakan sinergi. 

Ada hal-hal tertentu di masa kedua organisasi ini saling menghargai perbedaan yang ada, seperti terkait dengan pandangan keagamaan, di samping usaha untuk secara terus-menerus mencari titik temu. Ada bidang-bidang di mana bahkan keduanya dapat bekerja sama sekaligus bersaing memberikan yang terbaik kepada umat seperti dalam bidang usaha yang dimiliki kedua organisasi ini. Ada situasi di mana keduanya harus bekerja sama untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Sinergi dari kedua organisasi ini akan melahirkan kekuatan dahsyat dalam menjadikan Indonesia sebagai tempat bagi umat Islam yang memiliki peradaban tinggi, yang akan memberi kontribusi besar bagi umat Islam di dunia. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 28 Oktober 2018 8:0 WIB
Menyelesaikan Masalah Pembakaran Bendera HTI dengan Bijak
Menyelesaikan Masalah Pembakaran Bendera HTI dengan Bijak
Banser merupakan penjaga ulama untuk menegakkan ajaran Islam. Mereka merupakan kepanjangan tangan dari Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam terbesar di Indonesia. Karena itu, mengherankan jika Banser dianggap menghina kalimat tauhid akibat pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), organisasi yang telah dibubarkan karena ideologinya berusaha mengubah NKRI. 

Peristiwa pembakaran bendera HTI di Garut saat peringatan Hari Santri menjadi viral karena direkam dan disebarkan dari grup-grup media sosial. Beragam tanggapan muncul, antara kelompok yang setuju dan tidak sehingga menimbulkan kegaduhan. Ciri media sosial adalah, semua orang merasa berhak berbicara, baik mereka yang memang memahami persoalan, karena sentimen ideologi atau karena dukungan politik. Semuanya menjadi riuh rendah meramaikan persoalan tersebut. 

Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas menyatakan permintaan maaf atas kegaduhan yang ditimbulkan oleh Banser. Tiga orang yang melakukan pembakaran juga meminta maaf kepada publik akibat kegaduhan itu. Mereka yang bertindak melampaui prosedur kemudian mendapat sanksi organisasi.

Kepolisian bertindak cepat agar permasalahan tersebut segera diredam. Para pelaku pembakaran segera dimintai keterangan. Perdebatan apakah yang dibakar bendera HTI atau bendera tauhid diminimalisasi dengan melakukan kajian yang selanjutnya disimpulkan bahwa yang dibakar merupakan bendera HTI. Hal ini dilakukan salah satunya dengan melihat jejak digital bahwa bendera itulah yang selama ini digunakan oleh HTI dalam berbagai acara. 

Dalam kesepakatan bersama, tidak boleh ada bendera selain merah putih pada upacara peringatan Hari Santri. Saat ada orang yang membawa bendera HTI, maka Banser kemudian mengamankannya. Dalam protap Banser, seharusnya bendera tersebut diserahkan kepada polisi. Sayangnya, tindakan Banser tersebut melampaui aturan yang telah ditetapkan. Selain satu kasus tersebut, banyak bendera HTI lain yang diamankan Banser dankemudian diserahkan ke polisi.

Uus Sukmana (34) pembawa bendera yang dibakar–yang akhirnya tertangkap—ketika dimintai keterangan oleh polisi mengakui bahwa bendera tersebut merupakan bendera HTI yang dibeli secara online di sebuah akun Facebook. Akun yang menjual bendera tersebut juga menerangkan bahwa yang dijual adalah bendera HTI. Dengan demikian tidak ada keraguan lagi setengah pengakuan dari Uus bahwa bendera yang dibakar adalah bendera HTI. Karena itulah pernyataan dari beberapa orang atau organisasi bahwa itu bukan bendera HTI gugur dengan sendirinya. 

Sejumlah organisasi teroris seperti Al-Qaeda, ISIS, Taliban, dan Boko Haram juga menggunakan kalimat tauhid untuk benderanya. Perdebatan akhirnya mengarah bagaimana dengan simbol-simbol tauhid yang kemudian digunakan untuk tindakan kekerasan? Di sini banyak tafsir yang muncul dan menjadi kontroversi dalam masyarakat. Bagaimana kita harus memperlakukan kalimat suci yang kemudian digunakan untuk tidakan-tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tersebut?
 
Nahdlatul Ulama sejak dari berdirinya tahun 1926 mengakui keragaman pendapat para ulama. Dalam bidang fiqih, pendapat empat mazhab diakui, yaitu Maliki, Hanafi, Syafii, dan Hambali. Perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang alamiah dan kamunitas NU dan dihargai sepenuhnya. Termasuk dalam hal ini, bagaimana menyikapi perbedaan pandangan hukum membakar bendera organisasi terlarang. Tetapi ketika sudah masuk ranah hukum, maka semuanya harus mematuhi ketentuan perundangan yang berlaku. 

Dalam negara yang menganut sistem demokrasi, penyampaian aspirasi diizinkan, termasuk di dalamnya melakukan demonstrasi, sejauh hal tersebut dilakukan dengan mengikuti tata tertib yang berlaku. Debat- pubik yang mencerdaskan dan menjaga kesopanan di forum seminar, ruang akademik, bahkan di televisi atau saluran informasi lain akan membantu masyarakat memahami argumen dari masing-masing pihak.

Pada Jumat, 26 Oktober, demonstrasi Bela Tauhid di depan kantor Kemenkopolhukam Jakarta ternyata juga diirngi dengan orasi politik pergantian presiden. Ini mengindikasikan adanya penumpang gelap yang ingin memanfaatkan kontroversi yang ada. Kantor GP Ansor di Sulteng juga diserang orang tak dikenal. Akibat serangan gerombolan dalam jumlah sekitar 30 orang tersebut, beberapa anggota Ansor dan Banser yang sedang menyiapkan bantuan untuk korban gempa mengalami luka-luka. Kasus ini menunjukkan cara-cara yang tidak baik dalam upaya penyampaian pendapat.

Para tokoh agama dan tokoh bangsa telah mengingatkan jangan sampai kontroversi soal pembakaran bendera HTI tersebut dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab untuk menjatuhkan agama Islam. Umat Islam disibukkan dengan dirinya sendiri sehingga urusan-urusan lebih penting yang seharusnya menjadi perhatian akhirnya diabaikan. Pertemuan para tokoh agama di rumah dinas wapres Jusuf Kalla patut kita apresiasi.

Hadir pada pertemuan tersebut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nasir, Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum Syarekat Islam Hamdan Zoelva, dan  Dewan Penasihat Pimpinan Pusat Persatuan Islam Indonesia (Persis) Maman Abdurahman. Wapres Jusuf Kalla didampingi oleh Kapolri Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin dan Mensesneg Pratikno. 

Lima kesepakatan yang dihasilkan oleh para tokoh umat Islam ini sangat menyejukkan. Mereka mufakat mengedepankan musyawarah dan saling pengertian untuk menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa. Para pemimpin juga menyerukan umat Islam agar tidak memperbesar masalah, melainkan bergandengan tangan mengatasi adu domba dan mengedepankan dakwah bil hikmah wal maudhitil hasanah. 

Para tokoh juga menyesalkan kejadian tersebut dan berharap kejadian serupa tidak terulang kembali. Oknum yang membakar bendera telah meminta maaf dan diberikan sanksi atas tindakan yang melampaui prosedur. Ansor dan NU juga telah menyesalkan kejadian tersebut. Jika ada pelanggaran hukum, maka akan diserahkan kepada Polri untuk diselesaikan secara hukum. 

Kini saatnya kita kembali fokus kepada persoalan-persoalan besar umat Islam yang harus diselesaikan bersama seperti pendidikan, kesejahteraan, kesehatan, dan lainnya. Kejadian yang ada dapat menjadi ujian seberapa jauh kita mampu menyelesaikan persoalan bersama dengan bijak demi kebaikan bersama. (Achmad Mukafi Niam)

Sabtu 20 Oktober 2018 21:30 WIB
Menyiapkan Santri Hadapi Revolusi Industri 4.0
Menyiapkan Santri Hadapi Revolusi Industri 4.0
Ilustrasi (via tidy.vn)
Teknologi dengan cepat telah mengubah banyak hal dalam hidup. Jika sebelumnya manusia sangat tergantung pada alam, kini banyak hal bisa dikendalikan, cukup dengan sentuhan tangan di telepon atau perangkat cerdas lainnya. Mereka yang memiliki teknologi paling canggih akan mengendalikan pihak lain. Karena itu, banyak negara memberi dukungan pengembangan teknologi sebagai sarana memenangkan persaingan dengan negara lain. Masing-masing berusaha menjadi yang terdepan. Perusahaan teknologi berusaha menjadi yang tercepat dalam meluncurkan produk baru. Hasilnya adalah percepatan penemuan teknologi baru. Kini, teknologi digital menjadi pusat perhatian para pengembang teknologi.

Teknologi digital yang salah satunya berwujud dalam bentuk internet mampu memberi solusi pada banyak hal yang sebelumnya mustahil. Apa yang dahulunya susah dijangkau, kini hanya dengan genggaman tangan telah terhubung. Dunia telah menjadi desa global karena apa yang terjadi di satu bagian dunia, bisa secara langsung dihadirkan di bagian lainnya. Upaya pengembangan dari teknologi digital saat ini salah satunya adalah, teknologi kecerdasan buatan (artifisial intelegence) yang memungkinkan komputer atau mesin bisa mengerjakan sesuatu tanpa diperintah manusia. Para ahli mengkategorikan hal ini sebagai bagian dari revolusi industri 4.0.

Sejarah revolusi industri dimulai dari 1.0 ketika mesin uap ditemuan yang pada akhirnya memunculkan mesin-mesin untuk produksi yang menggantikan tenaga manual manusia. Revolusi industri 2.0 terjadi saat muncul tenaga listrik dengan produksi massal dan standarisasi mutu. Revolusi industri 3.0 berjalan saat muncul komputer dan otomatisasi dan selanjutnya revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan digitalisasi manufaktur yang diakibatkan oleh kekuatan komputasi dan konektivitasnya serta kecerdasan buatan. Salah satu produknya adalah internet of thing, yang mana segala sesuatu dikerjakan secara otomatis. 

Tanpa terasa kita telah mengadopsi teknologi tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, algoritma di internet menyajikan informasi yang paling kita butuhkan berdasarkan sejarah penelusuran kita di internet. Kita diingatkan di media sosial akan peristiwa-peristiwa pribadi atau keluarga yang penting, seperti ulang tahun, pernikahan atau sejarah pertemanan. Media sosial mampu mendeteksi foto yang merupakan teman kita dan mengirimakan pesan untuk memberi komentar atau menandai. Di tempat parkir, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan semakin sedikit karena tergantikan oleh mesin. CCTV menyimpan data dan kita dapat mengakses secara waktu nyata (real time) dari mana saja kita berada. 

Lembaga-lembaga pendidikan telah memikirkan bagaimana mempersiapkan peserta didik mereka agar mampu beradaptasi dengan dunia yang semakin kompleks. Pengetahuan dan ketrampilan yang diajarkan di berbagai lembaga pendidikan jika merujuk pada kurikulum saat ini tidak memadai lagi untuk memberi bekal peserta didik di masa depan mengingat banyak sekali pekerjaan yang digantikan oleh mesin dan muncul pekerjaan-pekerjaan baru belum pernah ada sebelumnya. 

Pesantren, sekalipun mendidik para santri untuk tafaqquh fid dîn, juga dituntut untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Direktur Pedidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ahmad Zayadi, dalam kunjungannya ke NU Online baru-baru ini menyampaikan, berdasarkan riset yang dilakukan Kemenag, hanya empat persen dari jumlah santri yang akhirnya menjadi kiai atau ulama. Selebihnya menjalani beragam profesi sesuai dengan minat dan ketersediaan lapangan kerja. Karena itu, bagaimanapun juga para santri harus disiapkan ketika mereka berkiprah di masyarakat.

Bukan hanya bagi mereka yang akan akan terjun dalam berbagai profesi selain bidang keagamaan, bahkan, bagi mereka yang akan menekuni dunia dakwah dan pengembangan Islam pun, pemahaman akan teknologi dan pemanfaatannya dalam media dakwah juga sangat penting. Para dai yang sudah akrab dengan media sosial mampu memanfaatkan platform tersebut untuk memperluas pengaruh dakwah mereka. Sedangkan mereka-mereka yang hanya berkutat pada cara-cara konvensional hanya memiliki ruang apresiasi yang terbatas di tingkat lokal yang mampu mereka jangkau. 

Selain itu, ketika masyarakat sudah melek teknologi sementara para pemuka agama gagap teknologi (gaptek), maka mereka tidak mampu memahami dinamika akibat pengaruh teknologi yang berada dalam masyarakat. Di balik semua manfaat dan kelebihan yang disematkan pada teknologi canggih, tersimpan beragam dampak buruk yang mengancam siapa saja yang lengah. 

Teknologi juga membantu memudahkan proses belajar mengajar di pesantren. Metode yang mengandalkan hafalan sebagaimana masih berjalan, perlu dievaluasi ulang seiring dengan adanya teknologi pembelajaran terbaru yang melibatkan teknologi digital. Dulu, untuk membelajari Bahasa Arab, para santri harus menghafalkan kitab Alfiyah sebanyak seribu bait. Dibutuhkan waktu yang lama untuk menguasai hal tersebut. Kini, beragam aplikasi belajar bahasa Arab dapat diunduh dengan gratis dan dipelajari dengan mudah dengan hasil yang cepat. Berbagai perangkat lunak untuk mencari rujukan hadits kini tersedia dalam beragam versi. Beragam kitab klasik sudah tersedia dalam bentuk PDF yang memudahkan proses pencarian rujukan.

Dengan sejumlah kesempatan untuk pemanfaatan teknologi ini, sayangnya pesantren masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pemanfaatannya. Pertama, sebagian besar pesantren belum mengizinkan penggunaan beragam perangkat teknologi digital oleh para santri dalam proses belajar mengajar. Ada aspek positif dan negatif dari kebijakan ini. Sisi positifnya, santri bisa fokus belajar dan terhindar dari konten-konten negatif yang tersebar melalui beragam peralatan canggih tersebut. Dampak buruknya adalah, mereka terhambat dalam pemanfaatan teknologi terbaru dalam proses belajar mengajar yang semakin efektif dan efisien. 

Faktor kedua, ketersediaan sarana dan prasarana teknologi yang belum memadai. Tak banyak pesantren yang memiliki laboratorium komputer dan perangkat teknologi digital terkini untuk membantu pengajaran materi-materi keagamaan dengan basis teknologi ini. Memang, dibutuhkan biaya mahal untuk berinvestasi dalam teknologi. Hal ini yang menjadi kendala bagi banyak pesantren.  

Terdapat pesoalan yang dapat diselesaikan secara lokal di internal masing-masing pesantren seperti pengaturan penggunaan teknologi digital agar diperolah manfaat sekaligus menghindari dampak negatif yang mungkin timbul. Terdapat persoalan yang dapat diselesaikan oleh asosiasi pesantren seperti pembuatan panduan kurikulum untuk mengenalkan teknologi kepada para santri. Terdapat permasalahan yang lebih besar seperti dukungan dana dan infrastruktur serta pengakuan lulusan pesantren. Hal ini perlu melibatkan para pemangku kepentingan yang lebih besar seperti pengambil kebijakan di parlemen atau kementerian terkait.

Kita perlu belajar dari pengalaman masa lalu saat prakemerdekaan atau awal-awal kemerdekaan Indonesia. Para era tersebut, pesantren hanya berfokus memberi bekal para santri dengan ilmu agama. Akhirnya ketika tersedia ruang yang luas untuk terlibat dalam membangun negara, komunitas pesantren hanya bisa mengambil peran di Departemen Agama. Ruang-ruang lain, diisi oleh mereka yang memiliki keahlian teknis dan administratif, tetapi minim pengetahuan agama sehingga banyak kebijakan dari lembaga strategis tidak ranah terhadap kebutuhan umat Islam yang merupakan mayoritas di Indonesia. 

Hal yang saja juga terjadi, jika komunitas pesantren tidak mempesiapkan para santrinya untuk menguasai dunia digital, maka orang lain yang akan mengisinya. Tentu saja sesuai dengan ideologi dan pandangan yang mereka miliki. Jangan sampai kita ketinggalan dan hanya menjadi obyek atau konsumen teknologi saja. Bagaimanapun juga, banyak sektor telah terdisrupsi karena perkembangan teknologi digital. Saatnya kita mengambil peran dalam kemajuan teknologi ini.  (Achmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG