Kabar Duka, KH Su’udy Karim Sesepuh NU Lamongan Wafat

Kabar Duka, KH Su’udy Karim Sesepuh NU Lamongan Wafat
KH Su'udy Karim Lamongan (istimewa)
KH Su'udy Karim Lamongan (istimewa)

Lamongan, NU Online

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Telah berpulang ke rahmatullah, Selasa (13/11) pukul 14.45 WIB KH. Su'udy Karim, Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren Tanfirul Ghoyyi Lamongan yang juga sesepuh NU Lamongan di usia 73 tahun.

Ikut serta mengiringi jenazah Almarhum, KH Abdul Aziz Khoiri, KH Masnur Arif, KH Abdussalam, KH Mas'ud Al Mujnar, KH Muhaimin, KH Samsul Anam, KH Hamid, Habib Husen Al Haddad, Pengurus PCNU Lamongan dan Babat, dan Bupati Lamongan H Fadeli beserta jajaran muspida, dan muspika hadir di antara ribuan pelayat lain mengantarkan kepergian Almarhum.

Bupati Lamongan mewakili keluarga almarhum menyatakan, masyarakat Lamongan kehilangan sosok kiai yang kharismatik, sesepuh masyarakat Lamongan yang selama ini menjadi teladan.

Hal serupa juga disampaikan KH Abdul Aziz Khoiri saat usai melaksanakan sholat Jenazah di Masjid Agung Lamongan.

“Beliau adalah teman akrab saya yang berasal dari Malang dan sudah puluhan tahun tinggal di Lamongan, kiai yang khidmahnya di NU tak diragukan lagi, beliau juga menjadi Dewan Nadzir Masjid Agung Lamongan, Dewan Penasehat MUI Lamongan serta menjadi Dewan Nadzir di MTs Putra-Putri dan MA Pembangunan Lamongan sampai sekarang, hidupnya sangat sederhana dan amanah, hingga beliau menghadap Allah Swt,” kata Kiai Aziz.

Sementara itu, Ustadz Zaim Fahmi, selaku Ketua Alumni Pondok Pesantren Tanfirul Ghoyyi Lamongan mengatakan, Mautul ‘alim, mautul alam. Wafatnya orang alim, itu matinya alam. “Kita kehilangan kiai yang alim dan ahli fiqih,” tuturnya.

Jenazah Almarhum di makamkan di area pemakaman keluarga yang bersebelahan dengan pemakaman warga lingkungan Groyok.

KH Su’udy Karim merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tanfirul Ghoyyi Lamongan atau yang sering disebut dengan Pondok Groyok. Pesantren yang didirikan Tahun 1981-an ini telah menghasilkan ribuan alumni dari berbagai penjuru kota dan kabupaten.

Kebanyakan dari mereka adalah hafal Al-Qur'an 30 Juz sehingga telah banyak santri-santrinya yang kini juga menjadi kiai di kampungnya. Kiai Su’udy meninggalkan seorang istri dan 8 putra-putrinya yang kini semua telah siap melanjutkan perjuangan orang tuanya. (Red: Fathoni)


BNI Mobile