::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Bolehkah Allah Disebut Berakal?

Kamis, 15 November 2018 12:00 Ilmu Tauhid

Bagikan

Bolehkah Allah Disebut Berakal?
Ilustrasi (Shutterstock)
Kita tahu bahwa Allah sangat luar biasa. Beragam sifatnya yang luar biasa dalam bahasa Indonesia dilambangkan dengan awalan imbuhan “Maha” ketika menyebutnya. Secara umum, kaum muslimin seluruhnya meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan Maha-Suci dari seluruh sifat kekurangan. Kehebatan Allah dengan seluruh sifat-sifat kesempurnaan-Nya dapat kita lihat di alam semesta dengan seluruh hukum alam yang begitu menakjubkan. 

Dari ciptaan yang sungguh luar biasa di alam semesta ini, akhirnya muncul istilah intelligent design atau penciptaan cerdas. Istilah ini berarti pengakuan bahwa di balik desain rumit alam semesta ini pastilah ada sosok cerdas yang menciptakannya sebab tak mungkin sesuatu yang begitu kompleks akan ada dengan sendirinya. Barangkali di titik ini semua orang beragama akan sepakat. Akan tetapi dalam perspektif teologi Islam Ahlussunnah wal Jamaah, bolehkah Allah disifati cerdas atau berakal?

Imam Syihabuddin ar-Ramli menjelaskan:

لَا يَجُوزُ وَصْفُ اللَّهِ بِالْعَقْلِ؛ لِأَنَّ الْعَقْلَ عِلْمٌ مَانِعٌ عَنْ الْإِقْدَامِ عَلَى مَا لَا يَنْبَغِي مَأْخُوذٌ مِنْ الْعِقَالِ ، وَهَذَا الْمَعْنَى إنَّمَا يُتَصَوَّرُ فِيمَنْ يَدْعُوهُ الدَّاعِي فِيمَا لَا يَنْبَغِي

“Tidak boleh menyifati Allah dengan akal/kecerdasan sebab sesungguhnya akal itu adalah ilmu yang mencegah dari perbuatan yang tidak layak. Kata akal diambil dari kata ‘iqâl (ikatan). Makna ini hanya dapat tergambar dalam sosok yang dapat diajak untuk melakukan hal yang tak layak.” (Syihabuddin ar-Ramli, Fatâwâ ar-Ramli, juz IV, halaman 219-220).

Senada dengan itu, Imam as-Suyuthi juga menjelaskan:

الباري تعالى يوصف بصفة العلم ، ولا يوصف بصفة العقل ، وما ساغ وصفه تعالى به : أفضل مما لم يسغ ، وإن كان العلم الذي يوصف به تعالى قديما ، ووصفنا حادث ، فإن الباري لا يوصف بصفة العقل أصلا ، ولا على جهة القدم 

“Allah Ta’ala disifati dengan sifat Ilmu (Maha-Mengetahui) dan tak disifati dengan sifat akal/cerdas. Sifat yang boleh dijadikan sifat Allah adalah lebih utama daripada sifat yang tak boleh dijadikan sifat Allah. Meskipun sifat Ilmu yang menjadi sifat Allah adalah qadîm (tak berawal mula) sedangkan sifat kita hadîts (punya awal mula), maka sesungguhnya Allah tidak bisa disifati dengan sifat akal sama sekali, tidak juga dari sisi ketidakberawalannya.” (Jalaluddin as-Suyuthi, al-Hâwi, juz II, halaman 166)

Kesimpulannya, meskipun sepintas sifat berakal atau cerdas layak disematkan pada Allah, tetapi para ulama melarang untuk menggunakan sifat ini sebagai sifat Allah. Alasannya, kata cerdas atau berakal digunakan khusus bagi mereka yang menghindar dari tindakan yang tak layak dilakukan. Sedangkan Allah memang tak mungkin sama sekali (mustahîl) melakukan tindakan yang tak layak bagi sifat ketuhanan-Nya sehingga kata ini sama sekali tak relevan bagi-Nya. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember.