IMG-LOGO
Daerah

Modernitas, Tantangan Toleransi Masa Kini

Jumat 16 November 2018 20:15 WIB
Bagikan:
Modernitas, Tantangan Toleransi Masa Kini
Jakarta, NU Online
Toleransi di Indonesia ini menghadapi tantangan, yakni modernitas. Pasalnya, hal ini mengandung kontradiksi yang cukup tajam sehingga membawa pembedaan kelompok dengan terang.

Hal itu disampaikan oleh Ulil Abshar Abdalla, salah satu cendekiawan Nahdlatul Ulama, saat ditemui NU Online di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta, Jumat (16/11).

Jakarta, misalnya, sebagai ruang modernitas yang paling terlihat, penuh kontradiksi. Ada kontras sosial yang mudah menyulut api kemarahan di antara masyarakat, seperti ketimpangan kaya-miskin, ketimpangan pendapatan, perbedaanstatus sosial, dan warna kontras antara yang relijius dan sekuler.
"Dalam ruang kontradiktif itu gampang membuat orang bingung," kata Gus Ulil, sapaan akrabnya.

Karena kebingungannya itu, orang akan mencari pegangan, baik itu sekulerisme, relijiusitas, ataupun lainnya. Hal inilah, menurutnya, yang membuka ruang ideologi radikal mudah masuk.

"Ideologi radikal mudah berkembang di kota karena memang ruang sosialnya memungkinkan, yaitu ruang sosial yang penuh kontradiksi," katanya.

Hal ini diperparah dengan kehancuran otoritas yang sudah dialami oleh kota Jakarta. Pengaruh kiai, menurutnya, tidak sebesar di kampung. Karena itu, semua orang dapat mengajukan diri menjadi otoritas baru, mengaku sebagai kiai, ustadz, ataupun mengaku sebagai ulama hanya dengan berbekal satu dua ayat.

"Karena otoritas agama hancur, popularitas ideologi radikal sangat tinggi," jelasnya.
 
Hal lain yang membuat toleransi semakin menipis di ibukota dan kota besar lainnya, menurut Gus Ulil, adalah kecenderungan masyarakat kelas menengah yang ingin hidup praktis dan pragmatis. Mereka lebih memilih ajaran agama yang mudah dicerna, hitam-putih, dan yang jelas memberikan pembatasan antara Islam dan kafir, halal dan haram.
 
"Mereka tidak mau berpikir mendalam dan serius," ujarnya, "tapi kalau kamu menyodorkan pola keagamaan yang penuh dengan nuansa lebih filosofis, analitis itu tidak mau," imbuhnya.
 
Tendensi kepraktisan mereka, kata pria yang menamatkan studi di Universitas Harvard, Amerika Serikat ini memudahkan tersebarnya ideologi intoleran. Sebab, ideologi intoleran memberikan ideologi yang instan kepada mereka yang kelas menengah itu.
 
Meskipun modernitas ini membuka ruang bagi munculnya wacana toleransi yang jauh lebih kokoh mengingat keberadaan para pejuang ide Hak Asasi Manusia (HAM), toleransi, dan pluralisme, misalnya, di kota besar juga.
 
Hal serupa tidak terjadi di kampung-kampung. Pasalnya, mereka, orang kampung, mempelajari agama Islam lebih komprehensif. Berbagai bidang keilmuan mereka pelajari, seperti fiqih, tafsir, nahwu, sharaf. "Karena itu, mereka tidak terdorong untuk berpikir hitam putih," katanya.
 
Sementara orang kota tidak mengenal nahwu sharaf, tetapi langsung merujuk ke Al-Qur'an dan hadis. Karenanya, Gus Ulil menyebut mereka seakan menghadapi mesin. "Orang kota ini orang yang suka manual praktis. Mereka tidak mau belajar membikin mesin itu, caranya bekerjanya mesin itu dan seterusnya," terangnya.
 
Strategi
Menghadapi hal seperti yang diuraikan di atas, pengajar pascasarjana Unusia Jakarta itu menegaskan agar memperkuat kultur toleransi. Perundang-undangan, peraturan gubernur, ataupun peraturan daerah yang menjamin kemerdekaan beribadah dan menjaga hak-hak kaum minoritas juga menurutnya penting. Namun, baginya, kultur di atas hal itu.

"Yang menjadi pokok perhatian saya itu kulturnya. Bukan sistemnya," katanya.

Toleransi itu sudah menjadi kultur, maka langkah selanjutnya yang paling penting adalah pendidikan di sekolah, dakwah para kiai, pengajian-pengajian di majelis ta'lim, buku-buku pelajaran, siaran di radio televisi, ceramah umum, terbitan koran, majalah, dan buku.
 
"Itu semua sarana enkulturasi masyarakat," pungkasnya. (Syakir NF/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Jumat 16 November 2018 23:30 WIB
Ketua Ansor Bekasi Pimpin Pemuda Lintas Agama
Ketua Ansor Bekasi Pimpin Pemuda Lintas Agama
Konferensi Pemuda Lintas Agama di Bekasi
Bekasi, NU Online
Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Bekasi, Muhammad Joefry didapuk sebagai Pemimpin Pemuda Lintas Agama se-Kota Bekasi.

Setelah ini, dirinya mengaku akan membangun konsolidasi lintas agama. Tujuannya agar mampu menyamakan persepsi sehingga bahu-membahu dalam menciptakan kesejukan dalam beragama.

Hal tersebut diungkapkannya usai kegiatan konferensi sehari Pemuda Lintas Agama se-Kota Bekasi yang diselenggarakan FKUB Kota Bekasi, di RM Margajaya, Bekasi Selatan, pada Kamis (15/11).

“Kalau konsolidasi itu sudah terbangun, dan terjalin komunikasi yang intens, ruang diskusi tercipta, maka saya yakin setiap orang di Bumi Patriot ini akan merasakan kesejukan dalam beragama dan berkeyakinan,” tegas pria yang akrab disapa panglima ini. 

Dengan demikian, lanjutnya, agama akan berubah menjadi ruang-ruang kedamaian, wadah yang menyenangkan bukan menakutkan, dan menjadi sesuatu yang indah. “Karena itulah kemudian, setiap masyarakat atau warga Kota Bekasi dapat beribadah dengan tenang tanpa ancaman, intimidasi, dan diskriminasi,” pungkasnya.

Selain GP Ansor, hadir pula perwakilan dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul (pemudi) Muhammadiyah, Pemuda Persatuan Islam (Persis), Katholik, Kristen, Budha, dan Hindu. Mereka membentuk organisasi Pemuda Lintas Agama dengan melibatkan seluruh unsur pemuda tersebut di dalamnya.

Sementara itu, Ahmad Fauzi sebagai perwakilan dari IPNU Kota Bekasi bersama salah seorang perwakilan dari IPM dilibatkan menjadi Koordinator dari Agama Islam di organisasi Pemuda Lintas Agama se-Kota Bekasi itu. (Aru Elgete/Muiz)
Jumat 16 November 2018 22:45 WIB
LKNU Kabupaten Sukabumi Libatkan Masyarakat Berantas TBC
LKNU Kabupaten Sukabumi Libatkan Masyarakat Berantas TBC
Sukabumi, NU Online 
Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kabupaten Sukabumi berupaya memberantas tuberculosis atau TB dengan melibatkan masyarakat. Upaya tersebut dilakukan LKNU dengan mengundang sejumlah petugas kesehatan dan warga dalam sebuah pelatihan di aula kantor PCNU Kabupaten Sukabumi, Jumat (16/11). 

Menurut Menurut Ketua LKNU Kab Sukabumi Moch. Caesar Maulana, pihaknya menggandeng pemerintah sebagai sebagai mitra kerja utama sub-sub recipient (SSR) IX LKNU Sukabumi dan partisipasi masyarakat.

Ia menambahkan, untuk menanggulangi TBC, partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan. Dengan adanya partisipasi, target pemerintah tahun 2030 bebas TBC akan sangat terbantu.

“Kini sedang fokus membidangi program penanggulangan TBC berbasis masyarakat di wilayah Kota dan Kabupaten Sukabumi,” katanya pada kegiatan yang berlangsung mulai (15/11) sampai (17/11) itu.  

Berdasarkan data Kemenkes RI, lanjutnya, di Kota Sukabumi terdapat 307 pengidap TBC dan 7.582 kasus di Kabupaten Sukabumi. 

“Bisa dibayangkan betapa banyaknya masyarakat Sukabumi yang terdampak kasus TBC, sehingga perlu adanya edukasi serta upaya pencegahan agar masyarakat tidak terdampak penyakit itu,” tegasnya.  

Caesar Maulana berharap dengan adanya kegiatan ini, masyarakat memahami perilaku hidup bersih dan sehat agar terhindar dari penularan TBC, serta mampu mendampingi bagi pasien yang sedang menjalani pengobatan TBC. 

Kegiatan bertema Menuju Eliminasi TBC Berbasis Masyarakat tersebut diikuti 50 peserta yang merupakan kader PKK, Posyandu yang direkomendasikan oleh puskesmas dan perwakilan sejumlah warga masyarakat. 

“Fokus kegiatan kader yaitu melakukan investigasi kontak dan memastikan pasien dan pengobatan hingga tuntas,” pungkas Caesar. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi) 

Jumat 16 November 2018 22:0 WIB
Bahas Program, IPNU-IPPNU Kota Pekalongan Gelar Mokrab
Bahas Program, IPNU-IPPNU Kota Pekalongan Gelar Mokrab
Mokrab IPNU IPPNU Kota Pekalongan
Pekalongan, NU Online
Untuk mempererat hubungan antara pengurus Pimpinan Komisariat (PK), Pengurus Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Pekalongan menggelar kegiatan Upgrading dan Momen Keakraban (Mokrab). 

Kegiatan tersebut digelar selama sehari penuh, pada Jumat (16/11), dan dilaksanakan di dua tempat, yakni di Gedung Aswaja dan Taman Wilis Kota Pekalongan.

Koordinator Dewan Komisariat IPPNU Kota Pekalongan, Fina Lailissa Ida menuturkan, upgrading dan keakraban diikuti oleh para pengurus PK yang baru dilantik di sekolah masing-masing. Ada sekitar 40 peserta dari tujuh sekolah dan satu perguruan tinggi mengikuti kegiatan tersebut.

"Karena kepengurusan PK satu tahun, berbeda dengan Ranting, Anak Cabang, dan Cabang yang kepengurusannya dua tahun, maka kami perlu menjalin keakraban antar pengurus yang baru ini," ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta yang notabene masih pelajar mendapatkan beberapa materi, sharing motivasi, dan beragam permainan untuk mengasah kerja sama dan kekompakan. Menurut Fina, sapaan akrabnya, materi upgrading dan keakraban disesuaikan dengan kebutuhan para pengurus yang rata-rata masih bersekolah.

"Karena mereka masih sekolah, kami melakukan banyak permainan dan kegiatan di luar ruangan. Kami sesuaikan dengan kondisi mereka, dengan harapan mereka bisa saling mengenal satu sama lain dan bisa menjadi solid dalam melaksanakan program-program ke depan," lanjutnya.

Selain itu, dalam kesempatan tersebut para pengurus PK juga memilih Ketua Forum PK yang baru. Forum PK merupakan wadah silaturahim antar PK IPNU-IPPNU se Kota Pekalongan. Dalam forum tersebut, para pengurus PK berkumpul dan membahas seputar kegiatan IPNU-IPPNU di Kota Pekalongan.

"Kami mempunyai forum PK yang sudah berjalan lama. Karena ini para pengurus baru jadi kami memilih kembali Ketua Forum PK. Harapan kami forum PK bisa semakin baik dan menjadi wadah bagi para anggota untuk saling menyebarkan semangat berorganisasi dan ikut andil berpartisipasi dalam kegiatan IPNU-IPPNU," pungkasnya. (Nisa'/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG