IMG-LOGO
Trending Now:
Esai

Stan Lee dan Kesetaraan Manusia

Ahad 18 November 2018 5:30 WIB
Bagikan:
Stan Lee dan Kesetaraan Manusia
Stan Lee. Foto. © Twitter @RealStanLee
Oleh Muhammad Daniel Fahmi Rizal

Pada masa-masa tertentu, produk budaya populer semacam film, musik jazz, komik, dan bacaan-bacaan tertentu seringkali dianggap sebagai karya murahan. Mereka disikapi sinis, dihindari, dan dikritik minta ampun. Perannya dikecilkan, dianggapnya para penikmatnya adalah mereka yang tidak memiliki nilai intelektualitas tinggi.

Padahal, jika menilik dari jumlah penikmatnya, produk-produk budaya populer tadi tidaklah bisa dianggap remeh begitu saja. Saat menganalisis sastra populer, Christopher Pawling dalam bukunya berjudul  Popular Fiction and Social Change, pernah menuliskan bahwa jika kita menganalisis sastra sebagai “praktik komunikasi”, maka kita tidak bisa mengesampingkan dunia fiksi yang mengendalikan masyarakat pembacanya. Genre dan tipe apa yang sedang digemari khalayak, itulah cermin masyarakat kita sekarang. Oleh karena itulah, lewat kelebihannya yang digemari masyarakat banyak, produk budaya populer memiliki kans lebih besar dalam upaya menyampaikan pesan-pesan dan ideologi tertentu.

Komik, sebagai salah satu produk budaya populer, termasuk yang pernah dipandang sebelah mata keberadaannya. Komik telah melewati masa-masa suram dalam perkembangannya. Kritik dan kecaman dari kalangan pendidik dan intelektual tak jarang sering diterimanya. Komik dianggap sebagai bacaan tak mendidik dan memberikan pengaruh buruk terhadap anak-anak. Pada tahun 1954, di Amerika Serikat, komik pernah menemukan masa-masa paling suram. Seorang psikolog bernama Fredric Wertham mengkritik tajam keberadaan komik lewat bukunya yang berjudul Seduction of The Innocent. Dia mengklaim bahwa pasiennya, yang seringkali terkena masalah kriminal, kebanyakan adalah pembaca komik. Kritiknya itu mendapat perhatian khusus dari Komite Senat Amerika Serikat. Kejadian itu menyebabkan Asosiasi Majalah Komik Amerika memberikan kontrol ketat terhadap komik yang terbit. Di tahun 1954 itu tadi, lahirlah Comics Code Authority, sebuah label sensor yang melekat pada sampul depan komik-komik Amerika.

Hal yang sama pernah terjadi di Indonesia. Di tahun 1954, komikus RA. Kosasih menciptakan komik superhero perempuan bernama Sri Asih. Tak berselang lama, komik Kosasih ini mendapat kritik dari banyak pihak. Sri Asih dibilang mendukung gaya kebarat-baratan. Padahal dilihat dari nama, kostum, dan latar yang digunakan, Sri Asih benar-benar komik dengan konteks keindonesiaan yang kental. Namanya terinspirasi dari Dewi Sri. Pakaiannya kemben dan jarik. Sri Asih adalah sosok perempuan yang kuat. Dia rela mengorbankan kepentingan pribadinya untuk keselamatan masyarakat banyak. Kosasih kemudian menjawab tudingan masyarakat tadi dengan menciptakan komik baru yakni komik wayang. Kelak atas inisiatif dan jasanya yang satu ini, RA. Kosasih oleh banyak pihak ditahbiskan sebagai Bapak Komik Indonesia.





Kembali kepada bahasan komik sebagai budaya populer. Di Amerika, komik menduduki peran yang signifikan dalam industri kebudayaannya. Di sana terdapat dua perusahaan komik terbesar, yakni DC Comics dan Marvel Comics. Nama yang pertama terkenal akan karakter superhero seperti Superman, Batman, Wonder Woman, dan lain sebagainya. Nama yang kedua identik dengan Captain America, Iron Man, Thor, Hulk, Spider-Man, dan lain sebagainya.  Di dalam membahas dunia superhero di Amerika, ada satu nama yang tidak boleh dilepaskan begitu saja. Dialah Stan Lee, sosok yang mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk dunia komik.

Stan Lee dan Superhero
Stan Lee memiliki nama asli Stanley Lieber. Dia lahir di Kota New York pada 28 Desember 1922. Stanley masuk industri komik di usia yang relatif muda, 17 tahun. Kala itu dia masuk ke Timely Comic, cikal bakal dari Marvel Comic. Posisinya saat itu adalah asisten. Oleh Joe Simon, dia diminta untuk membuat sandwich, kopi, menghapus garis gambar, mengisi tinta, dan lain sebagainya. Di kemudian hari, karena kurangnya tenaga kreatif, Stanley akhirnya diminta ikut menulis. Tulisan awalnya berupa cerita pendek berjudul Captain America Foils The Traithor’s Revenge. Di sinilah pertama kalinya Stanley menggunakan nama pena Stan Lee.

Di Timely, yang kemudian berevolusi menjadi Marvel Comic, Stan Lee banyak menciptakan karakter superhero. Karakter yang dibuat Stan Lee tergolong unik, dan membuatnya berbeda dengan karakter-karakter superhero dari perusahaan komik pesaing, DC Comics. Stan Lee seringkali menciptakan karakter superhero dengan tidak sempurna. Superhero DC adalah sosok yang kuat dan sempurna, seperti Superman yang sangat kuat, Wonder Woman yang anak ratu, Batman yang punya kekayaan melimpah, Green Lantern yang kekuatan cincinnya sangat besar, atau Aquaman yang raja atlantis. Stan Lee menciptakan karakter yang berbeda. Dia menciptakan karakter superhero yang memiliki kegundahan dan masalah dalam hidupnya. Spider-Man, adalah kutu buku yang melulu dipersekusi teman sekolahnya. Daredevil, sosok tuna netra yang juga dikucilkan oleh lingkungannya. Black Panther, superhero berkulit hitam. X-Men, mutan yang dikucilkan masyarakat. Dan, masih banyak lagi yang lain. Strategi Stan Lee yang membuat karakter dengan kedalaman psikologis ini terbukti efektif. Banyak pembaca yang merasa lebih dekat dengan komik Stan Lee karena beban-beban yang dideritanya.

Selain unik karena hal tadi, karakter-karakter ciptaan Stan Lee juga memuat pesan-pesan yang mendalam. Stan Lee tidak hanya sekedar membuat adegan berantem dan karakter yang hitam putih. Dia sadar akan potensi besar yang dimiliki medium komik. Maka dari itu, Stan Lee sering kali memasukkan ide-ide tertentu ke dalam komik yang dia tulis.

Jika kita membaca Black Panther, terlihat benar usaha Stan Lee untuk menonjolkan figur orang kulit hitam. Black Panther pertama muncul di komik Fantastic Four #52 tahun 1966. Di tahun 1960-an, isu rasial di Amerika memang menemui titik puncaknya. Dan, Stan Lee berusaha menunjukkan sikapnya melalui sosok adidaya pembela kebenaran berkulit hitam bernama Black Panther.




Bersama Jack Kirby sebagai artist, Stan Lee menciptakan X-Men. X-Men adalah metafora dari orang-orang penderita disabilitas. Profesor Xavier, pemimpin X-Men, kakinya lumpuh. Wolverine adalah mutan dengan gejala mental trauma masa lalu. Storm menderita klaustrofobia. Cyclops menderita buta warna. Selain mereka, masih banyak tokoh mutan yang memiliki masa lalu yang begitu kelam. Ditambah lagi, mereka ini dianggap aneh oleh masyarakat. Namun, oleh Stan Lee, para manusia dengan kemampuan berbeda ini diberikan tujuan besar, menyelamatkan umat manusia.

Di tahun-tahun terakhir, Stan lee juga menciptakan superhero India bernama Chakra. Chakra adalah alter ego dari Raju, remaja India yatim piatu yang kerap menjadi korban persekusi di lingkungannya. Dengan kekuatan cakra, Raju membela orang-orang tertindas dan membasmi kejahatan.




Stan Lee menciptakan berbagai macam superhero dengan berbagai macam ras. Bagi Stan Lee, tidak pernah ada batasan ras untuk mejadi seorang pembela kebenaran. Ras-ras tertentu yang di dunia nyata terkadang masih tersisih, oleh Stan Lee ditunjukkan setara bahkan memiliki kelebihan. Stan Lee pernah berkata di sebuah wawancara Bersama Larry king, bahwa dia senang dengan model topeng Spider-Man yang menutup kepala secara sempurna. Ia membayangkan bahwa dengan topeng yang tertutup sempurna, anak dengan ras apa saja bisa membayangkan dirinya adalah sang penyelamat dengan kekuatan laba-laba. Mau kamu dari Amerika, dari Afrika, dari Asia, semua bisa berubah menjadi Spider-Man.

Spirit kesetaraan itulah yang berusaha Stan Lee pegang sepanjang hidupnya. Di tahun 1968, Stan Lee pernah menulis di sebuah kolom berjudul “Stan’s Soap Box”. Di sana, Stan Lee menuliskan, bigot dan rasis adalah penyakit sosial yang mematikan. Untuk menghadapinya, manusia harus mengisi hati dan jiwanya dengan toleransi. Sikap inilah yang berusaha Stan Lee pegang teguh melalui karya-karyanya. Di usia senjanya, semangat kesetaraan masih dia gaungkan lewat komik Chakra The Invisible yang dia tulis.

Kepergian Stan Lee
Publik komik minggu ini mendapat berita duka. Pada hari Selasa, 12 November 2018, Stan Lee menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dia meninggal dunia di usia 95 tahun. Dunia populer berduka. Kini tak ada lagi senyum khas Stan Lee terpancar dalam wawancara ataupun konferensi budaya populer. Kini, tidak ada lagi  sosok yang ditunggu-tunggu sebagai cameo di film-film Marvel Cinematic Universe. Stan Lee telah pergi. Namun, warisannya akan ada dan berlanjut meneruskan semangatnya, semangat kesetaraan.

Terima kasih Stan Lee. Terima kasih telah mewarnai dunia dengan superhero-superhero ciptaannmu. Selamat jalan.


Penulis adalah penyuka komik, bisa ditemui di Pesantren Ciganjur

Bagikan:
Ahad 18 November 2018 20:0 WIB
Satu Suara Partai NU di Pangkalan Militer
Satu Suara Partai NU di Pangkalan Militer
Para kiai di kantor HBNO (sekarang PBNU) di Bubutan Surabaya
Oleh Nawawi  A. Manan

Pada pemilu 1971 di Kabupaten Sidoarjo terjadi peristiwa mencengangkan: di tempat pemungutan suara (TPS) yang semua pemilihnya keluarga  pangkalan   militer, dan  panitianya  para  pegawai negeri sipil (PNS), Partai NU mendapat 2 suara. Satu  suara jelas, dari  saksi Partai NU, satu suara yang lain? 

Peristiwa itu terulang pada pemilu 1977 setelah Partai NU  bersama Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah  (Perti) dikubur oleh penguasa orde baru dalam   Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Tidak sulit  bagi komandan pangkalan  untuk menemukan pemilik suara tersebut. Tanpa mengerahkan satuan intelijen, sang komandan bisa menyimpulkan bahwa keluarga besarnya yang memilih Partai NU adalah istri Sersan Mayor (Serma) Fulan. Semua prajurit di pangkalan itu sangat paham bahwa Serma Fulan adalah  santri tulen dan amat sangat setia kepada korps asalnya: Nahdlatul Ulama (NU).

Meski sudah bertahun-tahun menjadi prajurit, jati diri Serma Fulan sebagai santri tidak berubah. Wajahnya selalu teduh dan berseri. Jika menggunakan kopyah hitam selalu dimiringkan ke kiri,  seperti letak kopiah  Kepala Madrasah Nahdlatul Wathan  KH Mas Alwi Abdul Aziz atau Perdana Menteri Ali Sastroamijoyo – sebagai simbol keberpihakan kepada kaum lemah.  Jika berjalan  kepalanya menunduk seperti  ahli nahwu, tawadhu’ seperti Raden Gatotkaca.

Serma Fulan memang ngawur. Ketika semua keluarga Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI – sekarang TNI) dimobilisasi  habis-habisan agar mendukung Golongan Karya (Golkar) untuk memperkuat kepemimpinan Soeharto, ia tetap setia kepada  NU.  Akibatnya, ketika semua teman seangkatannya sudah berpangkat perwira dia  tetap menjadi bintara, hingga pensiun. 

Pada masa  Orde Baru, semua orang yang hidup di dalam pangkalan militer harus monoloyalitas kepada Golkar.  Bagi umat Islam,  dalam amaliyah  ubudiyah juga harus monoloyalitas karena amaliyah  warga Nahdliyin diharamkan. Sehingga, selama 32 tahun kekuasaan Orde Baru, warga Nahdliyin di lingkungan semua perkampungan TNI   hanya bisa melaksanakan amaliyahnya secara nafsi-nafsi.

Keadaan tersebut mulai mencair setelah Ibu Tien Soeharto wafat pada 28 April 1996. Kantor-kantor pemerintah yang semula mengharamkan tahlilan ikut menggelar tahlilan  seperti dilaksanakan keluarga Presiden Soeharto di Jalan Cendana. Keadaan benar-benar berubah setelah berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto sejak 1998.

Ketika sedang punya hajat, banyak tentara berlatar belakang keluarga NU mengundang warga desa terdekat untuk istighotsah, tahlilan,  dan shalawatan dengan  iringan rebana prok-brik. Mereka tidak ragu menunjukkan jati dirinya sebagai warga Nahdliyin.  
Perubahan itu sungguh luar biasa karena para kader yang telah lama terpisah oleh sistem tirani politik menyatu kembali dengan keluarga besarnya dalam naungan rumah besarnya, meskipun hanya secara kultural psikologis. 

Sayangnya, perlahan-lahan mereka terpisah kembali, kemudian terputus. Di perkampungan  TNI itu sekarang tak lagi pernah terdengar lantunan shalawat Nabi. Penyebabnya bukan faktor represif eksternal, melainkan ngawurisme politik internal. Karena ketidaktahuan dan ketinggian tensi syahwatnya,  banyak kader NU -- terutama  kader mualaf dan naturalisasi – yang sedang berebut rezeki melalui jalur politik praktis  tidak bisa menghormati NU sebagai jam’iyyah diniyah ijtimaiyah. 

Pada setiap perhelatan politik, struktur NU mulai atas hingga paling bawah difungsikan sebagai alat pendulang suara. Statusnya  sebagai ormas memang tidak pernah berubah, tetapi pada setiap hajatan politik NU memainkan fungsi politik. Sehingga, para jamaah NU – terutama yang selama ini bertebaran di mana-mana --  menganggap  NU adalah organisasi politik. 

Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) yang dilaksanakan untuk menyiapkan kader-kader NU masa depan pun disalahgunakan, diintervensi untuk kepentingan politik segelintir orang – justru oleh orang-orang  yang mestinya melindungi kemurnian PKPNU.

Ketika menyampaikan pidato iftitah pada Muktamar NU XXVIII 1989 di Krapyak, Yogyakarta, Rais Aam PBNU KH Achmad Siddiq mengibaratkan   NU sebagai kereta api yang trayeknya sudah jelas, begitu pula relnya serta syarat untuk menjadi petugasnya. NU bukan taksi yang bisa dibawa ke mana saja oleh penumpang yang membayarnya. Pengurus NU boleh berganti dan kebijakannya boleh disempurnakan, tetapi trayek NU sebagai organisasi keagamaan tidak bisa diubah. 

NU bukan organisasi sembarangan karena kelahirannya merupakan “jawaban” Allah SWT  terhadap munajat Mbah Kholil Bangkalan, Mbah Hasyim Asy’ari, serta  para ulama zahid dan wara’ yang resah gelisah oleh penderitaan rakyat Indonesia akibat penjajahan serta ulah kaum Wahabi yang ingin menghapus ajaran madzahabil arba’ah.  NU-nya memang perkumpulan, tetapi substansinya adalah Islam Ahlussunnah wal Jamaah. 

Fahimtum?!

Karena itu, siapa pun yang memfungsikan  NU sebagai mobil omprengan akan menjadi barang rongsokan yang tidak bisa didaur ulang. 


Penulis adalah Dewan Pakar  PC Lesbumi NU  Sidoarjo dan  Instruktur Wilayah Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) Jawa Timur



Jumat 16 November 2018 14:0 WIB
Syekh Bawa, Keteduhan di Sudut Philadelphia
Syekh Bawa, Keteduhan di Sudut Philadelphia
Makam Syekh Muhammad Raheem Bawaa Muhaiyaddeen
Oleh Ahmad Fariz Malvi Zamzam Zein

Ibarat bunga lotus, ia tumbuh mempesona dengan keindahannya yang eksotis dan misterius. Jejak dan namanya tak banyak yang tahu. Namun, ia dikenal sebagai tokoh sufi yang menyerukan perdamaian di dunia.

Tapak tilas mengunjungi makam Syekh Muhammad Raheem Bawaa Muhaiyaddeen adalah pengalaman sekaligus pelajaran hidup yang sangat berharga. Belajar memahami dan mengambil hikmah dari seorang tokoh sufi yang dikenal dengan kisah dan ajaran-ajarannya yang sarat makna. 
 
Letaknya di sudut Kota Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat. Tepatnya di area seratus hektar lahan pertanian yang terletak di Chester County, Pennsylvania. Area tersebut bernama The Bawa Muhaiyaddeen Fellowship. Untuk menuju kawasan ini, bisa menggunakan kereta Septa dari Center City Philadelphia menuju stasiun Thorndale dengan waktu tempuh sekitar satu jam dua puluh menit. Kemudian melanjutkan perjalanan bisa menggunakan Uber dengan waktu perjalanan sekitar lima belas menit.
 
Seperti yang diketahui, Kota Philadelphia, negara bagian Pensylvania, merupakan salah satu kota metropolitan Amerika yang amat plural. Di bagian utara kota inilah terdapat The Bawa Muhaiyaddeen Fellowship yang didirikan pada tahun 1984. 
 
Pendiri The Bawa Muhaiyaddeen Fellowship adalah Sang Sufi, Syekh Muhammad Raheem Bawaa Muhaiyaddeen. Situs ini dikelilingi perkebunan dan peternakan. Mencakup makam Sang Sufi, atau orang menyebutnya mazar. Lalu ada pula perpustakaan yang berisi buku-buku karya Syekh Muhammad Raheem Bawaa Muhaiyaddeen yang ditulis oleh para muridnya, hingga sumur kecil yang dipercaya sebagai sumber mata air zam-zam. 
 


Tak ada informasi yang jelas tentang asal-usul Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen. Sedikit serpihan data mengenai yang berhasil diperoleh adalah bahwa beliau hidup mengasingkan diri di hutan Sri Lanka pada tahun 1914. 

Orang-orang datang mengunjungi tempat pengasingannya untuk mencari secercah pemahaman dan kebenaran. Mereka menyebutnya Guru Bawa. Berdasarkan cerita, beliau berkelana di seputar India, kemudian ke Baghdad, Yerusalem, Madinah, Mesir, hingga Roma. 

Hingga pada 1971, Bawa Muhaiyaddeen menerima pelbagai undangan untuk dating ke Amerika Serikat. Bawa Muhaiyaddeen berdakwah tasawuf dan membangun komunitas sufi di  Philadelphia. Di kota ini, ia juga memberikan pelajaran-pelajarannya melalui banyak stasiun televisi maupun radio, mencakup pendengar dari Amerika hingga Kanada, dari Inggris hingga Sri Lanka. Ia juga memberikan kuliah-kuliah di banyak universitas. Beberapa media massa yang pernah menemuinya antara lain Time, The Philadelphia Inquirer, Psychology Today, dan The Harvard Divinity Bulletin.

Kelompok pengikutnya membentuk The Bawa Muhaiyaddeen Fellowship, menjadi tuan rumah pertemuan yang menawarkan beberapa pertemuan publik.

Seperti sebelumnya di Sri Lanka, orang-orang dari semua latar belakang agama, sosial dan etnis akan bergabung untuk mendengar beliau berbicara. Di seluruh Amerika Serikat, Kanada dan Inggris, Bawa Muhaiyaddeen mendapatkan pengakuan dari ulama, pendidik dan pemimpin dunia. 




Bawa terus membimbing murid-muridnya dari segala bangsa, dan juga menerima tamu-tamu hariannya dari berbagai kalangan. Menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, membantu memecahkan persoalan dari segala bidang dan menyentuh hati mereka dengan cara yang sangat personal. 

Bawa Muhaiyaddeen wafat sekitar tahun 1986. Kini makamnya pun ramai dikunjungi orang yang berziarah, bertahlil, dan bertawassul. Bukan hanya kaum muslimin yang menziarahinya, tapi dari berbagai kalangan agama dan keyakinan yang berbeda-beda

Setelah ia meninggal berbagai ritual ajaran Bawa Muhaiyaddeen tetap ditegakkan para pengikutnya. Seperti yang terlihat di The Bawa Muhaiyaddeen Fellowship, ada kegiatan rutin yakni berdzikir sebelum subuh, hingga solawat dan tradisi salam-salaman usai solat berjamaah.

Untuk diketahui, dalam catatan Gisela Webb, sufisme masuk di dunia Barat dalam tiga tahapan. Pertama, dimulai pada 1920-an yang didasarkan pada pengetahuan oriental. Gelombang ini, membawa kaum sufi ke Amerika Serikat dalam rangka membawa ajaran mereka ke belahan dunia yang dapat diduga hampir tidak ada spiritualitas apapun. 

Gelombang kedua, berlangsung sepanjang 1960-an dan 1970-an, dan ditandai dengan kebangkitan-kebangkitan warisan muslim yang hilang dan pencarian spiritualitas di kalangan orang Amerika. Dan  ketiga, ditandai dengan kehadiran Bawa Muhaiyadden Fellowship yang dimulai pada 1970an di Philadelphia, yang memfokuskan diri pada spiritualitas universal. 

Penulis adalah dokter spesialis penyakit dalam, dan wakil Ketua Lembaga Kesehatan PBNU.

Rabu 14 November 2018 16:0 WIB
Monumen Tumpukan Enam Piring, Simbol Toleransi di Raja Ampat
Monumen Tumpukan Enam Piring, Simbol Toleransi di Raja Ampat
Monumen tumpukan enam piring 'kobe ose'. (foto: istimewa)
Oleh Kharis Fadlan

Bila Anda berkunjung ke Kabupaten Raja Ampat di Provinsi Papua Barat dan ingin tahu asal muasalnya, saya sarankan berkunjunglah juga ke Kampung Saonek di Distrik Wageo. Menurut penuturan warga, Kampung Saonek dulunya adalah ibu kotanya Raja Ampat sebelum definitf menjadi kabupaten yang berada dalam wilayah yurisdiksi Provinsi Papua Barat. Jejak sejarah Raja Ampat dapat diketahui dari sebuah monumen kecil yang berdiri di salah satu perempatan kampung. Monumen ini, dikenal dengan sebutan 'kobe ose'.

Kobe ose ini bukanlah sekadar monumen tanpa makna dan sejarah. Kobe ose bermakna 'kita bersatu'. Disain bangunan monumen sangat sederhana, hanya berbentuk tumpukan piring yang berjumlah enam dan satu ceret di atasnya. Namun, oleh pembuatnya, dimaksudkan untuk mengingatkan sejarah masa lalu Kampung Saonek kepada generasi sesudahnya.

Enam piring menyimbolkan enam marga pendiri kampung. Marga itu, Marga Mayor, Marga Manam, Marga  Saleo, Marga Rumbewas, Marga Rarbab, dan Marga Mambraku. Dalam hal kepemimpinan sosial kala itu, Marga Mayor dipercaya sebagai pimpinan kampung. 

Sejarah awalnya, mengapa keenam marga tersebut sampai di Saonek, memiliki erat kaitannya dengan sejarah penyebaran agama Islam di Biak. Sejauh in penduduk Saonek kesulitan untuk memastikan tahun berapa Islam mulai berkembang di Biak dan kapan pula keenam marga tersebut mulai tinggal di Saonek. Namun, yang jelas, merujuk pada penuturan seorang ketua RT yang rumahnya ada di dekat monumen Kobes Ose, Mama Mayor (50-an tahun) mengaku generasi kesembilan.

Merujuk pada cerita Mama mayor, keenam marga penghuni Saonek tersebut awalnya berasal dari Biak. Kepindahan keenam marga tersebut ke Saonek berkait dengan sejarah kelam mereka. Sebelum terdampar di lokasi yang saat ini, kala itu sebagian warga Biak sudah ada yang memeluk agama Islam. Keenam marga ini belum memeluk agama Islam. Mereka sudah menganut kepercayaan tertentu, yang oleh para antropolog disebut penganut animisme dan dinamisme. Dengan kata lain, sudah memiliki kepercayaan tapi tidak disebut sebagai agama. 

Pada saat itu mereka terlibat dalam sebuah konflik dengan marga lainnya yang telah memeluk agama Islam. Bahkan konflik tersebut membawa mereka dalam tindakan saling bunuh. Singkat cerita mereka diusir, keluar dari Biak. Lalu terdamparlah di pulau yang saat ini disebut Raja Ampat, sebelum akhirnya memilih Saonek sebagai persinggahan terakhir.

Setelah membangun perkampungan baru di Saonek, justru keenam marga tersebut akhirnya memeluk agama Islam setelah sebelumnya menerima dakwah tanpa pertumpahan darah dari seorang penyebar agama Islam yang oleh warga setempat dikenal sebagai H Rafana. Tidak semua anggota marga memeluk agama Islam. Mereka yang pada saat itu memilih untuk tidak memeluk Islam, keluar dari Saonek dan tinggal di kawasan yang saat ini menjadi pusatnya Kabupaten Raja Ampat. 

Dalam perkembangan berikutnya, mereka akhirnya memeluk agama seperti Kristen dan Katolik. Hingga kini, makam H Rafana masih dirawat baik oleh penduduk Saonek. Bahkan menjadi tujuan para peziarah, meski tak serame tempat penziarahan umat Islam di Jawa. 

Sejarah kelam hubungan antaragama dan kepercayaan di Biak tersebut, oleh penduduk Saonek tidak direproduksi menjadi alat untuk saling membenci antarpenganut agama. Justru menjadi alat perekat. Para pendatang yang sebagian besar adalah pegawai negeri karena dan beragama Kristen, memberikan ruang untuk mendirikan gereja. Hal ini berarti, Muslim Saonek adalah Muslim yang inklusif, apalagi represif pada sesamanya meski berbeda agama.

Nah, sebagai penanda rekatnya kekeluargaan dan pengingat sejarah masa lalu enam marga tersebut, mereka rupakan dalam sebuah monumen Kobes Ose tersebut.

Penulis adalah pengurus Ranting NU Logede, Kebumen, Jawa Tengah.


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG