IMG-LOGO
Daerah

Musim Hujan, LPBINU Nganjuk Siapkan Relawan Tanggap Bencana

Sabtu 17 November 2018 22:15 WIB
Bagikan:
Musim Hujan, LPBINU Nganjuk Siapkan Relawan Tanggap Bencana
Nganjuk, NU Online 
Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Kabupaten Nganjuk mengadakan pelatihan dasar penanggulangan bencana untuk calon relawan dan kader NU di Gedung (PCNU), Jalan Raya Sudirman, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Kegiatan ini diikuti 200 orang peserta. Mereka dibekali materi terkait penanganan praktis kebencanaan dan materi lingkungan hidup. Peserta terdiri atas utusan lembaga NU, badan otonom NU, dan perwakilan institusi yang tertarik terhadap isu-isu kebencanaan dan lingkungan hidup. 

"Peserta akan mengikuti pelatihan tanggap bencana selama tiga hari berturut-turut dari tanggal 16-18 November 2018," kata Ketua LPBINU Nganjuk, Subhan, Sabtu (17/11).

Dikatakannya, pelatihan ini memberikan pemahaman kepada para peserta tentang pentingnya menjaga alam dan menjaga ekosistem makhluk hidup di darat maupun di air. Dengan harapan, masalah ini akan menjadi kepedulian bersama pada isu tersebut. Apalagi akhir-akhir ini, sering terjadi bencana di Indonesia.

"Menjaga alam adalah tanggung jawab bersama. Untuk itu pelatihan ini diadakan sebagai bagian ikhtiar LPBINU untuk menjawab tantangan-tantangan dalam penanganan bencana dan pelestarian lingkungan," ujarnya.

Ia menambahkan pelatihan ini juga mencakup pengantar dasar penanggulangan bencana, pengantar pengurangan risiko bencana, fiqih kebencanaan dan lingkungan, pengantar tanggap darurat, dan rekonstruksi rehabilitasi.

Beberapa wilayah Nganjuk saat musim hujan menjadi langganan banjir dan longsor. Seperti kecamatan Bagor yang sering banjir. Dan Kecamatan Ngetos yang langganan longsor karena berada di daerah perbukitan.

"Sekarang sudah masuk musim hujan, beberapa wilayah di Nganjuk ada yang langganan longsor dan banjir. Semoga setelah ini kalau ada bencana alam tim relawan kita langsung bisa turun ke lokasi. Dengan semakin banyaknya relawan maka proses penanggulangan bencana menjadi lebih cepat," beber Subhan.

Dalam acara pembukaan tersebut juga dihadiri oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Nganjuk M Yasin. Ia sangat mengapresiasi kegiatan ini sebagai wahana untuk memupuk rasa nasionalisme dan kepedulian terhadap kepentingan masyarakat. 

"Setelah pelatihan ini. Di manapun saat dibutuhkan, relawan LPBINU harus siap mendarmabaktikan dirinya untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa khususnya masyarakat Nganjuk," tandasnya. (Syarif Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Sabtu 17 November 2018 23:0 WIB
Peduli Pendidikan Pesantren, PMII Pasuruan Gelar Darusan
Peduli Pendidikan Pesantren, PMII Pasuruan Gelar Darusan
Kegiatan Darusan PMII Pasuruan
Pasuruan, NU Online
Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pasuruan Jawa Timur memiliki acara rutin berupa Dakwah Rutin Santri Pergerakan (Darusan). Acara yang digelar di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Yasini Pasuruan pada Jumat (16/11) ini mengangkat tema PMII dan Pesantren.

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk dialog terbuka tersebut dihadiri oleh dua pembicara yakni Moch Irham Zuhdi, perwakilan Pengurus Yayasan Pesantren Terpadu Al-Yasini dan aktivis PMII Mohammad Subadar.

Acara diikuti 70 kader dengan tema dialog PMII dan Pesantren sengaja diangkat karena terdapat beberapa alasan. Seperti yang diutarakan Ketua Pelaksana kegiatan Akhmad Afiful Karim Zain. Menurutnya itu merupakan misi prioritas kepengurusan cabang PMII Pasuruan masa khidmat 2018-2019.

"Dilihat dari letak geografis, Pasuruan merupakan kota santri yang memiliki ribuan pesantren. Oleh karenanya PMII Pasuruan harus turut andil dan terlibat dalam mengembangkan pendidikan berbasis pesantren," jelasnya.

Kajian rutin ini merupakan rancangan program dari bidang keagamaan akan dilaksanakan sebulan sekali secara bergiliran di komisariat se-Pasuruan.

PMII memiliki sejarah menarik dengan pesantren. Lahirnya PMII juga diprakarsai oleh kader muda Nahdlatul Ulama yang lahir dari rahim pesantren. 

“Semoga kegiatan ini mengingatkan kita bahwa PMII dan pesantren adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Keduanya memiliki unsur tujuan yang sama, yakni mendakwahkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah," pungkas kader PMII asal komisariat Ngalah tersebut. (Hanan/Muiz)
Sabtu 17 November 2018 22:0 WIB
IPNU dan IPPNU di Kalimantan Barat Terus Kembangkan Organisasi
IPNU dan IPPNU di Kalimantan Barat Terus Kembangkan Organisasi

Kubu Raya, NU Online

Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat resmi dilantik, Sabtu (17/11). 


Kegiatan juga dilanjutkan dengan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di aula Masjid Al- Ikhlas Parit Cahaya Baru Kuala Mandor B. Kegiatan diikuti empat komisariat dan beberapa komisariat persiapan. 


Miswar selaku ketua kaderisasi PC IPNU Kubu Raya mengemukan agenda ini merupakan yang pertama untuk zona Kuala Mandor B di tingkat kecamatan. Dan ini merupakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) ketiga setelah pelantikan PAC Sungai Raya dan Rasau Jaya.


"Semoga ke depannya para rekan dan rekanita pengurus yang baru dilantik bisa membawa roda organisasi kepelajaran ini lebih baik dan dapat bersinergi dengan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama atau MWCNU Kuala Mandor B serta aparatur pemerintahan kecamatan,” katanya. 


Dirinya juga mengapresiasi adanya pelantikan yang dikemas dengan masa kesetiaan anggota (Makesta). “Karena ini sebagai gerbang awal berkhidmat di IPNU dan IPPNU serta pemuda generasi agama, nusa dan bangsa untuk masa depan yang lebih makmur,” ungkapnya.


Deviani selaku ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kubu Raya menguckan selamat atas dilantik Syamheri sebagai ketua pac ipnu terpilih dan Vivi Novita Safitri Sebagai ketua PAC IPNU dan IPPNU Kuala Mandor B.


Ketua MWCNU Kuala Mandor B, H Bukhori  mengingatkan hendaknya pengurus bahu membahu dalam menyukseskan setiap agenda. “Jangan mudah berbangga diri karena sudah dilantik, tetapi berbanggalah setelah berkarya,” ungkapnya.


Sedangkan Maluk selaku Sekretaris Kecamatan Kuala Mandor B berharap keberadaan kepengurusan IPNU dan IPPNU bisa membawa perubahan. 


Kegiatan dihadiri Ketua MWC NU Kuala Mansor B KH Bukhori, perwakilan PAC Ansor, Sekretaris Camat Kuala Mandor B, Kepala Dusun Karya Jati, Kepala Sekolah MTs Al -Ikhlas, dewan guru. Juga ada Sekretaris Wilayah IPPNU, Pimpinan Cabang IPNU - IPPNU Kubu Raya, PAC Sungai Raya dan PAC Sungai Ambawang. (Ulil/Fauzi/Ibnu Nawawi)


Sabtu 17 November 2018 21:30 WIB
Empat Siswa Madrasah NU Ini Sukses Ciptakan Obat Herbal
Empat Siswa Madrasah NU Ini Sukses Ciptakan Obat Herbal
Foto: Murianews.com
Kudus, NU Online
Obat dengan bahan herbal dianggap lebih aman dibandingkan obat berbahan kimia. Hal ini menjadi pendorong empat orang siswa-siswi Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MA NU) Nurul Ulum Jekulo Kudus untuk berinovasi dengan tanaman yang tumbuh di sekitar mereka.

Keempat siswa-siswi tersebut adalah Adelita Pratiwi, Naeli Rohmah, Nurul Lailiyah, dan Moh Alwi Sihabuddin. Mereka berhasil mengubah tanaman akar anting-anting menjadi obat herbal bagi penyakit asam urat dan kolesterol.

Pada awalnya mereka berkeinginan untuk mengikuti ajang Krenova, lomba kreativitas dan inovasi masyarakat. Lomba ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Kudus. Keempatnya dibimbing langsung oleh guru pembimbing dalam mencari ide inovasi. Berhasil menyabet juara satu, mereka berhak lanjut ke tingkat provinsi, lagi-lagi berhasil menjadi pemenang pada lomba Krenova tahun 2018 di tingkat Jawa Tengah.

Menurut salah satu anggota tim, Adelita Pratiwi, tanaman akar anting-anting terdapat banyak di lingkungan warga. Namun dibiarkan begitu saja bahkan dianggap sebagai rumput liar. 

“Setelah saya melihat ada saudara yang mengidap asam urat. Ia mengkonsumsi tanaman anting-anting, terutama yang dikonsumsi bagian akarnya. Ternyata tanaman tersebut dapat menyembuhkan asam urat dan kolesterol,” jelas seperti dikutip dari murianews.com.

Atas dasar itu, ia bersama tiga teman dan guru pembimbingnya langsung melakukan observasi dan percobaan terhadap tanaman itu. Hasil yang didapat membuktikan jika tanaman tersebut bisa menjadi obat asam urat dan kolesterol.

“Setelah enam bulan, akhirnya kami mengemasnya menjadi lima produk. Akar kering atau simplisia, sirup, kapsul, permen. Keempat produk tersebut memanfaatkan bagian akar. Produk kelima berupa keripik dengan memanfaatkan bagian daun anting-anting,” jelasnya.

Saat penelitian dan pembuatan obat berlangsung, keempatnya dibimbing oleh dua orang guru, Umi Habibah dan Faiz Nor Farida. Menurut mereka hal tersulit saat proses pembuatan produk tersebut adalah ketika menciptakan bentuk kapsul atau serbuk dari tanaman akar anting-anting.

Umi Habibah menceritakan, sewaktu menciptakan simplisia akar anting-anting, semua merasa kesulitan dalam mencari alat pengeringnya. 

“Karena harus dikeringkan dengan suhu 50 - 60 derajat celcius, sementara alat oven paling rendah 100 derajat celcius. Ketika memakai oven, bisa merusak kandungan zat dalam akar anting-anting. Sementara ketika membeli, harganya cukup mahal,” jelasnya.

Rencana ke depan, ia akan berupaya mendorong para siswa-siswi untuk membuat produk sejenis, namun dengan tanaman herbal lain. 

“Apalagi Indonesia dikenal sebagai negara dengan tanaman herbal paling banyak,” tutupnya. (Hanan/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG