IMG-LOGO
Nasional

Kemenag Lakukan Penelitian Pengembangan Al-Qur’an Digital

Sabtu 17 November 2018 22:45 WIB
Bagikan:
Kemenag Lakukan Penelitian Pengembangan Al-Qur’an Digital
Foto: Kemenag.go.id
Jakarta, NU Online 
Kementerian Agama Republik Indonesia terus melakukan pengembangan Al-Qur’an digital. Generasi pertama Al-Qur’an digital Kemenag dirilis pada 2016. Dua tahun berikutnya, Kemenag melakukan revisi dan update aplikasi ini. Sehingga, secara tampilan lebih menarik dan lebih ringan.

Untuk memetakan respon publik, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) melakukan penelitian terhadap masyarakat terkait penggunaan Al-Qur’an digital versi Kemenag. 

"Penelitian ini berusaha memotret kecenderungan masyarakat dalam menggunakan Al-Qur’an digital versi Kemenag. Sehingga, kita bisa menghadirkan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, bukan seperti yang kita inginkan," ungkap Kepala LPMQ Kemenag Muchlis Hanafi pada Seminar Hasil Penelitian Preferensi Masyarakat dalam Penggunaan Al-Qur’an digital, di Jakarta, Kamis (15/11) sebagaimana diberitakan Kemenag.go.id.

Menurut Muchlis, keinginan kuat untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat tidak cukup jalan sendiri. "Kita harus bersinergi dengan Kominfo untuk pengembangan Al-Qur’an digital ini," ungkapnya.

Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa keberadaan Al-Qur’an digital sangat dibutuhkan masyarakat dalam mendukung aktivitas keagamaan maupun non-keagamaan. Masyarakat juga menghendaki produk Al-Qur’an digital memiliki fitur serta konten yang lengkap, tapi tidak memberatkan kapasitas ponsel pintar. 

Hasil penelitian ini dibahas sejumlah narasumber, yaitu: Guru Besar Unindra Mulyani Nurhadi, Kepala Badan Pelatihan dan Pengembangan TIK Kemkominfo Nusirwan, Kepala Bidang Pengkajian Al-Qur’an Abdul Aziz Sidqi.

Nusirwan misalnya, menyatakan bahwa pengembangan aplikasi juga harus diiringi penguatan konten, regulasi, dan teknologi. "Kuatkan infrastruktur, regulasi, dan SDM," ungkap Nusirwan.

Acara dihadiri 75 undangan yang terdiri dari unsur perguruan tinggi Al-Qur’an, pusat studi Al-Qur’an, termasuk pengembang Al-Qur’an digital. (Red: Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
Sabtu 17 November 2018 23:30 WIB
Kiai Marzuki Mustamar: Masa Depan NU Bergantung kepada Pesantren
Kiai Marzuki Mustamar: Masa Depan NU Bergantung kepada Pesantren
Sidoarjo, NU Online
Para pengurus Pimpinan Wilayah (PW) Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) diingatkan untuk tetap setia kepada Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penegasan tersebut disampaikan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar. “Seluruh pengurus PW RMI NU Jawa Timur untuk tetap selalu setia kepada Pancasila dan NKRI demi keutuhan Indonesia,” katanya, Sabtu (17/11). Pada saat yang sama juga dilakukan ikrar bagi pengurus.

Para pengurus juga diingatkan pentingnya pesantren bagi NU. “Apabila pondok pesantren mati, maka matilah Nahdlatul Ulama,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrasyad Kota Malang ini. 

Dalam pandangannya, ruh sesungguhnya NU adalah di pondok pesantren. “Apabila pondok pesantren hidup, maka NU akan tetap eksis hingga sekarang,” jelasnya pada kegiatan pengukuhan, rapat kerja dan koordinasi PW RMINU Jatim di Sidoarjo.

Menurut dosen Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang ini, hidupnya pondok karena adanya kiai. “Walaupun ada seribu, lima ribu bahkan hingga sepuluh ribu santri, tapi dzurriyah pesantren tidak bisa ngaji, maka pondoknya akan habis,” tegasnya. 

Oleh sebab itu, kaderisasi kiai di lingkungan pesantren sangat penting demi menjaga keberlangsungan  pondok pesantren dan menjaga NU. “Maka kami mendorong untuk seluruh pondok pesantren yang ada di Jawa Timur, silakan untuk menuju sistem yang lebih modern. Akan tetapi khazanah ilmu kitab kuning tetap harus dikedepankan,” ungkapnya. 

Secara khusus, Kiai Marzuki mengingatkan pesantren tidak hanya mengedepankan ilmu eksakta. “Sehingga bila kaderisasi kiai sukses, maka pondok pesantren akan tetap eksis. Dan kalau pondok pesantren eksis, maka NU juga eksis,” tandasnya.

Pada kesempatan tersebut, Kiai Marzuki Mustamar juga memberikan ijazah kitab al-Muqtathofat liahlil Bidayah kepada para pengurus baru PW RMINU Jatim. (Ibnu Nawawi)

Sabtu 17 November 2018 20:45 WIB
Kiai Said: Berbahaya Jika Sembarang Orang Menafsirkan Al-Qur’an
Kiai Said: Berbahaya Jika Sembarang Orang Menafsirkan Al-Qur’an
Jakarta, NU Online
Al-Qur’an harus disampaikan oleh orang yang betul-betul memahaminya. Jika sembarang orang menafsirkan, hal itu akan sangat berbahaya. Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj saat memberikan ceramah pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nurul Irfan, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta, Jumat (16/11).

Kiai Said menjelaskan berbagai macam tipe ayat Al-Qur’an. Ada ayat yang muhkamah, ayat yang jelas, tidak butuh penafsiran. Ia mencontohkan keseluruhan Surat al-Ikhlas.

Tipe yang berlawanan dengan muhkamat adalah mutasyabihat, ayat Al-Qur’an yang membutuhkan penafsiran. Dalam hal ini, ia mencontohkan ayat yang menjelaskan tentang batalnya wudu, aw laamastum al-nisa. 

Kiai Said menguraikan maksud penggalan ayat itu dari perspektif empat mazhab. Imam Syafi’i, jelasnya, menyatakan bahwa sentuhan kulit antara perempuan dan laki-laki, sengaja ataupun tidak, disertai syahwat ataupun tidak, dihukumi batal wudhunya. 

Sementara itu, Imam Hanafi menafsiri laamastum sebagai bahasa halus dari hubungan badan. Jika tidak begitu, wudhunya tidak batal. Adapun Imam Maliki dan Imam Hambali, kata Kiai Said, saling menyenggol itu batal, bukan satu pihak.

“Jadi enggak gampang (memahami ayat Al-Qur’an) maksud saya,” kata pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah itu.

Lebih lanjut, Kiai Said menerangkan bahwa ada ayat Al-Qur’an yang mutlaqah (absolut) dan muqayyadah (tidak mutlak). Dua tipe ini, ia contohkan pada ayat tentang perintah menaati Allah dan Rasul-Nya yang bersifat mutlak dan menaati pemerintah yang bersifat tidak mutlak, yakni dengan syarat pemerintah yang baik.

“Ini loh saya tunjukkan rumitnya paham Al-Qur’an,” jelas Kiai Said.

Ada lagi ayat haqiqi (realistis) dan majazi (metaforis). Untuk tipe kedua ini, Kiai Said menjelaskan ayat yadullahi fauqa aydihim, tangan Allah di atas tangan mereka. Tangan  yang dimaksud bukan secara fisik, melainkan kekuasaan. Pun dengan wajhu rabbika, bukan wajah Allah, tetapi Zat-Nya. Ayat wa jaa rabbuka wal malaku shaffan shaffa, juga bukan Allah datang, tetapi perintah atau kebijakan-Nya. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Sabtu 17 November 2018 20:15 WIB
Lukisan tentang Gus Dur dalam Berbagai Dimensi Akan Dipamerkan
Lukisan tentang Gus Dur dalam Berbagai Dimensi Akan Dipamerkan
Katalog pamerang "Sang Maha Guru"
Jakarta, NU Online 
Pelukis Nabila Dewi Gayatri akan menggelar pameran tunggal bertajuk "Sang Maha Guru" di Hotel Sultan 22 sampai 30 November. Ia akan memamerkan lukisan-lukisan khusus Gus Dur bersama beberapa tokoh dan Gus Dur dengan ragam dimensi.

Di dalam katalog pameran terdapat lukisan Gus Dur bersama Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj,Gus Dur bersama Mahfud MD, Gus Dur bersama KH Ma’ruf Amin, dengan Menag Lukman Hakim Saifuddin dan tokoh lain. 

Nabila menjelaskan, sebagai seorang santri, pameran tersebut merupakan salah satu peringatan untuk Hari Santri 24 Oktober dan menjelang peringatan Haul Gus Dur yang kesembilan, akhir Desember nanti.

“Dari Gus Dur saya banyak belajar hal, di antaranya adalah keberanian dalam menembus batas, menjadi pribadi yang berguna bagi manusia lain dengan berani menanggung segenap risikonya,” jelasnya, di Jakarta, Sabtu (17/11).   

Lahirnya lukisan-lukisan ini, lanjutnya, bukan sekadar mengenang Gus Dur, tapi berharap lahir Gus Dur lain sesudahnya. 

“Indonesia yang begitu besar, begitu plural, begitu banyak potensi masalah membutuhkan adanya pengayom, membutuhkan orang-orang yang sanggup menyatukan, menempatkan setiap golongan dalam satu ikatan,” jelasnya. 

Kenapa Gus Dur disebut sang maha guru dalam pameran tersebut? Untuk menjelaskan itu, menurut Nabila, bisa dikutip pandangan Mahfud MD yang relevan dengan pertanyaan itu.

Menurut Mahfud, sebagaimana diungkapkan di katalog pameran, selama seabad ini, ada empat tokoh besar yang pada saat upacara pemakamannya dihadiri jutaan orang sampai menangis histeris, yaitu Mahatma Ghandi (India, 1948), John F. Kennedy (Amerika Serikat, 1963), Ayatullah Khomeiny (Iran, 1989), dan Gus Dur (Indonesia, 2009).

"Khusus untuk Gus Dur saya melihat sendiri pada tanggal 30 Desember 2009 rakyat yang berjejal di tepi jalan sambil berteriak histeris menangis saat jenazah Gus Dur dibawa dari RSCM ke kediamannya. Pada 31 Desember 2009 pagi, saya juga melihat sendiri rakyat dari berbagai kalangan berjejal dari Surabaya ke Malang saat jenazah Gus Dur dibawa dari bandara Juanda Surabaya menuju Jombang, tempat pemakamannya," jelas Mahfud.

Pemeran ini akan dibuka Ny. Hj, Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan akan dihadiri oleh sejumlah tokoh. (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG