IMG-LOGO
Internasional

Batal Dipulangkan ke Myanmar, Pengungsi Rohinya Gelar Doa Syukur

Ahad 18 November 2018 00:30 WIB
Batal Dipulangkan ke Myanmar, Pengungsi Rohinya Gelar Doa Syukur
Foto: Istimewa
Cox’s Bazar, NU Online
Para pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp-kamp di Bangladesh menggelar doa syukur setelah proses repatriasi ke Myanmar dibatalkan. Mereka mengaku senang karena tidak jadi dipulangkan ke negara bagian Rakhine Myanmar. Alasannya, di Myanmar belum aman dan kondusif sehingga mereka belum bersedia untuk direpatriasi.

Meski demikian, ada juga pengungsi Rohingya yang dilema. Di satu sisi, ia ingin pulang ke Myanmar. Tapi di sisi lain, jika benar-benar dipulangkan ke Myanmar ia mengaku khawatir akan keselamatan dirinya.

Adalah Abdul Malek, seorang pengungsi Rohinya, yang mengaku memiliki perasaan seperti itu. Ia sebetulnya ingin kembali ke Myanmar untuk bertemu orang tuanya yang tidak diketahui kabarnya semenjak ia kabur dari Rakhine tahun lalu.

“Saya belum bertemu orang tua saya selama lebih dari setahun,” kata Malek, dikutip AFP, Jumat (17/11).

Akan tetapi, Malek mengungkapkan kekhawatirannya. Ia menilai, kondisi Myanmar yang belum aman membuatnya menjadi gamang.

“Saya ingin bertemu mereka (orang tua), tapi saya merasa belum cukup aman untuk kembali,” tambahnya.

Malek mengaku siap dan bersedia dipulangkan ke Rakhine manakala pemerintah Myanmar memberikan jaminan keamanan dan kewarganegaraan bagi para pengungsi Rohingya.

Sebelumnya, puluhan keluarga pengungsi Rohingya –yang namanya masuk dalam daftar repatriasi ke Myanmar pekan ini- telah melarikan diri dari kamp-kamp yang mereka tinggali di Bangladesh. 

“Sebagian besar orang-orang yang ada di dalam daftar telah kabur untuk menghindari repatriasi,” kata seorang pemimpin Rohingya di kamp Jamtoli, Abdus Salam, dilansir laman Reuters, Senin (12/11).

Abdus Salam mengungkapkan, mereka kabur ke kamp-kamp lainnya yang juga masih di Bangladesh agar tidak dideteksi dan dipaksa untuk kembali ke Myanmar. Mereka mengaku ketakutan jika harus kembali ke Myanmar. 

Rencananya proses repatriasi (pemulangan) pengungsi Rohingya ke Myanmar akan dimulai pada pertengahan November ini. Namun akhirnya dibatalkan karena situasi dan kondisi yang belum memungkinkan tersebut.

Sebelumnya, Utusan HAM PBB untuk Myanmar Yanghee Lee mendesak Bangladesh dan Myanmar untuk membatalkan rencana pemulangan ratusan ribu pengungsi Rohingya ke kampung halamannya di negara bagian Rakhine. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari penganiayaan lagi terhadap etnis Rohingya.  

Lee menilai, sampai saat ini Myanmar belum bisa memberikan jaminan keamanan dalam proses repatriasi pengungsi Rohingya. Keadaan di negara bagian Rakhine juga belum kondusif untuk para pengungsi Rohingya. 

“Myanmar telah gagal memberikan jaminan bahwa para etnis Rohingya ini tidak akan mengalami penganiayaan dan kekerasan yang sama sekali lagi,” kata Lee, dilansir dari laman Aljazeera, Rabu (7/11). (Red: Muchlishon)
Bagikan:
IMG
IMG