IMG-LOGO
Nasional

Seabad Pondok Seblak, Kitab Tasrifan Standar Internasional


Senin 19 November 2018 23:15 WIB
Bagikan:
Seabad Pondok Seblak, Kitab Tasrifan Standar Internasional
Salah satu unit pendidikan milik Pondok Seblak.
Jombang, NU Online
Puncak peringatan satu abad Pondok Seblak, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur digelar Ahad (18/11) malam. Berbagai pertunjukkan seni ditampilkan sebagai ciri khas pesantren. Pada kesempatan tersebut juga diselenggarakan seminar terkait para pendiri dan kiprahnya yang layak dikenang. 

Direktur Islam Nusantara Center Jakarta A Ginanjar Syaban menjelaskan bahwa nama Choiriyah Hasyim sebenarnya sejajar dengan tokoh emansipasi perempuan yang sudah dikenal selama ini di Indonesia. Seperti RA Kartini, Dewi Sartika, Rahmah El-Yunusi dan sebagainya. 

"Ini karena Ibu Nyai Choriyah berhasil mendirikan sekolah perempuan di Arab Saudi, tidak hanya di dalam negeri," katanya.

Dari Pondok Seblak, sebenarnya ada tiga tokoh hebat. Yaitu KH Ma'shum Ali, Nyai Choiriyah Hasyim dan KH Muhaimin. “Kiprahnya tidak hanya di dalam negeri, tapi juga sudah mendunia, hingga menjadi tokoh penting dunia pendidikan nasional," ucapnya.

Madrasah lil Banat, sekolah khusus putri yang didirikan Nyai Choiriyah, imbuhnya, sekarang sudah tidak ada. Karena pada tahun 1990, madrasah diambil alih pengelolaannya oleh pemerintha Arab Saudi.

Salah satu karya monumental KH Ma'shum Ali adalah kitab al-Amtsilah al-Tasrifiyah. Kitab ini terkenal di pesantren dengan julukan kitab Tasrifan. "Saya mengira kitab Tasrifan itu ditujukan untuk mahasiswa pemula," katanya. 

Dirinya terkejut karena pada tahun 2008 di Markaz Nil di Kairo ada tempat kursus bahasa Arab untuk orang asing. “Ternyata kitab itu menjadi sebagai rujukan akademisi internasional," imbuhnya.

"Saya pertama kali menghapalkan Kitab Tasrifan ketika mondok di Kediri, terutama yang istilahi. Saya pernah ditakdirkan menjadi dosen di Mesir sekitar lima tahun juga karena salah satunya ya menghapal Tasrifan," lanjutnya sembari mengenang.

KH Ma'shum Ali, lanjutnya, mengarang Kitab Tasrifan saat masih berusia 19 tahun. Pada tahun 1919 dia mengarang kitab Fathul Qadir. Keduanya hingga sekarang masih digunakan dan dihapal oleh ribuan pesantren dan telah menghantar jutaan santri ke gerbang keilmuan Islam.

Karya KH Ma'shum Ali yang mendunia adalah kitab Durusul Falakiyah. Bahkan kakek KH. Ma'shum Ali yang bernama Kiai Faqih Maskumambang Gresik juga pernah menulis kitab falak saat masih mondok di Pondok Langitan Tuban.

Umur manusia dalam pandangannya ada dua. Yaitu umur fisik dan yang melampaui fisik (umur tsani). Umur fisik KH Ma'shum Ali adalah memang 35 tahun. “Sedangkan yang melampaui fisik beliau masih hidup hingga sekarang, terutama dalam memahami teks-teks berbahasa Arab, sebagamana al-Ghazali yang hingga sekarang namanya masih hidup," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Ibnu Nawawi)

Tags:
Bagikan:
IMG
IMG