::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Walima Kue dari Gorontalo untuk Baginda Muhammad

Selasa, 20 November 2018 19:15 Nasional

Bagikan

Walima Kue dari Gorontalo untuk Baginda Muhammad
Foto: Teras News
Ekspresi memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal dilakukan umat Islam Gorontalo dengan membuat walima. Biasanya mereka menggelar parade kue walima atau sesajian kue tradisional yang ditata berbentuk aneka hiasan.

Walima adalah ada kue yang disusun-susun dari kue tradisional khas Gorontalo semisal kolombengi, wapili, tutulu, telor ayam rebus, ayam panggang sendiri. Kemudian diarak ke masjid, kemudian warga melakukan doa bersama. 

Pada perkembangannya, walima yang dibentuk menyerupai rumah, atau masjid ini sering diarak keliling kota sehingga menjadi pusat perhatian warga. Setelah diarak kemudian dibagikan kepada warga.

Mereka kemudian berusaha dan saling berlomba memperebutkannya. Warga, terdiri dari orang tua, muda, wanita, dan anak-anak, rela berdesakan hingga ada yang terjatuh. 

Bagi warga Gorontalo, walima merupakan berkah dan ungkapan rasa syukur atas hadirnya Nabi Muhammad SAW ke dunia. Warga dengan sukarela membuat kue walima. 

Sebagai apresiasi kepada kegiatan tersebut, kemudian Pemerintah Kota Gorontalo setiap tahun mengagendakan parade walima. Parade ini diikuti oleh seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), instansi swasta, dan sekolah di Gorontalo, serta warga.

Walima tersebut diekspresikan dalam sebuah masjid yang bernama Walima Emas di Desa Bongo, Kecamatan Batuda’a Pantai, Kabupaten Gorontalo. Di beberapa sudut dan di tengah bagian atap masjid tersebut terdapa walima berwarna emas. 

Msjid itu didirikan di ujung sebuah bukit dengan ketinggian sekitar 250 kaki di atas permukaan laut. Dari masjid itu seseorang bisa menyaksikan pemandangan laut dengan perahu-perahu kecil, rumah-rumah penduduk dan bebukitan yang masih hijau.

Menurut warga sekitar masjid tersebut digagas Yosep Tahir Ma’ruf, pria asli dari Desa Bongo. Masjid yang berukuran kira-kira 10 kali 10 meter tersebut dibangun mulai tahun 2008.(Abdullah Alawi)