IMG-LOGO
Wawancara

Pengusaha Nahdliyin Soroti Perkembangan Teknologi Blockchain, Apa Itu?

Rabu 21 November 2018 19:30 WIB
Bagikan:
Pengusaha Nahdliyin Soroti Perkembangan Teknologi Blockchain, Apa Itu?
Ketum HPN Abdul Kholik
Perkembangan teknologi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia saat ini, termasuk internet, komputer jaringan, dan lain-lain, termasuk perkembangan teknologi blockchain. Teknologi blockchain saat ini banyak dimanfaatkan dunia bisnis, perbankan, dunia usaha, dan lain-lain untuk dapat meningkatkan daya saing bisnis.

Dalam rangka mengembangkan bisnis jaringan bagi para pengusaha, Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) menggelar Halaqah Blockchain, Sabtu (3/11/2018) lalu di Kantor PBNU Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten di bidang teknologi dan jaringan komputer.

Blockchain memiliki keunikan yaitu dalam hal tersebarnya basis data, transparansi antar pemilik data, dan enkripsi keamanannya dibandingkan basis data biasa.

Revolusi yang dimungkinkan oleh blockchain akan mempermudah transaksi antara seluruh lapisan masyarakat hingga petani. Bukan hanya transaksi keuangan tapi juga transaksi berbagai data yang akan semakin membanjir dengan masuknya kita ke era internet of things (IoT).

Suatu era yang memungkinkan berbagai objek tertentu punya kemampuan untuk mentransfer data lewat jaringan tanpa memerlukan adanya interaksi dari manusia ke manusia ataupun dari manusia ke perangkat komputer.

Untuk mengetahui lebih spesifik tentang teknologi blockchain ini, Jurnalis NU Online Fathoni Ahmad melakukan wawancara dengan Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Abdul Kholik sesaat setelah halaqah blockchain sebagai berikut:

Kenapa HPN ini perlu membincangkan teknologi blockchain ini?

Blockchain ini adalah teknologi yang masih dalam tahap awal. Teknologi ini akan menjadi platform baru setelah platform internet. Jadi kalau kita terlibat sejak awal dalam perkembangan teknologi ini, Insyaallah kita akan memperoleh manfaat yang lebih besar.

Para narsumber misalnya Pak Rick Bleszynki (pengusaha teknologi prosesor asal Indonesia, tinggal di Amerika Serikat) misalnya, dia terlibat dalam teknologi prosesor itu kan dari awal dia, dari nol. Karena dari awal dia terlibat dalam teknologi ini, maka dia memperoleh kesempatan yang lebih besar, kemampuannya ikut melonjak, kemampuan teknologinya, kemampuan usahanya.

Terbukti dia sekarang dipakai oleh militer dan intelijen Amerika Serikat untuk menyuplai prosesornya mereka. Itu artinya hebat sekali. Di kalangan NU jika terlibat sejak awal dalam teknologi ini pada saat teknologi ini baru dan sedang dikembangkan, dan seperti apa yang dikatakan pak rick bahwa Blockchain ini akan menjadi the next platform.

Kesempatan untuk mempelajari blockchain ini penting bagi anak-anak muda NU yang saat ini sudah menggeluti teknologi tapi baru sampai level programming dan pembuatan website. Bincang-bincang ini memberikan kesempatan kepada generasi muda yang sudah bergerak di bidang IT agar arah perubahan IT bisa dipahami oleh anak muda NU.

Apalagi teknologi blokchain ini potensial. Mudah-mudahan ini memberikan kesempatan kepada teman-teman untuk memberikan visi untuk memberikan visi. Kalau mereka terlibat lebih awal dalam mengembangkan teknologi ini, maka akan bergerak maju.

Sudah dikembangkan sejauh mana di dunia bisnis secara spesifik?

Kalau sekarang kan yang banyak dipakai contoh bitcoin tapi itu kan salah satu aplikasi dari pemanfaatan blokchain. Blockhain yang powerfaul dalah bagaimana membuat aplikasi kepercayaan kapada semua orang. Dengan sistem tersebut, maka orang lain tidak perlu lagi memverifikasi kita, karena identitas kita semua sudah berada di Blockhain.

Misal bagaimana mentransfer uang ke Indonesia dari London. Dalam itungan detik, sudah bisa diproses. Tidak memerlukan bank. Sebelumnya, para TKI dari Hong Kong, Arab, Taiwan, dan Korsel, dan lain-lain harus lewat bank, biayanya mahal, waktunya lama. Teknologi blockchain bila dikembangkan bisa membantu TKI kita realtime detik ini pun dikirim, detik ini bisa diterima. Apalagi jika di HPN membuat aplikasi tersebut, maka manfaatnya bagi masyarakat tinggi sekali.

Tapi yang perlu kita lihat meskipun indonesia tidak mengizinkan, tidak ada negara satu pun yang bisa menahan teknolgi ini. Seperti bisnis digital seperti ojek online yang dkembangkan seperti sekarang tetapi mendapat protes, tetapi pada akhirnya pemerintah memberikan izin. Jika warga NU terlibat lebih awal akan mendapatkan peluang yang lebih besar.

Bagaimana generasi muda NU melihat teknologi blockchain ini dan selama ini sudah ada yang memanfaatkannya atau belum?

Sebenarnya ada pada level yang berbeda. Ya kita pernah terapkan tiga tahun yang lalu pada waktu kita membangun microfinance. Jika selama ini kita perlu memberikan kredit kepada masyarakat, syaratnya mereka harus memfotokopi identitas lalu semua diproses. Ini sudah berjalan tiga tahun yang lalu memberikan inovasi baru microfinance dengan teknologi baru yang lebih cepat.

Prosesnya kita fotokopi buku tabungannya lalu kita kirim di aplikasi kita. Hal ini tersistem secara otomatis. Kemudian terlihat, layak atau tidak untuk diberikan kredit. Dalam waktu satu atau dua hari selesai dengan menggunakan sistem microfinance. Ini sistem yang berjalan, rumus-rumus itu yang menentukan.

Misal, si fulan sudah memenuhi kredit tersebut. Kalau yang model konvensional, butuh satu minggu, dengan microfinance hanya butuh satu hari, nah dengan blokchain hanya butuh itungan detik. Selain itu, kita bisa membangun database. Database bisa diakses lebih cepat.

Bentuk lain sebagai wadah transaksi, teknisnya kita punya aplikasi sendiri dan harus mempunyai akun?

Teman-teman kita yang bergelut di bidang IT akan mengembangkan teknologi blockchain ini dalam bentuk aplikasi. Tentu saja sebagai pengguna harus punya akun di aplikasi tersebut.

Kalau kita mendaftrkan ke akun, maka transaksi uang kita akan diubah menjadi koin. Tetapi di Indonesia belum bisa ditukarkan menjadi uang karena pemerintah belum mengizinkan transaksi model tersebut.

Nanti kalau misalnya pemerintah sudah menghizinkan akan bisa dilakukan orang yang punya akun di Dompet HPN, misal dia tahu ada transfer dari Singapura, dia bisa ambil dari koperasi, atau ke mesin ATM punyanya NU.

Sekarnag ini yang bisa dilakukan kalau seandainya pengguna aplikasi di Indonesia lebih banyak, kita beli dalam bentuk poin. Seandainya teman-teman sudah masuk ke akun itu sebenarnya kita hanya butuh poin, beli di NU Mart pakainya poin kalau NU Mart punya akun serupa. Indoneaia belum mengizinkan poin diubah menjadi uang.

Negara mana saja yang sudah menerapkan teknologi blockchain?

Amerika, Jepang, China. Sebenarnya yang menginisiasi ide blockchain ini orang Jepang. 

Kenapa Indoensia belum bisa menerapkan teknologi blockchain?

Sebenarnya di beberapa tempat sudah menerapkan, seperti di Bali. Anda bisa bayar hotel memakai koin. Lalu, kita juga bisa melihat sistem poin yang diterapkan perusahaan ojek online. Cuma poin tidak bisa jadi rupiah.

Bagaimana menyosialisasikan teknologi blockchain kepada warga NU secara umum?

Yang diinginkan oleh HPN, kita punya komunitasnya yang bisa mengembangkan teknologi blockchain. Kalau komunitas ada, kita bisa mengadakan silaturahim teknologi. Tapi kita mengikuti strategi, kalau kita mau mengejar ketertinggalan, kita bisa belajar dari akhir, tidak perlu dari awal. Seperti yang dilakukan Habibie, beliau langsung bikin pesawat. Dari produksi tersebut kita bisa belajar.

Kalau kita terlibat dari awal, kita berarti mulai dari akhir sehingga bisa maju. Supaya kita bisa lebih lanjut ke level yang lebih tinggi. Membetuk komunitas yang saling mengasuh dan mengasah. Selama ini, HPN memggumpulkan para pengusaha di bidang-bidang tertentu.

Perkembangan teknologi blockchain dalam ranah akdemik di perguruan tinggi seperti apa?

Di Indonesia sudah banyak potensi dari perkembangan teknologi blockchain ini. Justru teknologi ini memunculkan ketakutan dari pihak perbankan. Jika kita bisa mengembangkan blockchain ini, kita bisa moneyless, kita juga bankless, kita tidak perlu bank. Jika bank tidak mentransformasi diri, bank akan hilang, karena saat ini yang berkembang sistem crypto currency, kita sudah banyak, kita tidak oleh ketinggalan. 

Empat tahun lagi, teknologi blockchain ini merajalela, kita harus bisa mengembangkan sehingga tidak ketinggalan. Tugas HPN memberikan visi ini bahwa ada anak teknologi baru, jangan sampai ketingalan. (*)
Tags:
Bagikan:
Kamis 1 November 2018 9:0 WIB
Beben Jazz Bisa Mengenal Allah melalui Musik
Beben Jazz Bisa Mengenal Allah melalui Musik
Foto: harnas.co
Belakangan ada kalangan pemusik yang meninggalkan musik. Bukan karena usianya tua atau tak ada lagi fasilitas, tapi lebih karena pemahaman. Bagi mereka, bermain musik adalah haram. Padahal di kalangan ulama sendiri, musik adalah masalah khilafiyah (perbedaan) pendapat. Ada yang membolehkan, ada pula yang mengharamkan. 

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj misalnya pernah berkomentar bahwa seni, termasuk di dalamnya musik, kalau bisa menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, dibolehkan. Yang diharamkan adalah musik yang menjadi sarana maksiat. 

Salah seorang pemusik Indonesia pada genre jazz, yaitu Beben Jazz punya penjelasan tersendiri terkait dia, musik dan Sang Pencipta. Menurut dia, ketika bermain musik, justru bisa mendekatkan diri kepada Allah. Dalam penghayatannya, saat bermain musik bisa merasakan keindahan. Tentu, pada hakikatnya keindahan itu diciptakan Yang Maha Indah. 

Pada saat yang sama, rasa syukur juga bisa timbul karena betapa manfaatnya organ tubuh si pemusik. Jika Beben tak punya satu saja jari kelingking, akan sukar sekali memainkan musik jazz. Dengan demikian, betapa pentingnya kelingking itu. Betapa hebat Sang Pencipta kelingking itu. Dialah Allah.

Untuk lebih lengkap bagaimana pengalaman bermain musik dari Beben Jazz, Abdullah Alawi berhasil mewawancarainya selepas Haul Mahbub Djunaidi yang diselenggarakan PMII UNUSIA Jakarta dan komunitas literasi Omah Aksoro itu di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Jumat (19/10). 

Berikut petikannya: 

Kenapa untuk tahun kedua ini, secara berturut-turut datang dan mengisi acara di Haul Mahbub Djunaidi? 


Pertama sih, kalau dari sisi spiritual, pasti tidak  ada yang kebetulan. Kenapa saya ada di sini lagi? Kedatangan kedua ini semacam menegaskan bahwa Pak Mahbub ini jiwanya jazz. 

Bagi saya, yang pertama adalah pertemuan, perkenalan saya dengan PAK mahbub dan coba kita lihat, jazz dan esai, karena Pak Mahbub sudah Jazz. Tapi apakah cukup suka jazz. Pak Mahbub sudah jazz, anaknya ada yang jazz. 

Kalau yang di atas, sang Maha Kekasah, Allah, biasanya kalau kisah dengan ruh, ruh, penasaran itu, secara enggak langsung seakan-seakan menuju ke arah Pak Mahbub itu jiwanya jazz, jazz dalam politik, dalam organisasi, dalam spiritual. Tapi rasanya,  kurang cukup kalau sekali. 

Oh ya, bisa ceritakan tentang musik jazz, terkait agama? 

Kadang-kadang ada orang cuap-cuap agama, mungkin ahli fiqih, mungkin ahli yang lain. Tetapi ada orang-orang "laku", mungkin "laku"-nya, meskipun tidak bicara ayat, tapi lakunya spiritual; jadi, kadang-kadang bisa bentuknya penyampaian bisa bentuknya simbol, tapi kan poinnya satu, jazznya Allah adalah, ternyata orang bisa menjadi baik enggak lewat masjid semua; orang bisa lewat jazz, bisa lewat komputer itu kenal Allah. Segala sesuatu kan ujung-ujungnya, aku harta karun terpendam, aku ingin ditemukan. Saya menemukan Allah lewat jazz. Saya tidak tahu nanti di Padang Mahsyar, musik jazz saya statusnya saya tidak tahu, tapi saya mengenal Allah melalui jazz. Tapi saya juga nurut atas kehendak Allah, kalau 5 tahun nanti saya tidak ngejazz itu lebih baik, saya nurut juga. Tapi saat ini saya kenal Allah melalui jazz. 

Bagaimana penjelasannya mengenal Allah lewat jazz itu? 

Sederhana. Sebetulnya jazz itu hanya simbol. Kita kan bisa merasakan hadirnya Allah itu lewat rasa takut, keindahan dan knowledge (pengetahuan). Sekarang jazzer salah satu amanahnya adalah menghadirkan keindahan dengan laku yang khusuk, bermain karena Allah, yang semata-mata karena Allah. Ketika kita main, orang positif orang merasakan hadirnya Allah di situ. Atau dengan ma’rifat, mendalami jazz.

Kita kan tahu ketika lautan dijadikan tinta dituliskan di buku, tak akan cukup. Tapi merasa tidak keluasan ilmu Allah. Dan kalau mau merasakan, dalami ilmu satu saja. Contohnya jazz. Jazz itu banyak banget. Allah mengajar, Allah itu maha detail, di cord jazz itu, kok cord jazz itu susah-susah, itu untuk detail, untuk menghadirkan keindahan sejati. Bukankah itu Allah mengajarkan detail. Ya kalau kita paham itu, detailnya jazz itu belum seberapa dengan Allah. Tapi kita lewat jazz dulu supaya kita bisa merasakan apa yang dinamakan Allahu akbar lewat jazz. 

Jadi korelasi begini, bukan hanya jazz, bisa di komputer, bisa di mana pun, tapi saya kan jazzer. Dengan mendalami ilmu jazz, nanti yang dinamakan ilmu Allah itu luas terasa banget. Akhirnya apa? Akhirnya saya ketemu cord c7-9. Terus kalau cord c7-9, kalau kelingking gua enggak ada, gua enggak bisa megang cord ini nih. Akhirnya apa, megang megang cord itu saya menjadi zikir. Kelingking aja itu, kok ada ya cord seperti ini. Detail. 

Dengan menyadari bahwa kelingking ini berfungsi, kadang-kadang kita tak bersyukur dengan adanya kelingking ini, padahal ketika dalam konteks pemain jazz demikian sangat berarti banget. 

Banget. 

Fungsi kelingking saja bagi seorang jazzer bisa mengingatkannya kepada Sang Penciptanya.

Betul. Jadi, semua yang saya lakuin di jazz, bagi saya itu dzikir itu semua. Bagi saya itu ibadah.  

Padahal itu hanya dari satu kelingking; mensyukuri ciptaan Allah melalui kelingking. 

Iya. Itu baru hal kecilnya. Jadi, bagi Rumi, sementara kan, kalau dibicarain panjang ya, isu-isu musik halal haram, halal haram, pasti orang punya perjalanan, spiritual journey, spiritual music, sementara saya merasakan hadirnya Allah, merasakan kebesaran Allah lewat jazz, sementara sahabat spiritual saya, yang saya belum pernah ketemu, Jalaluddin Rumi mengatakan, seni adalah keindahan Tuhan yang turun ke bumi. Tapi intinya adalah lewat jazz, saya bisa mengenal Allah.


Selasa 23 Oktober 2018 20:0 WIB
HARI SANTRI 2018
Disebut Santri Jika Siap Pertahankan Agama dan Negara
Disebut Santri Jika Siap Pertahankan Agama dan Negara
Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin
Empat tahun sudah 22 Oktober ditetapkan pemerintah sebagai Hari Santri. Peringatan yang bersandar pada Resolusi Jihad yang dikeluarkan NU tersebut dari tahun ke tahun makin meriah. Hampir setiap pesantren memperingatinya dengan beragam cara. Mulai dengan upacara, kirab, lomba-lomba, dan lainnya. Tiap hari itu, dalam empat tahun terakhir, santri menunjukkan eksistensinya.

Hampir tiap tahun, kegiatan-kegiatan tersebut semarak diberitakan media massa karena menyangkut kegiatan yang melibatkan banyak orang dan dihadiri tokoh publik. Juga meramaikan jagat media sosial dengan kalimat, foto hingga video. 

Tak hanya itu, hampir tiap tahun pula pada peringatannya kerap mendapatkan rekor-rekor yang tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI). Tahun lalu, misalnya ada rekor MURI dengan jumlah makanan tradisonal terbanyak yang disantap ribuan santri Probolinggo. Tahun ini, di Situbondo dengan karya kaligrafinya. Sementara di Tasikmalaya rekor nasi liwet terbanyak. 

Namun, cukupkah Hari Santri diperingati dengan cara-cara seperti itu? Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin di Gedung PBNU, Jakarta, Ahad (21/10). Berikut petikannya: 

Apa refleksi Pak Kiai terkait Hari Santri 2018?

Hari santri Bukan hanya sekedar diperingati dengan upacara, tapi bagaimana sebanyak mungkin Indonesia menjadi santri. Pengertian santri bukan makna sempit, tapi bisa diartikan secara luas, yaitu semua orang yang memiliki akhlak para santri, yang meniru ulama, para kiai di pesantren. 

Akhlak para santri para kiai itu bagaimana? 

Ya, akhlak yang mulia karena diutusnya Nabi Muhammad itu kan innama bu'itstu liutammima makarimal akhlaq, sesungguhnya aku diutus ke dunia ini untuk untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Bukan sekadar menyempurnakan akhlak, tetapi menyempurnakan akhlak yang mulia. Itu kan dicontohkan para ulama, para kiai di pesantren kepada para santri. Tetapi maknanya bisa diperluas, orang yang berakhlak mulia seperti para santri di pesantren adalah santri. Oleh karena itu, momentum Hari Santri harus diiringi dengan gerakan memesantrenkan anak di pondok-pondok pesantren. Karena di pesantren, tempat anak-anak itu mengaji akan melahirkan alumn, pertama adalah paham dengan baik agama, sehingga dia juga menjadi orang baik. Kedua mencetak manusia-manusia yang cinta kepada agama dan tanah air. 

Hari santri adalah hari bagaimana bangsa ini memerhatikan pesantren karena pesantren dengan para kiai dan santrinya memiliki andil yang sangat besar untuk membangun bangsa dan mendirikan NKRI. Bahkan juga mempertahankannya. Saya kira, tanpa peran para kiai dan para santri, mungkin kemerdekaan Indonesia tidak akan bertahan lama. 

Bagaimana bisa begitu? 

Ya, karena mereka terlibat dalam dalam perjuangan fisik di dalam memprjuangkam negara Indonesia. misalnya para kiai pesantren, terutama NU terlibat di dalam menyusun Pancasila dan UUD 1945 dalam sidang BPUPKI. Setelah itu  juga terlibat di dalam melawan Agresi Militer Belanda, melawan NICA. Pada tanggal 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar PBNU  mengeluarkan Resolusi Jihad yang berujung pada peristiwa pertempuran 10 November itu juga sebagai salah satu peran santri. Itu peran santri. 

Selanjutnya Hari Santri harus menjadi momentum kesadaran untuk merawat apa yang yang sudah dirintis NKRI, mengisi kemerdekaan, mencerdaskan kebangsaan, mewujudkan keadilan dan perdamaian di Indonesia ini. Bukan sekadar sebagai sesuatu yang digembar-gemborkan di dalam ucapan, akan tetapi berwujud di dalam tindakan. 

Kita juga berterima kasih kepada pemerintahan yang dipimpin oleh Pak Presiden Joko Widodo yang telah memulai dan menerima gagasan Hari Santri yang diajukan dari tokoh-tokoh dari PBNU. 

Santri dan kalangan pesantren masih dicitrakan sebagaia kalangan yang melulu terkait agama, sementara skill yang dibutuhkan saat ini tidak hanya bidang itu. Bagaimana supaya pesantren menjadi tertarik bagi kalangan yang berpikir seperti itu?

Yang jelas, tidak semua orang Indonesia wajib di pesantren karena semua itu wajib dipelajari. Harus ada sebagian orang Indonesia yang belajar di pesantren liyatafaqahu fid din, untuk memahami agama, dan mereka nanti dari pesantren memberikan peringatan, mengajar kepada kaumnya ketika kembali ke masyarakat. Jadi, sebetulnya hanya fardu kifayah. Ya, secukupnya saja. Tidak semua orang harus di pesantren. Karena pesantren itu pada umumnya adalah untuk mendidik orang di bidang agama secara mendalam. Meskipun demikian, pesantren tidak boleh menutup mata dengan adanya perkembangan pesat di bidang sains dan teknologi. Alumni-alumninya misalnya, saya kira memiliki peluang untuk belajar di perguruan-perguruan tinggi umum untuk mempelajari sains dan teknologi, pertanian dan sebagainya, perdagangan, perbankan, asuransi dan sebagainya. 

Pesantren saat ini harus mempersiapkan diri mengikuti perkembangan sehingga tidak ada keengganan bagi orang kota untuk memesantrenkan anaknya. Saya kira itu momentum penting dari diadakannya hari santri. 

Mempersiapkan diri dengan cara bagaimana? 

Mempersiapkan diri selama di pesantren untuk siap terjun di masyarakat yang majemuk. Dan itu dengan mendalami ilmu agama sedalam-dalamnya dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan dakwah agar bisa diterima masyarakat perkotaan misalnya. Itu tidak ada jalan kecuali dengan memiliki ilmu yang spesialis juga memmiliki wawasan yang luas, memperbanyak hubungan dengan berbagai pihak itu juga sebuah persiapan menghadapi kehidupan yang sangat kompleks. 

Ya, intinya bagaimana agar santri menjadi orang-orang yang bermanfaat, bisa memberi solusi, memecahkan masalah atas problem-problem kehidupan di masyarakat yang semakin lama semakin rumit, bukan justru sebaliknya, menjadi sumber masalah kehidupan itu sendiri. maka, santri harus rajin belajar, rajin ibadah, rajin bekerja, harus senantiasa mencerdaskan dirinya dengan sansntiasa tidak berhenti belajar. 

Yang terakhir, santri harus merasa bangga bahwa dirinya menjadi santri. Bahwa Indonesia sebagai sebuah negara yang didirikan atas peran para santri dan kiai, itu member peluang sangat besar kepada santri-santri yang memiliki kecerdasan, keterampilan, untuk menempati pos-pos penting di negara ini. Santri bisa menjadi camat, bisa menjadi bupati, gubernur, bahkan santri di Indonesia pernah menjadi presiden seperti KH Abdurrahman Wahid dan kita saat ini berharap agar KH Ma’ruf Amin sebagai alumnus pesantren, sebagai santri yang telah malang-melingtang di dunia politik juga menempati posisi penting sebagai wakil presiden. Itu sekadar contoh bawah santri tak boleh minder.

Bagaimana supaya Hari Santri ini tidak hanya milik santri di pesantren, tapi untuk semua kalangan? 

Dalam pengertian makna yang diperluas, akhlak mulia, menyayangi yangmuda menghormati yang tua, tidak sembarangan bicara, seikapnya tidak merugikan siapa pun, dia bermanfaat untuk keluarganya, bermanfaat untuk orang banyak, menebarkan kebaikan itu santri, meskipun bukan santri sesungguhnya dalam pengertian kebiasaan adat istiadat di dunia pesantren yang sudah maklum di kalangan Nahdlatul Ulama. Jadi, santri dalam pengertian sempit adalah orang yang belajar di pesantren. Santri dalam pengertian luas adalah mereka yang akhlaknya baik, cinta tanah air. Mendalam ilmu agamanya, dan melaksanakannya, dan dia juga cinta tanah air. Memiliki jiwa nasionalisme. Jadi, tanpa dua itu, bukan santri. Santri harus mendalam dalam agama. Kedua, cinta tanah air.

Kenapa salah satu kriteria mendasarnya cinta tanah air?

Karena santri itu 22 Oktober itu diawali dengan Resolusi Jihad. Inti dari Hari Santri adalah bagaimana semua orang mencintai tanah airnya. 

Lalu, bagaimana kalau ada seorang santri, tapi tidak cinta tanah air?  

Bukan santri yang hakiki. Sekadar tinggal di pesantren, kalau tidak cinta tanah air, tidak mengisi kemerdekaan Indonesia dengan hal-hal yang bermanfaat, itu bukan santri,   

Meskipun santri itu mendalam agamanya? 

Ya, meskipun merasa tafaquh fid din karena Hari Santri itu memperingati Resolusi Jihad. 

Hampir setiap kiai di pesantren menghabiskan usianya untuk mendidik para santri yang rata-rata sangat baik akhlaknya dan rata-rata sangat cinta kepada tanah airnya. Itu di setiap pesantren Nahdlatul Ulama seperti itu. 

Itu berpengaruh tidak kitab kuning kepada cara berpikir dan gerakan santri yang cinta tanah air? 

Cinta tanah air itu diajarkan di dalam Al-Qur’an, diajarkan di dalam hadits nabi, diuraikan para ahli tafsir, para sufi, ahli fiqih, oleh para penyair. Itu ada dalam kitab klasik. Di dalam Al-Qur’an contohnya, ya nabi-nabi diutus untuk kaumnya, kecuali Nabi Muhammad untuk alam semesta. Jadi, santri itu, siap untuk mengemban amanah agama, dan cinta tanah air. Contoh yang paling bagus ya KH Hasyim Asy’ari. Dipaksa Balanda untuk seikerei, sujud atau menunduk ke arah matahari, tapi menolaknya. Dia berarti mempertahankan agamanya. Dia juga melawan Jepang, mengusir Belanda. Berarti dua hal itu dilakukan. Agama dipertahankan, tanah airnya dipertahankan dalam waktu bersamaan.

Para kiai dan para santri itu terlatih hidup sederhana tidak bermewah-mewah, tidak rakus kepada harta benda. Indonesia ini kalau dipenuhi akhllak santri, tidak rakus, tidak korupsi, Indonesia akan makmur.  

Senin 24 September 2018 18:0 WIB
PBNU Nilai Lembaga dan Banom NU Berkhidmah dengan Baik
PBNU Nilai Lembaga dan Banom NU Berkhidmah dengan Baik
PBNU menggelar Rapat PLeno di Gedung PBNU, Jakarta, Sabtu (22/9). Rapat yang dipimpin Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj ini dimulai dengan pengunduran diri Rais Aam KH Ma’ruf Amin yang kemudian ditetapkan menjadi muastasyar serta penetapan Wakil Rais KH MIftachul Akhyar menjadi Penjabat Rais Aam. 

Selepas itu, PBNU menerima laporan seluruh lembaga dan badan otonom di lingkungan NU di tingkat pusat. Laporan itu berisi khidmah selama ini. Bagaiamana penilaian PBNU terhadap laporan lembaga dan banom NU belakangan ini? Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faishal Zaini. Berikut petikannya: 

Secara umum, bagaimana laporan kinerja lembaga dan banom sejak 2015? 

Sejak 2015, alhamdulillah mengalami peningkatan-peningkatan, terutama kita kan menggunakan KPI, Key Performance Indicators ya. Jadi, KPI-nya kita bagi di dalam tiga, dengan indikator tiga. Pertama, dalam konteks konsolidasi organisasi, yaitu apakah mereka  mengorganisasi lembaga ini secara baik atau tidak. Kemudian yang kedua, berbasis kepad output dan outcome-nya. Jadi, satu kegiatan ini misalnya menghasilkan apa, kemudian memberikan dampak apa. Misalnya kerja sama mendapatkan mitra kerja untuk pemberdayaan ekonomi, itu outputnya, outcome-nya itu adalah terbentuknya adanya sekian ratus ribu warga NU yang mendapatkan manfaat dari program ini sehingga mereka, dari yang miskin, kemudian sekarang menjadi lebih sejahtera. 

Jadi, pertama dari konsolidasi organisasi. Kedua, dari output dan outcome. Kemudian yang ketiga, diukur berdasarkan juga kesesuaian. Kesesuaian itu harus tepat dengan tupoksinya; tugas pokok dan fungsinya. Jadi, enggak bisa operlap (tumpang-tindih), misalnya kayak LAZISNU, ya sifatnya fundraising (penggalangan dana), kalau sudah pengelolaan tanggap darurat, kemudian pasca bencana, kemudian, ya itu kita serahkan ke LPBINU. Kemudian madrasah darurat, kita serahkan ke Ma’arif. Kalau asal kerja, bisa aja kan LAZISNU mengerjakan semuanya. Itu kan tidak tepat sasaran. 

Sebetulnya ada lima ya, yang keempat itu pertanggungjawaban dalam bentuk pelaporan. Yang kelima itu peningkatan kerja. Jadi, harus terukur. Kalau kemarin misalnya dapat seratus program, sekarang harus nambah programnya. Ada akselerasi, ada capaian-capaian. 

Berdasarakan KPI itulah kita memberikan penilaian kinerja lembaga dan banom. Ya ada juga lembaga yang kalau diukur dengan lima itu, tapi secara keseluruhan, saya dapat katakan bahwa lembaga-lembaga di lingkungan ini dapat berkhidmah di organisasi dengan baik.

Capaian itu kan menggembirkan, faktor apa bisa berjalan seperti itu? 

Koordinasi. Korrdinasi. Misalnya kalau ada tuntutan membantu Lombok, itu harus rapat koordinasi. Itu kan sampai 9 miliar kan. Koordinasi. Lembaga dan banom yang bisa terkait dengan satu hal, dikoordinasikan. Semua bekerja berdasarkan tupoksinya, tapi begitu keluar semua melakukan gerakan menjadi satu, NU Peduli. Kemudian, lembaga dan banom, egosektoralnya harus dihilangkan. 

Nah, Rapat Pleno tadi juga menegaskan ulang soal apa yang menjadi mandat dalam muktamar NU, yaitu tiga hal, menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunah wal Jamaah an-nahdliyah. Yang kedua adalah komitmen kita untuk mengawal Pancasila dan NKRI. Yang ketiga, peningkatan kualitas hidup warga NU, terutama dalam tiga bidang, pendidikan, kesehatan dan perekonomian. 

Nah, yang pertama, tadi sudah saya sampaikan risetnya kan, hasil Alvarra, 90 persen Maulid Nabi, sekian persen ziarah kubur. Itu kan berarti salah satu mengukur bagaimana pelaksanaan ajaran amaliah NU di Indonesia itu seperti apa. Kalau sampai seluruh ajaran amaliah NU itu di bawah 50 persen, atau tinggal 10 persen, itu sudah darurat. 

Dengan data seperti itu NU akan mempertahankan seperti itu bagaimana? 

Jangan berbangga, itu sebagai acuan saja. itu kan amaliah, tapi belum berafiliasi dalam jamiyah, tugas kita melakukan transformasi bagaimana seluruh yang melaksanakan amaliah itu berjamiyah NU, gitu lho. Kalau warga NU 36, 3 ya berarti ada potensi memperbesar yang maulid nabi itu. 

Apa lagi yang dibahas? 

Kita bahas sinergi program sekaligus membaca tantangan-tantangan NU di luar seperti apa, dan seperti apa pula kita mengantisipasinya. Tadi kan saya katakan, di era milenial ini berarti kan dakwah melalui sosmed, di era milenial ini kan berarti ekonomi digital. Itu sudah harus mulai. 

Bagi lembaga agak kendor, akan dilakukan seperti apa? 

Terus kita lakukan pendampingan, melakukan revitalisasi program, penyegaran pengurus. 

Dari amanat muktamar ke-33 di Jombang, yang belum dikerjakan, atau yang muskil dikerjakan itu apa atau yang masih kurang diperkuat? 

Ya, kesehatan dan ekonomi. Yang paling lumayan itu ya pendidikan. 

Upaya PBNU? 

Ya, terus melakukan upaya pendampingan, menggandeng pihak lain karena kita juga tidak bisa bekerja sendirian. 

Apa imbauan PBNU kepada lembaga dan banom mdengan capaian saat ini? 

Imbauan kita ya, untuk segeralah melaksanakan program. Kita mendapatkan amanah ini tidak main-main, harus dikerjakan sebaik mungkinlah. Jangan mengecewakan amanah yang diberikan kepada kita.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG