IMG-LOGO
Esai

Sepenggal Makna Lagu Indonesia Raya dan Yalal Wathon Maulid Nabi di Lombok

Senin 26 November 2018 22:30 WIB
Bagikan:
Sepenggal Makna Lagu Indonesia Raya dan Yalal Wathon Maulid Nabi di Lombok
Nahdliyin Lombok Barat memperingati Maulid Nabi menyanyikan 'Indonesia Raya', Ahad (25/11).
Oleh Yusuf Tantowi

Nahdlatul Ulama (NU) itu unik, bisa mengabungkan antara visi nasionalis dan religius. Hal itu tergambar pada Maulid Nabi Muhammad Saw yang dirangkai dengan pelantikan 16 pengurus Ranting NU se-Kecamatan Lingsar dan pelantikan PC Lakpesdam NU Lombok Barat, Ahad (25/11).

Pada acara yang berlangsung di Pondok Pesantren Assullamy, Desa Langko, Kecamatan, Lingsar, Lombok Barat asuhan TGH Jamhur, setelah pembukaan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Syubanul Wathon (Ya Lal Wathon).

Ini menurut saya cukup unik, jarang dan tidak lazim dilakukan di acara maulid di Pulau Lombok. Saya rasa praktik ini bukan kebetulan atau hanya ingin beda. Ini bagian dari bentuk kecerdasan menggabungkan antara gagasan nasionalis dan ruh agama yang menjadi aras gerakan dakwah NU.  

Menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam forum Maulidan memang tidak lazim dilakukan, tetapi ini punya maksud secara kontekstual melihat perkembangan bangsa. Ini juga penegasan bahwa paham nasionalis dan religius Islam tidak boleh dipertentangkan (dikotomi) dengan argumen-argumen sumir.

Pesantren sebagai bagian dari 'NU kecil' menjadikan Islam dan kebangsaan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari iman, Hubbul wathon minal iman. Maka kalau semangat cinta Nabi dan bangsa terus dipupuk melalui berbagai tradisi kultural seperti itu, semangat cinta bangsa akan tetap tertanam dalam dada putra putri bangsa. Mereka tidak akan mudah ditarik-tarik mengikuti ideologi radikal yang menolak nasionalisme. Inilah cara orang NU menggabungkan semangat cinta bangsa, cinta Nabi dan cinta agama. 

Untuk itu bagi orang NU tradisi Maulid Nabi Muhammad Shollalhu Waalaihi Wassallam bukan saja cara merayakan kecintaan dan suka cita atas kelahiran  manusia mulia Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa misi agama Rahmatan Lil Alamin. Maka negara bangsa pun harus bisa memberikan pelayanan dan perlindungan kepada warganya, apa pun agama dan sukunya. Apa pun bentuk negara, mandatnya memberikan rahmat bagi sekalin penduduk alam (negara).

Selamat kepada semua Pengurus Cabang Lembaga Kajian dan Pengembangan Manusia Nahdlatul Ulama (PC Lakpesdam NU) Lombok Barat dan Pengurus Ranting NU se-Kecamatan Lingsar. Semoga menjadi wasilah amal perjuangan di dunia dan bekal di ahirat.

Penulis adalah warga NU di Lombok, aktif di Gusdurian NTB, relawan NU Peduli NTB. 
Tags:
Bagikan:
Jumat 23 November 2018 9:0 WIB
Gus Dur, Kiai yang Budayawan
Gus Dur, Kiai yang Budayawan
Oleh Nasirun 

Salah satu kebanggaan untuk NU dan masyarakat Indonesia, ada seorang kiai yang pernah menjabat Ketua Dewan Kesenian. Tentu beliau adalah orang yang berbudaya. Orang yang mengantongi ilmu kebudayaan. Peranan organisasi kesenian adalah sebagai payung seniman. Ada sastra, seni rupa, musik, tari dan seni tradisi dari Sabang sampai Merauke. Dengan berkesenian, berarti mencintai bakat dan warisan lokal. Itu adalah geniusitas untuk menjadi manusia yang berbudaya.

Beliau dikenal dengan sebutan Gus Dur. Kiai yang mendobrak kejumudan. Keteladanannya menginspirasi banyak orang. Beliau mengayomi, beliau bisa berdiri di tengah semua golongan.

Tidak hanya di Jawa, tapi seluruh Indonesia. Bahkan, Gus Dur sejatinya milik masyarakat dunia. Beliau memahami seluk-beluk konflik global dan mampu mengayomi perbedaan agama, suku dan ras (etnis).

Kebudayaan semestinya ada di depan. Ia menjadi jalan bagi keragaman. Kalau kebudayaan tidak jadi panglima di Indonesia, tentunya di era globalisasi, jati diri kita semakin tergerus kebudayaan global. Jika tidak hati-hati, hal itu akan menjauhkan generasi mendatang dengan warisan masa lampau. Kita akan menjadi bangsa tanpa identitas. Idealnya, kita boleh jadi bagian dunia yang serba kekinian, tetapi isi atau esensinya berakar pada lokalitas.

Saya ingat kata-kata Bung Karno, “Kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini.” Maka adalah tugas kita semua untuk mencintai kebudayaan Nusantara.

Agama dan seni sebenarnya bukan beroposisi biner. Agama dan seni saling melengkapi. Seni bisa tumbuh dari mana saja, termasuk agama. Sebaliknya, agama agemane budhi, idealnya orang yang beragama tentunya berbudaya. Beragama tanpa nilai kesenian jadi hambar, kaku, dan biasanya bengis.

Keduanya tak patut dilawankan, jika seni dengan kebebasannya membentur agama, perlu dicarikan jalan keluar. Jika agama terlalu kaku mencengkeram kreativitas, perlu ada pendalaman kasus. Bisa jadi itu hanya soal penafsiran yang terlalu kaku.

Gus Dur mampu menjembatani kesenjangan itu. Agama dan seni berpadu mesra. Masing-masing penting dan punya koridornya sendiri. Masing-masing saling mengisi dan menguatkan.

Sepeninggal tokoh bangsa sebesar Gus Dur, kita patut cemas, siapa penggantinya? Tetapi keliru jika berpikir, satu orang diganti satu orang lainnya. Mungkin secara perseorangan tak sebanding dengan Gus Dur. Namun kalau seribu atau sejuta orang yang meneladani ajaran Gus Dur, efek gedornya sama-sama luar biasa.

Untuk itu, santri, murid, umat, sahabat, kawan bahkan lawan pemikiran, mestinya meneladani sosok Gus Dur. Untuk melahirkan Gus Dur sekali lagi. Bukan dengan satu ganti, tapi berjuta-juta gusdurian.

Cara merawat peninggalan Gus Dur adalah dengan meneruskan yang baik, bersikap toleran, penghormatan terhadap liyan. Gus Dur tidak mewariskan perusahaan, kebun ribuan hektar, gedung bertingkat, tapi yang diwariskan beliau adalah sikap kebudayaan. Ini yang harus terus dirawat sepanjang masa.

Memahami Gus Dur tak mungkin dari satu sisi. Menyerap ilmu Gus Dur juga tak bisa instan. Karena Gus Dur bukan hanya Kiai, tapi juga budayawan. Dua sisi yang kutubnya berlainan. Tetapi ketika berhasil dikawinkan, kita tidak hanya melihat Gus Dur yang agamawan, tapi juga Begawan Kebudayaan.

Pameran lukisan ini adalah bagian dari upaya merawat kegusduran. Nabila Dewi Gayatri berhasil mewujudkan rasa hormat dan cintanya terhadap Gus Dur melalui lukisan. Semoga, acara ini sukses sesuai yang diharapkan. Dan para gusdurian memperoleh pesan kecintaan yang disimpan dalam guratan seni ini. Kepada pelukisnya saya ucapkan selamat!


Penulis adalah perupa, tinggal di Yogyakarta

Kamis 22 November 2018 1:30 WIB
Nabi Muhammad Manusia Paling Berpengaruh Nomor Satu
Nabi Muhammad Manusia Paling Berpengaruh Nomor Satu
Oleh Mahbub Djunaidi

Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.

Berasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar.

Sebagian besar dari orang-orang yang tercantum di dalam buku ini merupakan makhluk beruntung karena lahir dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat perputaran politik bangsa-bangsa. Muhammad lahir pada tahun 570 M, di kota Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati. Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa Muhammad seorang buta huruf. Keadaan ekonominya baru mulai membaik di umur dua puluh lima tahun tatkala dia kawin dengan seorang janda berada. Bagaimanapun, sampai mendekati umur empat puluh tahun nyaris tak tampak petunjuk keluarbiasaannya sebagai manusia.

Umumnya, bangsa Arab saat itu tak memeluk agama tertentu kecuali penyembah berhala Di kota Mekkah ada sejumlah kecil pemeluk-pemeluk Agama Yahudi dan Nasrani, dan besar kemungkinan dari merekalah Muhammad untuk pertama kali mendengar perihal adanya satu Tuhan Yang Mahakuasa, yang mengatur seantero alam. Tatkala dia berusia empat puluh tahun, Muhammad yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa ini menyampaikan sesuatu kepadanya dan memilihnya untuk jadi penyebar kepercayaan yang benar.

Selama tiga tahun Muhammad hanya menyebar agama terbatas pada kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Baru tatkala memasuki tahun 613 dia mulai tampil di depan publik. Begitu dia sedikit demi sedikit punya pengikut, penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang berbahaya, pembikin onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, Muhammad hijrah ke Madinah, kota di utara Mekkah berjarak 200 mil. Di kota itu dia ditawari posisi kekuasaan politik yang cukup meyakinkan.

Peristiwa hijrah ini merupakan titik balik penting bagi kehidupan Nabi. Di Mekkah dia susah memperoleh sejumlah kecil pengikut, dan di Madinah pengikutnya makin bertambah sehingga dalam tempo cepat dia dapat memperoleh pengaruh yang menjadikannya seorang pemegang kekuasaan yang sesungguhnya. Pada tahun-tahun berikutnya sementara pengikut Muhammad bertumbuhan bagai jamur, serentetan pertempuran pecah antara Mekkah dan Madinah. Peperangan ini berakhir tahun 630 dengan kemenangan pada pihak Muhammad, kembali ke Mekkah selaku penakluk. Sisa dua setengah tahun dari hidupnya dia menyaksikan kemajuan luar-biasa dalam hal cepatnya suku-suku Arab memeluk Agama Islam. Dan tatkala Muhammad wafat tahun 632, dia sudah memastikan dirinya selaku penguasa efektif seantero Jazirah Arabia bagian selatan.

Suku Bedewi punya tradisi turun-temurun sebagai prajurit-prajurit yang tangguh dan berani. Tapi, jumlah mereka tidaklah banyak dan senantiasa tergoda perpecahan dan saling melabrak satu sama lain. Itu sebabnya mereka tidak bisa mengungguli tentara dari kerajaan-kerajaan yang mapan di daerah pertanian di belahan utara. Tapi, Muhammadlah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan kepada keesaan Tuhan, pasukan Arab yang kecil itu sanggup melakukan serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia. Di sebelah timur laut Arab berdiri Kekaisaran Persia Baru Sassanids yang luas. Di barat laut Arabia berdiri Byzantine atau Kekaisaran Romawi Timur dengan Konstantinopel sebagai pusatnya.

Ditilik dari sudut jumlah dan ukuran, jelas Arab tidak bakal mampu menghadapinya. Namun, di medan pertempuran, pasukan Arab yang membara semangatnya dengan sapuan kilat dapat menaklukkan Mesopotamia, Siria, dan Palestina. Pada tahun 642 Mesir direbut dari genggaman Kekaisaran Byzantine, dan sementara itu bala tentara Persia dihajar dalam pertempuran yang amat menentukan di Qadisiya tahun 637 dan di Nehavend tahun 642.

Tapi, penaklukan besar-besaran --di bawah pimpinan sahabat Nabi dan penggantinya Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab-- itu tidak menunjukkan tanda-tanda stop sampai di situ. Pada tahun 711, pasukan Arab telah menyapu habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ mereka membelok ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak kerajaan Visigothic di Spanyol.

Sepintas lalu orang mesti mengira pasukan Muslim akan membabat habis semua Nasrani Eropa. Tapi pada tahun 732, dalam pertempuran yang masyhur dan dahsyat di Tours, satu pasukan Muslimin yang telah maju ke pusat negeri Perancis pada akhirnya dipukul oleh orang-orang Frank. Biarpun begitu, hanya dalam tempo secuil abad pertempuran, orang-orang Bedewi ini -dijiwai dengan ucapan-ucapan Nabi Muhammad- telah mendirikan sebuah empirium membentang dari perbatasan India hingga pasir putih tepi pantai Samudera Atlantik, sebuah emperium terbesar yang pernah dikenal sejarah manusia. Dan di mana pun penaklukan dilakukan oleh pasukan Muslim, selalu disusul dengan berbondong-bondongnya pemeluk masuk Agama Islam.

Ternyata, tidak semua penaklukan wilayah itu bersifat permanen. Orang-orang Persia, walaupun masih tetap penganut setia Agama Islam, merebut kembali kemerdekaannya dari tangan Arab. Dan di Spanyol, sesudah melalui peperangan tujuh abad lamanya akhirnya berhasil dikuasai kembali oleh orang-orang Nasrani. Sementara itu, Mesopotamia dan Mesir dua tempat kelahiran kebudayaan purba, tetap berada di tangan Arab seperti halnya seantero pantai utara Afrika. Agama Islam, tentu saja, menyebar terus dari satu abad ke abad lain, jauh melangkah dari daerah taklukan. Umumnya jutaan penganut Islam bertebaran di Afrika, Asia Tengah, lebih-lebih Pakistan dan India sebelah utara serta Indonesia. Di Indonesia, Agama Islam yang baru itu merupakan faktor pemersatu. Di anak benua India, nyaris kebalikannya: adanya agama baru itu menjadi sebab utama terjadinya perpecahan.

Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang paling mendasar terhadap sejarah umat manusia? Seperti halnya lain-lain agama juga, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Itu sebabnya mengapa penyebar-penyebar agama besar di dunia semua dapat tempat dalam buku ini. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda tanya apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar. Ada dua alasan pokok yang jadi pegangan saya. Pertama, Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme), St. Paul merupakan tokoh penyebar utama teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari Perjanjian Lama.

Sebaliknya Muhammad bukan saja bertanggung jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Tambahan pula dia "pencatat" Kitab Suci Al-Quran, kumpulan wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama Muhammad masih hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyangkan tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata mata sudut agama, tampaknya pengaruh Muhammad setara dengan Isa dalam sejarah kemanusiaan.

Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa) Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu.

Dari pelbagai peristiwa sejarah, orang bisa saja berkata hal itu bisa terjadi tanpa kepemimpinan khusus dari seseorang yang mengepalai mereka. Misalnya, koloni-koloni di Amerika Selatan mungkin saja bisa membebaskan diri dari kolonialisme Spanyol walau Simon Bolivar tak pernah ada di dunia. Tapi, misal ini tidak berlaku pada gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab. Tak ada kejadian serupa sebelum Muhammad dan tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penaklukan bisa terjadi dan berhasil tanpa Muhammad. Satu-satunya kemiripan dalam hal penaklukan dalam sejarah manusia di abad ke-13 yang sebagian terpokok berkat pengaruh Jengis Khan. Penaklukan ini, walau lebih luas jangkauannya ketimbang apa yang dilakukan bangsa Arab, tidaklah bisa membuktikan kemapanan, dan kini satu-satunya daerah yang diduduki oleh bangsa Mongol hanyalah wilayah yang sama dengan sebelum masa Jengis Khan.
 
Ini jelas menunjukkan beda besar dengan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat anutan Agama Islam tapi juga dari jurusan bahasa Arabnya, sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral Al-Quran di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, besar kemungkinan merupakan sebab mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantakan. Jika tidak, boleh jadi sudah akan terjadi di abad ke l3. Perbedaan dan pembagian Arab ke dalam beberapa negara tentu terjadi -tentu saja- dan nyatanya memang begitu, tapi perpecahan yang bersifat sebagian-sebagian itu jangan lantas membuat kita alpa bahwa persatuan mereka masih berwujud. Tapi, baik Iran maupun Indonesia yang kedua-duanya negeri berpenduduk Muslimin dan keduanya penghasil minyak, tidak ikut bergabung dalam sikap embargo minyak pada musim dingin tahun 1973 - 1974. Sebaliknya bukanlah barang kebetulan jika semua negara Arab, semata-mata negara Arab, yang mengambil langkah embargo minyak.

Jadi, dapatlah kita saksikan, penaklukan yang dilakukan bangsa Arab di abad ke-7 terus memainkan peranan penting dalam sejarah umat manusia hingga saat ini. Dari segi inilah saya menilai adanya kombinasi tak terbandingkan antara segi agama dan segi duniawi yang melekat pada pengaruh diri Muhammad sehingga saya menganggap Muhammad dalam arti pribadi adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.


Penulis adalah kolumnis kenamaan. Tulisan ini ditukil dari terjemahan Mahbub Djunaidi dari buku 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah (Michael H. Hart). Sementara judul tulisan ini dari editor
Selasa 20 November 2018 21:40 WIB
Keindahan Maulid Nabi di Sudan
Keindahan Maulid Nabi di Sudan
Maulid Nabi di Sudan
Oleh Muhammad Wildan Habibi

Negeri Seribu Darwis adalah julukan yang biasa dinisbatkan kepada Sudan. Darwis sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti sufi yang sengaja 'hidup miskin', sebagai jalan untuk mencapai kesempurnaan jiwa. Ini menandakan bahwa meraka sengaja meninggalkan urusan duniawi demi menuju ketenangan jiwa. Dalam istilah sufi sendiri disebut dengan zuhud. 

Istilah zuhud sudah tidak asing lagi bagi kaum sufi seperti di negeri Sudan, sangat banyak ditemui sufi-sufi di negeri yang wilayahnya menjadi pertemuan dua Sungai Nil, yakni Sungai Nil Putih dan Sungai Nil Biru.

Para sufi memiliki cara tersendiri untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Lewat tarekat, sufi menemukan kecintaanya kepada Allah Yang Maha Mencintai. Metode seperti ini adalah sebuah tekad yang jiwanya telah tersadarkan akan pentingnya mendekatkan diri kepada Allah. Dalam sebuah tarekat memiliki  beragam cara tersendiri untuk melakukan ritual peribadatan. Semuanya memiliki amalan wirid yang berbeda, tetapi tujuannya tetap sama yaitu untuk mencapai tingkat kerohanian yang mulia di jalan Allah dan tidak keluar dari syariat Islam.

Tak beda dengan negeri-negeri dengan penganut agama Islam lainnya, pada tanggal 12 Rabi’ul Awal, Sudan juga ikut merayakan Maulid Nabi. Dengan ciri khas kebudayaan lokalnya, ada banyak acara yang dilakukan masyarakat Sudan, mulai parade musik dan reunian ahli tarekat.

Reunian ahli tarekat atau lebih dikenal dengan Maulid Tarekat ini sudah menjadi tradisi yang lazim. Acara reunian ahli tarekat ini diadakan 12 hari bermulai pada tanggal 1 Rabi’ul Awal  dan acara puncaknya pada tanggal 12 Rabi’ul Awal. 

Acara tersebut bertempatkan di maidan maulid atau lapangan yang khusus untuk acara Maulidan. Didirikan pula stan-stan dari berbagai tarekat memenuhi lapangan khusus untuk acara Maulid. Selain berbagai macam stan-stan tarekat di medan Maulid, ada juga berbagai penampilan grup shalawat dengan kostum khas dari setiap tarekat.

Maidan Maulid salah satunya terletak di depan Masjid Imam Almah di kota Omdurman. Bukan hanya di kota Omdurman, namun juga di Kota Bahri yaitu berada di Karthoum utara berbatasan dengan kota Omdurman yang digarisi dengan dua sungai Nil. Maulid di kota Bahri hanya beberapa tarekat saja yang terlibat, karena lebih meriah di kota Omdurman yang memang pertama kalinya acara Maulid Tarekat Festival Fair didirikan, yakni sekitar 70-80 tahun yang lalu.

Dahulu hanya beberapa tarekat yang ikut berpartisipasi memeriahkan acara tersebut. Seiring berjalannya waktu tarekat berkembang pesat, sehingga tahun ini saja ada lebih dari 50 stan tarekat yang mengikuti acara Maulid Festival Fair. Sebenarnya tarekat yang diikuti banyak masyarakat di Sudan hanya terdiri dari 6 tarekat, yaitu. Qadiriyah, Naqsabandiyah, Sadziliyah, Samaniyah, Tijaniyah, Mighraniyah. Hal yang menjadikannya  semakin bertambah banyak stan di maidan Maulid adalah  para mursyid dari tarekat tersebut membuat cabang dengan  nama mursyidnya menjadi nama tarekat baru.

Tarekat di Sudan mempunyai suatu ciri yang khas, yang dalam hal ini mengadopsi dari budaya setempat. Hal itu seperti yang dilakukan para Walisanga di tanah Jawa untuk membumikan islam agar dapat diterima di masyarakat dengan ramah tanpa adanya pertumpahan darah.

Di Indonesia setelah selesai melakukan mujahadah melalui dzikir dan suluk, kemudian ramah tamah menyantap hidangan yang disediakan. Di Sudan setelah melakukan ramah tamah para ahli tarekat membuat lingkaran dengan disertai pembacaan dzikir dan diiringi musik sambil bergandengan tangan berputar-putar dan membaca dzikir sesuai yang diajarkan para mursyidnya.

Pada momen ini, banyak juga pengunjung asing yang bersama-sama menikmati rangkaian acara perayaan Maulid Nabi dengan imbauan aurat tertutup. Agenda ini berlangsung selama tujuh hari berturut-turut, dimulai setelah shalat Isya sampai menjelang fajar. Para mursyid atau bisa disebut dengan khalifah, mengkondisikan para jamaah mereka untuk melakukan ritual keagamaan seperti membaca suluk dan pujian-pujian kepada Nabi Muhammad Saw.

Dalam kegiatan selama 12 hari, setiap tarekat mempunyai agenda masing-masing. Ada yang membaca Maulid Diba’iyah, shalawatan, dzikir, pengajian, dzikr dengan tarian sufi, cerita tentang perjuangan Nabi Muhammad mendakwahkan Islam. Semua kegiatan tersebut adalah bentuk selebrasi kegembiraan atas kelahiaran Baginda Nabi Muhammad Saw, Sang Kekasih Allah.

Sementara itu, stan-stan tarekat dipenuhi dengan gemerlap cahaya lampu warna-warni. Bendera masing-masing tarekat yang dikibarkan, membuat suasana maidan Maulid menjadi lebih meriah. Tak lupa jajanan khas Sudan bertebaran dipasarkan di luar area maidan Maulid. Jajanan ini disebut khalawiyah oleh masyarakat setempat, yang berarti manisan. Bentuk manisan yang dipasarkan seperti permen batangan besar-besar dan teksturnya kebanyakan keras. Jika akan menikmatinya, masyarakat mematah-matahkan atau mencelupkannya ke teh panas.

Di malam hari terahir Maulid Tarekat Festival mulai penuh dengan jamaah yang menghadiri acara tersebut sekalian penutupan acara pada masing-masing taketar. Ada penutupan yang dilakukan tarekat dengan memberi amalan, ada yang memberi ijazah syahadah, dan ada yang berupa piagam atas lomba yang dilakukan tarekat kepada para jamaahnya.

Selama acara berlangsung, maidan Maulid dipenuhi masyarakat yang mengharapkan berkah. Masyarakat tak peduli dengan cuaca dingin pada malam hari yang mencapai 15 derajat Celcius.

Keesokan harinya, setiap tarekat mempunyai kegiatan makan bersama di kediaman salah seorang dari jamaah tarekat yang mau menjadi tuan rumah. Sebelum acara makan-makan dimulai terdapat acara pembacaan syair-syair dan juga suluk layaknya ritual mujahadah mingguan dalam setiap tarekat.

Masyarakat sangatlah berbahagia dan sangat antusias dalam merayakan kelahiran baginda Nabi Muhammad Saw yang selalu menyejukkan ketika namanya disebut.

Penulis adalah warga NU yang tengah berada di Sudan.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG