IMG-LOGO
Nasional

Susunan Lengkap Pengurus Pusat PDNU 2018-2022

Selasa 27 November 2018 8:50 WIB
Bagikan:
Susunan Lengkap Pengurus Pusat PDNU 2018-2022
Jakarta, NU Online
Pengurus Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) resmi dikukuhkan untuk masa khidmat 2018-2022 di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (26/11) malam.

Pengurus Pusat PDNU disahkan melalui surat keputusan Nomor: 02/SK//PP-ISNU/XI/2018 dan ditandatangani oleh Ketua Umum PP ISNU H Ali Masykur Musa dan Sekretaris Umum PP ISNU Muhammad Kholid Syierazi.

PDNU bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama mengelola sumber daya manusia berupa dokter yang menganut paham Ahlussunah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Berikut susunan lengkap Pengurus Pusat PDNU masa khidmat 2018-2022:

Pelindung 
KH Miftachul Akhyar
Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA 

Pembina
Dr. Ali Masykur Musa, SH, M.Si, M.Hum
dr. Syahrizal Syarif, MPH, Ph.D
dr. Daeng M.Faqih, S.H, M.H

Penasihat
Prof. dr. Moch. Aries Widodo, MSc, Sp.FK, PhD
Prof. Dr. dr. AchmadRudijanto,Sp.PD.KEMD
Prof.  dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc, Ph.D
dr. Subandi, M.Kes, DAHK, PA(K)
Dr. dr.SugihartaTandya, Sp.PK
dr. Edy Suyanto, Sp.F, S.H, MH.Kes
dr. Dodo Anondo, MPH
dr. Rr. Titi Savitri P, M.Med.Ed, Ph.D
Dr.dr. Moh Zulfikar As'ad, MMR

Ketua Umum :   dr. Muhammad S Niam, FINACS,  M.Kes, Sp.B-KBD
Ketua I :   dr. Citra FitriAgustina, Sp.KJ.
Ketua II :  dr.Mohammad Zaim Chilmi, SpOT (K)
Ketua III :  dr. RM Hardadi Airlangga, Sp.PD

Sekretaris Umum :  dr. A. Fariz Malvi Zamzam Zein, Sp.PD.
Sekretaris I :  dr. Dyah Inarsih
Sekretaris II :  dr. Nur Laily Agustina

Bendahara I :  dr. Endang Budi W. M.Si
Bendahara II :  dr. Retno Pudjiastuti, Sp.OG

Koordinator Bidang Organisasi dan Humas    :  dr. Umar Usman, MM

Seksi Kesejahteraan dan Pengembangan Usaha     
dr. Muchammad Fahrul Udin, Sp.A, M.Kes
dr. Dripa Sjabana
dr. Achmad Syafirullah
dr. M. KholilIkhsan

Seksi Humas, Pusat data, dan Informasi
dr. Heri Munajib
dr. Budi Suwarno, Sp.U.

Seksi Kerjasama Intra dan Ekstra Jam’iyah NU        
dr. Hidayatullah Hasyim, SpS
dr. Feri Rahman, M.KM
dr. Jihan Nurlela

Koordinator Bidang Ilmiah, Kebijakan dan Rekomendasi    
Dr. dr. Farida Rusnianah, M.Kes. (MARS), Dpl.DK.

Seksi Ilmiah                : 
dr. Dini Sri Damayanti, M.Kes.
dr. Dian Suprojo, Sp.THT

Seksi Kebijakan dan Rekomendasi
dr. Abdul Rokhim, MARS
dr. Abdurrahman, M.Kes.

Koordinator Bidang Penanggulangan Bencana dan Pengabdian Masyarakat
dr. Tri Wahyu Sarwiyata, M.Kes.

Seksi Penanggulangan Bencana
dr. ChoirulYahya, Sp.OT
dr. Aji Bayu Wicaksono
dr. M. Henalsyah

Seksi Pengabdian Masyarakat
dr. Nur KholisQomari
dr. DhitaChamidatusSa’idah

Seksi Dakwah
dr. R. Budi Santoso, Sp.M, MM
dr. Djudjuk RachmadBasuki, Sp.An, KAKV,KAR
dr. Arif Yahya, M.Kes

(Husni Sahal/Kendi Setiawan)

Bagikan:
Selasa 27 November 2018 20:30 WIB
Menaker: Pelatihan Vokasi Itu Keren
Menaker: Pelatihan Vokasi Itu Keren
Jakarta, NU Online
Pelatihan vokasi menjadi salah satu terobosan pemerintah untuk mendorong peningkatan kompetensi SDM Indonesia. Dengan berbagai keunggulan jika dibandingkan dengan pendidikan formal, Menteri Ketenagakerjaan, M Hanif Dhakiri menyebut pelatihan vokasi itu keren.

"Tantangannya, satu soal image. (Pelatihan) vokasi dianggap kelas dua. Sehingga kita perlu bersama-sama memastikan bahwa vokasi ini punya kualitas sendiri," kata Hanif saat menjadi pembicara pada acara Kompas 100 CEO Forum 2018, di JCC Jakarta, Selasa (27/11).

Menurut Hanif, beberapa keunggulan pelatihan vokasi dibandingkan pendidikan formal diantaranya. Pertama, pelatihan vokasi memiliki durasi waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan pendidikan formal. Kedua, pelatihan vokasi berbasis deman driven (sesuai dengan kebutuhan industri).

Keunggulan tersebutlah yang dianggap Hanif dapat menjadi solusi bagi angkatan kerja Indonesia yang masih didominasi lulusan SD-SMP. "Pelatihan vokasi menjadi jalan cepat untuk meningkatkan kompetensi yang berkualitas dari SDM kita," kata Hanif.

Berdasarkan data BPS, dari 131 juta angkatan kerja Indonesia, 58 persennya adalah lulusan SD-SMP. Kondisi tersebut menyebabkan angkatan kerja Indonesia terjebak pada pekerjaan low-midle trap. Di mana mereka tidak bisa lagi up grade ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, karena terbatas oleh syarat minimal pendidikan dan batas maksimal usia.

Untuk mengatasi persoalan angkatan kerja tersebut, pemerintah menggenjot pelatihan vokasi di Balai Latihan Kerja (BLK). Salah satu bentuknya adalah penguatan akses pelatihan, yaitu dihapusnya syarat minimal pendidikan dan syarat maksimal usia. Sehingga, siapa pun dapat mengikuti pelatihan di BLK.

"Kalau ini tidak kita lakukan, tentu ini (peningkatan kompetensi) akan membutuhkan waktu lebih lama," ujar Hanif.

Selain memperkuat akses, Kementerian Ketenagakerjaan juga memperkuat mutu pelatihan vokasi. Yakni dengan diterapkannya program 3R (Reorientasi, Revitalisasi, dan Rebranding) BLK.

Hanif mencontohkan BLK yang telah menerapkan program ini. Pertama, BBPLK Semarang yang dulu menyelenggarakan program pelatihan menjahit, kini telah di-up grade menjadi fashion technology.

"Sehingga orientasi lulusannya tidak hanya masuk industri garmen atau menjahit di rumah. Tapi kini mereka sudah menguasai fashion design," jelas Hanif.

Kedua, BBPLK Bekasi, yang dulu menyelenggarakan program pelatihan IT. Kini, siswa pelatihannya diajarkan pembuatan animasi dan game. "Itu menunjukkan bahwa (pelatihan) vokasi itu keren, bukan kelas dua. Masyarakat perlu tahu, anak-anak muda kita perlu tahu," paparnya.

Bagi masyarakat yang membutuhkan informasi pelatihan vokasi di BLK, dapat mengunjungi binalattas.kemnaker.go.id. (Red: Kendi Setiawan)
Selasa 27 November 2018 18:30 WIB
Hadir di Tanggamus, Ini Pesan Kiai Ma'ruf Amin kepada Warga NU
Hadir di Tanggamus, Ini Pesan Kiai Ma'ruf Amin kepada Warga NU
KH Ma'ruf Amin saat menyampaikan Mauidzatul Hasanah

Tanggamus, NU Online
KH Maruf Amin mengajak umat Islam khususnya warga NU untuk mempersiapkan para kader ulama melalui pendidikan di pondok pesantren. Ia menegaskan, pesantren merupakan kawah candra dimuka untuk menyiapkan sumber daya manusia (santri) yang memahami agama secara menyeluruh. Para santri adalah sosok yang akan meneruskan perjuangan Rasulullah SAW dengan menjadi para ulama.

"Tugas diutusnya para nabi adalah membawa manusia dari era kegelapan menuju era penuh dengan cahaya. Era kegelapan di setiap waktu akan selalu datang. Disinilah tugas para nabi sampai nabi akhirul zaman Nabi Muhammad SAW," kata Kiai Ma'ruf saat hadir di Kabupaten Tanggamus, Lampung dalam acara Maulid Nabi di Pesantren PEMNU Talang Padang, Selasa (27/11).

Setelah para nabi kembali kepada Allah SWT, maka ulama lah yang akan meneruskan perjuangan. Ulama adalah pewaris nabi yang kelak para santri dipersiapkan untuk menggantikan mereka agar tidak terjadi kekosongan.

"Allah mengangkat ilmu dengan mengambil para ulama. Oleh karena itu harus ada yang terus mendidik dan mencetak para ulama melalui pondok pesantren. Jika ulama tidak dicetak melalui cara yang benar, maka ketika memberi fatwa, maka fatwanya tanpa ilmu sehingga bisa sesat menyesatkan," jelas Kiai Ma'ruf.

Untuk mewujudkan ini, ia menghimbau umat Islam agar mengirimkan putra dan putri terbaiknya untuk dididik di pesantren dengan harapan nantinya juga akan terlahir ulama terbaik.

"Kalau punya anak tiga, satu dikirim ke pesantren. Kirim yang paling cerdas agar nantinya menjadi ulama yang pintar dan mampu membimbing serta melanjutkan perjuangan Rasul. Ketika para ulamanya cerdas maka ia bisa mempengaruhi dan meyakinkan umat menuju jalan yang diridhoi Allah," katanya optimis.

Apalagi di era saat ini, ulama memiliki tugas berat. Selain berperan memelihara umat dan agama, ulama juga berperan untuk menjaga bangsa ini.

"Di antara tugas ulama itu adalah himayatul ummah, menjaga umat, menjaga bangsa ini agar senantiasa bersatu padu dan bersinergi untuk kemaslahatan bangsa dan negara Indonesia," tegas cicit Syekh Nawawi Al Bantani ini.

Jadi, santri saat ini harus semangat dan optimis untuk terus menebar manfaat bagi sesama. Santri harus berperan di segala lini kehidupan di tengah zaman yang di dalamnya bukan saja hanya banyak kemajuan namun banyak juga kemafsadatan (hal yang merusak).

"Saat ini sudah mulai terjadi disruption. Ada upaya mencabut dan mengganti hal lama yang baik. Bahaya kalau tidak bisa mengendalikan. Santri harus bisa mengendalikan dengan mengambil yang bagus. Ambil yang jernih buang yang keruh. Al Muhafadzatu Alal Qadimis Sholih wal Akhdu Bil Jadidil Ashlah (Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik)," pungkasnya.

Hadir pada peringatan Maulid Nabi ini, Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin, Wasekjen PBNU M Aqil Irham, Wakil Bupati Tanggamus H AM Syafi'i, Ketua PW GP Ansor Lampung Hidir Ibrahim dan Ketua dan pengurus PCNU se-Provinsi Lampung, (Muhammad Faizin)

Selasa 27 November 2018 8:0 WIB
Ini Beda Perhimpunan Dokter NU dengan Ikatan Dokter Lain
Ini Beda Perhimpunan Dokter NU dengan Ikatan Dokter Lain
Jakarta, NU Online
Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PP PDNU) secara resmi dilantik di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (26/11) malam.

Keberadaan PDNU menjadi berbeda dengan ikatan atau perhimpunan dokter lainnya disebabkan berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah.

“Yang membedakan tentu paham Aswaja An-Nahdliyah itu. Dokter santri tentu berbeda dengan dokter yang bukan santri,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PP PDNU) Muhammad S Ni’am.

Menurut Ni’am, di Indonesia banyak dokter yang menganut agama Islam. Namun karena tidak mengerti paham Aswaja An-Nahdliyah, membuatnya berpotensi berpikiran radikal, yakni tidak memahami bahwa sejak awal, atas kesuksesan wali songo, Indonesia menjadi moderat dan menghargai terhadap perbedaan.

“Bangsa ini sejak awal telah dibina para pendahulu kita, wali songo yang membuat masyarakat heterogen menjadi aman damai,” kata Ni’am.

Ia melanjutkan, dokter sebagai pelayan banyak mempengaruhi pola pikir pasien. Sehingga, melalui pertemuan dengan pasien, dokter bisa memberikan pemahaman Aswaja An-Nahdliyah.

“Saat ketemu pasien, disitulah kita bisa memasukkan nilai-nilai Aswaja AN-Nahdliyah dengan kesantunan sikap kita dan profesionalisme,” pungkasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG