IMG-LOGO
Humor

Orang Pintar dalam Pilpres

Rabu 28 November 2018 7:25 WIB
Bagikan:
Orang Pintar dalam Pilpres
Semasa hidup dan pasca tak lagi menjabat Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tak lepas perhatian dari sengkarut perpolitikan tanah air, termasuk pemilihan presiden (pilpres).

Beberapa hari menjelang pemilihan presiden, Gus Dur didatangi sejumlah wartawan. Mereka hendak mewawancarai Gus Dur perihal pilpres yang suasananya sedang memuncak.

Seorang wartawan bertanya, “Menurut Anda, untuk saat ini partai politik mana yang memiliki peluang besar untuk menang, Gus?”

“Wah, saya juga nggak ngerti tuh, soale kan pemilihan sekarang dilakukan langsung oleh rakyat, jadi ya kita lihat saja nanti,” jawab Gus Dur enteng.

“Oh iya Gus, mengapa dalam setiap kampanye, mereka, parpol-parpol itu senang sekali membodohi rakyat,” tanya wartawan lagi.

“Soale kalau pintar, rakyat nggak bakalan mungkin milih parpol-parpol itu. Orang pintar kan milih T*lak *ngin,” seloroh Gus Dur membuat tawa para wartawan pecah. (Ahmad) 


*) Disarikan dari buku Muhammad Wahab Hasbullah, 'Ngakak Bareng Gus Dur' (2010)
Tags:
Bagikan:
Rabu 28 November 2018 12:30 WIB
Gus Dur dan Pilpres 2004
Gus Dur dan Pilpres 2004
Menjelang kampanye pemilu presiden putaran pertama tahun 2004 silam, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menanggapi sejumlah hal terkait partai politik maupun aktivis-aktivis parpol yang ada di dalamnya.

Kala itu, Gus Dur diwawancarai oleh seorang wartawan. Wartawan tersebut bertanya kepada Gus Dur dari mulai PPP dengan Hamzah Haz-nya hingga Amin Rais yang saat itu menjadi salah satu kontestan pilpres.

Wartawan: “Gus, mengapa kampanye PPP selalu rame?”

Gus Dur: “Sebab tiap suami membawa empat istri.”

Wartawan: “Mengapa sampai kapan pun Bulan Bintang tak akan menang?”

Gus Dur: “Karena masih ada matahari.”

Wartawan: “Menurut Anda, partai-partai mana saja yang sealiran?”

Gus Dur: “Keadilan Sejahtera, Damai Sejahtera, dan Buruh Sejahtera.”

Wartawan: “Menurut Anda, jabatan apa yang cocok untuk Pak Amin Rais?”

Gus Dur: “Kepala Bulog, biar seneng terus ngurusin Rice.”

Wartawan: “Kemarin Anda sudah berkunjung ke SBY, di mana sekarang SBY berada?”

Gus Dur: “Sampean ini piye toh, dari dulu SBY (Surabaya) ya ada di Jawa Timur.” 

(Ahmad)


*) Disarikan dari buku Gus Risang, ‘Humor Gusdurian’ (2011)
Selasa 6 November 2018 3:0 WIB
Peci Santri
Peci Santri
foto ilustrasi
Dalam kehidupan pesantren,  guyonan sesama santri menjadi hal biasa. Bahkan tak jarang pula, diantara santri saling 'ngerjain' temannya dengan maksud bercanda.

Suatu hari di sebuah warung kopi sebelah pesantren, beberapa santri menikmati kopi dan sarapan pagi. Kang Mamat, seorang santri yang lama tidak ke warung, datang dengan penampilan memakai sarung dan peci butut agak kusam.

Setelah pesan wedang kopi dan nasi pecel, kang Mamat duduk bersama santri lainnya. Mereka saling ngobrol dan menikmati sajiannya. Obrolannya pun ringan mulai dari soal kegiatan santri sehari-hari sampai guyonan yang menyegarkan.

"Kang Mamat, pecimu kok antik," tiba-tiba Agus nyeletuk.

"Iya tho, meskipun terlihat kusam, peci ini sangat berharga bagiku," Sahut Mamat.

"Peci kumut-kumut begitu, emange kenapa kang?," ucap santri lainnya.

"Ya gak kenapa-kenapa sih, kalau kamu minat silakan beli 200 rbu,!" jawab mamat berkelakar.

"Walah, peci begitu 200 ribu, siapa yang mau," tanya Agus agak jengkel.

Tanpa menjawab, kang Mamat mengeluarkan uang yang terselip dalam pecinya untuk membayar kopi dan nasi uduk.

"Seandainya kamu tadi mau bayar 200 ribu, kamu masih untung 100 ribu. Karena ini ada 300 ribu hehehehe," kata kang mamat sambil menunjukkan uang dalam lipatan pecinya.

Agus dan santri lain yang sedang jajan di warung, hanya tersenyum sambil melongo melihat 'ulah' Mamat.

Memang, santri seringkali menjadikan peci sebagai dompet untuk menyimpan uang. Karena, Santri suka memakai sarung yang tidak ada sakunya. Dibalik lipatan peci tersimpan uang secara rapi dan aman. (Qomarul Adib/Muiz)
Ahad 30 September 2018 15:15 WIB
Inayah Wahid: Saya Alumni 212 yang Sah
Inayah Wahid: Saya Alumni 212 yang Sah
Inayah Wahid (kanan)
Saat hadir di Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara dalam rangka Bedah Buku 'Merindu Gus Dur', Jumat (28/9) kemarin, putri Gus Dur, Inayah Wahid menerima pertanyaan dari salah satu peserta.

"Mbak, jika hari ini Gus Dur masih hidup kira-kiranya bagaimana komennya dengan aksi 212," tanya Arif, peserta dari Jepara.

Menanggapi pertanyaan itu, perempuan bernama asli Inayah Wulandari ini menjawab dengan enteng. "Ta' kasih tau ya, sebenarnya alumni 212 yang sah, ya saya," jawabnya disambut tawa hadirin.

Kenapa?

"Karena saya dan kakak saya Anita, dulu sekolahnya di SMPN 212 (Jakarta)."

Meskipun sebagai alumni yang sah, katanya, saat ada reuni di Monas dirinya merasa tidak diundang.

Lalu bagaimana sikap Gus Dur jika saat ini masih hidup? 

"Paling-paling Bapak enggak komen. Atau jangan-jangan beliau malah hadir di situ (Monas)," jawabnya lagi. Tawa pun membahana di Auditorium Pascasarjana Unisnu Jepara. (Syaiful Mustaqim)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG