IMG-LOGO
Esai

Sontog Akherat Santri Sunda

Kamis 29 November 2018 3:0 WIB
Bagikan:
Sontog Akherat Santri Sunda
Oleh Warsa Suwarsa

Ghirah jika diterjemahkan secara lugas berarti gairah atau semangat keislaman umat Islam di Indonesia merupakan salah satu keinginan umat agar ajaran ini benar-benar tegak berdiri dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sebagai akibat karena selama tiga puluh tahun lebih, selama masa Orde Baru berkuasa tidak sedikit kebijakan pemerintah waktu itu yang dinilai oleh beberapa kelompok kurang memihak atau adaptif kepada golongan legalis, kelompok yang sampai saat ini masih memiliki keyakinan hukum Tuhan harus benar-benar dijadikan sebagai hukum positif di Indonesia.

Tetapi, jika diteliti secara runut dan obyektif, pemerintah Orde Baru sebenarnya hendak menempatkan Islam dan ajarannya pada hal yang seharusnya, pada kedudukan yang semestinya di mana Islam dan ajarannya berhabitat. Hal-hal yang bersentuhan dengan umat tetap dijaga dan dilestarikan, umat masih diberi keleluasaan dan kebebasan menyelenggarakan pengajian mingguan (di masyarakat Sunda dikenal dengan sebutan minggonan), khitanan massal diselenggarakan setiap tahun, tahlilan, yasinan, dan upacara-upacara perpaduan antara tradisi kebudayaan dengan Islam tetap dipertahankan. Artinya, ikhtiar umat Islam dalam menjaga dan melestarikan ajaran di bidang sosial tidak dihalang-halangi oleh pemerintah selama tidak menyentuh ranah politik.

Di tahun 1980-an, keluar satu gerakan, menurut beberapa anggotanya gerakan tersebut dilakukan untuk mengembalikan kembali umat kepada ghirah Islam di Indonesia. Munculnya gerakan ini merupakan berawal dari wacana atau narasi semakin melemahnya kekuatan dan peran umat Islam dalam ekonomi dan politik. Bagi mereka kondisi umat Islam di Indonesia seperti ini diartikan sangat bertolak belakang dengan prediksi profetik Rasulullah; tentang kebangkitan umat Islam di abad 15 Hijriyah. Narasi ini dikemukakan oleh mereka, kelompok legalis  yang masih tetap memperjuangkan sisa-sisa pemikiran (diskursus) tentang dasar negara.

Harus diakui secara jujur, gerakan kaum legalis ini memasuki kampus-kampus hingga ke sekolah-sekolah lanjutan asas. Wacana yang diembuskan oleh mereka antara lain: Islam Kaffah, Islam Kontemporer, Islam Paripurna, dan sebutan-sebutan lainnya yang tampak lebih progresif misalnya: hukum jahiliyyah, thogut, hingga kata-kata kafir disematkan kepada kata yang telah digagas oleh wali songo yaitu rakyat. Sebetulnya, apa yang telah mereka wacanakan bahkan didakwahkan dengan penuh semangat sama sekali tidak pernah menyentuh dan menyoal Islam secara kaffah karena mereka hanya menyentuh secuil saja dari ajaran Islam, mereka hanya memokuskan dakwah dan ajakan di ranah politik. Buktinya, ketika gerakan yang mereka gagas memiliki satu tujuan: menegakkan negara agama di Indonesia. Dan ketika tujuan mereka sampai saat ini tidak tercapai pun tokoh Islam, ajarannya, dan umatnya tetap eksis sampai sekarang. Pondok pesantren tidak kehilangan para santrinya, bahkan umat Islam di Indonesia tetap dapat melaksanakan ibadah harian dan perayaan keislaman lainnya dengan tenang.

Tahun 1990-an hingga pasca-Reformasi  merupakan milieu panggung pementasan kaum legalis di Indonesia. Ormas dan gerakan seperti Neo NII, HT, dan Kelompok Tarbiyah (IM) telah memiliki kader-kader inti sampai ke pelosok. Kaderisasi dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau melalui acara-acara keislaman. Aktivitas mereka di masyarakat sangat halus, masjid-masjid dikuasai dengan bungkus kajian Islam, Remaja Masjid, Rohis, hingga Pesantren Kilat. Kader inti diciptakan, selanjutnya diberi tugas oleh para murabbi untuk mengajak dan menyebarluaskan kembali isu-isu yang mereka bahas dalam halaqah-halaqah.

Dalam kegiatan seperti di atas inilah isu strategis tentang penegakan Islam dalam hukum positif diindoktrinisiasi kepada generasi muda. Strategi jitu mereka adalah dengan membenturkan antara peradaban Barat sebagai musuh dengan Islam. Padahal mayoritas umat saat itu kebergantungan kepada produk Barat sangat tinggi. Diakui atau tidak, ajaran Islam yang mereka dakwahkan untuk mencocok generasi muda dilakukan dengan penuh kepura-puraan.

Sementara itu, di kelompok tradisional, di tahun 90-an, pondok pesantren di perkampungan mulai menggelora kembali. Di kampung penulis, salah seorang kiai muda alumni Pondok Pesantren Al-Masthuriyah dan Pondok Pesantren Panjalu mengajak untuk mendidik dan membina para generasi muda. Shalawatan, manaqib, Barjanzi, dan membaca puji-pujian dikumandangkan kembali secara intensif. Para remaja diberikan kesempatan mengaji dan mengkaji kitab-kitab kuning. Ajaran Islam yang memiliki sifat tradisional, namun dapat menjawab tantangan zaman ini merupakan salah satu bentuk counter terhadap semakin maraknya gerakan kaum legalis seperti NII di kampung penulis.

Santri kalong, sebutan untuk anak-anak kampung yang mengikuti pengajian mulai meramaikan dan memenuhi pengajian remaja setelah maghrib dan subuh. Kitab-kitab klasik dikaji kembali. Tradisi pesantren yang pernah dialami oleh penulis diperkenalkan kembali kepada anak-anak, remaja, dan masyarakat secara nyata. Satu strategi yang sangat berbeda secara diametral dengan apa yang dilakukan oleh kaum legalis. Cara dan metode ajakan yang sering dilakukan oleh kaum legalis yaitu melakukan dakwah personal atau berkumpul di rumah-rumah. Mereka sering menisbatkan strategi seperti itu pernah dilakukan oleh Rasulullah pada periode Makiyyah.

Kiai muda itu sering mawanti-wanti kepada anak-anak dan remana, bahwa Islam bukan sekadar persoalan formal saja, Islam justru lebih menuntun dan menuntut umat agar memerhatikan pertanda atau ayat yang nyata ada di alam ini (kauniyah). Secara sederhana dapat disimpulkan, Islam merupakan ajaran yang tidak menyusahkan umatnya. Kita tidak perlu dipusingkan hingga stres oleh persoalan-persoalan yang sebetulnya hanya mengejar tujuan duniawi, politik dan kekuasaan. Jika kita percaya sepenuhnya kepada Allah, Islam dan ajarannya tetap akan tegak jika dipraktikkan sesuai dengan hati nurani manusia.

Para santri juga dibiasakan memakai celana pendek, panjangnya beberapa senti di bawah lutut. Di kalangan pondok pesantren Sunda, model celana ini disebut “sontog akherat”. Setelah menunaikan shalat ashar, para santri berduyun-duyun ke sawah untuk menangkap belut (ngurek). Sebulan sekali para santri itu diajak mengunjungi tempat-tempat yang benar-benar terkoneksi dengan jiwa mereka, memiliki keindahan alam.

Hemat kami waktu itu, Islam dan ajarannya akan mewujud menjadi hal yang menyenangkan ketika dipraktikkan dalam keseharian dengan mengakomodasi unsur-unsur yang ada di masyarakat (budaya dan tradisi). Persoalan-persoalan politik umat sebetulnya dapat diselesaikan oleh umat sendiri. Bagaimana caranya? Harus sesuai dengan pakem kehidupan di mana kita tinggal. Bukankah para pendahulu negeri dan para founding father telah memberikan contoh kepada kita?


Penulis adalah guru MTs Riyadlul Jannah, Cikundul, Sukabumi, Jawa Barat


Bagikan:
Rabu 28 November 2018 20:30 WIB
OBITUARI
TGH Anwar, Ulama Tegas dan Lurus dari Lombok
TGH Anwar, Ulama Tegas dan Lurus dari Lombok
Masyarakat mengantar jenazah TGH Anwar ke pemakaman
Ribuan umat Islam dari berbagai daerah di Lombok Barat dan Kota Mataram terus berdatangan mendoakan dan mengantarkan TGH Muhammad Anwar bin Marzuki (MZ) ke tempat pemakaman keluarga yang masih berada dalam kompleks Pondok Pesantren Daarunnajah, Desa Duman, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Selasa (27/11). 

TGH Anwar wafat Selasa (27/11), pukul 05.30 WITA di RSUP NTB. Menurut penuturan istrinya, Hj Rosdiana, almarhum dibawa ke RSUP Senin (26/11) sore karena tensi darahnya meningkat. Di rumah sakit sempat mengalami muntah-muntah. Pemakaman dilangsungkan pukul 16.30 WITA setelah putra tertuanya Hamdan Asburi Nasser yang menetap di Jakarta tiba.

TGH Anwar meninggalkan sembilan orang putra-putri yaitu Titin Nusrawati Zaiyyana, Hamdan Asburi Nasser, Auni Islihatun Diniyati, Lailin Fajriatun Mardiati, Laziza Iklima Khairatun, Fadli Ahmadi Fauzan, M.Tajun Thoyib, M. Sadid Faizin dan Haririn Hawarina. Delapan orang sudah berkeluarga.   

Satu persatu, termasuk yang datang berkelompok langsung melakukan shalat jenazah dan mendoakan. Mereka yang datang adalah baik yang mengenal beliau sebagai jamaah, para santrinya, sahabat dan teman perjuangan. Terhitung sejak pagi, ada 30 kali shalat jenazah berlangsung di Masjid Baiturrahman, Desa Duman.  

"Beliau itu orangnya tegas, lurus, teliti dan jreng,” kata TGH Hasanain Juwaini, sekretaris PB Nahdlatul Wathon (PBNW) Pancor saat melawat ke rumah duka. Ia berpesan kepada putra-putri almarhum supaya saling membantu dan bekerjasama untuk memajukan pondok pesantren yang ditinggalkan. 

Waktu TGH Anwar menjabat sebagai Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi NTB, TGH Hasanain yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haramain Narmada ini ditunjuk sebagai sekretarisnya. 

Kesan serupa disampaikan oleh H Zainudin yang berasal dari Rensing, Sakra, Lombok Timur. "Beliau itu bukan saja menguasai empat mazhab tapi juga ilmu nahwu, syaraf, fiqih, hadits dan tafsir. Selain itu beliau juga mengikuti isu-isu Islam kontemporer,” kata pegawai negeri sipil (PNS) Kementerian Agama Kota Mataram ini.

"Tuan Guru itu orangnya enak diajak ngobrol dan diskusi. Bicara apa saja nyambung. Kata-kata beliau yang terus saya ingat, 'Seorang sopir tidak mungkin dipercaya menjadi sopir kalau dia tidak dianggap mampu menjadi sopir,'” tutur H Zainudin.

Ia mengatakan nasihat TGH Anwar itu ia dapatkan ketika ia berkonsultasi akan niatnya menjadi kepala madrasah.    

Suhaimi, penjaga kantor PW PPP NTB juga menuturkan kesannya tentang almarhum TGH Anwar. Ia mengenal TGH Anwar sejak muda karena diminta menjaga kantor PPP NTB sampai sekarang. 

“Beliau meminta saya tinggal di Kantor PW PPP sejak saya masih muda tahun 1982. Waktu itu saya diberikan gaji lima belas ribu rupiah. Setelah saya kawin saya diberi dua puluh ribu rupiah. Setelah itu terus dinaikkan. Orangnya walaupun tegas dan keras tapi perhatian kepada anak buah," kenang Suhaimi yang datang bersama istrinya ke rumah duka.

Istri Suhaimi juga menuturkan, “Tuan Guru itu kalau sudah datang waktu shalat, selalu minta disediakan dan rapikan tempat shalat. Beliau itu kemana-mana sering mampir ke kantor untuk shalat." 




TGH Muhammad Anwar, Pendiri dan Pengasuh Pesantren Darunnajah, Desa Duman, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat meninggal dunia, Selasa (27/11). Almarhum meninggal dunia dalam usia 68 tahun, karena sakit yang ia derita sejak Ramadhan tahun ini.

TGH Muhammad Anwar adalah seorang tokoh NU NTB yang berpengaruh dan membina jamaah pengajian sampai ke pelosok-pelosok kampung. Sejak muda ia dikenal aktif di NU. 

Dalam banyak pertemuan dan diskusi, TGH Anwar terlihat kharismanya sebagai seorang tuan guru dan ulama yang kaya pengalaman, serta luas jaringan. TGH Anwar adalah sosok yang unik. Menyelesaikan sekolah formalnya di SMK Kusuma, Cakranegara, Kota Mataram, sebuah sekolah yang mayoritas siswanya beragama Kristen. Menurut cerita Tuan Guru Anwar ketika masih hidup, dia masuk SMK Kusuma ketika itu karena sekolah-sekolah umum sudah menutup pendaftaran siswa baru.

Ia terlambat mendaftar karena sempat tinggal beberapa lama di Bali, sehingga masuklah ia ke SMK Kusuma milik orang Kristen. Namun ia berhasil menjadi tuan guru dan membangun pesantren. (Yusuf Tantowi/Kendi Setiawan)

Senin 26 November 2018 22:30 WIB
Sepenggal Makna Lagu Indonesia Raya dan Yalal Wathon Maulid Nabi di Lombok
Sepenggal Makna Lagu Indonesia Raya dan Yalal Wathon Maulid Nabi di Lombok
Nahdliyin Lombok Barat memperingati Maulid Nabi menyanyikan 'Indonesia Raya', Ahad (25/11).
Oleh Yusuf Tantowi

Nahdlatul Ulama (NU) itu unik, bisa mengabungkan antara visi nasionalis dan religius. Hal itu tergambar pada Maulid Nabi Muhammad Saw yang dirangkai dengan pelantikan 16 pengurus Ranting NU se-Kecamatan Lingsar dan pelantikan PC Lakpesdam NU Lombok Barat, Ahad (25/11).

Pada acara yang berlangsung di Pondok Pesantren Assullamy, Desa Langko, Kecamatan, Lingsar, Lombok Barat asuhan TGH Jamhur, setelah pembukaan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Syubanul Wathon (Ya Lal Wathon).

Ini menurut saya cukup unik, jarang dan tidak lazim dilakukan di acara maulid di Pulau Lombok. Saya rasa praktik ini bukan kebetulan atau hanya ingin beda. Ini bagian dari bentuk kecerdasan menggabungkan antara gagasan nasionalis dan ruh agama yang menjadi aras gerakan dakwah NU.  

Menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam forum Maulidan memang tidak lazim dilakukan, tetapi ini punya maksud secara kontekstual melihat perkembangan bangsa. Ini juga penegasan bahwa paham nasionalis dan religius Islam tidak boleh dipertentangkan (dikotomi) dengan argumen-argumen sumir.

Pesantren sebagai bagian dari 'NU kecil' menjadikan Islam dan kebangsaan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari iman, Hubbul wathon minal iman. Maka kalau semangat cinta Nabi dan bangsa terus dipupuk melalui berbagai tradisi kultural seperti itu, semangat cinta bangsa akan tetap tertanam dalam dada putra putri bangsa. Mereka tidak akan mudah ditarik-tarik mengikuti ideologi radikal yang menolak nasionalisme. Inilah cara orang NU menggabungkan semangat cinta bangsa, cinta Nabi dan cinta agama. 

Untuk itu bagi orang NU tradisi Maulid Nabi Muhammad Shollalhu Waalaihi Wassallam bukan saja cara merayakan kecintaan dan suka cita atas kelahiran  manusia mulia Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa misi agama Rahmatan Lil Alamin. Maka negara bangsa pun harus bisa memberikan pelayanan dan perlindungan kepada warganya, apa pun agama dan sukunya. Apa pun bentuk negara, mandatnya memberikan rahmat bagi sekalin penduduk alam (negara).

Selamat kepada semua Pengurus Cabang Lembaga Kajian dan Pengembangan Manusia Nahdlatul Ulama (PC Lakpesdam NU) Lombok Barat dan Pengurus Ranting NU se-Kecamatan Lingsar. Semoga menjadi wasilah amal perjuangan di dunia dan bekal di ahirat.

Penulis adalah warga NU di Lombok, aktif di Gusdurian NTB, relawan NU Peduli NTB. 
Jumat 23 November 2018 9:0 WIB
Gus Dur, Kiai yang Budayawan
Gus Dur, Kiai yang Budayawan
Oleh Nasirun 

Salah satu kebanggaan untuk NU dan masyarakat Indonesia, ada seorang kiai yang pernah menjabat Ketua Dewan Kesenian. Tentu beliau adalah orang yang berbudaya. Orang yang mengantongi ilmu kebudayaan. Peranan organisasi kesenian adalah sebagai payung seniman. Ada sastra, seni rupa, musik, tari dan seni tradisi dari Sabang sampai Merauke. Dengan berkesenian, berarti mencintai bakat dan warisan lokal. Itu adalah geniusitas untuk menjadi manusia yang berbudaya.

Beliau dikenal dengan sebutan Gus Dur. Kiai yang mendobrak kejumudan. Keteladanannya menginspirasi banyak orang. Beliau mengayomi, beliau bisa berdiri di tengah semua golongan.

Tidak hanya di Jawa, tapi seluruh Indonesia. Bahkan, Gus Dur sejatinya milik masyarakat dunia. Beliau memahami seluk-beluk konflik global dan mampu mengayomi perbedaan agama, suku dan ras (etnis).

Kebudayaan semestinya ada di depan. Ia menjadi jalan bagi keragaman. Kalau kebudayaan tidak jadi panglima di Indonesia, tentunya di era globalisasi, jati diri kita semakin tergerus kebudayaan global. Jika tidak hati-hati, hal itu akan menjauhkan generasi mendatang dengan warisan masa lampau. Kita akan menjadi bangsa tanpa identitas. Idealnya, kita boleh jadi bagian dunia yang serba kekinian, tetapi isi atau esensinya berakar pada lokalitas.

Saya ingat kata-kata Bung Karno, “Kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini.” Maka adalah tugas kita semua untuk mencintai kebudayaan Nusantara.

Agama dan seni sebenarnya bukan beroposisi biner. Agama dan seni saling melengkapi. Seni bisa tumbuh dari mana saja, termasuk agama. Sebaliknya, agama agemane budhi, idealnya orang yang beragama tentunya berbudaya. Beragama tanpa nilai kesenian jadi hambar, kaku, dan biasanya bengis.

Keduanya tak patut dilawankan, jika seni dengan kebebasannya membentur agama, perlu dicarikan jalan keluar. Jika agama terlalu kaku mencengkeram kreativitas, perlu ada pendalaman kasus. Bisa jadi itu hanya soal penafsiran yang terlalu kaku.

Gus Dur mampu menjembatani kesenjangan itu. Agama dan seni berpadu mesra. Masing-masing penting dan punya koridornya sendiri. Masing-masing saling mengisi dan menguatkan.

Sepeninggal tokoh bangsa sebesar Gus Dur, kita patut cemas, siapa penggantinya? Tetapi keliru jika berpikir, satu orang diganti satu orang lainnya. Mungkin secara perseorangan tak sebanding dengan Gus Dur. Namun kalau seribu atau sejuta orang yang meneladani ajaran Gus Dur, efek gedornya sama-sama luar biasa.

Untuk itu, santri, murid, umat, sahabat, kawan bahkan lawan pemikiran, mestinya meneladani sosok Gus Dur. Untuk melahirkan Gus Dur sekali lagi. Bukan dengan satu ganti, tapi berjuta-juta gusdurian.

Cara merawat peninggalan Gus Dur adalah dengan meneruskan yang baik, bersikap toleran, penghormatan terhadap liyan. Gus Dur tidak mewariskan perusahaan, kebun ribuan hektar, gedung bertingkat, tapi yang diwariskan beliau adalah sikap kebudayaan. Ini yang harus terus dirawat sepanjang masa.

Memahami Gus Dur tak mungkin dari satu sisi. Menyerap ilmu Gus Dur juga tak bisa instan. Karena Gus Dur bukan hanya Kiai, tapi juga budayawan. Dua sisi yang kutubnya berlainan. Tetapi ketika berhasil dikawinkan, kita tidak hanya melihat Gus Dur yang agamawan, tapi juga Begawan Kebudayaan.

Pameran lukisan ini adalah bagian dari upaya merawat kegusduran. Nabila Dewi Gayatri berhasil mewujudkan rasa hormat dan cintanya terhadap Gus Dur melalui lukisan. Semoga, acara ini sukses sesuai yang diharapkan. Dan para gusdurian memperoleh pesan kecintaan yang disimpan dalam guratan seni ini. Kepada pelukisnya saya ucapkan selamat!


Penulis adalah perupa, tinggal di Yogyakarta

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG