IMG-LOGO
Tokoh

Riwayat Hidup dan Perjuangan Ajengan KH Anwar Musaddad

Kamis 29 November 2018 23:15 WIB
Bagikan:
Riwayat Hidup dan Perjuangan Ajengan KH Anwar Musaddad
KH Anwar Musaddad lahir 3 April tahun 1910 M. Sejak berusia 4 tahun, ia telah menjadi yatim. Ia bersama adik-adiknya dibesarkan oleh ibunya, Siti Marfu’ah, seorang wiraswasta pengusaha batik Garutan dan dodol Garut “Kuraesin”. Pada waktu usia sekolah, ia masuk HIS (setingkat SD) Kristen karena sebagai pribumi yang bukan anak pegawai negeri (ambtenar) dan bukan dari kalangan bangsawan (menak), ia tidak dapat masuk HIS Negeri. Kemudian masuk MULO (setingkat SMP) di Kristelijk di Garut, dan AMS (setingkat SMA) Kristelijk di Sukabumi.  

Setelah menamatkan sekolah menengah, ia kemudian belajar di Pesantren Darussalam Wanaraja, Garut, selama dua tahun. Pada tahun 1930, ia menimba ilmu ke Mekkah selama 11 tahun di Madrasah Al-Falah.

Di Makkah, ia memuntut ilmu kepada para ulama terkenal Mekkah masa itu. Antara lain Sayyid Alwi al Maliki, Syekh Umar Hamdan, Sayyid Amin Qubti, Syekh Janan Toyyib (Mufgi Tanah Haram asal Minang), Syekh Abdul Muqoddasi (Mufti Tanah Haram asal Solo). 

Pulang ke tanah air, masa berakhirnya penjajahan Belanda. Pada masa penjajahan Jepang, ia diangkat menjadi kepala Kantor Urusan Agama Priangan. Pada masa revolusi kemerdekaan (1945-1949), bersama KH Yusuf Taujiri dan KH Mustofa Kamil, ia memimpin pasukan Hizbullah, melawan agresi Belanda yang ingin kembali menjajah RI. Sempat ditangkap Belanda (1948) dan mendekam di penjara.Baru dibebaskan setelah pengakuan kedaulatan (1950).   

Pesantren Cipari, tempat Anwar Musaddad menutut ilmu sebelum berangkat ke Mekkah, adalah sebuah pesantren multifungsi. Selain mendidik para santri menyelami ilmu-ilmu agama Islam, untuk mencapai taraf tafaquh fiddin (ahli agama), juga menggembleng para santri untuk mencintai tanah air dan siap melawan penjajah. 

Pada tahun 1953, ia mendapat tugas dari Menteri Agama KH Fakih Usman untuk mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) di Yogyakarta, yang menjadi cikal-bakal Institut Agama Islam Negeri (IAIN), yang kini berkembang menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Ia diangkat menjadi guru besar dalam bidang Ushuluddin di IAIN Yogyakarta dan menjadi fakultas tersebut pada tahun 1962-1967.

Dalam Dies Natalis IAIN Al-Jami’ah ke-5 ia menyampaikan pidato berjudul Peranan Agama dalam Menyelesaikan Revolusi. Kemudian di tahun 1967, ia ditugaskan merintis IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia kemudian menjadi rektor pertamanya hingga tahun 1974.  

Di bidang politik, Anwar Musaddad menjadi anggota parlemen (DPR) dari Partai Nahdlatul Ulama (NU) hasil pemilihan umum tahun 1955. Menjadi anggota DPR-GR 1960-1971. Kiprahnya di NU ia pernah menjadi Wakil Rais ‘Am PBNU pada Muktamar NU di Semarang (1980). 

Di bidang pendidikan, untuk mengggembleng sumberdaya manusia yang lengkap sempurna, ketika menjadi Rektor IAIN Sunan Gunung Jati, Anwar Musaddad juga mendirikan Sekolah Persiapan IAIN (SP IAIN) di Garut, Cipasung Tasikmalaya, Cilendek Bogor, Ciparay Bandung, Majalengka.Tujuannya, agar jumlah mahasiswa IAIN meningkat. Tujuan lainnya, sebagai perwujudan obsesi Anwar Musaddad “mengulamakan intelektual” dan “mengintelktualkan ulama”. 

Sejak tahun 1976, Anwar Musaddad tinggal di Garut dengan mendirikan Pesantren Al-Musaddadiyah yang mengelola pendidikan tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Kiai yang terkenal sebagai ahli perbandingan agama, khususnya kristologi ini wafat pada tahun 2000 dalam usia 91 tahun.  (Abdullah Alawi)


Tags:
Bagikan:
Rabu 28 November 2018 21:0 WIB
KH Tobroni Mutaad, Karisma dan Istiqamahnya Mengajar Santri
KH Tobroni Mutaad, Karisma dan Istiqamahnya Mengajar Santri
KH Tobroni Mutaad merupakan sosok kiai yang sangat karismatik. Langkah kakinya saja mampu membangunkan para santrinya. Khazmi Aziz, salah satu putranya, bercerita kepada penulis bahwa saban sebelum Subuh, ia mendengar langkah kaki ayahnya itu menaiki tangga menuju kamarnya dan kamar para santri. Sentuhan telapak kakinya dengan anak tangga semacam ketuk pintu yang mampu membuatnya tergeragap bangun dari lelapnya.

Penulis juga merasakan betul karismanya. Setiap kali Kiai Oni, sapaan akrabnya, terlihat keluar dari ruang guru menuju kelas, semua siswa langsung merapikan diri duduk di kursi masing-masing dengan kitab Kifayatul Akhyar di mejanya terbuka sesuai dengan batas yang bakal dia baca. Jika ada seorang siswa yang lupa membawa kitab wajib itu, ia akan langsung datang ke kelas lain dan meminjam ke rekannya. Tidak ada seorang pun yang berani leyeh-leyeh berkeliaran di luar. Saat pelajarannya dimulai, tak ada suara selain suaranya, kecuali ledakan tawa akibat guyon yang kerap kali dilontarkannya. Ya, Kiai Oni mengajar fiqih di Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putra Buntet Pesantren.

Kerapian siswa ini bukan sebuah ketakutan ataupun kekhawatiran akan menerima kemarahannya jika berlaku melanggar. Kiai Oni tidak pernah terlihat marah kepada siswa dan santrinya. Pernah suatu kali menghukum beberapa santri yang tidak dapat menghafal saat mengaji di rumahnya. Penulis melihat bahwa ia meminta izin ikhlasnya para santri itu tangannya disabet dengan sapu lidi.

“Saya tidak berniat menyabet kamu nih. Saya hanya niat menyabet setan yang mengganggumu,” katanya dengan sangat lembut.

Ia pun tak menyabetkannya dengan keras. Pelan. Dan hanya sekali ia arahkan ke telapak tangan santrinya yang terbuka. Para santri tidak merasa kesakitan dan mereka pun dalam beberapa menit kemudian mampu menghafalkannya.
Kiai sangat patuh kepada orang tuanya. Ceritanya, ia sudah menabung untuk membiayai pendidikannya kuliah. Ya, ia sudah bekerja dengan menjahit pakaian untuk membiayai kehidupannya. Namun, saat memohon izin kepada orang tuanya, ia tidak diperbolehkan. Tak butuh alasan, ia langsung mengubur impiannya itu. Ia manut atas keinginan orangtuanya.

Semenjak remaja, kata Wawan Shofwani, putra sulungnya, Kiai Oni sudah menerima pembuatan baju, menjahit pakaian. Kepandaiannya menjahit baju itu didapat dari ibunya yang juga ahli menjahit. Pembuatan baju itu juga masih ia lakukan sampai memiliki anak. Wawan masih ingat bahwa ayahnya itu pernah memberikannya baju baru hasil jahitannya sendiri.

Pendalaman ilmu agamanya dimulai dari tempat kelahirannya di Pondok Buntet Pesantren. Kiai yang pernah menjadi imam dan khatib Jumat Masjid Agung Buntet Pesantren itu mengaji kepada para kiai di Buntet Pesantren. Selain itu, ia melanjutkan studinya di Pondok Pesantren Sarang, Rembang.

Seusia Nabi saat berpulang, KH Tobroni Mutaad juga dipanggil-Nya. Ya, masyarakat Buntet Pesantren harus rela melepas kepulangan kiainya di usianya yang ke-63 tahun itu meskipun dengan sangat berat hati.

Istiqamah dan Disiplin
Seluruh masyarakat Buntet Pesantren bersaksi bahwa Kiai Oni adalah orang yang istiqamah dalam mengajarkan pengetahuannya. Mulai bakda Maghrib hingga setengah dua dini hari, ia mengajar beberapa kelompok santri. Tidak hanya mereka yang tinggal di pondok yang ia asuh, Pondok Pesantren Al-Izzah, tetapi juga para santri yang tinggal di pondok-pondok lain. Mereka memohon izin ke pengasuhnya masing-masing untuk dapat mengaji kepada Kiai Oni.

“Beliau adalah salah seorang kiai yang bertahun-tahun istiqomah mengajar mengaji,” kata KH Aris Ni’matullah, Kepala Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putri Buntet Pesantren.

Bahkan, Kiai Imat, sapaan akrabnya, juga mengaku sebagai salah satu muridnya. Kepulangannya ke Rahmatullah merupakan cobaan luar biasa bagi Pondok Buntet Pesantren. Kiai Oni berpulang dengan membawa seluruh ilmunya. Tercabutnya ilmu, terang Kiai Imat, itu dari tercabutnya nyawa ulama, bukan ilmunya hilang begitu saja dari pemiliknya. “Allah tidak akan mencabut ilmu dari dada ulama, melainkan mencabut ulama itu sendiri.”

Sementara itu, KH Ade Nasihul Umam, Kepala MANU Putra, melihat kiai kelahiran September 1955 itu sebagai sosok yang sangat patuh terhadap administrasi. Kelengkapannya dalam menyiapkan pembelajaran patut dijadikan teladan oleh guru-guru muda. Selain itu, ia sangat disiplin dan menghargai waktu. Beberapa hal itu, kata Kiai Ade, mengantarkannya sebagai guru teladan di Pondok Buntet Pesantren.

Di samping itu, Kiai Oni, kata Kiai Ade, juga merupakan orang yang tidak pernah meninggalkan tadarus. Ketua Dewan Khidmat Masjid (DKM) Masjid Agung Buntet Pesantren itu menceritakan bahwa Kiai Oni masih hadir tadarusan di masjid saat Ramadan 1439 H meskipun kondisi fisiknya yang sudah tidak seperti dulu. “Sebelum saya benar-benar tidak bisa, saya akan tetap mengikuti tadarusan,” ujar Kiai Ade menirukan Kiai Oni.

Senada dengan Kiai Ade, Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren KH Adib Rofiuddin mengatakan bahwa almarhum merupakan sosok yang patut diteladani oleh para guru. Almarhum, kata Kiai Adib, tidak pernah meninggalkan sekolah apabila tidak ada udzur syar’i. Ia sangat rajin dalam mengajar.

“Yang patut menjadi contoh kepada para guru, sekali lagi kepada para guru, beliau adalah salah satu guru yang sangat disiplin dan sangat menghargai waktu yang telah diberikan untuk mengajar,” tegas Kiai Adib dengan wajah yang penuh gurat kesedihan.

Kiai Adib saat memberikan sambutan penyaksian itu terlihat begitu sedih. Ia sempat menghentikan bicaranya beberapa detik dan terisak saat membaca kalimat tarji’, innalillahi wa inna ilaihi rajiun dan seusai menyebut nama almarhum.

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu juga menyatakan bahwa Kiai Oni adalah sosok ulama yang alim dan amil, mengamalkan ilmunya. Ia tak pernah ghibah, membicarakan keburukan orang lain. Jika ia mendengar keluarganya berlaku demikian, ia sangat marah, katanya.

Kealimannya dan keamilannya itu ditunjukkan dengan hampir seluruh putra-putra para kiai Buntet dididik oleh almarhum, mengaji langsung kepadanya. Tak terkecuali putra-putri Kiai Adib sendiri.

“Ketika salah seorang ulama yang mengamalkan ilmunya meninggal dunia, malaikat turun menghormati, mengagungkan, mengiringi jenazahnya. Seisi dunia makhluknya Allah merasa susah, prihatin dengan meninggalnya seorang ulama,” terang Kiai Adib. (Syakir NF)

Kamis 22 November 2018 22:15 WIB
KH M Sulthon Abdul Hadi, Perginya Ulama Pengabdi Umat
KH M Sulthon Abdul Hadi, Perginya Ulama Pengabdi Umat
Oleh Jamal Ma'mur Asmani

Allah memanggil hamba pilihan-Nya, KH M Sulthon Abdul Hadi, Pengasuh ribath atau asrama Al-Hikmah, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur. Almarhum meninggal  hari ini, Kamis, 14 Rabiul Awal 1440 H yang bertepatan dengan 22 November.

Almarhum adalah alumni Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM) Kajen asal Jepara Jawa Tengah yang mewarisi jejak pemikiran gurunya KH MA Sahal Mahfudh. Selain ahli dalam kitab kuning, Kiai Sulthon, sapaan akrabnya juga ahli Bahasa Inggris dan mempunyai wawasan luas tentang keagamaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan.

Setelah menyelesaikan studi di PIM, Sulthon muda mengajar di PIM Kajen, Pati. Setelah itu, menikah dengan salah seorang putri KH Fattah Hasyim Tambakberas Jombang, Nyai Muthmainnah, adik Hj Nafisah Sahal.

Sejak berdomisili di Jombang, Kiai Sulthon karirnya melesat cepat. Selain menjadi pengasuh pesantren, juga dipercaya sebagai Direktur Madrasah Muallimin-Muallimat Tambakberas Jombang. Madrasah ini seperti Mathaliul Falah dalam konteks pendalaman ilmu agama (tafaqquh fiddin).

Madrasah Muallimin-Muallimin menjadi ikon madrasah salaf di Jombang yang mampu melahirkan kader-kader muda Islam yang mampu mendalami kitab kuning. Banyak alumni madrasah ini tampil sebagai tokoh agama yang memiliki wawasan luas dan mendalam khususnya tentang kitab kuning.

Selain menjadi Direktur Madrasah Muallimin-Muallimat, Kiai Sulthon adalah sosok orator (muballigh) ulung di podium. Berbagai undangan pengajian dari berbagai daerah dilayani dengan baik dalam rangka menyebarkan ilmu kepada masyarakat. Pernah mengisi pengajian di pondok tempat penulis belajar, yakni Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang yang terletak di samping alun-alun kota santri ini.

Dedikasi untuk NU dan Umat
Ketika penulis di Jombang antara tahun 1998 hingga 2004, Kiai Shulthon sudah menjadi Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang. Sering menyampaikan taushiah dan tabligh di hadapan pengurus NU Dan umat Islam.

Kepakaran dalam kitab dan wawasannya yang luas membuat substansi pemikiran dicerna dengan baik oleh publik secara luas. NU harus memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya kepada umat Dan bangsa. Kiai Sulthon berjuang supaya NU mampu memberikan kemanfaatan luas kepada umat Dan bangsa.

Setelah lama menjadi Rais PCNU Jombang, Kiai Sulthon melebarkan sayap perjuangan di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai dewan syura. Ketika bertemu dengan penulis, Kiai Sulthon menjelaskan, aktivitasnya di partai dalam rangka mengkonkretkan perjuangan di tengah masyarakat.

Aktif di partai akan terus bersinergi dengan jajaran eksekutif dan legislatif untuk melahirkan kebijakan dan anggaran yang berpihak kepada umat dan bangsa. Inilah bentuk kongkretisasi perjuangan.
Aktif di partai tidak meninggalkan habitat sebagai seorang kiai dan muballigh yang aktif mengajar santri, siswa, dan umat. dugas Dan tanggungjawab keilmuan serta kemasyarakatan dilakukan secara istikamah untuk menggapai ridla Allah.

Mengidolakan Kiai Sahal
Kiai Sulthon menjadi salah seorang informan utama penulis ketika menulis buku biografi Kiai Sahal Mahfudh. Buku ini ditulis ketika penulis masih nyantri di Jombang. KH Nashir Fattah, KH Taufiq Fattah, KH Mujib Denanyar, dan KH Sulthon adalah narasumber utama buku ini Karena mereka memahami banyak profil Kiai Sahal.

Sejak menjadi siswa di PIM, KH MA Sahal Mahfudh menjadi sosok idola Sulthon muda. Oleh sebab itu, dirinya meniru jejak Kiai Sahal dengan mendalami kitab kuning secara serius, mengembangkan wawasan dengan banyak membaca buku, koran, dan majalah, Dan melatih kemampuan bahasa asing (Arab-Inggris) dengan baik.

Kiai Sulthon juga mengembangkan potensinya dalam bidang organisasi, sehingga tidak gamang berinteraksi dan berkomunikasi dengan banyak orang lintas sektoral. Kemampuan ini semakin menjadikan Kiai Sulthon sosok yang dinamis, fleksibel, dan organisator ulung.

Jadilah Tokoh
Tahun 2004, penulis hendak boyong dari pondok Jombang, pulang kampung. Pesan Kiai Sulthon kepada penulis adalah jadilah tokoh yang berjuang untuk kemajuan masyarakat. Saat ini, kata Kiai Sulthon, banyak orang berilmu, tapi sedikit yang menjadi tokoh. Ilmuwan hanya disyaratkan banyak membaca, menulis, berdiskusi, riset, dan aktivitas akademik lainnya.

Sedangkan menjadi tokoh mengharuskan seseorang berani terjun di tengah masyarakat, menghadapi kompleksitas problem masyarakat, dan berusaha memberikan solusi efektif. Menjadi tokoh membutuhkan jiwa kepemimpinan, kepeloporan, dan pengorbanan dalam segala aspek kehidupan.
Masyarakat membutuhkan kehadiran tokoh-tokoh yang mampu menggerakkan perubahan positif di tengah kehidupan mereka, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, dan politik kebangsaan.

Kiai Sulthon adalah sosok pejuang sampai akhir hayat. Seluruh hidupnya diabdikan untuk dakwah Islam, baik di pesantren, madrasah, NU, partai, dan umat. Almarhum sosok yang mencintai dan mengamalkan ilmu, serta menyebarluaskan kepada umat manusia.

Selamat jalan menghadap Sang Kekasih kiai, semoga limpahan maghfirah dan rahmah Allah terlimpah kepada kiai, keluarga yang ditinggal diberikan kesabaran. Juga para santri meneruskan perjuangan kiai, Amin yaa rabbal alamin.

Penulis adalah dosen di Institut Pesantren Mathali'ul Falah (Ipmafa), Pati, Jawa Tengah.
Kamis 22 November 2018 12:0 WIB
Riwayat Hidup dan Perjuangan KH Syam’un
Riwayat Hidup dan Perjuangan KH Syam’un
Kisah Samson atau Simson sangat dikenal akan kekuatannya. Kisahnya digambarkan dalam komik, buku, hingga film. Terkait kekuatannya, ia seperti Herkules yang menggunakan kekuatan fisiknya yang luar biasa saat melawan musuh-musuhnya. 

Di dalam kitab Durrotun Nasihin dikisahkan, suatu ketika Nabi Muhammad mendapat berita dari seorang yang tua dari kaum Israil, kisah seorang pejuang Allah yang bernama Syam'un Al-Ghazi. Syam’un memiliki senjata semacam pedang yang terbuat dari tulang rahang unta bernama Liha Jamal. Konon, hanya dengan pedang satu ini dia dapat membunuh ribuan orang kafir. Siapa pun musuh yang berhadapan dengannya, pasti akan hancur dengan pedang ajaibnya. 

Di Indonesia, ada seorang kiai dari Banten yang bernama Syam’un. Namun, sayang kisah hidup dan perjuangannya dalam mengusir penjajah jarang diketahui orang. Namun, belakangan, jasanya itu kemudian terungkap, kemudian dihargai negara dengan menahbiskannya sebagai pahlawan nasional.

Silsilah Leluhur dan Keilmuan
KH Syam’un lahir pada 5 April 1894 dari pasangan H Alwiyan dan Hj Hajar di Banten. Di dalam darahnya mengalir darah tokoh pejuang di masa sebelumnya dalam melawan dan upaya mengusir penjajah. Ia merupakan keturunan dari KH Wasid tokoh pemberontakan yang dikenal Geger Cilegon pada 1888.

Masa kecil KH Syam’un memperoleh pendidikan di pesantren Dalingseng milik KH Sa’i pada 1901. Dia pindah ke Pesantren Kamasan, asuhan KH Jasim di Serang pada 1904. Tahun berikutnya, KH Syam’un belajar ke Mekkah. Dia menghabiskan waktu lima tahun di tanah suci kepada ahli-ahli keislaman terbaik di dunia saat itu. Lalu ia melanjutkan pencarian ilmunya ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, dari 1910 hingga 1915.

Menurut sejarawan Agus Sunyoto, ia memiliki kemampuan bahasa asing yang fasih, setidaknya tiga bahasa yaitu Arab, Inggris, dan Belanda. Dari kemampuan berbahasa itu, kemungkinan dia untuk menyerap ilmu dari berbagai sumber sangat besar melengkapi dan mengembangkan kemampuannya. Reputasinya dalam bidang keilmuan, terutama agama, ditunjukkan dengan ia mampu mengajar di Masjidil Haram, Mekkah. 

Sebagaimana dijelaskan Rahayu yang dikutip Historia.id, seusai memperoleh ijazah Al-Azhar, KH Syam’un kembali ke Mekkah untuk mengajar di Masjid al-Haram. Muridnya dari berbagai negara aneka suku bangsa. Namun, yang terbanyak dari Jawa. Meskipun cuma setahun mengajar, di sini namanya mulai sohor sebagai ulama Banten yang besar.

Ia melanjutkan reputasi ulama-ulama Nusantara dari masa sebelumnya yang mampu mengajar di masjid prestisius itu, seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfudz Tremas, dan lain-lain. 

Perjuangan Mengusir Penjajah
“Suara senapan mesin Jepang terdengar dari pinggir pantai Bojong Anyer, Banten. Anggota Pembela Tanah Air (PETA) lagi menembaki sebuah kapal selam milik Sekutu. Badan kapal tak tampak. Sepenuhnya berada di dalam air. Hanya periskop kelihatan sedikit di permukaan. Kapal selam itu cepat masuk air. Tembakan dari anggota PETA pun berhenti. Seorang penembak kapal selam itu bernama KH Syam’un,” demikian situs Historia.id membuka tulisan yang mengupas perjuangan tokoh tersebut. Waktu itu ia merupakan daidanco (komandan batalion) PETA wilayah Cilegon-Serang, Banten, sejak November 1943.

Situs tersebut menyerap data dari catatan Mansyur Muhyidin dalam Karya Ilmiah Berdasarkan Pengalaman Anak-Anak K.H. Sjam’un seperti dikutip oleh Rahayu Permana dalam "Kiai Haji Sjam’un: Gagasan dan Perjuangannya," tesis di Universitas Indonesia.

Di dalam buku Fatwa dan Resolusi Jihad (2017) karangan KH Agus Sunyoto, KH Syam'un adalah perwira tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA), Komandan Batalyon berpangkat daidancho atau mayor tahun 1943. Tahun 1944 dilantik jadi Komandan Batalion PETA berpangkat mayor, memimpin 567-600 orang pasukan. Saat TKR dibentuk 5 Oktober 1945, pangkatnya naik jadi kolonel, Komandan Divisi l TKR dengan memimpin 10.000 orang pasukan. Tahun 1948, ia naik pangkat brigadir jenderal. Ia memimpin gerilya di wilayah Banten, sampai wafatnya tahun 1949.

Sementara data lain, menurut penelusuran Ahmad Baso, setelah proklamasi diangkat sebagai bupati Serang, diangkat oleh Residen Banten KH Tubagus Achmad Chatib. Dengan koordinasi Chairul Saleh dan Tan Malaka membawa massa Banten ke lapangan Ikada September 1945.

Mengembangkan Pesantren dan Aktif di NU 
Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren, ketika pulang ke tempat kelahirannya, ia mengembangkan pesantren juga. KH Syam’un pulang ke Hindia Belanda pada 1915.

Menurut Rahayu, lagi-lagi sebagaimana dikutip Historia, KH Syam’un meletakkan ilmu pada tingkat paling atas dalam pencapaian kehidupan manusia. Dia juga memiliki gagasan tentang hubungan ilmu pengetahuan dan masyarakat. 

“Bahwa pendidikan merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengatasi segala persoalan hidup,” ungkap Rahayu.

Wujud gagasan KH Syam’un terlihat dari pendirian pesantren di Citangkil, Cilegon, pada 1916. Sepuluh tahun awal, materi ajarnya masih terbatas pada ilmu agama seperti tata bahasa Arab, fiqih, hadits, tafsir, dan akidah. Santrinya pun hanya berjumlah puluhan. Lama-kelamaan pesantren Citangkil berkembang. Tidak hanya dari jumlah santri, melainkan juga materi ajar dan metode pembelajaran.

Masih dikutip dari Historia.id dari sumber Abdul Malik dkk., dalam Jejak Ulama Banten Dari Syekh Yusuf Hingga Abuya Dimyati, KH Syam’un menggabungkan pola pendidikan tradisional pesantren dengan sekolah modern pada 1926. 

“KH Syam’un berusaha mengembangkan rasionalitas Islam dengan seruan kembali kepada ajaran Islam yang pokok,” tulisnya.

Kemungkinan karena merasa satu visi dengan kiai-kiai asal pesantren, di dalam berorganisasi ia memilih aktif di Nahdlatul Ulama. Ia tercatat sebagai salah seorang syuriyah dari NU Serang. Buktinya sebagai pengurus, menurut data yang ditemukan di Majalah Swara Nahdlatoel Oelama dan Berita Nahdlatoel Oelama, ia hadir di muktamar NU. Paling tidak, di Muktamar NU kelima di Pekalongan pada 1930 dan Banjarmasin 1936. (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG